MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 19 (Posesif nya Rendi)



Ini adalah hari ke dua setelah Rendi dan Agra pergi ke Surabaya. Nadin memang di ijinkan keluar rumah tapi harus dengan pengawasan ketat oleh Ajun.


"Mas ...., hari ini aku mau ke kafe nye kak Ara, boleh ya?" Nadin memakaikan baju Elan sambil sibuk menerima telpon dari Rendi, entah sudah berapa kali suaminya itu sepagi ini menelponnya. Menanyakan apa masih mual? Apa Elan rewel? Apa Elan merindukan nya? Apa tidurnya nyenyak.


Bodyguard ku yang ini benar-benar super protektif ya .....


Batin Nadin sambil menertawakan kepanikan suaminya.


Sungguh suaminya itu jadi banyak bicara jika jauh dari dirinya.


"Nggak usah pergi sendiri, Ajun akan menemanimu juga! Oh iya minta seseorang menemanimu selain Ajun asal jangan Aisyah!" lagi-lagi Rendi masih dengan peraturannya. Ia masih menyimpan cemburu pada pria-pria yang pernah mendekati istrinya itu.


Nadin mengerutkan keningnya, "Memang kenapa dengan Aisyah?"


Padahal Aisyah orang yang paling dekat dengan Elan selain dirinya, jika mengajak Aisyah ia akan terbantu karena Elan tidak akan rewel.


"Aisyah nya nggak kenapa-kenapa tapi aku nggak suka sama Alex!" ucap Rendi dengan penuh penekanan.


"Ihhhh ....., mas Rendi jangan gitu dong! Alex tuh orangnya baik mas!" ucap Nadin yang sebenarnya sedikit kesal dengan sikap Rendi yang posesif itu.


"Jangan memuji pria lain, apalagi itu Alex!"


Upps ....., aku lupa dengan aturan itu, untung jauh kalau dekat bisa habis aku di makan mas Rendi .....


Nadin kemudian tersenyum, sifat jahilnya tiba-tiba saja muncul, mungkin tidak pa pa menggoda suaminya saat jauh begini, nggak terlalu berpengaruh juga, batin Nadin.


"Kalau pak Divta?" Nadin menanyakan pertanyaan yang sebenarnya ia tahu pasti jawabannya, ia sengaja menggoda suaminya yang cemburuan itu.


"Jangan membuatku marah ya!" di seberang sana sudah terdengar jika suaminya itu sedang marah.


Ha ha ha ......


Nadin tertawa puas berhasil menggoda suaminya yang cemburuan itu.


"Jangan menggodaku ya!"


"Iya ...., iya ..... maaf!" Pengen tahu aja bagaimana suamiku ini kalau cemburu!"


"Kau membuatku tak bisa tahan jauh darimu saja!"


"Katanya cuma dua hari, berarti besok sudah pulang dong mas?"


"Maaf ya, kayaknya belum bisa!"


"Hehhhhh ....., berapa lama?"


"Belum tahu!"


"Ingat selama aku nggak ada jangan suka cari masalah, ok!"


"Iya!"


"Dan ingat jangan temui anak pak Tama, siapa namanya itu ....!"


"Ihhhh ....., ngapain juga mas nemuin dia, nggak ada urusannya!"


"Baiklah ...., aku akan berangkat kerja, ingat boleh pergi tapi minta seseorang untuk temenin kamu!"


"Ajun kan?"


"Jangan berduaan dengan Ajun!"


"Ya udah aku ajak Dini aja deh!"


"Itu lebih baik!"


Setelah mengakhiri panggilan nya dengan suaminya Nadin segera mengajak Elan ke meja makan.


Sambil menyuapi Elan, Nadin sibuk mencari kontak nomor Dini. Ia harus mengajak sahabatnya itu jika mau di ijinkan keluar rumah.


"Hallo ....!"


"Hallo Din, sibuk nggak?"


"Nggak sibuk-sibuk amet sih, tapi kalau buat ketemu sama pangeran kecilku pasti bisa!"


"Jangan naksir sama anak ku, nanti kamu jadi tante garong suka sama brondong!"


"Biarin asal brondongnya setampan Elan, tante siap jadi tante garong!"


"Langkahi dulu emaknya!"


"Dasar mak galak, ada apa nelpon gue?"


"Temenin aku yuk ke kafenya kak Ara, mas Rendi nggak bolehin aku pergi kalau nggak ada yang nemenin!"


"Ok siap bos, Aku akan sampai dalam satu jam!"


Nadin kembali meletakkan ponselnya. Ia sampai tidak sadar sedari tadi putranya itu menatapnya. Ia sampai lupa tidak menyuapi putranya itu.


"Ups ...., maaf sayang, bunda lupa, bunda terlihat sibuk banget ya!?"


***


Rendi sudah siap untuk berangkat, ia harus segera menyelesaikan benang yang sudah menjadi kusut itu. Memang kebanyakan musuh mereka adalah lawan masa lalu.


"Sudah punya ide?" tanya Agra yang baru keluar dari dalam rumah sedangkan Rendi sudah menunggunya di samping mobil.


"Semoga cara ini berhasil!" ucap Rendi yakin sambil membuka pintu mobil tapi segera di tahan oleh Agra.


"Apa? Jangan macam-macam dengan ide gila ya!"


Hehhhhh


Rendi menghela nafas sambil tersenyum, "Memang susah ya kalau gantengnya nggak ketulungan!" ucap Rendi enteng sambil menyingkirkan tangan Agra yang menghalanginya masuk ke dalam mobil.


"Jangan meledek ya!"


Akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil. Agra harus lebih jeli kali ini, tapi sikap dingin Rendi sedikit menyusahkan nya karena ia tidak tahu apa sebenarnya rencana Rendi.


Mobil pun mulai memecah keramaian kota Surabaya di pagi hari.


"Kita mau ke mana?" tanya Agra lagi.


"Menemui orang yang berhubungan dekat dengan Revita!"


"Siapa?"


"Ayahnya!"


Mendengarkan ucapan Rendi, Agra segera menoleh pada sahabatnya itu, "Sudah ada janji?"


"Sudah!"


"Kenapa tidak memberitahu aku dari tadi! Kau ini ....!" keluh Agra, memang Agra juga memikirkan hal itu tapi ia belum punya akses untuk bertemu dengan ayah Revita. Rendi juga tidak memberitahunya jika ia sudah menemukan aksesnya.


Rendi hanya tersenyum melihat wajah kesal sahabatnya itu. Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah gedung pencakar langit.


"Ini perusahaan group H?" tanya Agra lagi.


"Mungkin saja!" jawab Rendi enteng.


Brukkkk


Agra memukul punggung Rendi begitu kesal, "Kenapa hari ini orang ini menyebalkan sekali ya?" gerutu Agra kesal.


Lagi-lagi Rendi hanya tersenyum sambil menahan nyeri karena Agra memukulnya begitu keras.


Mereka sampai juga di depan resepsionis di depan lobby.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita yang berdiri di balik meja resepsionis itu saat meeka sudah berada di depannya.


"Bisa bertemu dengan pak Barata?" tanya Rendi pada wanita dengan tag nama Sinta di dada kirinya itu.


"Apa sudah ada janji?" tanya wanita yang bernama Sinta itu lagi pada Rendi.


"Tolong katakan jika utusan dari group F ingin bertemu!"


"Baik pak, silahkan tunggu sebentar, biar saya menghubungi pak Barata!"


Rendi tanpa menjawab ucapan wanita itu segera meninggalkan meja resepsionis dan duduk di bangku lobby.


Agra sudah lebih dulu duduk di sana, sepertinya Agra sedang mempelajari latar belakang group H dari website yang di miliki perusahaannya, jika dulu perusahan mereka pernah berhubungan baik itu berarti ada riwayat hubungan mereka di dalam website perusahaan.


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Rendi yang mengerti dengan apa yang di lakukan sahabatnya.


"Ya ...., aku baru tahu sekarang!" Agra tersenyum puas, ia sepertinya menemukan senjata untuk menekan lawannya.


Spesial Visual duo cogan



Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘😘