
Prang …
Dengan cepat Alex berhasil menghindar dari vas yang melayang di udara itu,
hingga Vas itu mengenai dinding di belakang Alex.
“Ah …, kenapa harus lolos …!” keluh Nadin, ia hanya bisa mengepalkan tangannya.
“Agar kau tidak di keroyok anak buahku!” ucap Alex dengan arogannya.
“pergilah dari sini …, jangan ,mendekatiku …!” ucap Nadin, ia sudah turun dari tempat tidur.
Alex tampak mengamati kamar Nadin, ia berjalan menuju kearah jendela dan seperti sedang memastikan sesuatu.
Nadin yang mengamati tingkah laku Alex hanya berdecak.
“Jadi kamu pikir aku memasukkan seseorang ke dalam kamar
ini, memang siapa yang mau cari mati dengan penjagaan seketat itu.” ucap Nadin sambil berkacak pinggang.
Alex kembali dan menatap Nadin, ia semakin mendekat membuat
Nadin kesal, Nadin segera menyambar bantal yang berada di dekatnya, dan
menjadikan bantal itu sebagai tameng.
“Awas …, jangan dekat-dekat ya …, aku ini istri orang loh
…!” ucap Nadin, keberaniannya mulai goyah.
Bukannya menghentikan langkahnya, pria arogan itu malah
semakin mendekat, membuat Nadin terjebak antar tubuh pria itu dan dinding di
belakangnya, untuk saja ada bantal yang menjadi penyekat tubuh mereka.
“A-Ada a-apa …, ja-jangan dekat-dekat …!” Nadin menutupi
wajahnya dengan bantal yang cukup besar itu, tapi dengan sekali tarik,
alex mampu menyisihkan bantal itu dari wajah Nadin, walaupun tak terlepas dari tangan
Nadin, tapi bantal itu tidak lagi menutupi wajahnya.
“Jangan macam-macam denganku …, setelah ini aku tidak akan
mengampunimu …., jangan salahkan aku jika aku jatuh cinta padamu, mengerti!”
ucap Alex , setelah menyelesaikan ucapannya, ia menepuk pipi Nadin dan
mendorong Nadin hingga ke tempat tidur dan meninggalkannya begitu saja.
Langkah pria itu terhenti ketika berada di ambang pintu, ia
kembali menoleh ke arah Nadin yang masih terjerembak di atas tempat tidur.
“Jangan macam-macam, karena di setiap tempat terpasang
cctv!”
Setelah alex keluar dari kamarnya, Nadin bisa sedikit
bernafas lega, ia segera berlari menghampiri pintu dan menutupnya, walaupun tak
bisa di kunci lagi karena telah rusak, setidaknya dengan pintu tertutup ia bisa
dengan leluasa menumpahkan air matanya.
"Apa ..., cctv? Kenapa aku tidak memperhitungkan hal itu sebelumnya?"
Seperti malam-malam sebelumnya, Nadin akan menangis hingga
ia lupa, lelah dan tertidur.
🌺🌺🌺🌺
Pagi ini Alex meninggalkan Villa, ia mungkin akan semakin
sering berkunjung karena ia sudah merasa curiga. Nadin benar-benar tak sabar
menunggu sore tiba. Setelah mobil Alex meninggalkan halaman villa, nadin dengan
cepat menuju ke luar.
“Nona …, nona mau kemana?” teriak Merry yang segera berlari
mendekati Nadin yang sudah keluar dari gerbang.
“Aku mau jalan-jalan …!”
“Tapi ini masih sangat pagi, nona. Apa tidak sebaiknya kita
kembali!”
Nadin menatap merry, kemudian ia bergantian menatap pria
yang berada di belakang Merry, Nadin mendesah …, ia kesal karena selalu saja di
ikuti.
Setelah memikirkan sesuatu, akhirnya Nadin memilih untuk
kembali.
“Baiklah …, aku ingin bicara berdua saja sama kamu, Merry!”
“Saya?”
“Iya, kita kembali ke dalam!”
Mereka pun kembali masuk ke dalam, Nadin harus merencanakan
sesuatu yang lebih matang, ia teringat tentang cctv, kenapa ia tidak pernah
berfikir tentang hal itu, bagaimana dengan percakapannya dengan Merry beberapa
waktu lalu, apa mungkin Alex mendengarnya.
“Merry …!” panggil Nadin.
“Iya nona!”
Nadin pun mendekati Merry, ia meminta Merry sedikit
menunduk karena tinggi Nadin hanya sebatas telinga Merry.
“Beri tahu aku, dimana tempat yang tidak di pasang cctv?”
bisik Nadin.
Merry pun mendekat ke arah telinga Nadin, “Di kamar nona …,
itu adalah tempat satu-satunya tanpa cctv!”
Nadin benar-benar merasa lega karena di kamarnya tidak di
pasang cctv, pantas saja Merry berani bercerita macam-macam pada Nadin,
ternyata ini alasannya.
di sofa diikuti Merry yang berdiri di sampingnya.
“Duduklah …!” perintah Nadin sambil menepuk tempat di
sampingnya, meminta Merry untuk duduk di sana.
Akhirnya Merry pun duduk sesuai perintah Nadin, Nadin
menggeser duduknya hingga kini menghadap Merry.
“Merry …, apa kau bisa membantuku satu kali lagi?”
Mendengar ucapan Nadin yang serius, Merry hanya mengerutkan
keningnya. Ia belum bisa berkata ya atau tidak sebelum Nadin mengatakan apa
maksudnya.
“kamu tahu pria yang kemarin, yang memberiku bayam kemarin?”
“Iya?”
“Dia adalah suamiku, Merry …, dia suamiku …!”
“Suami nona Nadin?”
“Iya!”
“lalu jika benar dia suami nona, kenapa dia tidak membawa
lari nona saat itu juga, hanya ada dua penjaga dan aku!”
“Dia bukan orang yang suka bertindak gegabah, banyak hal
mungkin telah ia pikirkan yang membuatnya tidak membawaku pergi saat itu juga!”
“Lalu apa yang nona minta dariku?”
“Tolong …, bantu aku bertemu berdua saja dengan suamiku, aku
janji. Aku akan kembali lagi!”
“Bagaimana kalau tuan Alex sampai tahu?”
“Jangan sampai dia tahu, hanya kita berdua saja. Aku mohon
….!”
“Baiklah …, saya akan mengajak anda ke rumah tua tak jauh
dari sawah itu, di dalam rumah itu para penjaga tidak akan curiga jika anda
sedang menemui seseorang, mintalah dia menunggu di sana …!”
“Baik aku setuju …, terimakasih Merry!”
Setelah Merry meninggalkannya, ia memilih merenung, mencari
rencana bagaimana caranya memberitahu Rendi tentang rencananya.
“Jika mas Rendi memberitahuku dengan kertas, mungkin aku
juga bisa memberitahunya dengan kertas juga …!”
Akhirnya Nadin mencari-cari kertas dan bolpoin di dalam
kamar itu, ia akan menemuinya dan menyerahkan kertas itu lalu menunggunya di
rumah kosong itu.
“Untung aku sedikit pintar …!” ucap Nadin membanggakan
dirinya sendiri setelah selesai menuliskan sesuatu di dalam kertas itu.
Tik tok tik tok tik tok
Denting jarum jam seakan begitu melambat hari ini, bahkan
waktu pun enggan berpihak padanya, ia benar-benar tak sabar menunggu sore hari.
Nadin hanya bisa mondar mandir di balkon kamarnya, matahari pun enggan untuk
condong ke barat.
“Nona …, sudah waktunya makan siang!” ucap Merry saat menghampiri
Nadin yang masih terlihat gelisah.
“Baiklah …, aku akan turun, sekalian setelah makan siang
kita langsung keluar jalan-jalan …, bawakan aku sekeranjang buah juga!”
"Untuk apa?" tanya Merry yang tak mengerti.
"Aku harus berterimakasih pada pria bayam itu!"
Nadin pun segera menuruni tangga, tak lupa ia menyambar
cardigan yang tergantung di sandaran kursi, cardigan itu akan sedikit
melindungi tubuhnya dari hawa dingin di pedesaan pada sore hari.
🌺🌺🌺
“Apa rencana bapak hari ini?” Tanya pria yang selalu
menemani pria dingin itu selama di pedesaan.
“Hari ini aku akan pergi ke tempat kemarin!” jawab pria
dingin itu sambil menyesap secangkir kopi di tanganya, ia tak seperti biasanya,
pria dingin yang biasanya berpakaian rapi dengan rambut yang juga di sisir
rapi, kini hanya memakai kaos oblong dengan celana sebatas betis yang tidak di
jahit sempurna, sepertinya ia begitu menikmati perannya sebagai pemuda desa.
Pria yang selalu bersamanya pun juga sama, biasanya selalu
mengenakan jas hitam dengan aerophone di telinganya, kini juga memakai baju ala
orang desa, walaupun aerophone itu tetap melekat di telinganya dengan ditutupi
sebuah penutup kepala semacam udeng-udeng.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘