MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Sahabat Nadin



Nadin berhari-hari terus mendiamkan Rendi, ia hanya bicara seperlunya tidak seperti kebiasaannya yang selalu cerewet.


Ia hanya berdiam diri di rumah, atau jika pergi pun hanya ke kampus dan ke kantor pun hanya mengambil hal hal yang penting dan tidak berlama-lama di sana karena ia masih enggan untuk bertemu siapapun.


Sudah hampir dua Minggu Nadin melakukan hal itu , tentu membuat Rendi sangat khawatir, mereka berada dalam satu rumah tetapi seperti orang yang tidak saling kenal.


Akhirnya Rendi mencari tahu sahabat Nadin, Dini sahabat Nadin, Rendi menghubunginya dan memintanya untuk datang ke apartemen, karena ia tidak mungkin menunggui Nadin sepanjang hari, ia harus bekerja.


Walaupun bekerja ia selalu mengawasi setiap apa yang di lakukan Nadin, tapi pengawasan itu tidak mungkin membuat Nadin mau bicara lagi padanya.


Ting tong ting tong ting tong


Suara bel pintu di pencet, bibi yang sudah datang sejak pagi segera membukakan pintu.


"Selamat siang bi!" Sapa Dini.


"Siang mbak, temannya non Nadin ya?" Tanya bibi.


"Non .....?"


Sejak kapan Nadin jadi nona nona ......


Dini tampak mengerutkan keningnya heran.


"Iya, non Nadin itu istrinya tuan Rendi, tadi tuan sudah mengatakan pada saya kalau tuan mengundang temannya non Nadin." Ucap bibi menjelaskan.


Ternyata ..., dia juga secerewet Nadin ...., pantes jadi keluarga ....


Dini malah tersenyum sendiri, tapi kemudian ia teringat dengan kata istri.


Istri ...,, sejak kapan Nadin jadi istri .....


"Istri?" Kini Dini bertambah heran, untung saja Nadin tepat keluar dari dalam kamar.


"Dini ....!" Teriak Nadin membuat Dini segera menoleh ke arah suara.


"Nadin ....!" Dini tak kalah hebohnya, ia pun segera menerobos bibi dan menghampiri Nadin.


"Bi ...., Buatkan camilan dan minuman buat teman saya ya!" Perintah Nadin pada bibi.


"Baik non!" Bibi pun berlalu meninggalkan Nadin dan Dini. Kini Nadin sudah mengajak Dini duduk di ruang tamu, ia tidak mungkin mengajak temannya ke kamar karena kamar itu sekarang bukan cuma kamarnya tapi kamar suaminya juga.


"Nad ...., Sekarang jujur sama aku, maksudnya istri?" Tanya Dini penasaran.


"Iya ...., Din. Aku udah nikah!" Nadin pasrah, ia terlanjur ketahuan. "Tapi janji ya, jangan bilang-bilang sama orang kampus, plissss .....!"


"Hah ...., Kapan? Dimana? Sama siapa? Ini beneran ...." Tanya Dini terkejut, ia benar-benar tak percaya jika sahabatnya itu sudah menikah.


"Iya ...., tapi janji dulu, nanti aku kasih tahu ....!"


"Iya ...., iya ... , aku janji .... , ayo katakan!"


"Sudah hampir satu bulan, di rumah sakit sama pria yang waktu itu!"


"Satu bulan, dan kau berusaha menyembunyikannya dariku, kau ini masih sahabatku atau bukan sih?! Aku kecewa ...., bener-bener kecewa!"


"Lalu kenapa kemarin ke kampus nggak nemuin aku, nggak masuk kelas lagi!"


"Aku buru-buru ....!" Nadin berbohong, ia tidak mungkin mengatakan kalau dia lagi dalam mode diam, males bicara dengan siapapun, males bertemu dengan siapapun.


"Ini gila ...., Kami benar-benar gilan Nad, bisa-bisa nya nikah nggak ngasih tahu! Lalu yang kamu maksud pria itu siapa?"


Belum sempat Nadin menjawab keterkejutan sahabatnya itu, bibi sudah kembali dengan membawa nampan yang berisi setoples Snack dan dua gelas jus mangga.


"Terimakasih ya bi!" Ucap Nadin saat bibi selesai meletakkan semuanya di atas meja.


"Iya non, saya ke belakang lagi ya non! Mau menyelesaikan pekerjaan dulu."


"Iya bi!"


Bibi pun kembali ke belakang, Dini kembali fokus pada Nadin.


"Sekarang jelaskan sejelas-jelasnya, aku nggak mau kamu sampai menutupi apapun dari aku jika kau masih menganggap ku sebagai sahabatmu, siapa laki-laki itu, ketemu di mana, atau jangan-jangan kamu sama kak Dio ....!"


"Jangan ngaco deh Din, nggak mungkin lah aku sama kak Dio, kamu kan tahu sendiri siapa kak Dio, dia itu mantan kakak aku!"


"Tapi setahuku selama ini kamu dekatnya cuma sama kak Dio, emang ada lagi!"


Akhirnya Nadin pun menceritakan semuanya, ia tidak bisa menutupi apapun dari sahabatnya itu, mereka sudah bersahabat sejak kecil, membuatnya sulit untuk menyimpan rahasia.


"Jadi kau menikah dengan pria yang itu, pria dingin itu?" Tanya Dini dan Nadin pun mengangguk.


"Tampan sih, tapi kan orangnya dingin!"


"Tapi aku cinta, Din!"


"Memang sih cinta nggak bisa di mengerti, oh iya aku hampir lupa, pak Nathan terus menanyakan mu!"


"Oh astaga ...., Aku pasti kena hukuman lagi!"


"kak Dio juga terus menanyakan mu!"


"Abaikan saja lah dia, aku nggak mau hidupku semakin runyam dengan munculnya orang ketiga, ke empat, kelima, otakku benar-benar mau pecah rasanya!"


"Enak ya jadi kamu, cantik, jadi banyak cowok yang ngerubutin!"


"Emang aku jajanan pinggir jalan, di kerubutin!"


Mereka pun menghabiskan waktu untuk saling menukar cerita, Nadin yang selalu murung kini sudah mulai tersenyum kembali, kedatangan Dini benar-benar bisa melupakan semuanya. Setelah sore, barulah Dini berpamitan untuk pulang.


**Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya sama aku .....


Follow Ig aku juga ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘**