MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 46 (Ajun)



Dini begitu telaten mengompres luka lebam di wajah Ajun.


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu di ketuk, Dini kembali bingung. Ia hampir saja bersembunyi tapi Ajun segera menarik tangannya agar tidak berdiri dari tempatnya.


"Tetap di sini aja!"


"Gimana kalau itu pak Rendi?"


"Bukan!"


Ajun pun segera menghampiri pintu dan membukanya.


"Ini pak pesanan anda!"


"Terimakasih ya!"


Ajun kembali masuk dengan membawa dua kantong plastik.


"Siapa?"


"Delivery makanan!"


"Tau aja kalau aku lapar!" ucap Dini sambil memegangi perutnya yang keroncongan.


Dini pun segera membuka kantong plastik itu dan membuka makanan untuk ia makan.


Ia menyuapkan sesuap ke dalam mulutnya, tapi ia segera menghentikan kunyahannya saat Ajun hanya diam saja dan menatap makanannya.


"Kenapa diam?"


"Lihat ini, tanganku sakit! Suapi aku!"


"Memang kalau nggak ada aku siapa yang nyuapi?"


"Ya nggak makan!"


"Gombal banget!"


Dini pun walaupun terpaksa tetap saja menyuapkan makanan padanya.


***


Sore ini Ajun mengantar Dini ke kafe.


"Kenapa ikut turun?" tanya Dini saat melihat Ajun ikut turun dengan nya.


"Mau ngopi!"


"Nggak usah ngopi di sini lah ....!"


"Ya terserah aku dong!"


Ajun pun berjalan mendahului Dini membuat Dini semakin kesal saja. Langkah Dini segera terhenti saat melihat Juna sudah berada di dalam sana.


Masak mas Juna sama sekali tidak meninggalkan kafe sejak pagi ...., masak sih ....


"Mas Juna!"


Sebelum Dini menghampirinya, Ajun pun lebih dulu menghampiri Juna. Juna hanya tersenyum penuh persaingan pada Ajun.


"Hai Din ....!" sapanya tanpa mempedulikan tatapan Ajun.


"Mas Juna sudah lama?" tanya Dini, ia menggeser tempat duduk ya g ada di samping Juna.


"Sudah satu jam lebih tiga puluh empat menit, lima puluh empat detik!"


"Lengkap banget!"


Ajun yang melihat Dini menggeser tempat duduk itu segera duduk di bangku itu, tepat di samping Juna sebelum Dini menempati tempat itu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Juna membuat Dini mengerutkan keningnya.


"Mas Juna tahu?" tanya Dini tidak percaya, ia kembali menatap Ajun.


Jika mereka bertemu, kenapa kardus tidak memberitahuku? Sengaja pasti dia ....


"Tadi kami kebetulan ketemu!" ucap Juna mengerti arti tatapan Dini.


"Mas Juna tahu kalau Ajun berkelahi?" tanya Dini pada Juna.


Juna pun mengangguk.


Belum sampai Dini kembali bertanya, tiba-tiba saja Mei menghampiri mereka.


"Mbak ...!" Sapa Mei sambil menatap dua pria yang sedang memperebutkan atasannya itu.


"Iya Mei, ada apa?" tanya Dini.


"Mau di buatkan minuman, mbak?" tanya Mei, sebenarnya bukan itu maksudnya menghampiri mereka, ia hanya ingin melihat kegantengan dua pria itu ternyata jika di perhatikan bukan cuma namanya saja yang sama tapi gaya mereka juga sama, wajahnya juga tidak jauh beda.


"Buatkan untuk mereka saja!" ucap Dini.


"Baik mbak!"


"Iya deh ...., kalau di lihat-lihat mereka mirip ya ....!" gumam Mei sambil meracik minuman untuk mereka.


Dini kembali fokus pada dua pria di depannya itu.


"Kardus?"


"Nggak usah banyak tanya!" ucap kedua pria itu bersamaan membuat Dini begitu terkejut sedangkan Ajun dan Juna hanya saling pandang lalu saling membuang muka.


***


Ajun menunggu Dini hingga pulang dari kafe, karena Dini masih punya hutang untuk mengurus rumahnya.


"Kamu ini benar-benar memerasku, mobilmu aja udah bisa di bawa kemana-mana, tapi akunya masih aja kamu tahan!"


"Emang buat mobil itu bisa di bawa kemana-mana, butuh duit!"


"Dasar mata duitan!"


Seperti biasa, Dini akan segera melakukan pekerjaannya. Ia tidak mau sampai di pecat jadi anak mama dan papa nya kalau ketahuan dia menginap di sana lagi.


Ajun pun mengantar Dini pulang ke rumahnya dengan memakai bantuan sopir.


"Kenapa harus di antar sih?"


"Jangan protes!"


"Kamu takut kan kalau aku bakal di culik lagi? Iya kan?" tanya Dini sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ajun.


Cup


Ajun mengecup kening Dini membuat Dini terpaku di tempatnya. Dini pun segera memegangi keningnya.


"Kenapa mencium ku lagi?" tanya Dini kesal sambil masih mengelus keningnya.


"Berarti kamu harus balas aku lagi biar seimbang!" ucap Ajun sambil mendekatkan keningnya pada Dini.


"Enak aja ...., aku udah pintar ya sekarang!" ucap Dini sambil turun dari mobil dan menutup pintu mobil dengan begitu keras.


"Kita pulang!" perintah Ajun.


"Baik pak!"


Mereka meninggalkan rumah Dini setelah Dini benar-benar masuk ke dalam rumahnya.


***


Pagi ini Ajun sudah berada di rumah Rendi. Ia punya tugas menjaga Nadin dan Elan.


"Jangan biarkan Nadin kemana-mana!"


"Baik pak!"


"Kata anak-anak, kemarin kamu di serang, apa benar?"


"Iya pak!"


"Kamu tahu siapa mereka?"


"Seperti orang yang sama dengan orang-orang yang menyerang pak Rendi beberapa bulan lalu!"


"Aku akan mengusutnya!"


"Baik pak!"


Seperti biasa Ajun akan mengantarkan Rendi hingga mobilnya meninggalkan rumah.


Walaupun dalam keadaan cidera tetap saja Ajun jauh lebih unggul dari empat orang pengawal yang terlatih. Ia bukan cuma kuat tapi juag cerdas.


Setelah mobil Rendi menghilang, Ajun hendak masuk ke dalam rumah tapi langkah ya segera terhenti saat pemilik rumah yang berada tepat di depan rumahnya itu keluar dengan seragam lengkapnya.


"Selamat pagi, saingan!" sapa Juna dengan senyum yang menggoda.


"Jangan menyapaku jika tidak ikhlas!"


"Siapa bilang tidak ikhlas, oh iya mungkin kamu butuh bantuan untuk mengungkap siapa di balik penyerangan itu?"


"Tidak sama sekali!"


"Dasar keras kepala, tidak usah sungkan lah kalau butuh bantuan!"


Bukannya menjawab, Ajun memilih berlalu meninggalkan Juna sendiri di sama.


...Kadang yang kita kira bukan siapa-siapa, ternyata dia yang begitu kita rindukan~MBOI...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰