MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Menghayati Perannya



“Apa rencana bapak hari ini?” Tanya pria yang selalu


menemani pria dingin itu selama di pedesaan.


“Hari ini aku akan pergi ke tempat kemarin!” jawab pria


dingin itu sambil menyesap secangkir kopi di tangannya, ia tak seperti biasanya,


pria dingin yang biasanya berpakaian rapi dengan rambut yang juga di sisir


rapi, kini hanya memakai kaos oblong dengan celana sebatas betis yang tidak di


jahit sempurna, sepertinya ia begitu menikmati perannya sebagai pemuda desa.


Pria yang selalu bersamanya pun juga sama, biasanya selalu


mengenakan jas hitam dengan aerophone di telinganya, kini juga memakai baju ala


orang desa, walaupun aerophone itu tetap melekat di telinganya dengan ditutupi


sebuah penutup kepala semacam udeng-udeng.


“Apa anda yakin, bu Nadin akan menemui anda?”


“Ya …., dia polos tapi tidak bodoh, aku tahu dia mengerti


isyaratku!”


Rendi melakukan hal yang sama, ia sudah lama menanti saat


ini, ia ingin segera menemui Nadin tapi ini masih terlalu siang. Menunggu


adalah yang paling menyusahkan untuknya.


Rendi memakai topi yang terbuat dari anyaman daun andong, ia


melapisi kaosnya dengan kemeja lusuhnya, entah dapat pakaian dari mana hingga


ia menemukan pakaian seperti itu.


“Anda akan berangkat sekarang?”


“Iya …, ikuti dari jauh saja, jangan menimbulkan


kecurigaan!”


“Baik pak!”


Rendi keluar dari rumah sederhana itu, rumah yang sengaja ia


sewa selama berada di tempat itu, ia juga menyamarkan identitasnya, sehingga


cukup sulit bagi anak buah Alex untuk melacak keberedaannya.


“Mas Endra mau kemana?” Tanya salah satu tetangga di tempat


itu. Ia kebetulan melintas di depan rumah Rendi, sepertinya baru saja pulang dari ladangnya dengan cangkul yang bertengger di pundak.


“Ini pak lek, mau ke ladang!” jawab Rendi ramah.


“Mas Endra ini rajin sekali ya …, sama adeknya juga?” Tanya


tetangga barunya itu sambil menatap ke arah anak buah Rendi.


“Iya pak lek, kebetulan ada yang harus di bantu di sana


nanti, kalau begitu kami permisi pak lek!”


“Iya …, iya …, silahkan!”


Rendi dan anak buahnya meninggalkan pria paruh baya yang


sudah lima hari ini menjadi tetangga barunya, Rendi memakai nama Endra sebagai nama


samarannya, ia benar-benar merubah kepribadian dinginnya menjadi pria desa


yang ramah.


Anak buah yang selalu setia di belakangnya itu hanya


tersenyum tak percaya dengan yang di lakukan atasannya itu, dia benar-benar


pandai berseni peran. Tak jarang Rendi menyamar sebagai tukang sapu, pemulung


atau ojek online untuk mengelabuhi musuhnya dan sekarang menjadi pemuda desa.


Kini mereka telah sampai di tempat yang menjadi tempat


mereka bertemu kemarin, tampak pria di belakangnya dengan membawa keranjang di


punggungnya itu melakukan panggilan kepada teman-temannya yang lain untuk


berjaga-jaga. Banyak petani yng lalu lalang saling menyapa, dan seperti tadi


Rendi akan membalasnya dengan ramah.


Dari kejauhan Rendi sudah bisa melihat Nadin bersama ketiga anak buah Alex, Rendi mencoba bersikap biasa saja walaupun hatinya kini sedang


bergejolak hebat. Ingin rasanya ia segera berlari dan memeluk wanita itu,


rasanya sudah sangat lama. Nadin semakin dekat dengannya, Rendi memilih tetap


diam di tempatnya seperti biasa.


Nadin tersenyum saat jarak mereka hanya tinggal dua meter.


“Mas …, makasih ya bayamnya yang kemarin, aku suka. Sebagai


gantinya, ini untuk mas , tolong di terima!” ucap Nadin sambil menyerahkan


sekeranjang buah yang Nadin pesan tadi. Nadin sengaja membawanya.


“Terimakasih lo mbak, mbaknya ini memang baik!”


“Sama-sama …, cepat di makan ya, sampai habis. Sampai jumpa


lagi!”


Setelah mengatakan hal itu, Nadin segera berlalu. Ia


meninggalkan Rendi begitu saja bersama para anak buah Alex. Rendi memeriksa


keranjang buah itu, mengacak-acak isinya, dan benar di dasar keranjang itu


terselip sebuah kertas.


Rendi segera duduk di bawah pohon yang ada di tepi jalan, ia


Dear my block ice _my


husband


Sama seperti Nadin, bedanya Rendi hanya tersenyum tipis sebelum melanjutkan membaca surat itu.


Dear my block ice _my


husband


Rindu ini seakan tak


terbendung lagi untukmu …, seandainya rindu ini bisa ku tukar dengan gunung


tertinggi, mungkin akan masih tinggi rinduku padamu


Tapi intinya bukan itu


mas …, jika kita bertemu di tempat terbuka, orang-orangnya Alex akan


menyadarinya keberadaanmu, jadi temui aku di rumah tua tak jauh dari tempat


itu,


Aku menunggumu di sana


Salam sayang dari


little wife mu


Setelah mendapat surat itu, Rendi segera menghubungi anak


buahnya, ia harus menyelidiki kebenaran surat itu, bukan tidak mungkin itu


hanya jebakan dari Alex.


Rendi menunggu cukup lama hingga anak buahnya kembali dengan


membawa informasi yang akurat. Akhirnya yang di tunggu pun datang juga.


“Bagaimana?” Tanya Rendi sedikit berbisik, ia tidak mau


sampai ada yang curiga.


“Itu benar dari bu Nadin, bu Nadin masuk sendiri ke dalam


rumah itu sedangkan anak buah Alex menunggu di luar, ia masuk bersama penjaga


wanita,”


"Baik, lalu dari mana aku harus masuk?”


“Melalui pintu belakang, sepertinya pintu itu sengaja tidak


di kunci dan anak buah Alex hanya berjaga di depan!”


“Baiklah …, kalian bisa berjaga-jaga di sekitar tempat itu,


tapi dengan jarak yang aman!”


“Baik pak!”


Akhirnya Rendi memutuskan untuk memenuhi undangan Nadin. Ia


menyelinap ke dalam rumah kosong itu. Ia mencari keberadaan Nadin. Akhirnya


sampai juga ia di tempat dimana Nadin berada. Nadin sedang duduk menyilangkan


kedua tangannya di dada sedangkan Merry berdiri di sampingnya.


Srekkk


Dengan cepat Rendi mengunci tubuh Merry dari belakang,


sehingga merry tidak dapat melepaskan diri. Nadin yang terkejut segera berdiri,


ia melihat Rendi mengunci tangan merry ke belang dan tangan satunya ia gunakan


untuk membekap mulut Merry.


“Mas Rendi …, lepaskan dia!” ucap Nadin dengan nada lirih,


ia tidak mau membuat penjaga di luar curiga. Rendi menatap nadin tak percaya,


tapi tatapan Nadin sepertinya begitu meyakinkan.


setelah merasa yakin akhirnya ia pun melepaskan Merry. Rendi


mendorong tubuh Merry hingga terhuyung ke arah Nadin, Nadin dengan sigap


menahan tubuh Merry.


“Kenapa aku harus melepaskan dia?” Tanya Rendi yanga masih


tak percaya dengan yang di lakukan Nadin, seharusnya ini menjadi kesempatan


yang baik untuk membawa Nadin kabur.


“Karena Merry yang akan membantu kita!” ucap Nadin yakin,


tapi sepertinya itu tidak mengurangi keraguan Rendi. “Iya ….!” Nadin lagi-lagi


meyakinkan sambil menganggukan kepalanya,


Nadin pun menatap Merry memberi isyarat padanya untuk


meninggalkan mereka berdua.Merry segera mengerti maksud tatapan Nadin.


“Saya akan menunggu nona di ruang tamu, kalian bisa


menghabiskan waktu di sini!” ucap Marry,


Merry pun meninggalkan mereka, ia menutup kembali pintunya,


membiarkan dua orang itu di dalam.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘