MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 9 (susahnya mau buka puasa)



"Hati-hati mas!" Nadin membantu Ajun memapah Rendi sampai di kamar, punggung R ndi masih sangat sakit gara-gara jatuh.


"Terimakasih ya Ajun, kamu nginep di sini aja, ini sudah malam banget loh ...!"


"Makasih bu, tapi saya pulang saja!"


"Baiklah ...., hati-hati ya ....!"


"Besok datang pagi ya!" ucap Rendi membuat Nadin menajamkan matanya.


"Mas ....., memang mas mau kerja?"


"Nggak ...., hanya ada pekerjaan saja untuk Ajun!"


"Iya pak, saya permisi. Selamat malam!"


Akhirnya kini Ajun meninggalkan mereka berdua, sebenarnya punggung Rendi tidak terlalu sakit hanya saja ia ingin di perhatikan Nadin saja. Salep yang di berikan oleh pak Tama cukup manjur.


"Mas Rendi duduk aja ya biar Nadin pijitin!"


"Kenapa duduk, aku tiduran aja ya!" ucap Rendi sambil melepas kaos yang menutupi tubuhnya, ia tidur terlentang.


"Mas ...., tapi yang sakit kan punggungnya bukan perutnya!"


"Oh iya ...., lupa!" Rendi segera membalik tubuhnya. ia sudah bersiap tengkurap, Nadin mengambil minyak urut untuk Rendi dan mengoleskannya di punggung Rendi memijitnya perlahan.


"Gimana mas sekarang?"


"Masih sakit nad, di sini .....!" Rendi mengarahkan tangan Nadin agar lebih ke bawah lagi.


"Sini mas?"


"Iya ....., di situ sakit sekali!"


Krukyukkkkk


"Mas perut mas Rendi bunyi deh!" ucap Nadin karena mendengarkan perut Rendi yang berbunyi cukup keras.


Ahhh iya ....., kenapa ini dengan perutku? kok mules banget .....


"Iya nggak pa pa ...., kayaknya aku harus ke toilet!" ucap Rendi sambil berlari menuju ke kamar mandi.


Nadin menunggu cukup lama hingga Rendi keluar dari dalam kamar mandi.


"Ah .... lega!" ucap Rendi sambil mengusap perutnya.


"Sudah selesai mas ....?" tanya Nadin tapi tiba-tiba Rendi memegangi perutnya kembali.


"Bentar ...., aku ke toilet dulu!"


Rendi kembali masuk ke dalam kamar mandi, perutnya kali ini benar-benar mules gara-gara makan rujak buah.


Nadin pun segera meninggalkan Rendi ke dapur, ia tidak mungkin membangunkan asisten rumah tangganya, malam sudah sangat larut. Nadin pun memilih membuat teh tawar sendiri dan segera membawanya kembali ke kamar.


Di dalam kamar Rendi sudah duduk bersandar di sofa sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri.


"Mas ...., minum dulu teh tawar angetnya biar sakitnya sedikit menghilang!"


"Makasih ya sayang!" Rendi segera meminum teh itu.


"Gimana sudah lebih baik?"


"Sudah ....!"


"Maaf ya mas, gara-gara ngidamnya aku mas Rendi sampek susah gini, sudah punggungnya sakit sekarang gantian perutnya yang sakit!"


Yang lebih sakit itu bukan ini Nadin ...., tapi gara-gara gagal buka puasa .....


"Mas Rendi kenapa liatin Nadin kayak gitu? Mas Rendi beneran marah ya sama Nadin?"


"Nggak ...., sudah kamu tidur saja dulu, sudah sangat malam!"


"Tapi mas Rendi?"


"Aku nggak pa pa ...., sebentar lagi juga baikan!"


"Kalau gitu aku tidurnya di sini saja!" Nadin memilih tidur di pangkuan Rendi, melihat hal itu Rendi pun segera membopong tubuh Nadin yang berada dalam pangkuannya menuju ke tempat tidur, dengan otomatis tangan Nadin mengalung di leher Rendi.


"Punggung mas Rendi sudah sembuh?"


Rendi segera menindih tubuh Nadin, tapi saat akan melakukan tugasnya, saat ia mulai menciumi wajah istrinya, tiba-tiba perutnya kembali mulas.


"A-aku ke kamar mandi dulu!" ucap Rendi dan langsung berlari menuju ke kamar mandi.


Karena sudah sangat mengantuk, tanpa sadar Nadin tertidur dengan pakaian yang kancingnya tidak terkancing sempurna.


"Ahhhh ....., akhirnya lega!" ucap Rendi sambil memegangi perutnya yang sudah lebih baik, tapi senyum itu menghilang saat melihat ke arah tempat tidur, istrinya itu sudah tertidur pulas di sana.


"Yahhhh ...., gagal lagi, sial banget hari ini aku!" ucap Rendi, ia berjalan mendekati istrinya itu.


Rendi memperhatikan wajah tenang istrinya, begitu tenang saat tidur. Rendi mengancingkan baju istrinya yang tadi sempat ia buka, dan menutup tubuh istrinya dengan selimut meninggalkan kecupan di bibir istrinya membuat istrinya itu sedikit bergumam dalam tidurnya.


"Kamu pasti menderita sekali di kehamilan sebelumnya, maafkan aku karena tidak bisa bersamamu dulu!"


Rendi ikut tidur si damping Nadin dan melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Nadin, mengangkat kepala Nadin dan menjadikan lengan kekarnya sebagai bantalan bagi Nadin.


Selama kehamilannya ini sebenarnya Nadin menjadi sangat manja, Nadin tidak bisa tidur jika tidak ditemani olehnya, bahkan Rendi harus membatalkan jadwal keluar kota dan meminta orang lain untuk menggantikannya demi menemani Nadin, ia tidak mau di kehamilan ini, Nadin sampai kekurangan apapun.


***


Pagi ini benar saja Ajun datang lebih pagi, Rendi sudah siap di meja makan sedangkan Nadin seperti pagi-pagi biasanya, ia hanya menghabiskan paginya di kamar tidur.


Baru saja Nadin muntah-muntah, setelah Nadin sudah lebih baik barulah Rendi berani meninggalkannya, semua makanan yang Nadin makan semalam keluar semua. Keadaan Nadin akan kembali baik setelah jam sembilan.


"Pagi pa Rendi!" sapa Ajun.


"Pagi , Jun! Tugas kamu hari ini serahkan berkas ini ke tuan Agra, dan katakan padanya permintaan maaf ku karena tidak bisa ikut ke luar kota!"


"Baik pak!"


Tepat saat Ajun meninggalkan rumah Rendi, tiba-tiba sebuah mobil yang sangat ia kenali masuk ke halaman rumahnya.


"Nyonya!" gumam Rendi, tidak biasanya Nyonya Ratih datang sendiri ke rumahnya. Biasanya ia akan meminta seseorang untuk mengundangnya datang jika ada yang penting.


Nyonya Ratih turun dari mobilnya, Rendi belum beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.


"Selamat pagi nyonya!"


"Pagi Rendi, panggil saya ibu!"


"Maaf, ibu!" tidak seperti dokter Frans, Rendi tetap saja tidak terbiasa memanggil nyonya Ratih dengan panggilan ibu walaupun Rendi yang lebih lama tinggal dengan nyonya Ratih.


"Kenapa sepi sekali, dimana putra dan istrimu?"


"Elan sedang menginap di rumah ayah, kalau Nadin dia di kamar!"


"Ya sudah biarkan dia istirahat, memang berat di masa kehamilan Nadin saat ini, akan sedikit sulit untuknya biasa-biasa saja!"


"Terimakasih atas pengertian ibu!"


"Kita bicara di sini saja, saya tidak lama!"


"Baik bu, mari silahkan duduk!" ucap Rendi sambil meminta nyonya Ratih duduk di bangku yang ada di teras rumah.


"Apa ada yang penting hingga membuat ibu repot-repot datang kemari?"


"Sebenarnya tidak terlalu besar, saya hanya ingin mengundangmu dan istrimu makan malam besok di rumah, sekalian membicarakan acara empat bulanan kehamilan istri kamu!"


Jadi yang di katakan ayah benar ....


"Baik ibu, kami pasti datang!"


"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu, jaga istrimu!"


"Iya ibu, semoga hari ibu menyenangkan!"


Nyonya Ratih berlalu begitu saja seperti biasanya. Wanita yang sudah tidak muda lagi itu tetap terlihat berwibawa.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘😘