
Nadin pun membuka pintu itu dan keluar dengan
mengendap-endap, ia tidak menyadari jika di samping pintu itu sudah berdiri dua
pria kekar. Ia terus keluar tanpa memperhatikan sekitar, tapi langkahnya segera
terhenti saat salah satu dari mereka membuka suara.
“Nona Nadin mau kemana?” Tanya salah satu dari pria kekar
itu.
“Oh …., astaga, kalian mengagetkanku saja!” ucap Nadin
sambil memegangi dadanya. Nadin menoleh ke sumber suara, ia tidak menyangka
masih ada orang itu di depan pintu.
“nona …, nona Nadin mau kemana?” Merry berjalan dengan cepat
menghampiri Nadin, dan membawa segelas air di tangannya. Nadin menoleh kearah
Merry.
Ah ….., gagal kan
kaburnya …., ribet amet mau kabur aja ….
“Aku cuma mau jalan-jalan …., kenapa? Apa tidak boleh?” Nadin dengan sok polosnya agar
semuanya tidak curiga. Nadin begitu santai, ia tidak mau membuat urusannya
semakin sulit.
Di tempat lain, Rendi sedang kebakaran jenggot. Apartemennya
menjadi begitu berantakan saat ia tidak bisa melacak keberadaan Nadin seluruh
anak buahnya sudah ia kerahkan untuk mencari keberadaan Nadin, ia harus
mengulur waktu lebih lama lagi.
“Brengsek kamu Alex …..!” teriak Rendi saat ketenangannya
sudah mulai menipis, ia benar-benar sudah tak bisa mengendalikan diri lagi,
Rendi memukul semua yang ada di depannya, membuat nyali anak buahnya mengkerut.
“Cari kemanapun, jangan pernah kembali sebelum
menemukannya!” perintah Rendi lagi. Sudah dua hari di Indonesia tapi pencariannya seakan tak menemukan hasilnya.
“Baik pak!”
“Pergi!” tanpa menunggu perintah dua kali, anak buahnya yang
berjumlah 5 orang itu dengan cepat meninggalkan Rendi. Mereka tidak mau membuat
atasannya bertambah marah karena membawa berita yang kurang baik.
Rendi menjatuhkan tubuhnya di sofa setelah semua anak
buahnya pergi, ia memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit. Rasanya baru
kemarin ia bisa merasakan bahagia karena cinta yang sempurna dari nadin dan
sekarang wanita itu di sembunyikan oleh seseorang yang menjadi musuhnya.
Tring tring tring
Ponselnya yang sengaja ia onggokkan di atas meja berdering,
membuat Rendi dengan cepat menyambar ponsel itu, ada nama Alex di dalam
panggilan itu, dengan cepat Rendi menggeser tombol hijau.
“hallo!” dengan cepat Rendi membuka suaranya, tidak seperti
biasa yang selalu irit bicara.
“Bagaimana, apa kau sudah menyetujui syarat ku?”
“Jangan apa apakan istriku!”
“Aku akan selalu menjaga istri cantikmu itu!”
“Jangan berani menyentuhnya …!” Rendi benar-benar tak bisa
membayangkan bagaimana musuhnya itu memperlakukan istrinya, membayangkan Alex
memegang tangan Nadin saja sudah berhasil membuat kemarahannya memuncak.
“Oh …, astaga ternyata Rendi bisa seposesif ini ya ….!”
“Jangan main-main!”
“Baiklah …, aku beri waktu sampai lusa. Aku menunggu kabar
jika Narendra Rendiansyah sudah mengundurkan diri dari finityGroup!”
“Kau benar-benar ingin menguji kesabaran ku!”
“Terserah, kau pilih istrimu atau finityGroup!” kali ini
ucapan Alex terdengar begitu serius dan penuh ancaman.
Tiba-tiba sambungan telpon terputus sebelum Rendi sempat
menjawab kembali ucapan Alex membuat emosi Rendi kembali meningkat.
“hallo …, hallo …, hallo ….!” Teriak Rendi. “Brengsek kamu
Alex, aku akan membunuhmu …..!” Rendi melempar ponselnya ke sembarang arah, Ia
berjongkok dan mengacak rambutnya kasar, ia mengutuki kebodohannya karena telah
gagal menjaga istrinya.
“kamu bodoh Rendi …, kamu bodoh ….” Rancau Rendi sambil
memukuli kepalanya, ia benar-benar berantakan. Jauh dari Nadin membuatnya
begitu kacau.
Kemudian ia teringat sesuatu, bahkan tanpa membetulkan
penampilannya, ia segera berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan
“Siapkan mobilku!” perintah Rendi pada anak buahnya yang
menunggu di depan apartemen.
“baik pak!” dengan cepat pria itu meninggalkan Rendi, dan
tak butuh waktu lama ia sudah kembali dengan mobilnya.
“Silahkan pak!”
“Setelah ini, carikan aku ponsel dan pasang nomor lamaku!”
perintah Rendi sebelum tubuhnya benar-benar masuk ke dalam mobil.
“baik pak!”
Tanpa di temani siapapun Rendi melajukan mobilnya dengan
cepat, ia tak lagi mempedulikan segala aturan, bahkan jika ia harus mati
sekarang seakan itu lebih indah dari pada terpisah dari seorang Nadin. Ia
menuju ke tempat yang menurutnya selalu nyaman untuk mengeluarkan keluh
kesahnya, dia pergi ke tempat dr. Frans.
Sesampai di tempat dr. Frans, Rendi segera memarkirkan
mobilnya, tak peduli dengan sapaan semua orang dan pandangan aneh atas
penampilannya yang tak biasa, ia terus berjalan dan tak sabar untuk sampai di
tempat dr. Frans.
Brakkk
Dengan kasar Rendi membuka pintu tempat praktek dr. Frans ,
membuat dua orang yang berada di dalam ruangan itu terperanjat kaget.
“Lo Rend!” teriak dr. Frans kesal dengan ulah Rendi, tapi
saat melihat penampilan Rendi yang kacau membuat kemarahan dr. Frans menguap
begitu saja berubah menjadi rasa penasaran, sedang Rendi masih berdiri di depan
pintu, tak juga melangkah maju. Dr. Frans menatap asistennya, ada orang lain di
antara mereka, itu yang mungkin membuat Rendi tak kunjung masuk.
“Dr. Shifa, tolong tinggalkan kami sebentar!”
“Baik dok!”
Dr. Shifa pun meninggalkan ruangan dr. Frans, ia menyapa
sebentar pada Rendi, walaupun ia tahu sapaannya tidak mungkin untuk di jawab
oleh pria dingin itu, setidaknya ia sudah menyapa tidak akan mengurangi apapun
darinya. Setelah dr. Shifa tak terlihat lagi, dr. Frans segera menarik
sahabatnya itu untuk masuk ke dalam ruangannya dan mengunci ruangan itu dari
dalam agar tidak ada yang mengganggu pembicaraan mereka.
Dr. Frans meminta Rendi untuk duduk di sofa, ia kembali
meninggalkan Rendi untuk mengambil dua gelas minuman dingin yang berada di
lemari es. Ia mengambil dua botol dan membawanya menghampiri Rendi yang masih
terdiam, dr. Frans menyerahkan satu botol untuk Rendi setelah membuka segel
tutupnya.
“Minumlah ….!” Rendi pun menerimanya dan segera meneguknya
hingga habis.
“Sekarang ceritakan padaku, apa yang terjadi?”
“Bagaimana menurut lo jika gue mengundurkan diri dari
finityGroup?” Tanya Rendi tanpa berani memandang Dr. Frans.
“Omong kosong apa lagi ini?” dr. Frans begitu terkejut
dengan ucapan Rendi, ia tidak pernah menyangka jika sahabatnya itu akan berada
di titik ini, ia tahu seberapa besar kesetiaannya pada keluarga Agra dan
perusahaan yang telah membesarkan namanya, bahkan jika di suruh memilih antara
ayah dan nyonya Ratih, maka mungkin ia akan memilih berdirinya di belakang nyonya Ratih,
lalu apa yang berhasil membuat pendirian dan keyakinannya goyah hingga
memutuskan hal sebesar ini.
“ini bukan omong kosong, tapi_”
“Gue tahu siapa lo, jangan membuat keputusan yang akan
membuat lo menyesal di kemudian hari! Gue tahu sebesar apa cinta lo pada
finityGroup!”
“Tapi gue harus lakuin ini!”
“Atas dasar apa?”
“Cinta!” ucap Rendi.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘