
“Apa rencana bapak hari ini?” Tanya pria yang selalu
menemani pria dingin itu selama di pedesaan.
“Hari ini aku akan pergi ke tempat kemarin!” jawab pria
dingin itu sambil menyesap secangkir kopi di tangannya, ia tak seperti biasanya,
pria dingin yang biasanya berpakaian rapi dengan rambut yang juga di sisir
rapi, kini hanya memakai kaos oblong dengan celana sebatas betis yang tidak di
jahit sempurna, sepertinya ia begitu menikmati perannya sebagai pemuda desa.
Pria yang selalu bersamanya pun juga sama, biasanya selalu
mengenakan jas hitam dengan aerophone di telinganya, kini juga memakai baju ala
orang desa, walaupun aerophone itu tetap melekat di telinganya dengan ditutupi
sebuah penutup kepala semacam udeng-udeng.
“Apa anda yakin, bu Nadin akan menemui anda?”
“Ya …., dia polos tapi tidak bodoh, aku tahu dia mengerti
isyaratku!”
Rendi melakukan hal yang sama, ia sudah lama menanti saat
ini, ia ingin segera menemui Nadin tapi ini masih terlalu siang. Menunggu
adalah yang paling menyusahkan untuknya.
Rendi memakai topi yang terbuat dari anyaman daun andong, ia
melapisi kaosnya dengan kemeja lusuhnya, entah dapat pakaian dari mana hingga
ia menemukan pakaian seperti itu.
“Anda akan berangkat sekarang?”
“Iya …, ikuti dari jauh saja, jangan menimbulkan
kecurigaan!”
“Baik pak!”
Rendi keluar dari rumah sederhana itu, rumah yang sengaja ia
sewa selama berada di tempat itu, ia juga menyamarkan identitasnya, sehingga
cukup sulit bagi anak buah Alex untuk melacak keberedaannya.
“Mas Endra mau kemana?” Tanya salah satu tetangga di tempat
itu. Ia kebetulan melintas di depan rumah Rendi, sepertinya baru saja pulang dari ladangnya dengan cangkul yang bertengger di pundak.
“Ini pak lek, mau ke ladang!” jawab Rendi ramah.
“Mas Endra ini rajin sekali ya …, sama adeknya juga?” Tanya
tetangga barunya itu sambil menatap ke arah anak buah Rendi.
“Iya pak lek, kebetulan ada yang harus di bantu di sana
nanti, kalau begitu kami permisi pak lek!”
“Iya …, iya …, silahkan!”
Rendi dan anak buahnya meninggalkan pria paruh baya yang
sudah lima hari ini menjadi tetangga barunya, Rendi memakai nama Endra sebagai nama
samarannya, ia benar-benar merubah kepribadian dinginnya menjadi pria desa
yang ramah.
Anak buah yang selalu setia di belakangnya itu hanya
tersenyum tak percaya dengan yang di lakukan atasannya itu, dia benar-benar
pandai berseni peran. Tak jarang Rendi menyamar sebagai tukang sapu, pemulung
atau ojek online untuk mengelabuhi musuhnya dan sekarang menjadi pemuda desa.
Kini mereka telah sampai di tempat yang menjadi tempat
mereka bertemu kemarin, tampak pria di belakangnya dengan membawa keranjang di
punggungnya itu melakukan panggilan kepada teman-temannya yang lain untuk
berjaga-jaga. Banyak petani yng lalu lalang saling menyapa, dan seperti tadi
Rendi akan membalasnya dengan ramah.
Dari kejauhan Rendi sudah bisa melihat Nadin bersama ketiga anak buah Alex, Rendi mencoba bersikap biasa saja walaupun hatinya kini sedang
bergejolak hebat. Ingin rasanya ia segera berlari dan memeluk wanita itu,
rasanya sudah sangat lama. Nadin semakin dekat dengannya, Rendi memilih tetap
diam di tempatnya seperti biasa.
Nadin tersenyum saat jarak mereka hanya tinggal dua meter.
“Mas …, makasih ya bayamnya yang kemarin, aku suka. Sebagai
gantinya, ini untuk mas , tolong di terima!” ucap Nadin sambil menyerahkan
sekeranjang buah yang Nadin pesan tadi. Nadin sengaja membawanya.
“Terimakasih lo mbak, mbaknya ini memang baik!”
“Sama-sama …, cepat di makan ya, sampai habis. Sampai jumpa
lagi!”
Setelah mengatakan hal itu, Nadin segera berlalu. Ia
meninggalkan Rendi begitu saja bersama para anak buah Alex. Rendi memeriksa
keranjang buah itu, mengacak-acak isinya, dan benar di dasar keranjang itu
terselip sebuah kertas.
Rendi segera duduk di bawah pohon yang ada di tepi jalan, ia
Dear my block ice _my
husband
Sama seperti Nadin, bedanya Rendi hanya tersenyum tipis sebelum melanjutkan membaca surat itu.
Dear my block ice _my
husband
Rindu ini seakan tak
terbendung lagi untukmu …, seandainya rindu ini bisa ku tukar dengan gunung
tertinggi, mungkin akan masih tinggi rinduku padamu
Tapi intinya bukan itu
mas …, jika kita bertemu di tempat terbuka, orang-orangnya Alex akan
menyadarinya keberadaanmu, jadi temui aku di rumah tua tak jauh dari tempat
itu,
Aku menunggumu di sana
Salam sayang dari
little wife mu
Setelah mendapat surat itu, Rendi segera menghubungi anak
buahnya, ia harus menyelidiki kebenaran surat itu, bukan tidak mungkin itu
hanya jebakan dari Alex.
Rendi menunggu cukup lama hingga anak buahnya kembali dengan
membawa informasi yang akurat. Akhirnya yang di tunggu pun datang juga.
“Bagaimana?” Tanya Rendi sedikit berbisik, ia tidak mau
sampai ada yang curiga.
“Itu benar dari bu Nadin, bu Nadin masuk sendiri ke dalam
rumah itu sedangkan anak buah Alex menunggu di luar, ia masuk bersama penjaga
wanita,”
"Baik, lalu dari mana aku harus masuk?”
“Melalui pintu belakang, sepertinya pintu itu sengaja tidak
di kunci dan anak buah Alex hanya berjaga di depan!”
“Baiklah …, kalian bisa berjaga-jaga di sekitar tempat itu,
tapi dengan jarak yang aman!”
“Baik pak!”
Akhirnya Rendi memutuskan untuk memenuhi undangan Nadin. Ia
menyelinap ke dalam rumah kosong itu. Ia mencari keberadaan Nadin. Akhirnya
sampai juga ia di tempat dimana Nadin berada. Nadin sedang duduk menyilangkan
kedua tangannya di dada sedangkan Merry berdiri di sampingnya.
Srekkk
Dengan cepat Rendi mengunci tubuh Merry dari belakang,
sehingga merry tidak dapat melepaskan diri. Nadin yang terkejut segera berdiri,
ia melihat Rendi mengunci tangan merry ke belang dan tangan satunya ia gunakan
untuk membekap mulut Merry.
“Mas Rendi …, lepaskan dia!” ucap Nadin dengan nada lirih,
ia tidak mau membuat penjaga di luar curiga. Rendi menatap nadin tak percaya,
tapi tatapan Nadin sepertinya begitu meyakinkan.
setelah merasa yakin akhirnya ia pun melepaskan Merry. Rendi
mendorong tubuh Merry hingga terhuyung ke arah Nadin, Nadin dengan sigap
menahan tubuh Merry.
“Kenapa aku harus melepaskan dia?” Tanya Rendi yanga masih
tak percaya dengan yang di lakukan Nadin, seharusnya ini menjadi kesempatan
yang baik untuk membawa Nadin kabur.
“Karena Merry yang akan membantu kita!” ucap Nadin yakin,
tapi sepertinya itu tidak mengurangi keraguan Rendi. “Iya ….!” Nadin lagi-lagi
meyakinkan sambil menganggukan kepalanya,
Nadin pun menatap Merry memberi isyarat padanya untuk
meninggalkan mereka berdua.Merry segera mengerti maksud tatapan Nadin.
“Saya akan menunggu nona di ruang tamu, kalian bisa
menghabiskan waktu di sini!” ucap Marry,
Merry pun meninggalkan mereka, ia menutup kembali pintunya,
membiarkan dua orang itu di dalam.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘