MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Ini Semua Gara-gara Kamu



Mendengar


pertanyaan Davina membuat Rendi marah, sungguh bukan itu yang dia inginkan. Mau


bagaimana pun Davina dia tetap saudara istrinya. Walaupun sampai kapan ia tidak


akan pernah menggantikan tempat Nadin oleh siapapun.


“Jangan


harap!” ucap Rendi sambil berdiri. Ia benar-benar terpancing amarahnya.


“Ya


sudah, pergilah …!” Davina tetap dengan pendiriannya.


Saat


Rendi hendak melangkahkan kakinya, Ajun segera menahan atasannya itu.


“Tunggu


sebentar, pak! Kita sudah sejauh ini.” Ajun memperingatkan atasannya itu untuk


tidak gegabah.


Rendi terdiam, sepertinya sedang memikirkan sesuatu, bukan ini yang dia inginkan, tapi ia harus tahu semuanya, ia pun berusaha mengendalikan perasaan kesalnya.


“Ya udah


sekarang katakan dan aku akan mempertimbangkannya!” Rendi kembali duduk dengan


sikap tenangnya.


“Kau penyebabnya!" ucap Davina dengan penuh penekanan.


Rendi menatap Davina tak percaya, dia penyebabnya, tapi demi apapun dia tidak pernah melakukan apapun dengan Davina.


"Apa maksud perkataan mu?"


"Kaulah yang sudah membuat anak yang ada dalam kandunganku ini terpisah dari ayahnya!”


“Aku?”


Tanya Rendi, ia malah bertambah bingung, bagaimana ada hubungannya dengannya.


Sepertinya


wanita ini berusaha memeras emosi pak Rendi, aku harus segera mencegahnya …


“Pak …,


sebaiknya kita pergi saja dari sini?” ajak Ajun, tapi Rendi tetap diam ia


memberi isyarat dengan mengangkat telapak tangannya pada Ajun untuk tetap diam


dan tidak ikut campur.


“Katakan


dengan jelas!” perintah Rendi.


Davina


mendekat pada Rendi, ia menunjuk pada dada Rendi dengan mata yang berkaca-kaca,


sepertinya cairan bening itu tak mampu lagi untuk ia bendung, dengan perasaan


yang menggebu gebu ia menunjuk nunjuk dada Rendi.


“Kau …,


kau yang membuat ayah dari anak ini pergi, anak ini tidak bisa menunggu hingga


tahun depan tau lima tahun lagi!” ucap Davina dengan suara yang bergetar. “Apa


kau bisa mengembalikannya ke sini? Kau tidak bisa!”


Davina


menjatuhkan tubuhnya ke lantai, ia menangis begitu memilukan, seluruh tubuhnya


bergetar, Rendi masih berdiri di tempatnya.


Satu


tahun…?, lima tahun …?, menunggu ….?,karena aku…?, aku yang membuat ayah anak


itu pergi …?., pergi …?, kemana …?


Banyak


pertanyaan muncul di kepala Rendi, ia kemudian mengingat satu nama yang


melintas di kepalanya.


“Divta


…!” pekik Rendi. Ya satu nama itu yang muncul, hanya pria itu yang sekarang ada di pikirannya, tapi bagaimana


bisa? Sejak kapan mereka begitu dekat? Bukankah dulu Divta begitu membenci


Davina?


Rendi


ikut jongkok di depan Davina, ia ingin mendengar kepastian dari wanita itu, apa


benar ayah dari anak yang ia kandung adalah Divta.


“Katakan


padaku, apa aku benar? Apa benar pria itu Divta?” Tanya Rendi, dan Davina pun


mengangguk.


Mendapat


jawaban dari Davina, Rendi benar-benar seperti tersambar petir. Ia tak percaya,


tapi kenyataannya Davina sekarang sedang hamil.


Rendi


berdiri, menjauh dari Davina. Ia mengusap rambutnya kasar, memukul dinding yang


ada di hadapannya, menjadikan dahinya sebagai sandaran.


Davina


benar dialah biang masalahnya, akibat kesalahannya di masa lalu, membuat orang


lain menderita lagi.


“Pak!”


Ajun tampak menenangkan atasannya, ia tidak mau sampai atasannya itu hilang


kendali. “Kendalikan diri bapak!”


Rendi


berusaha menguasai dirinya sendiri, ia tidak boleh terpancing. Banyak hal yang


harus dia lakukan. Rendi segera mendekat ke arah Davina.


“Aku


akan membawa Divta kembali ke sini! Aku janji!”


Mendengar


ucapan Rendi, Davina segera mendongakkan kepalanya menatap kearah Rendi,


dengan cepat ia meraih tangan Rendi.


“Jangan!” ucap Davina dengan penuh permohonan.


“Kenapa?”


“Aku


takut dia tidak akan menerimanya, aku mohon jangan beritahu apapun pada orang


lain, aku mohon!”


“Tapi


“Aku


takut, sudah cukup! Jangan libatkan siapapun lagi, termasuk Divta, aku mohon


…., sudah banyak kesulitan yang aku buat untuk orang lain, aku tidak ingin


menambahnya lagi!”


“Baiklah


…, tapi ada syaratnya!”


“Apa?”


“Kau


harus tinggal di tempat yang aku sediakan dan biarkan anak kamu lahir dengan


selamat!”


“Aku


akan memikirkannya, tapi tidak sekarang!”


“Baiklah


…, kami pergi dulu!”


Davina


mengangguk, Rendi pun segera keluar dari rumah itu di ikuti oleh Ajun. Tetangga


kepo tadi ternyata masih berada di teras rumahnya, sepertinya dia sengaja


menguping pembicaraan mereka. Rendi tidak peduli, ia tetap berlalu meninggalkan


rumah itu, menyusuri jalan setapak yang sama tapi bedanya sekarang genangan


air itu sudah menghilang karena matahari sudah menguapkannya hingga tak tersisa


lagi.


Rendi


kembali ke kantor, tapi pikirannya sedang tidak fokus. Ia mencoba membantu


Davina, tapi Davina tidak ingin kehamilannya di ketahui oleh orang lain


termasuk istrinya. Mau sampai kapan ia bisa menyembunyikannya dari istrinya.


“Carikan


tempat yang layak untuk Davina!”


“Baik


pak!”


“Dan ya,


carikan dokter kandungan untuk Davina juga, tapi jangan di rumah sakit tempat


Frans praktek!”


“Baik


pak!”


“O …, o …, o…, sejak kapan manusia kulkas ini menyebut-nyebut nama dr. frans!” belum


sempat Rendi bicara lagi, tiba-tiba dr. Frans masuk ke dalam ruangan Rendi,


membuat Rendi terkejut, tapi ia segera memberi isyarat pada Ajun untuk keluar


dengan mengedipkan matanya.


“Kenapa


lo ke sini?” Tanya Rendi dingin, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


“Lama


nggak menggoda si kulkas, jadi kangen!”


“Lagak


lo …!”


“Mana si


cantik? Lo sengaja ya nyembunyiin dia?”


“Ya …,


supaya nggak dekat-dekat sama lo!”


“Posesif


banget lo jadi laki, gue bawa kabur istri lo tau rasa …!”


“Jangan


harap ya, sudah sana lo pergi saja, ngrecokin gue aja …!”


“Gaya lo


…, kalau ada masalah aja nangis-nangisnya sama gue …!” dr. Frans selalu saja


berhasil mengalihkan kesuntukan Rendi. Walaupun awalnya penuh perdebatan tapi


setiap kali mereka bertemu, mereke benar-benar seperti anak muda yang saling


mengolok, memukul lalu berpelukan.


Cukup


lama dr. Frans berada di ruangan Rendi hingga jam makan siang baru dr. Frans


kembali ke rumah sakit.


Sore ini


Rendi berencana mencari tempat tinggal yang layak bagi Davina. Rendi memeriksa


semua hunian yang layak dan mudah di jangkau olehnya. Rendi sepertinya cukup


kesulitan, ia meletakkan layar datarnya, ia mendongakkan kepalanya, menatap ke


arah Ajun yang sedang konsentrasi menyetir.


“Apa aku


punya pendapat yang bagus tentang  tempat


tinggal untuk Davina?”


“Kalau


menurut saya, lebih baik bu Davina tinggal di apartemen bapak, selain aman ,


bapak juga dengan mudah memantau keadaannya, apalagi dua bulan lagi bu Davina


akan melahirkan!”


“Iya kau


benar! Bilang pad pengelola apartemen untuk menyiapkan satu  kalau bisa di lantai bawah saja, selain cepat


juga cukup jauh dari jangkauan istri saya!”


“baik


pak!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘