MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kepulangan Nadin 2



Rendi segera masuk ke dalam mobil duduk di samping Nadin dan segera melepas kaca mata hitamnya, lagi-lagi tangannya menggenggam


tangan Nadin.


“Mas!”


“Iya?”


“Dini?”


“Dia ada urusan lain, dia juga minta maaf sama kamu karena tidak bisa ikut!”


“Tapi tidak ada masalah kan?” Tanya Nadin khawatir.


Rendi menatap Nadin dingin, kemudian menggelengkan kepalanya.


“Jangan mengkhawatirkan apapun, kita harus cepat pulang!”


“Iya!”


Mobil pun segera melaju meninggalkan parkiran bandara. Elan kembali tertidur pulas, sepanjang jalan mereka hanya saling diam


dengan pikirannya masing-masing.


Aku harus bersikap bagaimana nanti kalau sampai di sana?apa mas Rendi akan langsung


membawaku ke apartemen, atau ke rumah ayah?


Tapi bukankah ini jalan yang berbeda …, jalan ini kemana? Bukan rumah ayah Salman?


Bukan rumah ayah Roy, bukan ke apartemen ….


Nadin terus saja menduga-duga,


Mudah-mudahan ini keputusan terbaik dengan menceritakan semuanya pada Nadin …, terus menutupi kebenaran membuatku semakin tersiksa ….


Bagaimana reaksi Nadin nanti? apa dia akan marah padaku? Seandainya keadaannya tak


seburuk ini …, aku pasti tidak merasa semakin bersalah ….


Akhirnya mobil itu memasuki pagar rumah, rumah itu tidak terlalu besar tapi juga tidak sempit, cukup indah. Rendi mengajak Nadin


untuk turun dari mobil, walaupun kakinya merasa ragu untuk melangkah tapi ia


harus menghadapi semuanya, semua kemungkinannya.


Nadin…., kamu pasti kuat …, apapun yang terjadi, jika memang kak Davina ada di sana


dan menjadi istri ke dua mas Rendi …, aku harus bisa menerimanya ….


“Ayo masuk …!” ajakan Rendi menyadarkan Nadin.


“I-iya mas …!”


“Biar Elan aku yang gendong!” Rendi mengambil alih Elan dari gendongan Nadin.


Mereka segera berjalan menuju ke arah pintu, Rendi mengetuk pintu rumah itu.


“Mas kenapa ngetuk pintu? Ini rumah siapa? Memang ada orang di dalam?”


Rendi hanya mengangguk menanggapi semua pertanyaan Nadin.


Atau jangan-jangan ini rumah mas Rendi sama kak Davina? Lalu ngapain mas Rendi ngajak aku ke sini? Apa lagi maksudnya? batin Nadin.


“Kok cuma ngangguk sih mas?”


“Nanti kamu juga tahu sendiri!”


“kok suka banget sih main rahasia-rahasiaan …!” gerutu Nadin, tapi Rendi hanya tersenyum.


Ceklek


Pintu terbuka, Nadin di buat terkejut dengan


banyaknya orang yang berada di depan pintu. Semua orang berkumpul di sana.


“Ayah, ibu, kakak, semuanya …!” ucap Nadin tak


percaya. Semua orang yang Nadin sayangi ada di sana semuanya.


“Selamat datang …..!” ucap semua orang di sana menyambut Nadin.


“Kalian menyambut ku?” tanya Nadin tak percaya.


“tentu sayang …., ayah …, ibu, kakak , semuanya


merindukanmu …, ayo masuk!” ucap ayah Roy.


Rendi pun segera mengajak Nadin masuk, semua keluarga terlihat bahagia dengan kedatangan nadin dan putranya.


Mereka bertanya banyak hal pada Nadin dan Nadin pun menceritakan semuanya yang telah ia alami selama jauh dari keluarga hingga membuat Nadin hampir melupakan apa tujuannya kembali.


Kini keluarga mulai berpencar, para pria sedang mengobrol di ruang depan sedang anak-anak sedang bermain bersama ibu Dewi, Sanaya dan Sagara sangat senang bermain dengan baby El.


Kini Ara dan Nadin sedang berduaan di ruang keluarga, Ara begitu merindukan adiknya itu.


“Kakak  tidak nyangka jika kamu bisa senekat ini!” ucap Ara pada adiknya itu.


“Aku sendiri juga nggak nyangka kak, aku kira saat itu aku tidak sedang hamil, jadi aku terbawa emosi. Kak, boleh aku bertanya?”


“Tanyakan apa saja yang mau kamu tanyakan!”


“Di mana kak Davina?”


Pertanyaan Nadin itu sebenarnya sudah Ara duga tapi hal itu tetap saja membuat Ara terkejut. Ia bingung harus menjelaskannya


bagaimana.


“Davina…!”


“Iya kak…, kak Davina?” tanya Nadin begitu penasaran, selama kembali ia tidak melihat Davina ataupun putrinya.


"Apa mas Rendi udah nikah sama kak Davina? Lalu di mana kak Davina dan putrinya?"


"Kamu tuh ngomong apa sih dek!?"


"Maksud kakak?"


"Semua yang kamu pikirkan itu tidak benar dek, Rendi nggak pernah nikah sama Davina!"


"Tapi kak, kak Davina hamil karena mas Rendi!"


"Kamu salah ....., Rendi tidak pernah melakukan itu! Kakak tahu kamu saat itu begitu cemburu hingga membutakan hatimu, tapi percayalah semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan!"


"Lalu kak Davina?"


“Davina sudah meninggal!”


Ucapan kakaknya seketika membuat Nadin terkejut, meninggal? Kenapa? Nadin menutup mulutnya yang tanpa sengaja terbuka, wajahnya memucat seketika seperti tidak ada aliran darah yang mengalir di sana.


“Meninggal?” tanya Nadin memastikan jika apa yang ia dengar itu adalah sebuah kebenaran.


“Iya …., Davina meninggal setelah melahirkan


putrinya!”


“Putrinya? putrinya mas Rendi …!”


“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu!” ucap Ara kesal karena adiknya masih mengganggap Rendi berkhianat padanya.


“Maksud kakak?”


Ara menghela nafasnya dalam, ia menunduk mencoba membuat adiknya mengerti tanpa melukainya adalah hal yang sangat berat.


“Kak Divta!”


“Hah?”


Nadin semakin tidak mengerti, apa hubungannya Davina dengan Divta, jelas-jelas selama ini Divta masih mengharapkannya, tapi kenapa dengan Davina dan Divta juga putrinya.


“Itu putri Davina dengan kak Divta!”


Seperti tersambar petir di siang bolong, Nadin


terkejut bukan main, keringat dingin segera mengucur, kepalanya teras berat.


Nadin memegangi kepalanya yang semakin teras berat. Matanya mulai


berkunang-kunang.


Ia semakin tidak mengerti saja, usahanya untuk bisa menyambungkan benang-benang kusut itu tidak berhasil, kebenaran ini terlalu memberatkan baginya.


“Nad …, nad …., kamu nggak pa pa kan?” Ara semakin khawatir melihat wajah Nadin yang semakin pucat.


“Rend …, Rendi …!” Ara memanggil-manggil Rendi. Rendi yang sedang mengobrol di depan bersama para pria segera berlari


menghampiri Nadin.


“Nad …, Nadin …., kamu kenapa?” Tanya Rendi sambil berjongkok di depan Nadin. Wajah Rendi menunjukkan betapa khawatirnya dia pada


perempuan yang sudah di nikahinya tiga tahun lalu.


Tiba-tiba Nadin menangis tersedu-sedu hingga


punggungnya bergetar hebat, membuat Rendi bertambah khawatir.


“Nad …, kamu kenapa?” Tanya Rendi lagi, Ara sudah berdiri dan agak menjauh membiarkan Rendi leluasa untuk lebih dekat pada Nadin.


Tapi tanpa di duga-duga Nadin malah berhambur memeluk suaminya itu dengan


tangis yang semakin jadi hingga membuat kaos putih Rendi basah oleh air


matanya, Rendi membiarkan hal itu, ia membiarkan Nadin  puas menumpahkan segala perasaannya.


Semua yang ada di sana segera meninggalkan mereka, mereka tahu apa yang paling di


butuhkan oleh Nadin saat ini, hanya kehadiran Rendi.


“Maafkan aku …!” setelah sekian lama menangis, akhirnya itu kata pertama yang muncul dari bibir Nadin. Rendi pun melepaskan


pelukannya, menghapus air mata nadin.


“Menangis lah sepuas mu, tapi setelah ini jadilah Nadin yang lebih kuat!”


“Maafkan aku mas!”


“Bukan salahmu! Aku lah yang patut di salahkan di sini!”


“Kenapa mas Rendi tidak bilang dari awal, aku udah jahat mas …, aku biarkan egoku meragukan cintamu mas …, aku salah …!”


“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri!”


Rendi kembali memeluk Nadin, menguatkan hati istrinya. Rendi segera merogoh sakunya, menyerahkan sebuah kertas yang sepertinya sudah sengaja Rendi siapkan di hari ini.


“Ini apa mas?” Tanya Nadin.


“Bacalah …., itu dari davina!”


“Kak Davina?”


“Iya!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘