MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 45 (Ajun)



Setelah kira-kira lima menit, Dini kembali berdiri dan menuju ke pintu itu. "Enak aja aku nggak boleh ke mana-mana!" ucap Dinj dengan penuh kemenangan.


Dini memutar kenop pintu beberapa kali tapi pintu itu tidak juga terbuka.


"Sial ....!" umpat Dini sambil menendang pintu itu, "Dia sengaja kunci'in aku di dalam lagi!"


Dini kembali duduk di tempatnya, ia tidak bisa ke mana-mana lagi sekarang. Hanya bisa memainkan ponselnya dan sesekali mengamati ruangan itu yang tidak beda jauh dengan apartemen Ajun.


"Dia ini memeng benar-benar kardus ya ...., nggak punya warna banget di hidupnya!"


Saat ia sedang mengamati sebuah aksen yang terpajang di atas meja, semacam jam pasir itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Dini dengan cepat merogoh tasnya dan melihat siapa yang melakukan panggilan.


"Mei ....!?"


Dengan cepat Dini mengangkat panggilan telponnya.


"Hallo, Mei ....!"


"Hallo mbak Dini ...., mbak Dini di mana?"


"Aku ...., aku ada acara, jadi maaf ya aku nggak bisa ke kafe!" Dini tidak mungkin mengatakan kalau dia sedang di culik dan di sadera oleh Ajun.


"Ini loh mbak ...., mas yang kemarin mau makan malam sama mbak Dini ada di sini, dia bawakan mobil yang beberapa hari ini mbak Dini bawa ....!"


"Mas Juna ....?"


"Nggak tahu mbak siapa namanya, aku nggak tanya!"


"Gini aja deh Mei, tolong kamu bilangin sama dia kalau aku nggak bisa kembali dalam waktu cepat kadi suruh pulang aja ya!"


"Iya mbak, memang mbak Dini di mana sih?"


"Ada ....!"


Dini tidak melanjutkan ucapannya, ia memilih menutup panggilan telponnya saja.


***


Ajun menggantikan Rendi untuk melakukan meeting di luar kantor. Ia harus pergi dalam waktu cukup lama, terlihat jika pria itu sedang fokus dengan pekerjaannya.


"Terimakasih pak Ajun atas kerja samanya!"


"Sama-sama pak!"


Mereka saling bersalaman dan mengakhiri pembicaraan. Setelah kliennya itu meninggalkannya, Ajun pun juga berjalan lebar, sudah tidak sabar untuk segera kembali ke kantor.


Tapi saat akan menuju ke mobilnya, ia melihat beberapa orang sudah bersiap untuk menghadangnya, seperti mereka orang yang sama yang telah mengejar-ngejarnya beberapa waktu belakangan ini.


Ajun yang menyadari hal itu segera berjalan menghindar, ia harus menghindari kerumunan agar tidak menimbulkan keributan.


Saat Ajun mempercepat langkahnya, orang-orang itu juga semakin cepat mengejarnya. Dan sekarang yang jadi masalah, tangannya masih belum sembuh.


Ajun segera merogoh ponselnya, ia harus mencari bantuan kepada anak buahnya.


"Hallo ....!"


"Hallo pak Ajun!"


"Susul saya di daerah xxx, beberapa orang mengejar ku!"


"Baik pak!"


Ajun kembali menyakukan ponselnya, mereka sudah semakin dekat saja. Akhirnya Ajun menemukan tempat sepi dan cukup luas. Ia pun berhenti di sana dan menunggu mereka menyusulnya, ia ingin tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh orang-orang itu.


Kini Ajun berdiri dengan menyakukan kedua tangannya menunggu mereka.


"Akhirnya berhenti juga kamu!" ucap salah satu dari mereka.


"Apa yang kalian inginkan dariku?"


"Bos kami menginginkanmu, bagaimanapun caranya! Kamu harus ikut dengan kami!"


"Kalau aku tidak mau?"


"Maka kami akan memaksanya! Ayo tangkap dia!"


Karena mereka mulai menyerang, Ajun pun melawan semampunya. Ia menggunakan kemampuannya sebisanya saja sampai bantuan datang. Sekitar lima orang menyerangnya.


Mereka melakukan perkelahian sengit, hingga Ajun harus beberapa kali jatuh dan terkena pukulan mereka hingga darah segar merembes dari sudut bibirnya dan beberapa tubuhnya yang terkena hantaman.


Pria itu melawan mereka dengan begitu berani, ia sepertinya juga punya keahlian bela diri yang tidak bisa di remehkan.


"Juna ...!" gumam Ajun sambil menghapus darah yang ada di sudut bibirnya.


Ajun segera membantu Juna melawan mereka, seperti nya berdua lebih baik. Dalam beberapa menit saja kelima orang itu sudah kocar-kacir berlarian meninggalkan mereka.


Setelah orang-orang itu meninggalkan mereka berdua. Juna pun membantu Ajun dengan mengulurkan tangannya pada Ajun yang masih terduduk di tanah.


"Terimakasih ...!" ucap Ajun sambil meraih tangan Juna dan berdiri,


"Sama-sama ....! Siapa mereka?" tanya Juna.


"Tidak terlalu penting!"


"Apa hidupmu dalam bahaya? Apa ini berpengaruh pada Dini?"


Pertanyaan Juna berhasil membuat Ajun menoleh padanya dan mengerutkan keningnya.


Belum sampai Ajun menjawabnya, anak buahnya datang sekitar sepuluh orang.


"Pak Ajun, maaf kami terlambat! Kemana mereka?"


"Mereka sudah pergi!" ucap Ajun sambil memutar-mutar tangannya yang terasa begitu nyeri.


Ajun merapikan lagi jasnya dan menoleh pada Juna yang masih berdiri di tempatnya, "Terimakasih atas bantuannya! Tapi ingat satu hal, ini tidak akan mempengaruhiku tentang Dini!"


Setelah mengatakan hal itu, Ajun segera meninggalkan Juna bersama dengan anak buahnya.


Juna hanya bisa menatap punggung pria itu dengan senyum yang tidak bisa di artikan.


"Dia benar-benar keras kepala! Aku suka! Tapi siapa yang mengejarnya, apa mereka orang-orang jahat?" ucap Juna menerka-nerka sesuatu.


"Dasar anak nakal ....!"


***


Ajun kembali ke ruangannya, ia tidak mau membuat wanita itu menunggunya terlalu lama, ia juga sudah memesankan makanan untuk Dini.


Ceklek


Dini yang mendengarkan suara pintu di buka segera beranjak dari duduknya dan menghampiri pintu.


"Kardus ...., kenapa lama se_?" ucapannya menggantung saat ia melihat bagaimana wajah Ajun yang penuh dengan luka.


"Kardus ..., kenapa?" tanya Dini sambil memegang pipi Ajun yang lebam.


"Aughhhh ....., sakit jangan pegang-pegang!" ucap Ajun sambil menahan tangan Dini agar tidak terlalu menekannya.


"Sakit banget ya! Sini!" Dini segera menarik tangan Ajun dan membawanya duduk. Ia keluar dari ruangan itu dan menuju ke pantry untuk meminta es batu dan kain.


Tidak berapa lama ia kembali dengan membawa se baskom air es dan juga lap kecil. Dengan telaten Dini merawat luka Ajun, mengompresnya dengan air es.


"Kamu kenapa lagi sih kardus, apa ini ada hubungannya dengan orang-orang itu?" tanya Dini.


"Iya ...., kenapa? Kamu takut?"


"Nggak ada ya di kamus Dini kata takut, jangankan para preman itu, harimau ngamuk aja aku berani!"


"Dasar kuncir kuda, nggak usah banyak gaya!"


Spesial Visual



...Mencintaimu ibarat kata tanpa tanda baca, nggak ada hentinya~MBOI...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰