MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Morning kiss



Hari ini Nadin sudah di perbolehkan pulang, tapi harus nunggu cairan infusnya habis.


Rendi sudah tidak meninggalkan rumah sakit semenjak akad nikah kemarin.


Walaupun begitu ia tetap saja mengirimkan rencana kerja satu hari ke depan untuk Agra. Dan memastikan semua keperluan Agra terjamin untuk satu hari ke depan, entah itu melalui bi Anna ataupun pak Mun.


Hari masih begitu pagi, Rendi yang sudah rapi dengan pakaian santainya, ia tidak suka dengan hal-hal yang berantakan, semuanya harus se perfect apa yang ia mau, mulai dari tempat, penampilan sampai keadaan.


Sesekali ia melirik pada tempat tidur, di sana belum ada pergerakan menanyakan jika si empunya tempat tidur belum bangun juga.


Beberapa kali ia lakukan hal yang sama, hingga membuatnya gelisah, ingin sekali mendekati tempat tidur itu, tapi kemudian ia urungkan kembali. Bukannya apa tapi sepertinya ia tidak ingin membuat istri kecilnya itu mengetahui jika ia sedang memperhatikannya.


Ia kembali sibuk dengan ponselnya saat tiba-tiba matanya terpancing dengan suara yang tampak berisik, ternyata istri kecilnya itu sudah mulai bangun. Ada senyum terbesit di bibirnya, tapi segera ia menutupinya kembali dengan wajah dinginnya.


Rendi melirik ke arah Nadin dengan tanpa menghentikan pekerjaannya. Sebenarnya ada keinginan untuk mengucapkan selamat pagi, tapi ternyata otaknya mengatakan hal yang lain.


Biarkan saja lah ...., nanti dia Ge eR lagi ...


Tapi ternyata tetap saja, otaknya masih kalah dengan hatinya, hatinya memintanya untuk menghampiri istri kecilnya itu.


"Mau ke mana?" Tanya Rendi saat melihat Nadin sedang kesusahan ingin mengambil infusnya dari penyanggahnya.


Deg


Istri kecilnya itu menoleh padanya, menatapnya dengan mata indahnya. Mata itu yang selalu membuat pendiriannya goyah, mata yang sama yang selalu ingin ia tatap saat pagi hari ia bangun dan saat malam hari ia akan tidur kembali.


"Aku mau ke kamar mandi!" Ucap Nadin. Istri kecilnya itu kembali fokus pada kantong infusnya, Nadin begitu kesusahan melepasnya, entah apa karena baru bangun tidur sehingga konsentrasinya belum penuh atau ada hal lain.


Ternyata kakinya lebih cepat dari pada otaknya, Rendi pun segera meletakkan ponselnya di atas meja, ia melangkahkan kakinya mendekati istri kecilnya itu.


Entah dorongan dari mana, tapi lagi-lagi otaknya telah kalah. Untuk beberapa hal otaknya memang selalu menang, tapi saat berhadapan dengan Nadin, otak itu selalu kalah.


"Biar aku bantu!" Ucap Rendi dingin sambil meraih infus dari tangan Nadin. Ia juga membantu Nadin untuk berjalan.


"Pak Rendi, aku bisa berjalan sendiri, aku sudah sehat!" Ucap Nadin menolak pertolongan dari suaminya. Bukan apa tapi memang ia sudah sehat, sebelum-sebelumnya ia sudah terbiasa berjalan kemana-mana sendiri, hanya saja geraknya sedikit terbatas karena selang itu.


"Sudah diam, jangan banyak bicara!" Ucap Rendi dingin, membuat Nadin hanya bisa menurut saja. Rendi menuntun Nadin hingga sampai di depan kamar mandi.


Saat sampai di depan pintu kamar mandi, Nadin menghentikan langkahnya lagi. Ia menolah pada suami dinginnya itu.


Deg


Lagi-lagi ada degupan luar biasa di jantungnya saat istri kecilnya itu menatapnya, ada sensasi aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya, seperti magnet yang menariknya untuk mendekat.


Tapi lagi-lagi otaknya segera memberi saran untuk tetap fokus.


"Ada apa?" Tanya Rendi. Ya otaknya segera memintanya untuk menanyakan hal yang sama, walaupun ia ingin sekali mendekat dan mengatakan hal lain, tapi selalu kata-kata membosankan itu yang keluar.


"Sampai di sini saja ya!" Ucap Nadin, ia malu jika sampai suaminya itu mengantarnya sampai kamar mandi.


"Mau aku antar, atau tidak usah ke kamar mandi?" Ucap Rendi dengan wajah memaksanya, dia benar-benar tukang perintah yang ulung. Ingin sekali mengatakan hal yang lebih manis, tapi ternyata bibirnya terlalu kaku untuk mengeluarkan kata manis, alih-alih ingin romantis, malah terkesan seperti diktaktor.


"Baiklah ...!" Nadin hanya bisa menyerah, kesalahan besar jika menolak perintahnya.


Rendi mengutuki kebodohannya sendiri, ia pun ikut masuk ke kamar mandi, ia menggantung kantong infus Nadin di penyanggah infus yang ada di kamar mandi.


Rendi kembali menatap istri kecilnya itu, ada sesuatu yang menariknya untuk melakukan sesuatu, hatinya memintanya, tubuhnya juga.


"Sekarang bisa tinggalkan aku di sini kan?" Tanya Nadin. Tapi pria dingin itu malah mengerutkan keningnya penuh tanya.


Ya kata-kata yang keluar dari bibir istrinya itu, seperti memecah gelembung-gelembung yang sedari tadi mengumpul di hadapannya, gelembung-gelembung yang seperti sengaja di kumpulkan ya dan hilanglah sudah.


"Pak ....., Bagaimana aku bisa buang air kecil kalau pak Rendi tetap di sini!"


"Hehhhh ....!" keluh Rendi, ia seperti kehilangan sesuatu yang sudah lama sekali ia kumpulkan dan segera tersalurkan, banyak sekali yang mengganjal di sana.


"Baiklah, aku akan menunggu di depan pintu, panggil aku jika sudah selesai!" Ucap Rendi lalu berlalu meninggalkan Nadin di kamar mandi.


Tapi hatinya kurang peka memahaminya, berkali-kali ia menghembuskan nafasnya dalam, berharap bisa sedikit mengurangi degupan jantungnya yang tak beraturan itu.


Cukup lama Rendi menunggu di depan kamar mandi, hingga ia sudah beberapa kali ia mengetuk pintu itu.


"Sudah, belum?" Teriak Rendi dari luar.


"Bentar pak, sabar ...!" Jawab istri kecilnya itu dari dalam, walaupun cuma sebentar tapi rasanya ingin segera menatap mata itu lagi. Apa ini namanya, dalam kamus apapun ia tidak menemukan artinya.


"Lima menit tidak keluar, aku akan mendobraknya!" Ia benar-benar tidak sabar.


"Dalam hitungan ketiga aku benar-benar mendobraknya, sa-tu ...., Du-a ...., ti- ...!"


Belum sampai Rendi mendobrak pintu itu, tiba-tiba pintu sudah terbuka dari dalam, menampakkan wajah Nadin yang sudah lebih segar, sepertinya Nadin juga sudah mencuci mukanya.


Nadin mendongakkan kepalanya, berusaha menjangkau wajah suaminya itu, Nadin memang tidak setinggi suaminya.


"Ke-kenapa tidak memanggilku?" Tanya Rendi saat melihat Nadin keluar. Lidahnya kembali Kelu hanya untuk mengatakan hal-hal sederhana saja. Mata itu selalu berhasil menjadikannya lemah.


"Aku sudah nggak pa pa pak, lihat saja. Aku sudah sangat sehat!" Ucap Nadin sambil memutar-mutar tubuhnya, berusaha menunjukkan dirinya kalau memang sudah benar-benar sehat, bercak atau apapun sudah tidak membekas lagi.


Rendi ingin sekali menangkap tubuh istri kecilnya itu dan mendekapnya dalam pelukannya, tapi tangan ataupun tubuhnya terlalu kaku untuk melakukan hal itu.


Alih-alih akan melakukan hal itu, malah yang keluar dari pemikirannya adalah ....


"Terserah ...!" Ucap Rendi sambil meninggalkan Nadin begitu saja.


Ya menghindar adalah sebuah cara yang paling aman di lakukan oleh Rendi, jantungnya belum terlalu kuat menerima degupan itu.


"Pak mau kemana?" tanya Nadin saat Rendi sudah hampir mencapai pintu.


"Beli sarapan!" ucap Rendi lagi-lagi begitu dingin.


"Tunggu sebentar!" Nadin pun segera berjalan mendekat pada suaminya itu.


"Menunduk sedikit!" ucap Nadin lagi saat sampai di depan suaminya. Dan suaminya itu mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Ayo ...., sedikit merendah ...!"


Akhirnya Rendi pun menurutinya, ia sedikit merendahkan tubuhnya mensejajarkan ya dengan istri kecilnya itu.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di bibirnya.


"Morning kiss .....!" ucap Nadin saat sudah menjauh dari bibir Rendi. Rendi masih terpaku di tempatnya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan wanita di depannya itu, dia begitu mudahnya mengungkapkan rasa sayang, rasa cinta, begitu mudahnya mengekpresikan dengan gerakan.


Kenapa berbalik 180 derajat dengan dirinya, hanya untuk mengeluarkan kata-kata manis saja, butuh berjam-jam untuk merangkainya dan akan segera hilang seperti orang bodoh saat berusaha mengatakannya.


"Senyum dikit dong mas ...., biar manis!" Goda Nadin, Rendi hanya memicingkan matanya dan berlalu keluar dari kamar Nadin.


Berusaha menyembunyikan semburan euforia yang keluar dari dalam dirinya, seperti ada percikan-percikan kecil warna warni yang keluar dari atas kepalanya.


Senyum yang tadi berusaha keras ia sembunyikan seketika keluar saat sudah berada di balik pintu dengan tangan kanan yang masih memegangi dadanya yang seperti mau meledak.


BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘