
Nadin yang baru saja menyelasaikan pekerjaan pertamanya, ia segera meregangkan otot-otot nya.
"Ahhh ....., akhirnya selesai ....!" ucap Nadin.
"Wah ternyata anak baru ini dapat di antalkan ya ...., kamu jenius ....!" ucap Andre, si ketua tim Nadin.
"Ah ...., pak Andre ini bisa aja ....!" ucap Nadin merasa malu karena terlalu banyak di puji seharian ini. Ya Nadin memanggil Adre pak, karena terlihat usianya sepertinya sudah empat puluhan dengan tubuh kerempengnya.
"Beneran lo Nad, kamu memang luar biasa, pekerjaan kita akan selesai lebih cepat kerena ada kamu." timpal Ayu yang sepertinya paling muda di tim itu sebelum Nadin masuk.
"Ya setidaknya, sekarang ada gunanyakan saya di sini ....!" ucap Nadin dengan senyum mengembang di bibirnya dan di sambut tawa oleh semua teman satu ruangannya.
Kring kring kring kring kring kring
Tawa mereka terhenti saat suara ponsel mengalahkan tawa mereka. Mereka berlima buru-buru mencari sumber suara.
"Itu buka nada deringku!" ucap Ahsan dengan wajah polosnya. Ahsan adalah pria berkaca mata yang lebih mirip seperti kutu buku, ia merupakan ahli IT di tim mereka.
"Ini ponselku ....!" ucap Nadin sambil menunjukkan ponselnya.
Ia melihat siapa yang menelpon, hatinya segera menghangat. Senyum mengembang dengan pipi yang sudah memerah.
"Cepat, aku tunggu di parkiran!"
"Iya ...., aku akan tur ....!" belum sempat Nadin menyelesaikan kata-katanya, sambungan telpon sudah lebih dulu terputus.
"Ahhh dasara biang irit ..., biaya telpon nggak semahal itu kali ....!" gerutu Nadin sambil meletakan ponselnya.
"Dari siapa Nad?" tanya Indah, tapi belum sempat Nadin menjawab Ayu sudah lebih dulu menyambar.
"Mbak ini nggak lihat ya ...., tuh lihat wajahnya sudah kayak kepiting rebus gitu, itu pasti dari cowoknya .....!"
Mendengar ucapan Ayu, Nadin hanya bisa tersenyum. Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Nadin segera menyempangkan tasnya di bahu dan berpamitan pada teman-teman nya.
"Aku duluan ya ....!"
"Iya ...., selamat berkencan .....!" ucap Ayu dan teman-teman lainnya.
Nadin pun meninggalkan ruangannya, ia berlari seperti sebelumnya, balok es tidak suka keterlambatan.
Brug
"Augh .....!"
Tubuh Nadin terpental kebelakang, begitu juga dengan orang yang di tabraknya.
"Nadiiiin ....., kau benar-benar ya ..., suka sekali membuatku marah ....!"
Ternyata Nadin menabrak Davina.
"Maaf kak, aku nggak sengaja ...., aku terburu-buru ....!" ucap Nadin sambil berdiri dan mengulurkan tangannya membantu Davina bangun, tapi ternyata tangannya di tepis dengan kasar oleh Davina.
"Aku nggak butuh bantuanmu ....., sudah pergi sana ....!" ucap Davina ketus.
"Baiklah ...., aku tinghal ya kak, sekali lagi aku minta maat ....!" ucap Nadin sambio berlari meninggalkan Davina yang masih terduduk di lantai.
"Kenapa sih anak itu buru-buru sekali ....?!" gumam Davina. Ia kembali mengelus sikunya yang nyeri karena terbentur.
"Mau aku bantu?" tanya seseorang sambil menyodorkan tangannya pada Davina, Davina pun menoleh ke sumber suara.
"Pak Divta?" ucap Davina sambil menerima uluran tangan Divta, Davina pun berdiri dengan bamtuan Divta.
"Iya ....., panggil saja Divta." ucap Divta.
"Terimakasih pak, eh ..., maksudku Divta."
"Kamu kakaknya Nadin kan?" tanya Divta.
"Iya ....!"
"Mau aku antar pulang?" tanya Divta.
"Tapi aku bawa motor ....!"
"Biar motormu di antarkan oleh anak buahku, mana kuncinya?" tanya Divta dengan menegadahkan tangannya pada Davina. Mau tak mau Davina pun menyerahkan kunci motornya.
"Aku ingin tahu tentang Nadin!" ucap Divta sambil berjalan menuju ke parkiran.
Nadin lagi ...., Nadin lagi ...., sebenarnya apasih istimewanya anak itu ...., kapan orang-orang bisa melihatku, aku bukan bayangan, aku nyata .
***
Nadin pun merlari mengitari lapangan parkir, Nadin seperti mengulang hal yang sama. Tapi kali ini ia bisa melihat pria es itu berdiri di samping mobilnya dengan menyilangkan tangannya di depan perut.
"Pak ....!" ucap Nadin dengan nafas yang ngos-ngosan. Ia menunduk memegang lututnya yang terasa ingin copot. Nadin benar-benar lelah berlari.
"Ayo masuk .....!" ucap Rendi, bukanya membukakan pintu untuk Nadin, Rendi malah masuk terlebih dulu, membuat Nadin lagi-lagi memberengut kesal.
"Dasar es ....!"
Nadin pun segera masuk ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengamannya sebelum si balok es memarahinya. Bukannya segera menyalakan mesin mobilnya, Rendi malah terdiam di tempatnya.
"Kenapa kita tidak jalan pak?" tanya Nadin.
"Kau masih hutang penjelasan padaku!" ucap Rendi dingin.
"Apa?" tanya Nadin, ia tak tahu apa yang Rendi maksud.
"Dio!" ucap Rendi singkat dan penuh penekanan.
Astaga dia masih mengingatnya ....., aku saja sudah lupa ....
"Benarkah?"
"Benar!"
"Tapi kau menyukainya kan?"
"Cttihhh ...., tidak begitu." ucap Nadin yang begitu bingung cara menjelaskan pada si balok es.
"Cihhh ...., Kau tersenyum senang dengannya!"
"Aku memang suka tersenyum pada siapapun, aku tidak suka cemberut atau menampakkan wajah garang."
"Tapi aku tidak suka ....!"
"Maksudnya?"
"Jangan tersenyum sembarangan, tersenyum pad orang-orang tertentu."
"Baiklah apapun yang kau mau .....!"
Apapun titah baginda raja ...., aku bisa apa, jadi aku harus bermuka rata setiap hari? Pasti itu melelahkan, pipiku akan kaku .....
krukuk krukuk
Astaga ...., perutku juga mempermalukanku .....
Rendi ingin sekali tersenyum, tapi gengsinya memgalahkan segalanya. Apa yang terucap selalu tak sesuai dengan kenyataannya.
"Makanya kalau nggak punya makanan lain, jagan di berikan pada orang lain." Ucap Rendi singkat.
Rendi pun segera menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gasnya. mobil pun melaju meninggalkan parkiran.
****
Mobil Rendi berhenti di salah satu foodtruck di central park yang berada di tengah kota. central park itu terlihat tidak begitu ramai.
"Pak Rendi yakin mau makan di sini?" tanya Nadin memastikan, karena selama ini ia belum pernah melihat Rendi makan di tempat seperti itu.
"Iya, kenapa? Nggak mau?" tanya Rendi.
"Ya mau ...., bukankah biasanya pak Rendi selalu makan di restauran malah?"
"Jika kamu mengiraku seperti itu, berarti kamu belum mengenalku, kalau kenal saja belum bagaimana kamu bisa bilang cinta, anak aneh ....!"
Rendi pun berjalan mendahului Nadin yang masih terpaku di tempatnya. Ia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Rendi barusan.
"Selamat datang kakak ...., mau pesan apa?" tanya pemilik kedai foodtruck somay itu.
"Dua porsi somay dengan toping ayam dan udang."
"Baik kakak ...., silahkan menunggu ....!"
Rendi pun segera duduk di salah satu kursi plastik yang ada di bawah pohon rindang itu, Nadin yang tersadar, segera menyusul Rendi dan duduk di hadapannya.
"Pak Rendi biasa datang ke sini ya?" tanya Nadin.
"Menurutmu?"
Bukannya jawab, malah balik bertanya ...., sebenarnya apa susahnya sih, tinggal jawab doang, dasar balok es, mesti aku kasih sirup nih biar nano nano si balok es ....
"Kenapa lihat aku kayak gitu?" tanya Rendi.
"Enggak ...., suapa juga yang ngliatin .....!" ucap Nadin sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dengan senyum yang di tahan.
"Silahkan kakak somaynya .....!"
Pemilik foodtruck somay menghampiri mereka dengan membawa dua mangkuk somay.
"Yang ayam mana mbak?" tanya Rendi.
"Yang ini kak!" ucap pemilik kedai dengan menunjuk salah satu mangkuk itu.
"Terimakasih mbak!" ucap Rendi lagi.
"Sama-sama kak, selamat makan."
Pemilik kedai foodtruck meninggalkan mereka berdua. Rendi pun menyerahkan satu mangkuk yang di tunjuk pemilik kedai tadi pada Nadin.
"Makanlah ....!" ucap Rendi.
"Terimakasih pak Rendi, memang itu apa pak topingnya?" tanya Nadin sambil menunjuk mangkuk Rendi.
"Ini udang."
"Oh ....!"
"Aku tahu kamu alergi seafood." ucap Rendi sambil menyantap somaynya. Seketika Nadin lagi-lagi di buat tak percaya.
"Pak Rendi tahu?" tany Nadin tak percaya.
"Ya semuanya ...., cepat makan! Jangan banyak bertanya ....!"
**BERSAMBUNG
jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘😘**