MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Ayah ayah yang luar biasa



Setelah Agra dan Rendi keluar, Nadin yang berada di kamar hanya bisa menatap semua orang yang ada di sana dengan penuh penyesalan, bukan pernikahan seperti ini yang ia inginkan.


Maafkan aku, pasti kalian kecewa dengan apa yang terjadi padaku, tapi aku benar-benar mencintai balok es itu, andai saja dia tidak sedingin itu, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini ....


Nadin hanya bisa merasa bersalah, tapi dia juga bahagia akhirnya bisa berdampingan dengan orang yang sangat di cintai, sekarang tugasnya adalah meluluhkan kerasnya batu es di depannya.


"Nadin ....., kamu kenapa?" tanya ibu Dewi sambil mendekati Nadin yang masih duduk di atas tempat tidurnya, ia bisa melihat kegundahan di hati putri sambungnya itu. Walaupun Nadin bukan putri kandungnya, tapi rasa sayangnya pada Nadin sama dengan rasa sayangnya pada Davina.


"Ibu maafkan aku!" Ucap Nadin yang sudah menyentuh tangan ibu Dewi. Ibu Dewi pun segera merengkuh tubuh Nadin ke dalam pelukannya.


"Sayang ...., Kamu tidak salah. Keadaan yang membuat semuanya menjadi seperti ini, Allah menakdirkan jodoh seseorang dengan caranya sendiri, jangan pernah menyesali apa yang telah terjadi. Jadikan semuanya menjadi berkah dalam hidup kamu sayang, jangan menangis lagi sayang, berbahagialah ....!" Ibu Dewi pun menepuk punggung putri sambungnya itu. Berusaha menyalurkan kekuatan untuk Nadin.


"Hiks hiks hiks ....., ibu baik banget sih sama Nadin!"


"Karena ibu sayang sama Nadin!"


Apa ibu juga akan seperti ini jika ternyata putri ibu juga menginginkan pria yang sama yang sekarang menjadi suami Nadin? Nadin takut Bu, Nadin takut jika nanti ibu akan membenciku ....


Ara yang berdiri tak jauh dari mereka pun segera mendekat. Ia ikut memeluk Nadin.


"Dek ...., Jangan nangis lagi, nanti kalau Rendi liat dikira kamu tidak mau di nikahi loh sama dia!" Ucap Ara menggoda adiknya.


"Kakak .....!" Nadin segera mengusap air matanya. Kemudian Dewi pun melepas pelukannya begitupun dengan Ara.


"Walaupun dengan cara seperti ini, tapi kakak senang kamu bisa menikah dengan Rendi, dia pria yang baik!"


"Terimakasih kak!"


"Adek ku sekarang sudah jadi istri orang. Kakak bener-bener bahagia untuk kamu dek .....!"


Mereka pun berpelukan. Saling menguatkan satu sama lain.


Kemudian mata Nadin terpancing pada ayahnya yang semenjak tadi diam di tempatnya.


"Ayah ....!"


Ayah Roy pun mendekat ke arah Nadin, sekarang gantian ibu Dewi dan Ara yang mundur.


"Apa ayah marah padaku?"


"Mana bisa Ayah marah padamu nak, kau tetap putri kecil ayah yang manja dan cerewet!"


"Ayah ......, aku menyayangimu ...!" ucap Nadin sambil meregangkan tangannya, dan ayah Roy pun segera memberikan pelukan pada putri bungsunya itu.


"Ayah hanya bingung bagaimana setelah ini, ayah masih belum bisa percaya jika putri manja ayah sudah menjadi istri orang, tak pernah terpikir dalam benak ayah sebelumnya akan menikahkan putri ayah di usia sekecil ini sayang!"


"Ayah jangan khawatir, Nadin sudah besar, usia Nadin sudah dua puluh dua tahun yah, sudah waktunya untuk menikah!"


"Dasar kau ini ya, anak kurang ajar! Bukannya merasa bersalah pada ayah malah merasa senang!" ucap ayah Roy sambil mengusap-usap kepala Nadin gemas.


"Ayah sudah melakukan hal yang benar buat putri ayah, hari ini Nadin menikah dengan pria yang tepat yah ...., pria baik dan bertanggung jawab (walaupun sedikit kaku dan dingin, tapi Nadin cinta)"


Mereka pun bercapak-cakap cukup lama, hingga paman Salman kembali masuk bergabung dengan mereka.


"Maaf tadi saya tinggal sebentar karena ada urusan!" ucap paman Salman tegas.


"Selamat juga untuk mu pak Roy, saya senang bisa menjadi bagian dari keluarga kalian, kedepannya saya mohon bimbingan pak Roy kepada putra saya yang kadang tak punya sopan santun itu!"


"Saya pun demikian pak Salman, putriku masih terlalu kecil untuk mengerti arti sebuah pernikahan, mungkin ke depan dia akan banyak menyusahkan pak Salman!"


"Dia putri terbaik yang pernah saya kenal pak Roy. Menurut saya, tak ada yang lebih pantas mendampingi putra saya selain putri anda pak Roy, terimakasih karena mau menerima putra saya sebagai menantu anda!"


Dua pria dewasa itu saling serah terima putra putri mereka, Nadin dan Ara yang mendengarnya hanya merasa pusing dengan pembicaraan mereka, menurut mereka pembicaraan orang dewasa begitu membingungkan.


Brettttt brettttt breettttt


Tiba-tiba getar ponsel pak Salman menghentikan pembicaraan yang tidak ada pangkal dan ujungnya itu.


"Maaf pak Roy, saya terima telpon dulu!" ijin pak Salman pada ayah Roy. Dan pak Roy pun mengangguk mengijinkan.


"Hallo .....!"


"...... ..... ..... !"


"Sudah nyonya, ada sesuatu yang penting?"


"......!"


"Baik nyonya, saya akan segera ke sana!"


Panggilan telpon pun terputus, sepertinya itu panggilan dari nyonya Ratih. Paman Salman pun segera menghampiri ayah Roy kembali.


"Pak Roy, sepertinya saya harus pergi dulu, ada yang harus saya urus!"


"Iya pak Salman, saya mengerti!"


"Terimakasih pak Roy!"


Salman pun segera mendekati menantunya, ia memegang pundak Nadin dengan penuh kasih sayang.


"Nak ...., ayah tahu ini terlalu mendadak untukmu, tapi percayalah ayah hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Terimakasih kerena sudah mau menjadi bagian dari hidup kami, untuk kedepannya semoga kalian akan selalu bahagia!"


"Terimakasih ayah Salman, apapun keputusan ayah pasti akan baik untuk kami!"


"Ayah pergi dulu, jaga dirimu baik-baik!" ucap Salman sambil mengusap pundak Nadin dengan lembut dan berlalu meninggalkan ruangan itu.


Aku bersyukur karena aku mendapatkan ayah yang begitu luar biasa dan sekarang bertambah satu lagi ayah yang luar bisa untukku ...., kau benar-benar baik Tuhan ....


Visual duo ayah luar biasa dengan karakter yang berbeda



BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249