
Kini tinggal Nadin dan Rendi di tempat itu, keadaan kembali hening hingga beberapa saat.
Apa yang harus aku lakukan?
Rendi begitu gugup, hingga ia bingung harus melakukan apa. Tapi ia begitu pandai menyembunyikan semuanya, wajah datarnya berhasil mengelabuhi siapa saja yang melihatnya.
"Pak, apa kita akan tetap di sini?" tanya Nadin karena tak sabar menunggu inisiatif dari Rendi. Pria itu tetap dengan coolnya menyakukan kedua tangannya di saku celana.
Biasanya anak muda akan makan pop corn sambil nonton, apa aku juga harus melakukan hal itu?
"Herrrrmmm ...., tunggulah di sini, aku akan membeli pop corn dulu ...!" ucap Rendi dengan mata yang mengarah pada kedai penjual pop corn tak jauh dari gedung bioskop.
"Tapi di sana antrinya sangat panjang!" ucap Nadin, karena melihat antrian para pembeli pop corn begitu panjang.
"Aku akan meminta orangku untuk membelikannya!" ucap Rendi saat melihat apa yang di lihat Nadin, hampir saja tangannya dengan cekatan menekan tombol panggilan pada layar ponselnya, tapi Nadin segera menahannya. Rendi menatap Nadin penuh keheranan.
"Ada apa?" tanya Rendi.
"Itu tidak romantis ...!" ucap Nadin sedikit ragu. Walaupun ia tahu jika Rendi selalu melibatkan anak buahnya dalam segala hal. Tapi kali ini Nadin ingin melihat pria dingin itu dengan usahanya sendiri.
"Cihhhkkkk ...!" umpat Rendi tapi ia tetap berjalan menuju ke kedai pop corn itu dan ikut dalam antrian panjang. Wajah coolnya seketika menjadi pusat perhatian.
Karena hari libur, banyak sekali remaja, anak SMA yang juga berencana untuk menonton bioskop.
"Waah ...., gantengnya ...!"
"Iya ...., kayak oppa oppa ....!"
"Mau dong foto dengan kakak ...!"
"Kakak masih kuliah ya?"
Rendi yang tidak suka menjadi pusat perhatian, begitu risih menanggapi anak-anak perempuan itu.
Astaga ...., aku pengen lari dari sini ...., lebih baik mengahapi para klien killer dari pada harus berhadapan dengan gadis-gadis alay ini ....
Para remaja itu, mendapatkan sikap dingin dari Rendi bukannya takut tapi malah semakin mengerubutinya.
Nadin yang sedari tadi sudah geram, ia segera bangun dari duduknya dan menghampiri Rendi.
"Apa yang kalian lakukan?" ucap Nadin sambil berkacak pinggang.
"Kamu siapa? Kalau kau juga suka dengan kakak ini, antri....., kita mau foto."
"Aku istrinya ....!" ucap Nadin dengan wajah kesalnya. "Kaliahan lihat perutku ...., aku hamil muda, ini anak pria yang kalian rebutkan ...., jangan sampai membuat aku marah ya ...., enyah kalian dari suamiku ...!"
Mendengar ucapan Nadin, wajah-wajah gembira para remaja itu seketika berubah menjadi masam dan otomatis menjauh dari Rendi.
"Ahhh ...., jadi sudah punya istri ...!"
"Iya ...., sayang ya ..., istrinya galak lagi ...!"
Para remaja itu segera berjalan menjauh dari Rendi. Rendi benar-benar tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Nadin, tanpa terasa bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum.
Dia ternyata luar biasa ....
Aaawww ....., apa aku tidak salah lihat, pak Rendi tersenyum ...., ahhhh ...., hatiku meleleh ...., kau begitu manis balok es ku. Aku semakin menggilaimu, Nadinmu ini semakin tidak bisa lepas darimu ....
Tik tik tik
"Ada apa?" tanya Rendi sambil mengangkat wajahnya.
"Apa aku sedang bermimpi?" tanya Nadin dengan polosnya. Membuat Rendi menggelengkan kepalanya singkat dan kembali masuk dalam antrian, kini antrianya sudah sedikit longgar, tinggal dua orang lagi yang mengantri.
Akhirnya kini tiba giliran Rendi, Nadin masih setia di samping Rendi, ia tidak mau sampai ada cewek-cewek yang mendekati Rendi lagi.
"Selamat siang kak, Mau pesan apa?" tanya penjual yang menjual popcorn dan berbagai makanan lain itu. Perempuan itu tersenyum manis berusaha menatik perhatian Rendi. Nadin pun segera melingkarkan tangannya di lengan kekar milik Rendi, reflek Rendi pun menoleh padanya.
"Aku mau popcorn yang manis ya sayang, sama minumannya ....!" ucap Nadin dengan nada yang di buat begitu manja. Membuat perempuan itu sadar jika pria di depannya itu memiliki penjaga yang galak.
Apa sayang ....? Apa aku tidak salah dengar, dia memanggilku sayang.
Rendi begitu mempehatikan detail ucapan Nadin yang begitu menggelitik di telinganya, membuatnya kembali tersenyum tipis. Ia tidak mau jika Nadin sampai menyadarinya, ia mengalihkan pandangannya dan segera menghilangkan senyumnya dan mengganti dengan wajah dinginnya kembali.
"Kentang, popcorn, sama teh java!" ucap Rendi kemudian setelah berhasil mengontrol perasaannya yang semakin tak menentu.
"Iya, sebentar ya kak!" ucap wanita itu dengan kembali tersenyum seakan tak peduli dengan wanita yang ada di sebelah pria tampan itu membuat Nadin menginjakkan kakinya kesal.
Nadin tetap memegang lengan Rendi, entah kenapa kali ini Rendi tidak menolaknya. Nadin mengedarkan pandangannya ke sekeliling, banyak wanita yang memperhatikan Rendi, pria dingin itu memang penuh karisma. Mungkin itulah yang membuatnya jarang mincul di publik.
"Senang ya jadi pusat perhatian."Gumam Nadin.
"Itu bukan salahku!" ucap Rendi yang ternyata mendengar gumaman Nadin, membuat Nadin mendongakkan kepalanya mencoba menjangkau wajah Rendi.
"Terimakasih ...!" ucap Rendi sambil mengambil makanan yang sudah jadi daneletakkan selembar uang seratus ribuan.
"Ambil saja kembaliannya ...!" ucap Rendi lagi, Rendi pun memegang tangan Nadin yang tadi sempat di lepaskan oleh Nadin, dan menatik tangannya. "Ayo ...!"
Mereka duduk di depan teather sambil menunggu teather bioskop itu di buka.
"Apa pak Rendi pernah nonton bioskop?" tanya Nadin.
"Aku nggak punya waktu." ucap Rendi yang kembali dingin, ia melipat tangannya di depan dada sambil menyenderkan punggungnya, matanya di pejamkan sejenak.
"Tidak heran sih ...!" ucap Nadin lagi sambil menyeruput minumannya.
Rendi terdengar menghela nafasnya berat, begitu berat, seperti ia mengigat sesuatu.
"Dulu pertama kali aku datang ke bioskop bersama ibu dan ayah, kami sering ke sini untuk menghabiskan akhir pekan. Tapi semenjak ibu meninggal kami tidak pernah datang lagi ke sini."
Nadin yang sedari tadi menyimak ucapan Rendi, hanya bisa diam. Ia merasakan kehidupan yang begitu sepi pada pria di sampingnya, seperti sedang menyimpan luka yang begitu besar.
"Pak Rendi ...!"
"Jangan memandangku seperti itu, aku tidak suka!" ucap Rendi sambil membuka matanya dan kenatap Nadin. Ia tidak mau orang lain melihat sisi lemahnya.
Rendi adalah pribadi yang kuat, jenius, kritis tapi ia juga memiliki sisi rapuh yang jarang orang lain ketahui karena ia sendiri tidak mau memperlihatkannya termasuk pada kedua sahabatnya.
Ayahnyalah yang paling berpengaruh dengan karakter Rendi, Salmab menginginkan putranya menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Ia mau Rendi menjadi pria yang bisa menjadi tameng yang kokoh untuk Agra dan keluarganya, sampai ia lupa untuk mengajarkan arti sebuah cinta.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya yang banyak
Kasih Vote juga ya yang banyak juga
Happy Reading 😘😘😘😘😘😘**