
Alex melepaskan tangan Nadin, Nadin menggunakan kesempatan
itu untuk cepat berlalu meninggalkan Alex, sedangkan Alex masih tetap berdiri
di tempatnya dengan tangan yang mengepal sempurna, otot-otot di pelipisnya
saling menonjolkan diri dengan gigi-gigi yang saling mengerat, ia benar-benar
marah.
Merry yang masih berdiri di tempatnya tak berani menatap
tuannya itu, jika marah, tuannya akan sangat menakutkan.
Alex menendang kursi di belakangnya hingga terlempar ke
halaman, mengamuk seperti singa betina yang lapar.
Nadin menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia
benar-benar di buat kesal oleh Alex, kebahagiaannya karena bertemu dengan
Rendi seakan menguap saat melihat wajah Alex.
Ia tidur telentang, menatap langit-langit kamarnya, pandangannya menerawang, memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi.
“Aku harus bagaimana sekarang?”
“Ughhhh ….!” Nadin membenamkan wajahnya ke dalam bantal, ia
sadar telah menantang orang seperti Alex, orang yang tega melakukan apapun demi
mendapatkan apa tang di inginkan.
“Apa sebenarnya rencana ke duanya?”
🌺🌺🌺🌺
Rendi yang sudah mulai tenang, ia kembali memanggil anak
buahnya. Ia harus merencanakan untuk membebaskan Nadin dengan cepat, mendengar
langkah ke tiga Alex membuatnya harus segera bertindak.
“Atur strategi lebih matang, cari celah dari villa itu!”
“Baik pak!”
“Salah satu dari kalian harus ikut denganku menyusup ke
rumah itu, kita harus menyamar supaya tidak di curigai!”
“Kapan pak kita mulai beraksi!”
“Besok, setelah kalian melakukan pengintaian dan memastikan
alex tidak datang!”
“Baik pak!”
Kelihatannya otak encer Rendi mulai berfungsi dengan baik,
ia mulai melacak keamanan Villa dengan benda tipis di tangannya, ia memang
pandai meretas akun orang lain, tapi Rendi jarang menggunakannya, ia hanya
menggunakan untuk hal-hal tertentu saja.
Itulah kenapa banyak yang menginginkan Rendi berada di pihak
mereka, bahkan banyak dari mereka mengiming-imingi gaji yang lebih besar dari
gaji yang ia terima dari finityGroup.
🌺🌺🌺
Rumah besar
Nyonya Ratih sedang menikmati secangkir kopi panasnya di
taman belakang di temani oleh Salman, nyonya Ratih sengaja mengundang Salman
untuk minum kopi bersama, tapi bukan itu yang penting, yang terpenting adalah
hal yang akan di bicarakan oleh dua orang penting itu.
“Sudah lama kita tidak minum kopi bersama!” ucap nyonya Ratih dengan senyum khasnya, garis-garis halus itu sudah mulai menghiasi wajahnya, tapi tak juga mengurangi kecantikannya.
“Iya nyonya!”
Salman hanya menjawab sekenanya, ia lebih tertarik untuk fokus pada rintik air
hujan yang membasahi hijaunya dedaunan di hamparan taman yang luas itu,
daun-daun seakan-akan melambai-lambai mengajaknya menari, suara dentingan air
hujan yang mengenai tanah berpaving memberi irama tersendiri, seakan sedang
menggambarkan suasana yang sedang terjadi saat ini.
“Apa kau benar tidak akan membantu mereka?” Tanya nyonya
Ratih lagi sambil menyesap kopinya. Ia duduk begitu elegan.
“Mereka sudah dewasa, nyonya. Sudah waktunya kita
benar-benar melepaskan mereka!”
“Tapi apa kau yakin gadis itu, maksudku menantumu akan
aman?”
“Sejauh ini, pria tidak berusaha menyakiti Nadin, ia hanya
mengincar putra-putra kita nyonya!”
“Apa kau yakin?”
“Sedikit goyangan akan membuat mereka semakin waspada
nyonya. Orang-orang saya tetap memantaunya nyonya. Rendi juga sudah mulai
bertindak!”
“Anak itu dewasa sebelum waktunya, semoga dia mendapatkan
kebahagiaannya!”
“Terimakasih atas kebaikan nyonya!”
Banyak pembicaraan penting yang hanya mereka pahami, mungkin
jika orang lain mendengarkannya mereka hanya akan merasa bingung, memang orang
semakin tua pemikirannya akan semakin matang.
🌺🌺🌺
Di finityGroup
Agra terlihat begitu gusar setelah mendapat sebuah telpon,
menghadapi masalah.
Agra duduk di kursi kebesarannya, menutup matanya, dan
memijat keningnya yang terasa berat, ia harus segera bertindak supaya semuanya
menjadi baik.
Agra pun menghubungi asistennya. Ia menekan satu tombol di
telponnya,
“Panggilkan pak Divta
ke sini!” perintahnya pada asistennya.
“Baik pak!”
Setelah mendapat sahutan, ia pun segera menutup telponnya,
ia kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tak berapa lama, divta
sudah datang. Ia menghampiri ruangan Agra karena perintah dari agra.
“Permisi pak, pak Divta sudah datang!” ucap asistennya
setelah mengetuk pintu.
“Suruh masuk!” agra membetulkan jasnya yang terlihat
berantakan, ia kembali ke posisi tegap
dan meletakkan kedua tangannya di atas meja.
Tak berapa lama, Divta pun masuk. Divta menghentikan
langkahnya tepat di depan meja Agra, ia menatap wajah Agra yang terlihat
tegang.
“Duduklah bang …!” perintah Agra, tak menunggu perintah dua
kali Divta pun segera duduk.
“Ada masalah apa Gra? Apa kau sudah mendapat kabar dari
Rendi?” Tanya Divta yang tak sabar. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Agra.
“Iya bang …, Rendi sudah menemukan keberadaan Nadin, bahkan
ia sudah bertemu dengannya!”ucap Agra, tapi dalam ucapan itu tak ada nada
bahagia yang keluar.
“Apa Nadin baik-baik saja?”
“Iya …, dia baik-baik saja!”
“Lalu kenapa wajahmu seperti itu?”
“Ada hal penting lagi yang terjadi.”
“Apa?”
“Cabang perusahaan kita yang ada di Prancis mengalami
masalah besar, sepertinya itu kerjaan Alex juga.” Ucap Agra, ia pun segera
menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi lagi. Biasanya ia bisa langsung
mengandalkan Rendi, tapi saat ini ia tidak mungkin meminta bantuan Rendi.
“Sebenarnya siapa sih Alex ini, ganas sekali dia? Ada
hubungan apa kalian dengan pria yang bernama Alex ini?”
“Ceritanya panjang, bang!”
Agra pun mulai menceritakan awal mula mereka mengenal Alex,
semua berawal dari masa remaja.
Saat itu Agra, Rendi dan Frans adalah tiga
sahabat yang memiliki kelebihannya masing-masing, tapi dari ketiga sahabat itu,
Rendi lah yang sering membuat orang iri dengan segudang kemampuannya.
Bahkan Kevin Alexander adalah salah satunya, ia seorang
pria arogan dengan segala kemewahan yang dimiliki tapi ada satu hal yang tidak
bisa ia lakukan, yaitu mengalahkan Rendi. Hal itu sangat melukai egonya.
Kevin Alexander adalah putra tunggal dari pemilik kerajaan
bisnis di bidang informasi dan
teknologi. Banyak bidang yang mereka
geluti, mulai dari perangkat keras hingga perangkat lunak. Hal itu membuat
Alex harus bekerja ekstra untuk mendapatkan nilai terbaik di bidang itu, ia
mengikuti beberapa turnamen, olimpiade dan beberapa projek ilmiah.
Walaupun ia tidak kuliah di kampus yang sama Rendi, Agra dan
Frans, tapi mereka sering di pertemukan di event-event internasional. Banyak
event internasional yang melibatkan Rendi dan Alex membuat mereka menjadi
salang mengenal.
Karena sifat Rendi yang dingin dan Alex yang arogan membuat
mereka selalu tidak sefaham dalam segara hal, walaupun mereka berasal dari
Negara yang sama, Hanna kekasih Alex yang selalu menjadi penengah di antara
mereka.
Persaingan itu terus berlanjut hingga mereka menyelesaikan
pendidikannya. Alex tidak suka menjadi
yang nomor dua, bahkan ayah Alex tak jarang memuji Rendi.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘