MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Sejak kapan?



Kini Nadin sudah siap dengan penampilan barunya, tiga wanita jadi-jadian itu mengantar Nadin keluar, Rendi sudah siap bersama dengan baby El.


“Tuan putri sudah siap!” ucap Merlinda, membuat semua yang ada di sana menoleh pada Nadin begitu juga dengan Rendi.


Seperti biasa Rendi akan selalu terpesona dengan penampilan Nadin tapi kali ini telah


berhasil membuat Rendi tak mampu mengedipkan matanya, dia begitu cantik ….


“Pak Rendi apa kau puas dengan hasilnya?” Tanya Wanita pemilik butik itu membuat Rendi tersadar dengan keterpakuannya.


“hemmm …, iya aku suka!”


Rendi segera menghampiri Nadin dan mengulurkan tangannya.


“Sayang …, kau begitu cantik!” bisik Rendi dengan senyumnya yang khas sebenarnya terlihat sedikit kaku, tapi usahanya untuk bisa


tersenyum sungguh luar biasa.


Nadin kuatkan hatimu …, dia bukan Cuma milikmu sendiri …, dia sekarang milik orang


lain juga ….


Nadin mengurungkan niatnya untuk menyambut tangan


Rendi, ia masih berprasangka jika Rendi dan Davina telah menikah dan bahagia dengan keluarga barunya setelah ia pergi.


Dengan cepat ia menarik tangannya dan berlalu begitu saja meninggalkan Rendi. Rendi


yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa mengepalkan tangannya yang sudah


terlanjur melayang di udara dengan wajah kecewa.


Sabar …., dia butuh waktu untuk memaafkanmu ….


Rendi pun menyusul Nadin yang sudah lebih dulu berjalan ke mobil dan segera masuk ke dalam mobil, Rendi hanya bisa pasrah dan


ikut masuk ke dalam mobil. Baby El sedang tidur di kursi belakang, bayi seusia


baby El memang masih sangat suka tidur.


Baginya tidur adalah sebuah kewajiban agar


tubuhnya tumbuh lebih cepat.


Rendi segera menjalankan kembali mobilnya menuju ke tempat tujuan utamanya.


Mereka hanya saling diam karena sepertinya Nadin masih belum bisa memaafkannya. Nadin sudah terlalu banyak menduga, kadang memang sesuatu yang tidak di bicarakan akan menimbulkan masalah baru.


Akhirnya setelah melakukan perjalanan selama


setengah jam mereka sampai juga di tempat tujuannya, sebuah kafe dengan


pemandangan yang begitu indah. Tapi kafe itu tampak sepi sekali, taka da


pengunjung yang lalu lalang di sana.


Kafenya sangat indah, tapi kenapa sepi sekali….? Nadin hanya berani


membatin saja tanpa berani bertanya pada pria di sampingnya. Pelayan kafe sudah


berjejer menyambut mereka bertiga.


“selamat datang di kafe kami!”


Nadin dan Rendi hanya bisa tersenyum, mereka membawa Nadin dan Rendi ke sebuah ruangan khusus hanya ada satu buah meja yang terletak


di tengah ruangan dengan sebuah sofa yang menghadap ke sebuah layar besar.


Bunga memenuhi semua sudut ruangan tanpa terkecuali.


“Silahkan duduk!”


Nadin dan Rendi pun duduk di sebuah sofa yang sama. Sebuah kue ulang tahun sudah berada di atas meja. Semua pelayan meninggalkan mereka bertiga.


“Ini apa sih mas sebenarnya?” Nadin malah terlihat bingung.


“Sayang …, mungkin kau lupa jika hari ini adalah


hari istimewa untukmu, walaupun begitu bagiku setiap saat, setiap waktu


bersamamu adalah hal yang istrimewa, selamat ulang tahun sayang …!”


“Sebentar …, sejak kapan mas Rendi ingat ulang


tahunku, dan ini sejak kapan mas Rendi belajar banyak bicara seperti ini, ini


bukan mas Rendi!”


“Sejak aku sadar jika mengingat hal kecil dari


pasangan kita adalah penting, sejak aku tahu bahwa kejujuran dalam hubungan


Apa itu karena cintamu pada kak Davina? Aku iri …, aku ingin memiliki cinta yang


sepertin itu, bagaimana bisa setelah bersama kak Davina kau begitu mengerti


arti cinta …, lalu aku apa bagimu?


“Kenapa malah diam, bagaimana? Apa kau akan memaafkanku untuk semua kesalahanku?”


“kenapa aku harus memaafkanmu?”


“Karena aku yakin dengan cintaku, jika tuhan


membuatku menunggu untuk bisa menemukanmu, itu terarti Tuhan menyiapkan hal yang lebih indah dari saat ini!”


“Jangan membuatku lemah dengan meminta maaf padaku, aku hanya ingin kau menjelaskan semuanya, seperti yang kau janjikan sebelum aku pergi!”


“Itu pasti, tapi kali ini aku ada sesuatu untukmu!’


“Apa?”


“Lihatlah ke layar …!” Rendi menunjuk layar besar di depannya dan tiba-tiba ruangan menjadi gelap. Layar pun menyala.


Nadin hanya bisa menatap ke layar dengan penuh rasa haru, semua keluarganya di sana dan menyapanya. Keluarga yang telah lama ia


tinggalkan, keluarga yang pernah begitu hangat memeluknya.


“Hai Nadin ….., selamat ulang tahun!” sapa semua keluarga. Lengkap sekali ada ayah Roy, ibu Dewi, nenek Nani, ayah Salman, Agra, Ara,


Sagara, Sanaya, Divta, Divia, dr. Frans.


“kalian semua!” Nadin tak mampu membendung air matanya lagi. Rendi segera memeluk Nadin dan menjadikan bahunya sebagai sandaran, tapi ia segera sadar dan menolak pelukan Rendi.


Di sana ada kak Davina ….,Nadin mengamati semua yang ada di sana dan mengabsennya satu persatu, tapi tak juga menemukan yang di cari.


Dia di mana? Kenapa tidak ada .....


Mungkin kak Davian tidak mau melihat ku lagi …., aku tahu bagaimana sakitnya jika


melihat orang yang di cintai menghapus air mata wanita lain ….


“Nak pulanglah …, ayah sangat merindukanmu!” ucap Ayah Roy.


“Nadin juga ayah! Lihat cucu ayah sudah besar,


namany Elan, kami biasa memanggilnya baby El, dia sangat manis, yah!”


“Unty …, Nay mau main sama dedek El …!” Sanaya begitu senang bisa melihat Nadin kembali.


“Iya sayang …, nanti ya!”


"Lihat Unty, di sini ada bebek Div, dia cantik sekali kan .....!" celoteh Sanaya sambil mencubit kedua pipi Divia dengan gemas. Nadin hanya mengangguk, ekor matanya melirik pada pria di sampingnya, dari sorot mata pria dingin itu ada sebuah rindu yang besar pada gadis kecil yang bernama Divia itu.


Mas Rendi pasti sangat merindukannya ....., bagaimana pun dia adalah ayahnya .....


“Dek …., pulanglah dan maafkan suamimu …, jangan khawatirkan sesuatu yang tidak penting, setelah pulang kau akan mendapatkan


jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaanmu!” ucap Ara. Sepertinya kakak perempuannya itu mengerti dengan apa yang sedang di pikirkan oleh adik perempuannya. Ara lah yang selama ini paling memahami dirinya.


“Kakak …!” mendengar ucapan kakaknya nadin malah semakin menangis.


“Jangan menangis seperti itu dek …, kami selalu bersamamu, pulanglah segera, kami akan selalu menunggumu!”


Nadin semakin tersedu, membuat Rendi tidak tega, akhirnya Rendi memutuskan untuk memutruskan sambungan video call. Dan kembali memeluk Nadi, walaupun Nadin terus menolaknya tapi Rendi seakan tak peduli.


“Apa aku salah dengan memutuskan pergi dari mereka? Apa aku sangat egois? Kenapa hatiku begitu sakit?” Nadin terus berbicara dalam


tangisnya dalam dekapan Rendi.


“Aku lah yang bersalah …, setelah ini kau berhak


tahu yang sebenarnya, tapi seperti yang di katakan oleh kakakmu, kita harus


pulang untuk itu.”


“Baiklah …., aku setuju pulang tapi bukan untuk


kembali padamu tapi untuk menemukan kebenaran!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘