MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Lariiii!!!!



Ngiiikkkkkk


Tiba-tiba pintu kamar Nadin terbuka,sosok yang ia cari di


bawah sudah berdiri di depan pintu kamarnya, membuat Nadin terkejut.


“Hei …, siapa kau? Beraninya kau masuk ke dalam sini?” Nadin


bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri pria itu. Sedangkan Merry sudah


dengan sigap melindungi Nadin dari pria itu.


Pria itu segera membuka penutup wajahnya. “Ini aku!”


“Mas Rendi!” pekik Nadin, ia menghentikan langkahnya. Nadin


benar-benar tak percaya dengan apa yang di lihat, ia mengucek-ucek matanya,


memastikan bahwa apa yang di lihatnya itu adalah kebenaran.


“Kita harus segera pergi dari sini!” Rendi menarik tangan


Nadin, Nadin hanya bisa pasrah, tapi sebelum langkahnya mencapai pintu Merry


segera mencegahnya.


“Berhenti!” teriak Merry membuat Rendi menghentikan


langkahnya, begitu pun dengan Nadin.


“Kenapa Merry? Apa kau berubah pikiran untuk tidak


membiarkanku  pergi?”  Tanya Nadin tak percaya. Nadin melepaskan


genggaman Rendi, ia memegang tangan Merry. “Aku ingin pergi dari sini, Merry.


Jadi biarkan kami pergi!”


Merry menarik tangan Nadin, membalas genggamannya. “bukan


seperti itu maksudku, nona! Tapi jika kalian pergi sekarang, bukan tidak


mungkin kalian akan tertangkap, karena di setiap akses keluar dari tempat ini


di jaga dengan ketat, mereka tidak hanya dengan tangan kosong, tapi ada senjata


di tangan mereka!”


Merry beralih menatap Rendi, ia melepaskan tangan nadin dan


sedikit mendekat pada Rendi.


“Saya membenci anda karena kesalahan anda terlalu besar


untuk di maafkan, tapi cinta nona Nadin begitu besar untuk anda, jadi ingat


satu hal, aku melakukan ini hanya untuk nona Nadin …, ingat itu …!” ucap Merry


dengan menatap begitu tajam pada Rendi dan seperti biasa bahkan Rendi tak


bereaksi sama sekali.


Merry kembali pada Nadin. “Tunggu aku melakukan sesuatu,


setelah aku kembali kalian boleh pergi!”


“Saya tidak percaya pada anda!” ucap Rendi tiba-tiba


mengurungkan niat Merry untuk meninggalkan mereka. Rendi kembali menarik tangan


Nadin, mereka benar-benar keluar dari kamar itu.


Banyak anak buah Alex yang lalu lalang berpatroli, membuat


Nadin dan Rendi beberapa kali harus bersembunyi. Hingga tibalah mereka di pintu


terakhir untuk keluar dari Villa itu, dan di saat yang bersamaan alex memasuki


halaman Villa itu, sepertinya dia menyadari ada sesuatu di aneh dengan system


pengamanan di rumah itu.


“Ada apa ini? Kenapa aku merasa ini rekaman ulang …!” ucap


pria arogan itu sambil menatap sebuah rekaman keamanan di sebuah Villa.


“Apa ada masalah tuan?” Tanya anak buahnya.


“Perhatikan ini!” pria itu adalah Alex, ia memutar layar


laptopnya dan menunjukkannya pada anak buahnya.


“Kenapa waktu di rekaman ini berjalan sangat lambat tuan?’


“Iya kau benar, jangan-jangan …, ini kerjaan Rendi!” Alex


segera menutup layar laptopnya, ia menyambar jasnya yang menggantung begitu saja


di sandaran kursinya.


“Tuan mau ke mana?”


“Kita harus ke Villa sekarang!”


“Lalu bagaimana dengan meetingnya di luar kota?”


“Aku yakin itu hanya rekayasa Rendi, batalkan saja!”


“Baik pak!”


Merry yang melihat kedatangannya Alex segera menghampiri


Alex, ia menyembunyikan tangannya di belakang punggung dan memberi isyarat pada


Rendi dan Nadin untuk cepat pergi.


“Dimana wanita itu?” Tanya Alex dengan nada marahnya, “cepat


katakana!”


“Nona Nadin a-ada tuan!”


“Dimana? Tunjukkan padaku!”


“Ada di ka-kamarnya tuan!” jawab Merry dengan tergagap, ia


tak percaya telah membohongi tuannya itu. Alex pun segera berjalan menuju ke


kamar Nadin, Merry mengikutinya bersama anak buahnya yang ia bawa dari ibu kota.


Brakkk


Alex membuka pintu dengan keras, hingga menimbulkan getaran


pada dinding. Matanya memerah menahan amarah saat Nadin tak berada di dalam


kamarnya, ia memeriksa kamar mandi juga tapi tak menemukan Nadin juga.


“Apa kau sengaja membohongiku?’ Tanya Alex pada Merry.


“Tidak tuan, sungguh saya tidak berani …!” ucap Merry sambil


menunduk, ia benar-benar tak berani menatap tuannya itu.


“Awas jika kau berada di balik semua ini!” ancam Alex, ia pun


“Tutup semua akses keluar dari sini!” teriak Alex.


Dan dengan sigap semua anak buahnya menutup akses jalan


keluar. Nadin dan Rendi yang masih terjebak di balik semak di taman belakang.


“Sekarang apa yang harus kita lakukan, mas?” Tanya Nadin


panik.


“tenanglah …., semua akan baik-baik saja!”


“Kenapa selalu itu saja yang kau katakan!” keluh Nadin.


“Memang aku bisa apa dalam keadaan seperti ini!” gerutu Nadin.


“Kenapa kau suka sekali menggerutu!” keluh Rendi.


Rendi mengotak-atik ponselnya, menulis pesan dan


mengirimkannya. Memeriksa sesuatu dari ponselnya, hal itu membuat Nadin kesal.


“kenapa kau malah bermain ponsel di saat seperti ini!”


hardik Nadin.


“Jangan cerewet bisa nggak!”


Memang selalu aku yang


salah …, apa salahku, aku hanya mencemaskan keadaan kami, tapi dia malas


seenaknya sendiri


Nadin menatap Rendi dengan kesal.


“jangan menatapku seperti itu!” ucap Rendi tanpa beralih


dari ponselnya. Nadin pun dengan kesal mengalihkan tatapannya, ia memperhatikan


anak buah Alex yang memperketat penjagaan, sangat mustahil untuk mereka bisa keluar


hidup-hidup.


“Kau bisa berlari dan memanjatkan?’ Tanya Rendi tiba-tiba.


“Jangankan berlari dan memanjat, salto pun aku bisa!” Nadin


menyombongkan diri.


“Bagus!”


Rendi segera menyimpan kembali ponselnya, ia mengeluarkan


sesuatu dari bajunya, sebuah pisau kecil.


“Pegang ini!” ucap Rendi sambil menyerahkan pisau kecil itu


ke tangan Nadin, Nadin menatapnya tak mengerti.


“Ini untuk apa?”


“Untuk jaga diri, bisa kan menggunakannya?”


“bagaimana bisa, aku menyakiti nyamuk saja tidak bisa.


Motong wortel aja baru bisa kemarin!”


“Anggap saja kamu sedang motong wortel!”


“Mana sama!”


“Bisa tidak banyak bicara, di tempat genting seperti ini


bisa-bisanya masih cerewet!” gerutu Rendi.


“Iya …, iya ….!”


Rendi mengamati sekitar, ia melihat dari segala sisi. Rendi


juga sudah memanggil seluruh anak buahnya dan berjaga di luar, tinggal menunggu


perintah Rendi untuk bertindak.


“bertindak sekarang!” ucap Rendi tiba-tiba.


“Hahh?” Nadin bingung dengan apa yang di katakan Rendi.


“Bukan kamu!”


“Lalu?” Tanya Nadin, Rendi bukan menjawab tapi ia hanya


menunjuk pada aerophone yang bertengger di telingannya.


“Oohhhh!” Nadin mengerti, ia hanya mengangguk-anggukkan


kepalanya.


“Sekarang saatnya!” ucap Rendi lagi.


“Apa?”


“Lari sekencang mungkin ke pintu gerbang, di luar sudah ada


yang akan menolongmu!”


“lalu?”


“Apa lagi?”


“Mas Rendi bagaimana?”


“Aku akan menghadang orang-orang itu, segeralah berlari dan


melompati pagar itu, jangan pernah melihat ke belakang!” ucap Rendi, ia


memegang tangan Nadin meyakinkan Nadin, tapi Nadin tetap menggelengkan


kepalanya.


“Itu tidak mungkin, kita lari bersama!” ucap nadin tak mau


melepaskan tangan Rendi.


“Jangan membuatku sulit, larilah selagi masih bisa!”


“Enggak …!” Nadin menolaknya dengan tegas. “Jika aku


selamat, kau juga harus selamat!”


“Jangan keras kepala!” ucap Rendi, ia menakup wajah Nadin.


Bersambung


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Visual mereka akan sering aku munculkan di Ig ya .....


yang greget sama Mas Rendi segera intip di Ig akoh ya ....🤗🤗