MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Rencana ke dua Alex



Alex melepaskan tangan Nadin, Nadin menggunakan kesempatan


itu untuk cepat berlalu meninggalkan Alex, sedangkan Alex masih tetap berdiri


di tempatnya dengan tangan yang mengepal sempurna, otot-otot di pelipisnya


saling menonjolkan diri dengan gigi-gigi yang saling mengerat, ia benar-benar


marah.


Merry yang masih berdiri di tempatnya tak berani menatap


tuannya itu, jika marah, tuannya akan sangat menakutkan.


Alex menendang kursi di belakangnya hingga terlempar ke


halaman, mengamuk seperti singa betina yang lapar.


Nadin menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia


benar-benar di buat kesal oleh Alex, kebahagiaannya karena bertemu dengan


Rendi seakan menguap saat melihat wajah Alex.


Ia tidur telentang, menatap langit-langit kamarnya, pandangannya menerawang, memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi.


“Aku harus bagaimana sekarang?”


“Ughhhh ….!” Nadin membenamkan wajahnya ke dalam bantal, ia


sadar telah menantang orang seperti Alex, orang yang tega melakukan apapun demi


mendapatkan apa tang di inginkan.


“Apa sebenarnya rencana ke duanya?”


🌺🌺🌺🌺


Rendi yang sudah mulai tenang, ia kembali memanggil anak


buahnya. Ia harus merencanakan untuk membebaskan Nadin dengan cepat, mendengar


langkah ke tiga Alex membuatnya harus segera bertindak.


“Atur strategi lebih matang, cari celah dari villa itu!”


“Baik pak!”


“Salah satu dari kalian harus ikut denganku menyusup ke


rumah itu, kita harus menyamar supaya tidak di curigai!”


“Kapan pak kita mulai beraksi!”


“Besok, setelah kalian melakukan pengintaian dan memastikan


alex tidak datang!”


“Baik pak!”


Kelihatannya otak encer Rendi mulai berfungsi dengan baik,


ia mulai melacak keamanan Villa dengan benda tipis di tangannya, ia memang


pandai meretas akun orang lain, tapi Rendi jarang menggunakannya, ia hanya


menggunakan untuk hal-hal tertentu saja.


Itulah kenapa banyak yang menginginkan Rendi berada di pihak


mereka, bahkan banyak dari mereka mengiming-imingi gaji yang lebih besar dari


gaji yang ia terima dari finityGroup.


🌺🌺🌺


Rumah besar


Nyonya Ratih sedang menikmati secangkir kopi panasnya di


taman belakang di temani oleh Salman, nyonya Ratih sengaja mengundang Salman


untuk minum kopi bersama, tapi bukan itu yang penting, yang terpenting adalah


hal yang akan di bicarakan oleh dua orang penting itu.


“Sudah lama kita tidak minum kopi bersama!” ucap nyonya Ratih dengan senyum khasnya, garis-garis halus itu sudah mulai menghiasi wajahnya, tapi tak juga mengurangi kecantikannya.


“Iya nyonya!”


Salman hanya menjawab sekenanya, ia lebih tertarik untuk fokus pada rintik air


hujan yang membasahi hijaunya dedaunan di hamparan taman yang luas itu,


daun-daun seakan-akan melambai-lambai mengajaknya menari, suara dentingan air


hujan yang mengenai tanah berpaving memberi irama tersendiri, seakan sedang


menggambarkan suasana yang sedang terjadi saat ini.


“Apa kau benar tidak akan membantu mereka?” Tanya nyonya


Ratih lagi sambil menyesap kopinya. Ia duduk begitu elegan.


“Mereka sudah dewasa, nyonya. Sudah waktunya kita


benar-benar melepaskan mereka!”


“Tapi apa kau yakin gadis itu, maksudku menantumu akan


aman?”


“Sejauh ini, pria tidak berusaha menyakiti Nadin, ia hanya


mengincar putra-putra kita nyonya!”


“Apa kau yakin?”


“Sedikit goyangan akan membuat mereka semakin waspada


nyonya. Orang-orang saya tetap memantaunya nyonya. Rendi juga sudah mulai


bertindak!”


“Anak itu dewasa sebelum waktunya, semoga dia mendapatkan


kebahagiaannya!”


“Terimakasih atas kebaikan nyonya!”


Banyak pembicaraan penting yang hanya mereka pahami, mungkin


jika orang lain mendengarkannya mereka hanya akan merasa bingung, memang orang


semakin tua pemikirannya akan semakin matang.


🌺🌺🌺


 Di finityGroup


Agra terlihat begitu gusar setelah mendapat sebuah telpon,


menghadapi masalah.


Agra duduk di kursi kebesarannya, menutup matanya, dan


memijat keningnya yang terasa berat, ia harus segera bertindak supaya semuanya


menjadi baik.


Agra pun menghubungi asistennya. Ia menekan satu tombol di


telponnya,


 “Panggilkan pak Divta


ke sini!” perintahnya pada asistennya.


“Baik pak!”


Setelah mendapat sahutan, ia pun segera menutup telponnya,


ia kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tak berapa lama, divta


sudah datang. Ia menghampiri ruangan Agra karena perintah dari agra.


“Permisi pak, pak Divta sudah datang!” ucap asistennya


setelah mengetuk pintu.


“Suruh masuk!” agra membetulkan jasnya yang terlihat


berantakan,  ia kembali ke posisi tegap


dan meletakkan kedua tangannya di atas meja.


Tak berapa lama, Divta pun masuk. Divta menghentikan


langkahnya tepat di depan meja Agra, ia menatap wajah Agra yang terlihat


tegang.


“Duduklah bang …!” perintah Agra, tak menunggu perintah dua


kali Divta pun segera duduk.


“Ada masalah apa Gra? Apa kau sudah mendapat kabar dari


Rendi?” Tanya Divta yang tak sabar. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Agra.


“Iya bang …, Rendi sudah menemukan keberadaan Nadin, bahkan


ia sudah bertemu dengannya!”ucap Agra, tapi dalam ucapan itu tak ada nada


bahagia yang keluar.


“Apa Nadin baik-baik saja?”


“Iya …, dia baik-baik saja!”


“Lalu kenapa wajahmu seperti itu?”


“Ada hal penting lagi yang terjadi.”


“Apa?”


“Cabang perusahaan kita yang ada di Prancis mengalami


masalah besar, sepertinya itu kerjaan Alex juga.” Ucap Agra, ia pun segera


menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi lagi. Biasanya ia bisa langsung


mengandalkan Rendi, tapi saat ini ia tidak mungkin meminta bantuan Rendi.


“Sebenarnya siapa sih Alex ini, ganas sekali dia? Ada


hubungan apa kalian dengan pria yang bernama Alex ini?”


“Ceritanya panjang, bang!”


Agra pun mulai menceritakan awal mula mereka mengenal Alex,


semua berawal dari masa remaja.


Saat itu Agra, Rendi dan Frans adalah tiga


sahabat yang memiliki kelebihannya masing-masing, tapi dari ketiga sahabat itu,


Rendi lah yang sering membuat orang iri dengan segudang kemampuannya.


Bahkan Kevin Alexander adalah salah satunya, ia seorang


pria arogan dengan segala kemewahan yang dimiliki tapi ada satu hal yang tidak


bisa ia lakukan, yaitu mengalahkan Rendi. Hal itu sangat melukai egonya.


Kevin Alexander adalah putra tunggal dari pemilik kerajaan


bisnis di bidang  informasi dan


teknologi.  Banyak bidang yang mereka


geluti, mulai dari perangkat keras hingga perangkat lunak. Hal itu membuat


Alex harus bekerja ekstra untuk mendapatkan nilai terbaik di bidang itu, ia


mengikuti beberapa turnamen, olimpiade dan beberapa projek ilmiah.


Walaupun ia tidak kuliah di kampus yang sama Rendi, Agra dan


Frans, tapi mereka sering di pertemukan di event-event internasional. Banyak


event internasional yang melibatkan Rendi dan Alex membuat mereka menjadi


salang mengenal.


Karena sifat Rendi yang dingin dan Alex yang arogan membuat


mereka selalu tidak sefaham dalam segara hal, walaupun mereka berasal dari


Negara yang sama, Hanna kekasih Alex yang selalu menjadi penengah di antara


mereka.


Persaingan itu terus berlanjut hingga mereka menyelesaikan


pendidikannya.  Alex tidak suka menjadi


yang nomor dua, bahkan ayah Alex tak jarang memuji Rendi.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘