MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 54 (Juna)



Setelah mengetahui segalanya tentang masa lalu Ajun, Juna pun berencana untuk menemui Ajun.


Dia ingin memastikan satu hal lagi tentang siapa yang sebenarnya menyerang Ajun hingga beberapa kali, kenapa bukan dirinya. Mungkin mereka berencana untuk merekrut Ajun dan di jadikan senjata untuk melawan Juna.


Pagi ini Juna mendatangi apartemen Ajun. Ajun begitu terkejut dengan kedatangan Juna di apartemennya.


"Ada apa anda kesini?" tanya Ajun yang berada di ambang pintu.


"Boleh saya masuk?" tanya Juna tapi tanpa menunggu persetujuan si pemilik apartemen, Juna pun masuk begitu saja melewati Ajun.


"Boleh saya duduk?" tanya Juna yang masih berdiri di sana.


"Ada apa anda ke sini?" tanya Ajun lagi. Ia begitu kesal karena pertanyaannya terus di abaikan.


"Ada yang ingin saya bicarakan!" ucap Juna sambil menatap Ajun.


"Tapi saya tidak punya banyak waktu!" ucap Ajun.


Hehhh dasar tengil ...., batin Juna.


"Tapi saya punya banyak pertanyaan untuk kamu jawab!" ucap Juna lagi.


"Jangan bertanya karena saya tidak akan menjawabnya!" ucap Ajun.


"Baguslah ...! Saya akan tetap duduk walaupun kamu tidak meminta saya untuk duduk!" ucap Juna yang tidak kalah keras kepalanya.


"Baiklah duduk lah ...!" ucap Ajun terpaksa. Juna pun duduk di sofa itu.


"Mau minum sesuatu?" tanya Ajun yang sudah terlihat lebih ramah.


"Boleh ..., saya memang haus!" ucap Juna sambil memegangi lehernya seperti orang yang benar-benar kehausan.


" Saya akan membuatkan minuman duluan!" ucap Ajun, ia pun segera menuju ke dapur.


Kenapa dia ke sini? batin Ajun, ia membuatkan minuman untuk Juna dan tak berapa lama kembali menghampiri Juna.


"Minumlah!" perintah Ajun.


"Duduklah ...!" perintah Juna. Juna juga sudah memakai seragam nya mungkin memang ia akan berangkat dinas.


Ajun pun segera duduk di sofa yang tepat berhadapan dengan Juna.


"Ada apa?" tanya Ajun lagi.


"Tolong katakan dengan jujur siapa yang telah mengejar mu!" ucap Juna.


Hehhhh ....., Ajun menghela nafas dan memiringkan bibirnya sedikit menariknya ke atas.


"Kalau saya tahu saya tidak mungkin mencari tahu lagi sekarang!" ucap Ajun sambil tergelak.


"Jika saya bilang saya tahu bagaimana?" tanya Juna sambil menyeruput minuman teh yang di siapkan oleh Ajun.


"Benarkah?" tanya Ajun sambil tersenyum, "waw ...., atau jangan-jangan anda memang yang berada di balik semua ini!" ucap Ajun mencurigai Juna.


"Omong kosong macam apa itu!" ucap Juna yang tidak kalah kesalnya karena Ajun benar-benar tidak bisa mempercayainya.


"Lalu?" tanya Ajun.


"Bagaimana kalau saya mengatakan jika saya tahu tentang masa lalu kamu?" tanya Juna.


"Kalau saya tidak percaya?" Ajun malah balik bertanya.


"Terserah, yang jelas saya sudah lebih dulu memberitahu! Jadi jangan salahkan saya jika terjadi sesuatu nanti!"


"Kenapa kamu jadi mengancam saya?!"


"Sekarang katakan pada saya di mana Dini!" ucap Juna lagi yang sudah mulai kesal dengan Ajun.


"Ternyata itu yang mau tanyakan!" ucap Ajun.


" Ada hal lain yang lebih penting daripada perasaan kita!"


"Aku tahu bagaimana mereka mengalahkan lawannya!"


"mereka? mereka siapa?" tanya Ajun penasaran.


"Gembong mafia yang telah dikalahkan oleh letnan jendral wira beberapa tahun silam dan sekarang sedang melancarkan aksi balas dendamnya kepada keturunannya!"


"Omong kosong macam apa lagi ini, lalu apa hubungannya dengan saya?" ucap Ajun yang masih tidak mengerti.


"Ini bukan omong kosong tapi sebuah kenyataan yang harus kamu ketahui!"


"oke ....., baiklah! katakan saya percaya dengan apa yang kau katakan aku harus bagaimana?"


"katakanlah di mana Dini berada?" tanya Juna kemudian.


"Di puncak!" ucap Ajun yang sedikit tidak iklas.


"Pantau dia 24 jam!" ucap Juna yang berhasil membuat Ajun terkejut.


"Hahhh ....!" melihat ekspresi terkejut Ajun, Juna hanya tersenyum.


"Kenapa malah bingung seperti itu?"


"Saya kira kamu akan menyusulnya?"


"Buat apa saya harus menyusul, kan ada kamu!"


"Saya ....? maksudnya?" tanya Ajun yang tidak terlalu mengerti. Ia kira Juna akan datang menyusul Dini.


"Telpon dia sekarang!"


"Aku akan bekerja jadi sebaiknya kamu pergi dari sini aku akan meneleponnya nanti!"


"Itttssss ...., tapi aku belum minum teh ku!" ucap Juna dan meneguk tehnya kembali hingga gelas itu kosong. "Dan ini nomor telpon ku jika kamu butuh nanti!" ucap Juna lalu berlalu meninggalkan apartemen Ajun.


Ajun hanya sibuk dengan nomor itu tanpa bermaksud bertanya lagi.


...***...


Di tempat lain, orang yang sedang mereka bicarakan sedang menikmati matahari pagi di puncak bersama teman-temannya.


Ia begitu bahagia, sesekali ia mengunggah fotonya di sosial media pribadi miliknya.


"Dia baik-baik jasa! Lihat senyumnya lebar sekali!" gumam Ajun di dalam mobilnya. Beberapa kali ia menscroll foto-foto yang di unggah oleh Dini melalui sosial media pribadinya.


"Dasar kuncir kuda ....!" ucap Ajun tapi senyumnya tidak pudar saat melihat wajah Dini yang tersenyum dengan begitu lebarnya itu.


Ia sampai tidak sadar jika Rendi duduk di bangku belakang.


"Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?" tanya Rendi membuat Ajun terkejut. Ia sampai tidak sadar jika mereka sudah dalam mobil yang sama menuju ke kantor.


"Tidak pak!"


"Apa kau sedang jatuh cinta?" tanya Rendi kemudian. Ia sudah faham saat ia sendiri sendang jatuh cinta. Mungkin Rendi merasa mereka punya kesamaan satu sama lain.


Cukup sulit mengungkapkan kata cinta. Tapi ia akan sangat ekspresif saat sendiri.


Apa sangat kelihatan jika saya sedang jatuh cinta? batin Ajun.


"Saya juga pernah seperti mu dulu, mungkin lebih parah!" ucap Rendi dengan nada tanpa ekspresinya, "Apa dia Dini?" tanya Rendi lagi kali ini berhasil membuat Ajun tertegun.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰