
Rendi dan Nadin mengantar ayah Salman hingga ke depan.
"Sayang ...., jangan nakal ya sama kakek!" Nadin mencoba memperingatkan putranya yang sudah berada dalam gendongan kakeknya itu.
"Ya una ....!" jawab Elan dengan suara cedalnya, ia masih belum terlalu pandai bicara, hanya bisa bicara sekenanya saja.
"Anak pintar!" ucap Nadin sambil mengusap kepala putranya, "Ayah beneran nggak nginep saja di sini?"
"Lain kali saja, sepertinya ada yang sedang menginginkan hal lain, jadi lain kali saja!" ucap ayah Salman sambil melirik putranya, karena kedekatan mereka membuat mereka saling tahu walaupun tanpa di ungkapkan.
Rendi yang mendapat tatapan dari ayahnya hanya tersenyum tipis nyaris tidak terlihat, sedari tadi tangannya terus melingkar di pinggang Nadin.
"Ya sudah ayah pulang ya!"
Ayah Salman pun masuk ke dalam mobilnya, dan mobil itu segera berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Ayo masuk !" ajak Rendi pada Nadin, Nadin pun hanya bisa mengikutinya dengan berjalan beriringan karena Rendi tak juga melepaskannya.
***
Setelah selesai mengganti bajunya dan membersihkan diri, Nadin sudah lebih dulu duduk di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
Rendi sedang sibuk di kamar mandi, ia terlihat beberapa kali merapikan rambutnya, menunjukkan otot-ototnya di depan cermin dan menarik kuat menghembuskan nafasnya beberapa kali.
"Malam ini harus istimewa!" gumam Rendi sambil berkali-kali mengusap janggutnya yang sedikit di tumbuhi bulu itu.
"Mas .......!" terdengar suara Nadin memanggul membuat Rendi menghentikan kegiatannya. Ia segera memegangi dadanya yang berdebar.
"Iya sebentar!" jawab Rendi dengan sedikit berteriak agar Nadin dapat mendengarnya.
"Ngapain sih lama sekali di situ?" tanya Nadin lagi membuat Rendi semakin panik saja, serasa seperti baru pertama kali menyatakan cinta saja, tapi kapan juga Rendi menyatakan cinta?
Rendi pun kembali merapikan rambutnya yang memang sudah selalu rapi, menyemprotkan kembali minyak wangi ke leher dan tangannya. Baunya sudah seperti taman bunga saja.
Rendi segera menuju pintu dan membukanya perlahan, dari kejauhan ia bisa melihat istrinya itu sudah menatapnya dengan penuh tanda tanya, Rendi segera mengatur bibirnya agar sedikit melengkung ke atas.
Dengan perlahan Rendi mendekat ke arah tempat tidur.
"Stop mas .....!" teriak Nadin sebelum Rendi benar-benar naik ke atas tempat tidur.
Rendi mengerutkan keningnya, "Ada apa?"
"Kenapa wangi sekali sih mas?"
"Masak sih? Enggak!" Rendi menciumi bajunya yang memang sangat harum. Ia hanya tidak mau membuat Nadin curiga saja.
"Iya ....., wangi mas! Mas Rendi pakek parfumnya berapa botol sih?"
"Ya sudah lah, nggak usah protes, aku ganti baju dulu!" Rendi memilih mengalah dari pada gagal lagi, ia pun kembali ke ruang ganti dan mengganti bajunya, kali ini tidak butuh waktu lama, hanya lima menit lalu kembali.
"Sekarang cepat, kenapa tadi lama sekali?" pertanyaan Nadin berhasil membuat Rendi berdecak, resiko punya istri banyak bicara.
Rendi tidak lagi menanggapi ucapan istrinya, ia memilih untuk mendekati istrinya kembali, duduk di samping istrinya.
Nadin masih terlihat begitu sibuk menatap layar ponselnya, ia tidak mempedulikan Rendi yang sudah sangat dekat hal itu membuat Rendi penasaran apa yang membuat istrinya itu tidak mempedulikannya lagi.
"Lihat apa sih?"
"Lihat ini mas, kelihatan enak sekali mas!" Nadin menunjukkan layar ponselnya.
"Apa?"
"Lihat sendiri mas!"
Saat Rendi melihatnya ternyata ada rujak buah di sana.
"Ya sudah besok aku belikan! Sekarang simpan ponselnya!" ucap Rendi sambil meletakkan ponsel Nadin di atas nakas.
Rendi kembali mendekap tubuh Nadin, menciumi leher Nadin tapi Nadin segera mendorong tubuh Rendi.
"Massss ......!"
"Aku pengen makan rujak buah!"
"Besok ya, sekarang ....!" Rendi kembali mendekap tubuh Nadin dan meremas buah dada Nadin, bibirnya sudah sibuk mencuimi kembali wajah dan leher Nadin.
"Stop mas .....!"
Rendi terpaksa menghentikan kegiatannya, "Ada apa lagi, Nadinda Aulya Putri?"
"Mas ....., aku benar-benar pengen sekarang mas ....!" ucap Nadin dengan wajah yang di buat semelas mungkin membuat Rendi menghela nafasnya.
Rendi tidak bisa menghindar saat ini, ia tidak tega melihat istrinya begitu ingin.
"Baiklah ....., aku akan meminta Ajun untuk mencarikannya untukmu!" ucap Rendi sambil turun dari tempat tidur.
"Mas jangan .....!" teriak Nadin lagi, membuat Rendi menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Rendi setelah ia berbalik menatap istrinya.
Nadin segera ikut turun dari tempat tidur, ia segera berlari mendekati Rendi, membuat Rendi bergegas menghampirinya.
"Memang harus ya, lari?" protes Rendi saat tubuh Nadin sudah berada dalam dekapan Rendi.
"Maaf mas, tapi Nadin ingat. Di rumah pak Tama di depan rumahnya ada pohon mangganya, aku lihat kemarin berbuah lebat banget, mau dong mas Rendi petikkan untuk aku!" Nadin benar-benar berhasil menguras simpati Rendi dengan tatapannya saja.
"Tapi Nad, di pasar banyak!"
"Tapi aku maunya yang dari pohon!"
"Nggak usah banyak permintaan deh, besok aku tanamkan sediri di taman belakang pohon mangga yang langsung ada buahnya!"
"Tapi aku maunya yang pohon milik pak Tama!"
"Kenapa jadi banyak maunya sih?"
"Bukan aku mas, tapi debay yang ada di perut Nadin!"
Kalau sudah menyangkut anaknya, Rendi tidak bisa mengelak lagi, "Baiklah ...., sebentar biar aku minta Ajun memintanya sama pak Tama!"
"Nggak mau kalau Ajun, maunya mas Rendi!"
Hehhhhh .....
Rendi menghela nafas dalamnya, ia tidak bisa menolak, Rendi melepaskan dekapannya pada Nadin.
"Aku ikut mas!"
"Nggak usah!"
"Aku nggak percaya kalau mas Rendi sendiri yang minta sama pak Tama, jadi aku harus ikut!"
Riibet banget ......
***
Rendi menyerah, ia mengajak Nadin ikut bersamanya ke rumah pak Tama, rumah pak Tama berada tak jauh dari rumahnya hanya berseberangan jalan dengan rumahnya, pohon mangganya juga berada di depan rumahnya sehingga pohon mangganya terlihat jelas dari rumah mereka.
Rendi sepertinya akan gagal lagi buka puasanya gara-gara ngidamnya Nadin yang kelewat ribet.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘❤️