
Setelah meninggalkan rumah dokter Frans, Rendi pun benar-benar mampir ke apotik, tapi lagi-lagi ia ragu, otaknya kembali berfikir, ia melupakan sesuatu.
"Memang pengaman yang di maksud apa? Kenapa aku bisa lupa!"
Rendi hanya bisa menatapi apotek 24 jam itu, apotek itu terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang lalu lalang, sesekali ada yang masuk dan tidak sampai lima menit akan kembali keluar dengan membawa kantong plastik kecil.
"Aku harus bertanya sendiri!"
Rendi pun memutuskan untuk turun dari mobil, ia meninggalkan mobilnya di seberang jalan. Cukup repot untuk memutar kembali mobilnya ke jalur yang lain, ia memilih menyeberang jalan dengan sedikit berlari akhirnya Rendi sampai juga di depan apotek.
Hanya baru menginjakkan kakinya di depan apotek itu, ia sudah menjadi pusat perhatian petugas apotek, bukan karena aneh tapi rejeki karena malam-malam dapat pelanggan tampan, seperti angin segara di Padang oase, segerr ....
"Selamat malam mas, mau cari apa?" tanya salah satu pegawai yang segera menyambut Rendi.
Dingin dingin bikin greget ....
"Apa ada pengaman?" tanya Rendi to the point.
"Maksudnya pengaman? Oh nganu ya mas, pembalut ya?"
Aku harus tanyaya gimana lagi ....?
Rendi menggelengken kepalanya cepat. "Bukan, maksudnya ...., pengaman yang buat orang tidak hamil!"
Aduh bodohnya ...., bicara apa aku ini ...., mereka pasti menertawakan aku ....
Rendi tak perduli lagi dengan tatapan aneh para pegawai itu, mereka saling berbisik dan tersenyum aneh pada Rendi.
"Buat kekasihnya ya mas?"
"Bukan, tapi buat istriku!"
Jadi sudah punya istri ...., ih gemesnya sama mas keren ini ....
"Ini ya mas!" ucap pegawai apotek dengan menyodorkan sebuah pil kontrasepsi, Rendi tampak membolak-balik kemasan pil kontrasepsi itu.
"Apa aku harus meminum ini?" tanya Rendi lagi.
"Jadi yang pakek masnya ya?" tanya pegawai apotek itu masih dengan senyum mendamba.
Rendi pun mengangguk, kemudian pegawai apotek itu pun segera mencari sesuatu di raknya. Setelah menemukannya baru menghampiri Rendi lagi.
"Kalau buat masnya, yang ini mas, masih baru ya menikahnya?"
Rendi segera mengambil kemasan itu, memastikan kembali kalau yang di cari benar. Tak berniat untuk menjawab pertanyaan konyol dari karyawan apotek itu.
"Ini berapa?" tanya Rendi. Pegawai apotek pun segera memberikan nota. Setelah menyelesaikan pembayaran, Rendi segera berlari menyeberangi jalan menuju ke mobilnya kembali.
Ia tidak memperdulikan pegawai apotek yang masih memperhatikannya. Ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
***
Sesampai di apartemen, ia segera menyerahkan kunci mobilnya pada security untuk di parkirkan, ia menyembunyikan kemasan yang ia bawa di balik jaketnya agar Nadin tidak mengetahuinya.
Ceklek
Rendi membuka pintu, ternyata Nadin sudah menunggunya di depan pintu.
"Mas ...., dari mana? Kenapa Sampek semalam ini? Aku menunggumu sangat lama!" tanya Nadin saat Rendi baru menapakkan kakinya di dalam apartemen.
"Maaf!" ucap Rendi, Nadin segera meraih tangan Rendi dan mencium punggung tangannya, seketika hatinya kembali bergetar. Ia sampai lupa jika di balik tangan satunya ia menyembunyikan sesuatu.
Cup
Rendi mendaratkan kecupan di kening Nadin, ia tidak tahu kenapa tubuhnya bereaksi terlalu cepat seperti ini. Nadin memegangi keningnya, senyum lebar merekah di bibirnya.
Bluk
Sesuatu jatuh dari balik jaket Rendi.
"Mas ...., itu apa?"
Dengan cepat Rendi mengambilnya dan menyembunyikan kembali di balik jaketnya.
"Bukan apa-apa .... , aku mandi dulu!" ucap Rendi gugup ia segera meninggalkan Nadin dan masuk ke dalam kamar.
"Hehhhh!" Rendi mengelus dadanya lega, ia segera menyembunyikan benda itu di antara baju-bajunya agar Nadin tidak melihatnya.
Setelah mandi, Rendi segera menghampiri Nadin lagi,
"Mas tadi pesan makanan ya?" tanya Nadin.
"Sudah!"
"Ya sudah ayo makan malam!"
Aku sudah nggak sabar mencobanya .....
Rendi pun mengajak Nadin ke meja makan, Nadin sudah membuka pembungkus makanan itu dan menaruhnya di piring. Nadin melahap makanannya dengan sangat antusias, sepertinya ia sangat lapar.
Tapi tatapan Rendi seketika tertuju pada bibir Nadin yang penuh dengan saus, Nadin ******* bibirnya sendiri agar sausnya ikut masuk ke dalam mulut, entah kenapa hal sekecil itu bisa memancing RJ nya Rendi.
Kenapa dia selalu menggodaku ....
Tanpa terasa tangan Rendi sudah terulur ke bibir Nadin, membuat Nadin menghentikan aktifitasnya.
Rendi mengusap bibir Nadin dengan ujung jari jempolnya, sedikit memainkannya di sana. Nadin hanya bisa menatap tatapan suaminya yang berbeda itu.
Setelah puas dengan kegiatannya, Rendi segera menarik tangannya dan memasukkan jempolnya ke dalam mulutnya sendiri, Nadin segera menarik tangan Rendi. Membuat Rendi terkejut.
"Mas Rendi jorok!"
"Apa?" tanya Rendi.
"Itu sisa Nadin, harusnya di bersihkan pakek ini!" ucap Nadin sambil mengulurkan tisu pada Rendi.
Astaga ...., kelihatan banget ya kalau aku ngarep banget .....
Rendi mengutuki kebodohannya sendiri, ia benar-benar tidak menyangka jika tubuhnya beraksi begitu cepat.
Rendi pun segera mengelap tangannya, ia segera melanjutkan kembali makannya tanpa mau menatap Nadin lagi, bisa-bisa ia bisa melakukan hal yang lebih gila dari yang tadi jika terus menatapnya.
Kenapa dengan mas Rendi ...., apa yang terjadi sih perasaan baru tadi pergi nggak kenapa-kenapa, sekarang kok tambah aneh ....
"Mas Rendi tidak pa pa?"
"Hemmm?" Rendi terpaksa mendongakkan kepalanya, mencoba mencari tahu apa maksud Nadin.
"Kenapa mas Rendi jadi aneh?"
"Aneh?"
"Iya ....., melakukan sesuatu yang nggak biasa!"
"Aku sudah selesai makannya!" ucap Rendi, ia pun segera beranjak ke tempat cuci piring, walaupun ia tidak bisa melakukan ini tapi ia tidak mungkin menumpuk piring kotor dan menunggu bibi kembali.
"Biar aku saja mas!" ucap Nadin sambil mengambil piring kotor itu dari tangan Rendi.
Kini Nadin sedang sibuk mencuci piring kotor, sedangkan Rendi sedang sibuk mengawasi istri kecilnya itu, entah kenapa matanya sekarang menjadi sangat mesum.
Rendi bersandar di meja dapur sambil melipat tangannya di depan dada, mengamati Nadin dari belakang. Matanya seakan memintanya melihat Nadin dari bawah hingga ke atas.
Kenapa aku baru sadar jika Nadin ternyata memilik tubuh se seksi ini ....
Pikirannya sudah berfantasi ke mana-mana saat melihat betis Nadin, dres Nadin yang hanya sampai di lutut membuatnya bisa leluasa melihat betis Nadin.
"Mas ...., aku sudah selesai ....!" ucap Nadin yang ternyata sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Hah ...., sudah?" tanya Rendi yang tergagap, ia terlalu banyak berfantasi hingga tidak menyadari jika ia sudah harus pergi.
**Bersambung
Kata author :
R : Thor siapa sih nama asli pemeran Rendi?"
A : "Dia produk dalam negri loh ...., masak nggak kenal? namanya Kenny Austin"
R : "Nggak sabar Thor nungguin mereka MP!"
A : " Sabar ya Fergosa ...., nggak semudah itu, namanya juga balok es, nggelehinya harus di bawa ke gurun dulu ...., nggak lucu kan kalau langsung tancap aja ...., yang sabar ya .....!"
(Kabuuuuur .......)
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya biar tambah semangat nulisnya.
NB :
Mampir juga ke karya aku ya Jodoh 1 udah End loh ....., pliiiissss .... , walaupun pamornya kalah telak sama MBMH & MBOI tapi di jamin ceritanya nggak kalah seru loooh .....
Happy Reading 😘😘😘😘😘**