
Di dalam mobil mewah itu, Nadin benar-benar merasakan atmosfer yang berbeda, panas dan tak ada oksigen untuk bernafas dan bergerak. Di sampingnya ada kakak iparnya di depan ada tatapan mata elang yang siap mengilitinya.
Ya Allah ....., aku harus apa? Di sini panas sekali .....
Semuanya terdiam, satu detik di dalam mobil itu terasa satu tahun. Nadin pun tak bisa berkutik, ia hanya bisa menunduk.
Hgermmm
Sebuah deheman itu seketika membuat jantung Nadin seperti mau loncat. Agra sepertinya bersiap untuk memberinya wejangan.
"Kenapa bisa bersama dia, hah?" tanya Agra dengan mata tajamnya. "Kakak nggak suka ya kamu dekat-dekat dengan si brengsek itu."
"Ma-maaf ..., kak!" ucap Nadin dengan masih menunduk. Ia tidak sanggup melihat kemarahan kakak iparnya.
"Kenapa bisa bersama dia?" tanya Agra lagi.
"Aku tadi gak sengaja ketemu sama kak Dio, dia nawari Nadin buat bareng, karena terpaksa aku jadi ikut." jawab Nadin secepat kilat.
"Dimana motormu?"
"Di bawa kak Davina .....!" ucap Nadin, membuat Agra segera menoleh lagi padanya.
"Jadi tadi kak Davina harus berangkat lebih dulu, jadi aku mengijinkannya membawa cerry, aku kan bisa naik angkot."
"Benarkah? Tidak ada yang kamu tutupi dari kakak?" tanya Agra sedikit curiga.
"Benar kak ...!"
"Tidak ada yang berbuat jahat padamu?"
"Tidak ...., siapa yang berani ...., aku punya kakak ipar sepertimu ....!" ucap Nadin dengan sedikit merendahkan suaranya di akhir kalimat.
"Baguslah ....!" ucap Agra sambil mengusap kepala Nadin dengan penuh kasih sayang. Agra menyayangi Nadin seperti menyayangi adiknya sendiri, bersama Nadin dan ayah Roy ia bisa merasakan yang namanya hangatnya keluarga.
"Besok biar Rendi yang akan menjemputmu." ucap Agra seketika membuat Nadin mendongakkan kepalanya menatap kakak iparnya itu.
"Bisa kan Rend?" tanya Agra pada Rendi yang masih menjadi pendengar setia.
"Maaf pak, tapi bagaimana dengan anda?" tanya Rendi. Sebenarnya ia cukup setuju dengan permintaan Agra, tapi ia tidak mungkin bisa melalaikan tugasnya. Menjaga keselamatan dan memastikan segala keperluan Agra adalah tugas utamanya, ia tidak mau kehidupan pribadinya membuatnya kembali lengah.
"Aku bisa berangkat dengan pak Mun, bukankah anak buahmu dua puluh empat jam nonstop mengawasiku jadi jangan khawatir."
"Lalu pekerjaan anda?" tanya Rendi lagi. Ia tidak mau keputusannya akan merugikan banyak orang.
"Kamu bisa mengirimkan skejulku di ponselku, sudah jangan terlalu mencemaskanku, aku bukan anak kecil lagi. Anggap saja ini sebagai tugas tambahan, menjaga adikku ....!"
"Baik pak ....!" ucap Rendi sambil masih fokus pada kaca di depannya, dari kaca depan itu ia bisa melihat wajah Nadin dengan berbagai ekspresi.
Dia senang sekali sepertinya .....
"Jadi mulai besok, Rendi akan menjemputmu ...., kamu mengerti, jangan berhubungan lagi dengan pria brengsek itu, apapun urusannya!" ucap Agra dengan penuh peringatan dan ancaman.
Akhirnya mereka sampai juga di beberapa meter sebelum sampai di gerbang perusahaan.
"Stop ...Stop .....!" teriak Nadin, membuat Rendi dengan cepat menginjak pedal remnya, hingga terdengar decitan, gesekan antara ban dengan aspal.
"Kak ...., aku turun di sini saja ya!"
"Kenapa?" tanya Agra.
"Aku tidak mau nanti teman-teman ku memperlakukan aku berbeda, saat tahu kalau aku adik dari pemilik perusahaan ini."
"Baiklah ...., aku suka keputusanmu ....!"
Nadin pun berpamitan pada Agra dan Rendi setelah itu turun, saat hendak menutup pintu, Agra kembali bicara.
"Jangan lupa nanti pulangnya barenga sama Rendi, jangan pulang sendiri."
"Siap kak ....!" ucap Nadin sengan mengangkat tangannya dan segera menutup pintu mobil. Mobil pun segera melaju masuk ke pintu gerbang besar perusahaan.
Ahhhh ...., akhirnya aku selamat ...., untung singa satunya tidak ikut mengomel .....
"Tapi aku benar-benar bersyukur ...., di setiap penderitaanku, selalu ada kebahagiaan di baliknya, Alhamdulillah ....., benar-benar rejeki anak Sholehah ....!" gumamnya sepanjang jalan, ia sampai lupa jika ia sudah datang begitu terlambat.
Saat melihat jam di pergelangannya, ia baru sadar.
"Astaga sudah jam delapan seperempat ...!"
Nadin pun segera berlari cepat kilat, tunggang langgang. Ia mencari ruangan Tami, devisi HRD.
"Masuk ...!" ada sahutan dari dalam ruangan. Nadin pun segera masuk.
"Maaf mbak saya ....!"
"Nona Nadin ya ..., silahkan masuk nona ....!"
Kenapa dia begitu amet sama aku, bukannya marah tapi malah ramah .....
"Maaf bu, saya terlambat ...!"
"Tidak pa pa, anda adik dari pemilik perusahaan ini, jadi pak Rendi pasti memahaminya."
"Perlakukan dia seperti karyawan magang lainnya ...!"
Tiba-tiba suara barito itu menyela di tengah obrolan Nadin dan Tami.
"Pak Rendi ...!"
"Selamat pagi pak."
"Jangan memperlakukannya istimewa."
"Baik pak." ucap Tami dengan menunduk, sedang Nadin masih terpaku di tempatnya.
"Dan lagi, jangan sampai ada yang tahu jika dia adik dari pak Agra."
"Baik pak."
Setelah membeti tatapan tajam pada Nadin untuk ke sekian kalinya, akhirnya Rendi meninggalkan mereka.
Tampak Tami menghembuskan nafas lega, begitupun dengan Nadin. Tami pun segera menoleh pada Nadin, wajahnya menunjukkan wajah menyesal.
"Nona maafkan aku ....!" ucap Tami, wanita yang sepertinya sudah berusia kepala tiga itu mendekati Nadin.
"Nggak pa pa bu, bu Tami bisa perlakukanku sama seperti yang lainnya. Jangan pamggil aku nona, panggil aku Nadin, hanya Nadin."
"Baiklah ...., mari saya antar ke ruangan mbak Nadin."
"Nadin saja bu ....!"
"Baiklah Nadin ....!"
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke ruangan yang akan menjadi ruang kerja Nadin beberapa bulan ke depan.
"Anak-anak ....!" ucap Tami meminta perhatian pada orang-orang yang ada di ruangan itu, di ruangan itu ada empat orang dalam beberapa sekat. Empat orang itu pun berdiri menatap kedatangan Tami dan Nadin.
"Mbak Tami ...., ada apa mbak?" tanya seorang pria yang seperyinya ketua tim.
"Perkenalkan, ini Nadin, dia mahasiswa dari kampus xxxx, dia akan menjalani magang selama beberapa bulan kedepan."
"Hai Nadin ....!" sapa seseorang yang sepertinya seumuran dengan kakaknya, Ara.
Di dalam ruangan itu ada dua pria dan dua wanita, sekarang bertambah satu lagi Nadin, jadi tiga.
Nadin mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang ia kenal, tapi tidak ada.
"Ya udah saya tinggalnya .....!"
"Baik mbak ....!"
Setelah Tami meninggalkan mereka, Nadin merasa sangat canggung dengan suasana baru itu.
"Hai ...., salam kenal. Saya Nadin, mohon bimbingannya ya ....!"
"Iya ....., perkenalkan kami juga, ini bapak kita pak Andre, ketua tim kita, saya Ahsan, dan dua cewek ini, Indah dan Ayu."
Mereka pun saling berkenalan, Indah dan Ayu segera memberitahu tugas-tugas Nadin. Mereka juga memberitahu apa saja yang harus di kerjakan oleh Nadin.
Nadin merasa beruntung karena mendapatkan teman-teman baru yang baik. Nadin mencoba mencari keberadaan Davina, ternyata mereka tidak berada dalam devisi yang sama. Mereka berada di ruang yang terpisah, entah itu sebuah keberuntungan atau malah akan menjadi masalah di kemudian hari.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘😘**