
Satu bulan sudah kini semenjak kepergian Divta, Rendi dan
Nadin juga sudah kembali ke apartemen. Mereka benar-benar semakin dekat saja,
walaupun selalu ada perdebatan dengan hal-hal kecil, tapi itulah rumah tangga,
tangga aja nggak ada yang lurus aja.
Hari ini adalah hari yang istimewa bagi Nadin dan Davina,
hari ini adalah hari pelaksanaan wisuda untuk Davina dan Nadin.setelah empat
tahun akhirnya mereka akan segera menyandang gelas sebagai sarjana.
Rendi sudah
menyiapkan kebaya khusus untuk Nadin. Untuk acara wisuda Nadin, Rendi
benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya. Ia bahkan mencocokkan warna
kemeja dan jasnya dengan kebaya yang akan di kenakan Nadin.
“Pakai ini saja!” ucap Rendi sambil menyerahkan kebaya milik
Nadin, sungguh tidak romantis. Nadin
terkejut melihat kebaya itu, kebaya dengan bawahan rok yang lebih mirip seperti
jarit dengan bagian bawah yang sangat sempit.
“Ini kenapa bawahannya sempit gini?” protes Nadin. Ucap
Rendi sambil menakup pipi nadin dengan gemas, rasanya ia tidak sabar ingin
segera berlalu acara wisuda yang sudah sangat membuatnya terganggu selama
enam bulan ini.
“Bisa nggak nggak usah protes!” keluh Rendi, entah kenapa akhir-akhir ini pria itu sering mengeluh dengan kecerewetan Nadin.
"Tapi mas Rendi ganteng banget sih hari ini, jangan macam-macam ya di sana, awas saja kalau sampai menggoda wisudawati lainnya!"
Rendi hanya memutar bola matanya, "Bukan aku yang menggoda mereka, tapi mereka!"
"Dan jangan tergoda!" Nadin memperingatkan lagi suaminya itu.
Rendi juga sudah memakai jas yang senada dengan kebaya
Nadin. Ini merupakan awal baru untuk Rendi, ia akan dengan leluasa membuat
Nadin hamil. Tak ada aturan lagi yang mengharuskan Rendi untuk menggunakan
pengaman, begitu hati-hati takut kalau-kalau Nadin sampai hamil, rasanya
benar-benar seperti terbebas dari sangkar emas.
“Mas …, kenapa senyum-senyum sendiri?’ Tanya Nadin. Ia
mengamati wajah suaminya yang tidak sedingin seperti biasanya, tapi memang jika
hanya berdua Rendi akan berubah menjadi pribadi yang berbeda, dia akan jadi
lebih hangat dan sedikit jahil pada Nadin.
“Memang nggak boleh …?”
“Seneng banget malah!” ucap Nadin, ia pun berhambur memeluk
suaminya itu, si dingin itu sepertinya sudah sangat meleleh dengan kemanjaan
dan kecerewetan Nadin.
Rendi juga sudah mendatangkan perias khusus untuk merias
Nadin. Setelah para perias itu masuk, Rendi pun memilih keluar dari kamar
membiarkan mereka leluasa merias Nadin.
“Kenapa hari ini dia ribet banget sih …, aku yang wisuda dia
yang ribet …!”
Setelah selesai dengan keribetannya, Rendi sudah bersiap
menuntun Nadin menuju ke mobil, tapi Rendi sepertinya kasihan pada Nadin karena
kesusahan berjalan, Rendi pun membopong tubuh Nadin, Rendi benar-benar tak
membiarkan Nadin berjalan sendiri.
“Susah kan mas kalau pakai ginian!” keluh Nadin.
“Jangan mengeluh terus, pandai-pandai bersyukur!”
“Dapat kata-kata dari ustad mana tuh mas?”
“Astaga …, kamu cerewet sekali …!”
Mereka sampai juga di depan apartemen, anak buah Rendi sudah
siap di samping pintu mobil hendak membukakan pintu untuk Rendi dan Nadin.
“Silahkan pak!” ucap anak buahnya sambil membukakan pintu
mobil untuk Rendi.
“Trimakasih!”
Mereka pun akhirnya masuk juga ke dalam mobil, kali ini
Rendi memilih membawa sopir bersama mereka, ia ingin menghabiskan waktunya
bersama istri cerewetnya. Sepanjang perjalanan Rendi sibuk memeluk dan
mengecupi wajah Nadin, seakan tak peduli dengan orang yang sedang duduk di
balik kemudi.
Di kampus ayah Roy, ibu Dewi, agra dan ara serta Davina
sudah sampai lebih dulu. Mereka seperti sengaja menunggu Nadin dan Rendi di
depan gedung.
“Nadinnnn!” teriak Dini sambil menghampiri Nadin, ia lupa
kalau di sebelahnya ada balok es yang siap membekukan siap[apun.
“Maaf pak nggak sengaja!”
“Nad …, kamu kok nggak bilang-bilang sih kalau ada suami
kamu …!” bisik Dini, ia cukup takut melihat tatapan dingin dari suami sahabatnya itu.
“Siapa suruh nyosor aja …, btw …, kamu cantik banget hari
ini!”
“kamu juga Nad!”
Rendi melihat sepupunya sedang berdiri bersama dosen-dosen yang lain,
“Nadin!”
“Iya?” Nadin menoleh ke arahnya.
“Aku ke sana dulu ya!” ucap Rendi sambil menunjuk ke arah para dosen.
“Kemana?”
“Ada yang harus aku bicarakan pada Nathan!” Nadin
mengangguk.
Davina juga sudah duduk bersama teman-temannya, ia juga di
damping ayah Roy dan ibu Dewi, sedangkan Nadin duduk bersama Dini dan Ara,
sedangkan Agra tidak bisa menunggu sampai acara di mulai karena ada pekerjaan
penting. Sayang Ara tidak mengajak Sagara dan sanaya karena nyonya Ratih sedang
mengajak mereka ke rumah buyutnya di Yogyakarta.
Calon wisudawan sudah memasuki aula, wisudawan duduk di
kursi yang sudah di sediakan. Wisudawan yang berprestasi tiap fakultas sudah
duduk di posisi depan , terpisah dari teman-temannya. Walaupun Nadin bukan
mahasiswa berprestasi tapi nilai IPK nya tidak terlalu jelek juga, cukup masuk
di sepuluh besar dengan usaha yang cukup keras.
Kini di depan sudah berjajar Rektor dan jajaran rektorat.
Kini pemimpin panduan suara sudah mulai beraksi dengan mengomandoi pasukannya,
pertanda acara sudah di mulai. Wisudawan dengan hikmat mendengarkan suara
panduan suara, walau tak jarang dari mereka ada yang saling mengobrol sendiri
dengan teman-teman sebelahnya.dan Rektor pun mengetuk palu untuk menandakan
acara di mulai.
Kini saatnya wisudawan di panggil satu per satu untuk
menerima ijasah dan juga sang Rektor secara resmi memindahkan kuncir bagi
wisudawan yang berprestasi, sedangkan untuk wisudawan lainnya, ijasah akan di
berikan oleh dekan masing-masing.
Setelah acara wisuda selesai mereka saling bersua foto,
rendi sudah duduk di samping nadin, entah dapat fotografer dari mana, sedari
tadi fotografer itu hanya membidik ke arah Nadin dan Rendi serta keluarga.
“Mas …, dapat fotografer dari mana?’
“Aku menyewa khusus untuk acara ini!”
“Kenapa?”
“Supaya kamu nggak kebanyakan selvi!”
Davina merasakan tubuhnya sedikit lemas, ia memutuskan untuk
beristirahat di sudut ruangan. Nadin yang memperhatikannya segera mendekati
Davina, awalnya ia hanya ingin mengajak Davina untuk berfoto bersama.
“Kak …!”
“Ada apa?"
“Kak Davina kenapa, wajah kak Davina pucet sekali?”
“Nggak pa pa, cuma capek saja!”
“Sebenarnya aku ingin foto sama kak Davina, kak Davina keberatan
nggak?”
“Terserah kamu saja!”
Nadin melambaikan tangannya pada fotografer yang sudah di
sewa Rendi, menurutnya sayang kalau tidak di manfaatkan dengan baik.
“Ada apa bu Nadin?”
“Foto kami berdua ya!”
Nadin ikut duduk di samping davina, walaupun dengan wajah
pucat nya, Davina memaksakan untuk tersenyum. Walaupun ia kurang enak badan tapi
ia tidak mau terlihat jelek di dalam kamera.
Setelah mengambil foto beberapa pose, nadin pun menyuruh
fotografer itu meninggalkan mereka, ia kembali menatap davina.
“Kak Davina benar-benar nggak pa pa?”
“Nggak pa pa, cuma butuh istirahat sebentar!” ucap Davina
meyakinkan Nadin. “Oh iya …, maafkan aku ya!”
“Untuk?”
“Untuk semua yang telah aku buat selama ini padamu, aku
ikhlas Rendi denganmu, semoga kalian bahagia!”
“Terimakasih kak …!” Nadin memeluk Davina.
Walaupun sedikit terlambat, tapi semuanya menjadi indah pada
waktunya. Tak perlu sempurna untuk mengabadikan sebuah moment, kebahagiaan yang
sederhana bisa menjadi penyembuh luka yang cukup besar.
Bersambung
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘