
Mendengar
pertanyaan Davina membuat Rendi marah, sungguh bukan itu yang dia inginkan. Mau
bagaimana pun Davina dia tetap saudara istrinya. Walaupun sampai kapan ia tidak
akan pernah menggantikan tempat Nadin oleh siapapun.
“Jangan
harap!” ucap Rendi sambil berdiri. Ia benar-benar terpancing amarahnya.
“Ya
sudah, pergilah …!” Davina tetap dengan pendiriannya.
Saat
Rendi hendak melangkahkan kakinya, Ajun segera menahan atasannya itu.
“Tunggu
sebentar, pak! Kita sudah sejauh ini.” Ajun memperingatkan atasannya itu untuk
tidak gegabah.
Rendi terdiam, sepertinya sedang memikirkan sesuatu, bukan ini yang dia inginkan, tapi ia harus tahu semuanya, ia pun berusaha mengendalikan perasaan kesalnya.
“Ya udah
sekarang katakan dan aku akan mempertimbangkannya!” Rendi kembali duduk dengan
sikap tenangnya.
“Kau penyebabnya!" ucap Davina dengan penuh penekanan.
Rendi menatap Davina tak percaya, dia penyebabnya, tapi demi apapun dia tidak pernah melakukan apapun dengan Davina.
"Apa maksud perkataan mu?"
"Kaulah yang sudah membuat anak yang ada dalam kandunganku ini terpisah dari ayahnya!”
“Aku?”
Tanya Rendi, ia malah bertambah bingung, bagaimana ada hubungannya dengannya.
Sepertinya
wanita ini berusaha memeras emosi pak Rendi, aku harus segera mencegahnya …
“Pak …,
sebaiknya kita pergi saja dari sini?” ajak Ajun, tapi Rendi tetap diam ia
memberi isyarat dengan mengangkat telapak tangannya pada Ajun untuk tetap diam
dan tidak ikut campur.
“Katakan
dengan jelas!” perintah Rendi.
Davina
mendekat pada Rendi, ia menunjuk pada dada Rendi dengan mata yang berkaca-kaca,
sepertinya cairan bening itu tak mampu lagi untuk ia bendung, dengan perasaan
yang menggebu gebu ia menunjuk nunjuk dada Rendi.
“Kau …,
kau yang membuat ayah dari anak ini pergi, anak ini tidak bisa menunggu hingga
tahun depan tau lima tahun lagi!” ucap Davina dengan suara yang bergetar. “Apa
kau bisa mengembalikannya ke sini? Kau tidak bisa!”
Davina
menjatuhkan tubuhnya ke lantai, ia menangis begitu memilukan, seluruh tubuhnya
bergetar, Rendi masih berdiri di tempatnya.
Satu
tahun…?, lima tahun …?, menunggu ….?,karena aku…?, aku yang membuat ayah anak
itu pergi …?., pergi …?, kemana …?
Banyak
pertanyaan muncul di kepala Rendi, ia kemudian mengingat satu nama yang
melintas di kepalanya.
“Divta
…!” pekik Rendi. Ya satu nama itu yang muncul, hanya pria itu yang sekarang ada di pikirannya, tapi bagaimana
bisa? Sejak kapan mereka begitu dekat? Bukankah dulu Divta begitu membenci
Davina?
Rendi
ikut jongkok di depan Davina, ia ingin mendengar kepastian dari wanita itu, apa
benar ayah dari anak yang ia kandung adalah Divta.
“Katakan
padaku, apa aku benar? Apa benar pria itu Divta?” Tanya Rendi, dan Davina pun
mengangguk.
Mendapat
jawaban dari Davina, Rendi benar-benar seperti tersambar petir. Ia tak percaya,
tapi kenyataannya Davina sekarang sedang hamil.
Rendi
berdiri, menjauh dari Davina. Ia mengusap rambutnya kasar, memukul dinding yang
ada di hadapannya, menjadikan dahinya sebagai sandaran.
Davina
benar dialah biang masalahnya, akibat kesalahannya di masa lalu, membuat orang
lain menderita lagi.
“Pak!”
Ajun tampak menenangkan atasannya, ia tidak mau sampai atasannya itu hilang
kendali. “Kendalikan diri bapak!”
Rendi
berusaha menguasai dirinya sendiri, ia tidak boleh terpancing. Banyak hal yang
harus dia lakukan. Rendi segera mendekat ke arah Davina.
“Aku
akan membawa Divta kembali ke sini! Aku janji!”
Mendengar
ucapan Rendi, Davina segera mendongakkan kepalanya menatap kearah Rendi,
dengan cepat ia meraih tangan Rendi.
“Jangan!” ucap Davina dengan penuh permohonan.
“Kenapa?”
“Aku
takut dia tidak akan menerimanya, aku mohon jangan beritahu apapun pada orang
lain, aku mohon!”
“Tapi
“Aku
takut, sudah cukup! Jangan libatkan siapapun lagi, termasuk Divta, aku mohon
…., sudah banyak kesulitan yang aku buat untuk orang lain, aku tidak ingin
menambahnya lagi!”
“Baiklah
…, tapi ada syaratnya!”
“Apa?”
“Kau
harus tinggal di tempat yang aku sediakan dan biarkan anak kamu lahir dengan
selamat!”
“Aku
akan memikirkannya, tapi tidak sekarang!”
“Baiklah
…, kami pergi dulu!”
Davina
mengangguk, Rendi pun segera keluar dari rumah itu di ikuti oleh Ajun. Tetangga
kepo tadi ternyata masih berada di teras rumahnya, sepertinya dia sengaja
menguping pembicaraan mereka. Rendi tidak peduli, ia tetap berlalu meninggalkan
rumah itu, menyusuri jalan setapak yang sama tapi bedanya sekarang genangan
air itu sudah menghilang karena matahari sudah menguapkannya hingga tak tersisa
lagi.
Rendi
kembali ke kantor, tapi pikirannya sedang tidak fokus. Ia mencoba membantu
Davina, tapi Davina tidak ingin kehamilannya di ketahui oleh orang lain
termasuk istrinya. Mau sampai kapan ia bisa menyembunyikannya dari istrinya.
“Carikan
tempat yang layak untuk Davina!”
“Baik
pak!”
“Dan ya,
carikan dokter kandungan untuk Davina juga, tapi jangan di rumah sakit tempat
Frans praktek!”
“Baik
pak!”
“O …, o …, o…, sejak kapan manusia kulkas ini menyebut-nyebut nama dr. frans!” belum
sempat Rendi bicara lagi, tiba-tiba dr. Frans masuk ke dalam ruangan Rendi,
membuat Rendi terkejut, tapi ia segera memberi isyarat pada Ajun untuk keluar
dengan mengedipkan matanya.
“Kenapa
lo ke sini?” Tanya Rendi dingin, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Lama
nggak menggoda si kulkas, jadi kangen!”
“Lagak
lo …!”
“Mana si
cantik? Lo sengaja ya nyembunyiin dia?”
“Ya …,
supaya nggak dekat-dekat sama lo!”
“Posesif
banget lo jadi laki, gue bawa kabur istri lo tau rasa …!”
“Jangan
harap ya, sudah sana lo pergi saja, ngrecokin gue aja …!”
“Gaya lo
…, kalau ada masalah aja nangis-nangisnya sama gue …!” dr. Frans selalu saja
berhasil mengalihkan kesuntukan Rendi. Walaupun awalnya penuh perdebatan tapi
setiap kali mereka bertemu, mereke benar-benar seperti anak muda yang saling
mengolok, memukul lalu berpelukan.
Cukup
lama dr. Frans berada di ruangan Rendi hingga jam makan siang baru dr. Frans
kembali ke rumah sakit.
Sore ini
Rendi berencana mencari tempat tinggal yang layak bagi Davina. Rendi memeriksa
semua hunian yang layak dan mudah di jangkau olehnya. Rendi sepertinya cukup
kesulitan, ia meletakkan layar datarnya, ia mendongakkan kepalanya, menatap ke
arah Ajun yang sedang konsentrasi menyetir.
“Apa aku
punya pendapat yang bagus tentang tempat
tinggal untuk Davina?”
“Kalau
menurut saya, lebih baik bu Davina tinggal di apartemen bapak, selain aman ,
bapak juga dengan mudah memantau keadaannya, apalagi dua bulan lagi bu Davina
akan melahirkan!”
“Iya kau
benar! Bilang pad pengelola apartemen untuk menyiapkan satu kalau bisa di lantai bawah saja, selain cepat
juga cukup jauh dari jangkauan istri saya!”
“baik
pak!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘