
Ngiiikkkkkk
Tiba-tiba pintu kamar Nadin terbuka,sosok yang ia cari di
bawah sudah berdiri di depan pintu kamarnya, membuat Nadin terkejut.
“Hei …, siapa kau? Beraninya kau masuk ke dalam sini?” Nadin
bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri pria itu. Sedangkan Merry sudah
dengan sigap melindungi Nadin dari pria itu.
Pria itu segera membuka penutup wajahnya. “Ini aku!”
“Mas Rendi!” pekik Nadin, ia menghentikan langkahnya. Nadin
benar-benar tak percaya dengan apa yang di lihat, ia mengucek-ucek matanya,
memastikan bahwa apa yang di lihatnya itu adalah kebenaran.
“Kita harus segera pergi dari sini!” Rendi menarik tangan
Nadin, Nadin hanya bisa pasrah, tapi sebelum langkahnya mencapai pintu Merry
segera mencegahnya.
“Berhenti!” teriak Merry membuat Rendi menghentikan
langkahnya, begitu pun dengan Nadin.
“Kenapa Merry? Apa kau berubah pikiran untuk tidak
membiarkanku pergi?” Tanya Nadin tak percaya. Nadin melepaskan
genggaman Rendi, ia memegang tangan Merry. “Aku ingin pergi dari sini, Merry.
Jadi biarkan kami pergi!”
Merry menarik tangan Nadin, membalas genggamannya. “bukan
seperti itu maksudku, nona! Tapi jika kalian pergi sekarang, bukan tidak
mungkin kalian akan tertangkap, karena di setiap akses keluar dari tempat ini
di jaga dengan ketat, mereka tidak hanya dengan tangan kosong, tapi ada senjata
di tangan mereka!”
Merry beralih menatap Rendi, ia melepaskan tangan nadin dan
sedikit mendekat pada Rendi.
“Saya membenci anda karena kesalahan anda terlalu besar
untuk di maafkan, tapi cinta nona Nadin begitu besar untuk anda, jadi ingat
satu hal, aku melakukan ini hanya untuk nona Nadin …, ingat itu …!” ucap Merry
dengan menatap begitu tajam pada Rendi dan seperti biasa bahkan Rendi tak
bereaksi sama sekali.
Merry kembali pada Nadin. “Tunggu aku melakukan sesuatu,
setelah aku kembali kalian boleh pergi!”
“Saya tidak percaya pada anda!” ucap Rendi tiba-tiba
mengurungkan niat Merry untuk meninggalkan mereka. Rendi kembali menarik tangan
Nadin, mereka benar-benar keluar dari kamar itu.
Banyak anak buah Alex yang lalu lalang berpatroli, membuat
Nadin dan Rendi beberapa kali harus bersembunyi. Hingga tibalah mereka di pintu
terakhir untuk keluar dari Villa itu, dan di saat yang bersamaan alex memasuki
halaman Villa itu, sepertinya dia menyadari ada sesuatu di aneh dengan system
pengamanan di rumah itu.
“Ada apa ini? Kenapa aku merasa ini rekaman ulang …!” ucap
pria arogan itu sambil menatap sebuah rekaman keamanan di sebuah Villa.
“Apa ada masalah tuan?” Tanya anak buahnya.
“Perhatikan ini!” pria itu adalah Alex, ia memutar layar
laptopnya dan menunjukkannya pada anak buahnya.
“Kenapa waktu di rekaman ini berjalan sangat lambat tuan?’
“Iya kau benar, jangan-jangan …, ini kerjaan Rendi!” Alex
segera menutup layar laptopnya, ia menyambar jasnya yang menggantung begitu saja
di sandaran kursinya.
“Tuan mau ke mana?”
“Kita harus ke Villa sekarang!”
“Lalu bagaimana dengan meetingnya di luar kota?”
“Aku yakin itu hanya rekayasa Rendi, batalkan saja!”
“Baik pak!”
Merry yang melihat kedatangannya Alex segera menghampiri
Alex, ia menyembunyikan tangannya di belakang punggung dan memberi isyarat pada
Rendi dan Nadin untuk cepat pergi.
“Dimana wanita itu?” Tanya Alex dengan nada marahnya, “cepat
katakana!”
“Nona Nadin a-ada tuan!”
“Dimana? Tunjukkan padaku!”
“Ada di ka-kamarnya tuan!” jawab Merry dengan tergagap, ia
tak percaya telah membohongi tuannya itu. Alex pun segera berjalan menuju ke
kamar Nadin, Merry mengikutinya bersama anak buahnya yang ia bawa dari ibu kota.
Brakkk
Alex membuka pintu dengan keras, hingga menimbulkan getaran
pada dinding. Matanya memerah menahan amarah saat Nadin tak berada di dalam
kamarnya, ia memeriksa kamar mandi juga tapi tak menemukan Nadin juga.
“Apa kau sengaja membohongiku?’ Tanya Alex pada Merry.
“Tidak tuan, sungguh saya tidak berani …!” ucap Merry sambil
menunduk, ia benar-benar tak berani menatap tuannya itu.
“Awas jika kau berada di balik semua ini!” ancam Alex, ia pun
“Tutup semua akses keluar dari sini!” teriak Alex.
Dan dengan sigap semua anak buahnya menutup akses jalan
keluar. Nadin dan Rendi yang masih terjebak di balik semak di taman belakang.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan, mas?” Tanya Nadin
panik.
“tenanglah …., semua akan baik-baik saja!”
“Kenapa selalu itu saja yang kau katakan!” keluh Nadin.
“Memang aku bisa apa dalam keadaan seperti ini!” gerutu Nadin.
“Kenapa kau suka sekali menggerutu!” keluh Rendi.
Rendi mengotak-atik ponselnya, menulis pesan dan
mengirimkannya. Memeriksa sesuatu dari ponselnya, hal itu membuat Nadin kesal.
“kenapa kau malah bermain ponsel di saat seperti ini!”
hardik Nadin.
“Jangan cerewet bisa nggak!”
Memang selalu aku yang
salah …, apa salahku, aku hanya mencemaskan keadaan kami, tapi dia malas
seenaknya sendiri
Nadin menatap Rendi dengan kesal.
“jangan menatapku seperti itu!” ucap Rendi tanpa beralih
dari ponselnya. Nadin pun dengan kesal mengalihkan tatapannya, ia memperhatikan
anak buah Alex yang memperketat penjagaan, sangat mustahil untuk mereka bisa keluar
hidup-hidup.
“Kau bisa berlari dan memanjatkan?’ Tanya Rendi tiba-tiba.
“Jangankan berlari dan memanjat, salto pun aku bisa!” Nadin
menyombongkan diri.
“Bagus!”
Rendi segera menyimpan kembali ponselnya, ia mengeluarkan
sesuatu dari bajunya, sebuah pisau kecil.
“Pegang ini!” ucap Rendi sambil menyerahkan pisau kecil itu
ke tangan Nadin, Nadin menatapnya tak mengerti.
“Ini untuk apa?”
“Untuk jaga diri, bisa kan menggunakannya?”
“bagaimana bisa, aku menyakiti nyamuk saja tidak bisa.
Motong wortel aja baru bisa kemarin!”
“Anggap saja kamu sedang motong wortel!”
“Mana sama!”
“Bisa tidak banyak bicara, di tempat genting seperti ini
bisa-bisanya masih cerewet!” gerutu Rendi.
“Iya …, iya ….!”
Rendi mengamati sekitar, ia melihat dari segala sisi. Rendi
juga sudah memanggil seluruh anak buahnya dan berjaga di luar, tinggal menunggu
perintah Rendi untuk bertindak.
“bertindak sekarang!” ucap Rendi tiba-tiba.
“Hahh?” Nadin bingung dengan apa yang di katakan Rendi.
“Bukan kamu!”
“Lalu?” Tanya Nadin, Rendi bukan menjawab tapi ia hanya
menunjuk pada aerophone yang bertengger di telingannya.
“Oohhhh!” Nadin mengerti, ia hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Sekarang saatnya!” ucap Rendi lagi.
“Apa?”
“Lari sekencang mungkin ke pintu gerbang, di luar sudah ada
yang akan menolongmu!”
“lalu?”
“Apa lagi?”
“Mas Rendi bagaimana?”
“Aku akan menghadang orang-orang itu, segeralah berlari dan
melompati pagar itu, jangan pernah melihat ke belakang!” ucap Rendi, ia
memegang tangan Nadin meyakinkan Nadin, tapi Nadin tetap menggelengkan
kepalanya.
“Itu tidak mungkin, kita lari bersama!” ucap nadin tak mau
melepaskan tangan Rendi.
“Jangan membuatku sulit, larilah selagi masih bisa!”
“Enggak …!” Nadin menolaknya dengan tegas. “Jika aku
selamat, kau juga harus selamat!”
“Jangan keras kepala!” ucap Rendi, ia menakup wajah Nadin.
Bersambung
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Visual mereka akan sering aku munculkan di Ig ya .....
yang greget sama Mas Rendi segera intip di Ig akoh ya ....🤗🤗