
🌷🌷🌷
Setelah Dini pulang, Nadin membersihkan diri karena hari mulai petang,
"Ahhh ....., segarnya ....!" gumam nadin sambil mengusap sisa air dengan handuk kecil di wajahnya.
Ia tidak berkeinginan untuk menyiapkan makan malam, karena masih terlalu lama, ia memilih berkutat di dalam kamarnya, ia memilih untuk menyelesaikan tugasnya yang sudah lama sekali ia tinggalkan.
Karena menunggu suaminya pasti akan sangat lama, Rendi tidak pernah pulang kurang dari jam sepuluh malam, entah apa saja yang di kerjakan pria itu, dia benar-benar gila kerja.
Dedikasinya pada pekerjaan sangat besar, saat sore seperti biasa ia akan lebih dulu mengantar Agra sampai rumah kemudian dia akan kembali lagi ke kantor hingga semua penghuni kantor sudah tak ada lagi kecuali penjaga malam dan satpam.
Nadin menutup laptopnya setelah matanya terasa pedas akibat terlalu lama di depan layar datar itu, ia menatap jam dinding, sudah menunjukkan pukul sembilan malam, mungkin sebentar lagi suaminya akan pulang.
Bibi sudah pulang semenjak siang, sebelum Dini pulang karena pekerjaannya sudah selesai. Dan sisanya Nadin yang harus mengerjakannya.
Sekarang Nadin sudah memiliki beberapa kemajuan, ia sudah bisa memasak nasi walaupun pakai magic com, memasak sayur sup dan telur dadar, omelet dan beberapa sayur sederhana. Bibi sudah banyak mengajarinya, walaupun tak bisa seenak masakan bibi tapi setidaknya ia tidak hanya bisa masak telur rebus.
Nadin segera meninggalkan laptopnya, beranjak dari tempat tidur dan menuju ke dapur, ia membuka isi lemari esnya. Ada banyak bahan makanan, tapi ia tidak suka rumit.
"Masak omelet aja deh ....!" Nadin pun mengambil beberapa butir telur, daging kornet, sosis, mentega, buncis ,wortel, daun bawang, bawang Bombay, susu bubuk, bawang goreng, Keju ,Merica bubuk persis seperti apa yang ada di dalam buku dan petunjuk dari bibi.
Setelah menyiapkan semua bahan di atas meja, kalau Nadin yang masak jangan harap mejanya akan rapi. ia pun memakai apronnya dan menyiapkan penggorengan, mengiris semua bahan dan mencucinnya
Nadin menyalakan kompor dan memasukkan mentega ke dalam wajan, setelah mentega mencair , ia memasukkan bawang bombay yang telah di cincang tadi dan tumislah hingga aroma harum tercium.
"hemmmm ....., harumnya ....!" Nadin mengendus aroma bawang Bombay yang sudah mulai menusuk hidung.
Nadin kembali melihat buku resep itu, ia mengamati apa yang harus di masukkan lagi,
"Selanjutnya masukkan buncis yang telah dipotong-potong, wortel dan juga daging sapi cincang atau kornet, dan tumis kembali hingga semua bahan tercampur rata. Kemudian matikan kompor apabila sayur telah layu dan daging telah matang." Nadin membaca dengan keras buku itu dan melakukan seperti perintah.
"Kemudian, siapkan wadah berukuran sedang untuk mencampurkan telur dan daun bawang yang telah diiris-iris. Tambahkan juga susu bubuk, merica bubuk, garam dan bawang goreng, aduklah semua bahan hingga tercampur rata. Ok siapkan wadah ....!" Nadin mencari wadah yang sedang untuk mengaduk semua bahan.
"Kalau yang terakhir ini aku sudah tahu .....!" Nadin segera menyiapkan wajan dan memanaskan mentega kembali dan memasukkan adonan telur ke wajan.
Kemudian Nadin menuangkan bahan isian yang telah dibuat sebelumnya pada bagian atas telur dan taburi dengan keju.
"Ihhhh ....., akhirnya hampir jadi."
Belum sampai benar-benar selesai, tiba-tiba pintu depan sudah di buka.
Dia sudah datang .....
Nadin mengangkat kepalanya sebentar, dan benar Rendi suaminya sudah berjalan ke arahnya.
"Selamat malam!" Sapa Rendi yang baru saja datang sedikit mengejutkan Nadin yang sedang asik menggulung omelet.
Rendi pun segera mendekati Nadin, berdiri di depan meja dapur dan meletakkan tas laptopnya di atas meja itu.
"Tadi Dini ke sini?" Tanya Rendi lagi.
"Hemmm!" Jawab Nadin dengan masih sibuk dengan kegiatannya, semenjak kejadian itu, Nadin seperti sengaja menjauhi Rendi. Nadin pun meletakkan dua buah omelet di atas piring, kemudian meletakkannya di depan Rendi.
"Masak sendiri ya?" Tanya Rendi lagi, ia pun segera mengambil tempat duduk. Dan duduk menghadap Nadin.
"Hemmm!" Lagi-lagi jawaban itu yang di berikan oleh Nadin, ia pun meletakkan nasi di atas meja, kemudian ikut duduk bersama Rendi.
"Nadin ...., Maafkan aku!" Rendi tak tahu lagi harus mengatakan apa. Ia begitu bingung melihat Nadin yang terus mendiamkannya, sudah hampir dua Minggu ini.
"Makanlah ...!" Ucap Nadin dingin, ia tidak mempedulikan suaminya itu, ia memilih mengambil nasi dan menaruhnya di atas piring dan melahap makanannya.
Huk huk huk
Baru beberapa suapan Nadin tersedak dengan makanannya, membuatnya terbatuk. Dengan cepat Rendi mengembik segelas air dan meminumkannya ke Nadin, sedang tangan satunya ia gunakan untuk menepuk punggung Nadin.
"Berhati-hatilah ...!" Rendi tampak begitu panik.
"Terimakasih ...!" Ucap Nadin setelah merasa lebih baik, Rendi pun kembali duduk di tempatnya.
"Sampai kapan kau akan marah padaku?" Tanya Rendi lagi.
Nadin masih saja diam, ia enggan untuk menjawabnya, rasa sakitnya masih begitu dalam.
"Besok Agra mengajak kita pergi ke Korea untuk bulan madu!"
Aghh ...., Bulan madu, benarkah ...., Aku mau ...., tapi mana mungkin aku bilang iya ...., aku kan masih marah ....
Tapi Nadin hanya bisa berbicara dalam hati, gengsi jika langsung bicara mau. Rendi yang melihat Nadin masih tetap diam, ia pun menghela nafasnya dalam.
Setelah menghabiskan makanannya, ia segera meneguk air putih yang berada di sampingnya. Rendi pun segera berdiri dari duduknya hendak meninggalkan meja dapur, tapi saat langkahnya sudah kira-kira lima langkah, ia pun kembali menoleh pada Nadin.
"Baiklah ...., Kalau kau tidak mau. Aku akan mengatakannya pada Agra bahwa kita tidak ikut!"
Hah ...., Tidak jadi ...., Aku mau ke Korea ...., jangan dong ....
Nadin dalam dilema, ia ingin sekali pergi ke Korea, tapi ia tidak mungkin langsung bilang iya, ia masih marah.
Akhirnya setelah bergulat dengan pikirannya sangat lama, Nadin pun memutuskan untuk ikut.
Nadin segera berdiri menyusul Rendi yang sudah masuk ke dalam kamar dan melepas sepatunya. Nadin segera mendekat.
"Aku mau ikut, kita ke Korea!" Ucap Nadin yang sedang berjongkok membantu melepas sepatu Rendi , Rendi seperti biasa hanya tersenyum tipis, setidaknya sekarang ia bisa bernafas lega karena Nadin sudah tidak marah lagi padanya.
"Hegrrr ..., Hreghhh ...., Baiklah kita ikut!" Ucap Rendi, Nadin pun segera tersenyum, ia bangun dan segera memeluk suaminya itu.
"Makasih ...., Makasih ...., Aku suka Korea ..., Aku di sana akan bertemu dengan banyak oppa di sana, berfoto di bawah pohon sakura, menikmati makanan Korea, udara dingin dan banyqk lagi!"
Kecerewetan Nadin kembali, sepanjang malam Nadin terus saja bercerita tentang negri yang belum pernah ia datangi itu, walaupun harus mendengarkan sepanjang malam, Rendi tidak merasa lelah, karena untuk situasi yang saat ini, ia harus menunggu berhari-hari, demi melihat senyum Nadin lagi, ia rela jika telingannya itu akan pecah.
**Bersambung
Tunggu Nadin dan mas Rendi di Korea ya** .....
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘😘