MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Apakah itu artinya kita berpacaran?



Nadin pun mau tak mau menuruti permintaan Divta, ia merelakan tangannya di gandeng oleh Divta. Saat mereka berjalan kira-kira lima langkah, langkahnya kembali terhenti karena kedatangan sebuah mobil. Pemilik mobil itu segera keliar dari dalam mobil, membuat Nadin terhenyak di tempatnya.


"Pak Rendi ...."


Nadin tersentak melihat siapa yang turun dari mobil itu, ia mematung di tempatnya, ia tidak menyangka pria balok es itu akan datang.


Tubuh Rendi bergetar menahan amarah, ia meremas tangannya yang ia masukan di dalam saku celananya. Ia merasakan dadanya panas, seperti ada kobaran amarah yang ingin dia lepaskan.


Hantaman emosi begitu memuncak di kepalanya, Rendi menatap tajam pada mereka berdua, kemudian pandangannya teralihkan pada kedua tangan yang saling tertaut, Rendi mengepalkan tangannya sempurna, rahangnya mengeras, hingga otot-otot pelipisnya terlihat.


Berani-beraninya dia lakukan hal itu ....


Nadin menatap Rendi dengan ketakutan, Wajah Rendi tampak menyeringai menakutkan. Pancaran aura gelap tampak mengelilinginya. Mata Rendi tampak fokus pada tangan Nadin yang di pegang Divta.


Nadin yang menyadari arah pandangan Rendi, ia segera menarik tangannya dari genggaman Divta. Nadin segera menyembunyikan tangannya di belakang punggung nya.


Astaga ...., jangan menatapku seperti itu ...., kau benar-benar membuatku takut ....


Nadin hanya bisa mencoba tersenyum menatap Rendi dengan emosinya.



"Eh ...., Rendi ...., kamu di sini juga ya ...., baguslah ...., kita bisa ngobrol banyak ...." ucap Divta santai.


"Saya ada urusan sebentar dengan dia ....!" ucap Rendi tak memperdulikan ucapan Divta.


Rendi berjalan mendekati Nadin dan Divta, Nadin begitu gugup di buatnya, Rendi tiba di depan Nadin dan Divta. Kedua pria itu saling berhadapan, Rendi kembali menatap tajam pada Divta dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana.


"Kamu kenapa?" tanya Divta tak mengerti, tanpa menunggu jawaban dari Divta, Rendi sudah pergerak lebih dulu, ia menghampiri Nadin dan menarik tangan Nadin. Meninggalkan Divta yang masih berdiri mematung. Mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.


Nadin terkejut dengan tingkah Rendi, entah kenapa ia merasa jika Rendi begitu kasar menarik tangannya, hingga pergelangan tangannya begitu sakit.


"Pak ....!" panggil Nadin pada Rendi, tapi panggilan itu tak berpengaruh padanya. Rendi tetap menarik tangan Nadin. Nadin menoleh ke belakang, ia menatap Divta.


Rendi membawa Nadin menuju ke mobilnya, anak buahnya masih setia berada di samping mobil. Anak buah dengan pakaian serba hitam, hanya kemeja bagian dalam jasnya saja yang putih dengan earphone melekat di telinganya. Ia pun segera membukakan pintu mobil.


"Ayo ...!" Rendi meminta Nadin untuk masuk ke dalam mobil bagian belakang.


Setelah memastikan Nadin telah masuk ke dalam mobil, ia pun ikut masuk dan duduk di samping Nadin. Setelah Rendi dan Nadin masuk ke dalam mobil, pria serba hitam itu pun segera masuk dan duduk di balik kemudi.


"Jalan ...!" perintah Rendi.


"Baik pak ...!"


Divta yang masih terpaku di tempatnya, keheranan melihat kelakuan Rendi.


"Apa yang dia lakukan ....? Aneh ....!" ucap Divta.


Mobil Rendi semakin menghilang dari pandangannya, mau tak mau Divta pun segera masuk ke dalam rumah besar itu tanpa Nadin.


"Apa mungkin si kulkas itu juga menyukai Nadin ....? Aaah ...., aku rasa tidak mungkin, mungkin ada masalah lain di antara mereka."


****


Di dalam mobil, Rendi masih setia dengan rahangnya yang tetap mengeras.


"Pak ...., sebenarnya pak Rendi kenapa sih?" tanya Nadin yang tak merasa bersalah karena telah membuat si balok es hampir seperti orang gila.


"Diam ....!" bentak Rendi, seketika membuat Nadin terkejud, untuk pertama kali ia mendengar pria itu berbicara dengan nada tinggi.


Rendi masih berusaha menurunkan kadar emosinya, ia akan bicara setelah pikirannya kembali tenang, lagi-lagi ia tidak bisa memahami dengan dirinya sendiri. Ia marah tapi tak mengetahui kenapa ia bisa semarah itu.


"Kita kemana pak?" tanya anak buahnya ketika mobil sudah berjalan cukup jauh.


"Bawa kami ke taman terdekat ....!" ucap Rendi.


"Baik pak ...!"


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Setelah mobil berjalan sepuluh menit, mobil sudah sampai di parkiran taman.


"Kamu tunggu di sini, kami cuma sepuluh menit." ucap Rrndi membetitahu pada anak buahnya.


"Baik pak!"


Rendi kembali menarik tangan Nadin hingga sampai di sebuah bangku taman.


"Sekarang jelaskan semuanya padaku di aku beri waktu sepuluh menit untuk menjelaskan ...., di mulai dari sekarang ....!" ucap Rendi setelah Nadin duduk di hadapannya, ia masih berdiri rengan menyakukan kedua tangannya di saku celana.



"Apa?" tanya Nadin tak mengerti dengan yang di maksud Rendi.


Aku harus menjelaskan apa, dasar balok es ..., ngomong nggak usah pakek ribet napa sih ....


"Waktumu tinggal delapan menit lagi, cepat jelaskan padaku ....."


"Lalu aku harus menjelaskan apa?" tanya Nadin yang masih bingung.


"Tujuh menit......!" ucap Rendi sambil melihat jarum jam yang berjalan di pergelangan tangan nya. "Apa kau benar-benar sudah menyerah?"


"Tidak ...., aku masih serius dengan ucapan ku, aku akan tetap mengejar cinta pak Rendi." ucap Nadin dengan secepat kilat, ia mencoba menjawab sepemahamannya saja.


"Lalu ini apa? Kau berpelukan dengan pria lain, kau anggap bukan sesuatu yang serius, jika mau menyerah, menyerahlah ...., aku tidak akan menghalangimu ....." ucap Rendi sambil menunjukkan layar ponselnya pada Nadin.


"Hahhhh .....!"


Kenapa ada gambar seperti itu di hp pak Rendi ...., siapa yang sudah melakukan semua itu ...?


"Bagaimana ...., kau terkejut ...., tapi sayang waktumu tinggal lima menit lagi ....! Tapi sepertinya aku sudah tahu jawabannya." ucap Rendi sambil menyakukan kembali ponselnya.


"Oh itu ...., bukan seperti itu kejadiannya, jadi begini ...., itu tadi bukan pelukan pak, itu tadi pak Divta sedang membantuku memakaikan seathbelt ku ...., kami benar-benar tidak berpelukan ...., percayalah padaku ....!" ucap Nadin dengan secepat kilat.


"Lalu ...., tanganmu itu?" ucap Rendi sambil menatap tangan Nadin, Nadin merasa saat ini tangannya serasa di kuliti oleh tatapan tajam Rendi.


"Tadi .....! Tadi ....., pak Divta ....!"


"Sudah cukup waktumu sudah habis ...!" ucap Rendi lalu berjalan meninggalkan Nadin, Nadin pun segera mengejar Rendi, ia menarik tangan Rendi hingga membuat langkah Rendi terhenti.


"Pak ....!"


"Bersihkan tanganmu jika ingin menyentuhku ...., aku tidak suka di sentuh oleh sesuatu yang telah di sentuh orang lain ...!"


"Tapi pak ...., itu tadi cuma ....!"


"Bersihkan dengan ini!" perintah Rendi sambil memberikan sebotol kecil hand sanitizer kepada Nadin.


Astaga ...., pak Rendi ...., emang tanganku berkuman apa, ya sudahlah ..., apapun titah sultan .....


Dengan tanpa memberi perlawanan Nadin pun segera mengambil botol itu, dan mengusap pergelangan tangannya dengan hand sanitizer.


Setelah selesai mencuci tangannya dengan hand sanitizer, ia pun bmenyerahkan kembali botol itu pada Rendi.


"Simpan saja ...., dan jangan sampai siapapun melakukan hal itu ..!" ucap Rendi, ia pun segera memggamdeng tangan Nadin.


"Apa itu artinya kita berpacaran?" tanya Nadin, entah dari mana ia dapat ide menanyakan pertanyaan bodoh itu.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘**