MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Perasaan Rendi



Tapi Nadin segera mendorong tubuh Rendi hingga membuat jarak di antara mereka. Rendi begitu terkejut mendapat penolakan dari Nadin.


"Kenapa?" tanya Rendi dengan perasaan yang terluka akibat penolakan Nadin.


"Pergilah, aku mau di sini ...!" ucap Nadin sambil memalingkan wajahnya. Rendi kembali terkejut, ia bagai tersambar petir di tengah hari. Rendi mundur dan berdiri, ia menatap Nadin tak percaya.


"Aku nggak mau sama pak Rendi, pergilah ...., aku akan pulang dengan kak Jerry!" ucap Nadin tanpa menatap Rendi, ia terus berpaling dari Rendi. Ia berusaha menyembunyikan air matanya yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


Mata Rendi terus menatap Nadin, tapi gadis itu tak mau menatapnya, matanya mulai berkilat.


Rendi hanya bisa terus terdiam, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Gadis itu memintanya untuk pergi.


Jerry yang sudah bangun, ia mengusap darah di sudut bibirnya dengan sedikit merngis menahan sakit, ia mengusap dengan ujung lengan bajunya.


"Pergilah ...., biarkan Nadin tenang dulu ...!" ucap Jerry. Rendi sama sekali tak terpengaruh dengan ucapan Jerry, ia masih membeku di tempatnya. Setelah menghembuskan nafasnya kasar, ia baru bisa mengiasai dirinya sendiri.


"Tolong jaga dia, aku pergi ....!" ucap Rendi lalu berlalu meninggalkan rumah itu.


Rendi mengentikan langkahnya tepat di depan mobilnya yang terparkir.


"Hahhhh ....., shittttttt ....!" teriak Rendi sambil menendang mobil di depannya dengan sangat keras. Ia begitu emosi hingga anak buahnya pun tak bisa menghentikan Rendi.


Setelah puas meluapkan emosinya, ia kembali menoleh pada rumah yang baru saja ia tinggalkan. Orang yang begitu ia harapkan akan menyusulnya tak juga muncul dari dalam sana.


"Kita pulang!" ucap Rendi saat hatinya sedikit lebih tenang. Pria dengan tanda pengenal finityGroup itu segera membukakan pintu mobil.


Rendi segera masuk, mobil pun melaju meninggalkan perumahan itu.


//Temui gue di apartemen//


Rendi mengirim pesan pada dr. Frans. Kerena ia tahu hanya dr. Frans lah yang akan menemaninya di saat hatinya sedang kacau.


//lo kenapa lagi?//


Dr. Frans mengirimkan balasannya.


//Jangan banyak bertanya ....//


***


Setelah kepergian Rendi, Nadin hanya bisa menangis, ia menumpahkan segala kekesalannya.


"Kak ....., aku harus bagaimana?" tanya Nadin dalam tangisnya.


"Sesekali memang perlu melakukan hal itu, jangan khawatir semua akan baik-baik saja ....!" ucap Jerry sambil kembali memeluk Nadin.


"Tapi bagaimana kalau pak Rendi menjauhiku?"


"Itu tidak akan terjadi, percayalah. ....!"


"Kenapa kak Jerry begitu yakin?" tanya Nadin sambil memghapus air matanya.


"Ya ...., yakin saja ...., sudah sana bersihkan dirimu, aku antar pulang. Nanti ayahmu khawatir jika kamu tidak segera pulang."


"Baiklah ....!" ucap Nadin sambil berlalu menuju ke kamar mandi. Ya Nadin memang sudah terbiasa datang ke rumah ini, semenjak mereka bertemu lagi, hubungan mereka kembali akrab.


***


Rendi setelah sampai di apartemen, wajah gusarnya ternyata belum mereda. Security pun tidak berani menyapanya.


Rendi segera masuk ke dalam apartemennya, dan ternyata dr. Frans sudah lebih dulu sampai di sana.


"Lo kenapa lagi? Habis kencan malah wajahnya di tekuk kayak gitu, jangan bilang kalau lo bertengkar dengan Nadin. Awas saja kalau lo sampai menyakiti Nadin." ucap Dr. Frans begitu penasaran.


Rendi bukannya langsung menjawab, ia segera menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang berada di depan dr. Frans.


"Apa menurutmu gadis itu marah padaku?" tanya Rendi sambil memejamkan matanya. Wajah marah Nadin begitu membekas di pikirannya. Selama ini yang ia lihat hanya senyum dari gadis itu, tapi kali ini ia melihat gadis itu begitu marah.


Mendengar ucapan Rendi, dr. Frans segera bangun dari duduknya dan menarik kerah baju Rendi. Ia begitu marah pada pria dingin itu.


"Apa yang telah kau lakukan?" ucap dr. Frans dengan sangat berapi-api, tapi hal itu tidak memancing emosi pada diri Rendi. Rendi terlihat begitu terluka, membuat dr. Frans kembali melepaskan kerah baju Rendi.


Baiklah ....., sepertinya kau begitu terluka ....


Dr. Frans kembali ke tempat duduknya, ia segera mengambil minumannya dan segera meneguknya untuk menghilangkan rasa kesalnya pada pria dingin di hadapannya.


"Sekarang ceritakan padaku!" ucap Dr. Frans lagi saat sudah mulai tenang.


"Tadi Nadin hampir tertabrak ...., dia marah padaku!" ucap Rendi tapi di dalam ucapannya tampak begitu tidak yakin.


"Hah .,.., tertabrak. Lo gila ya .....!" ucap dr. Frans yang kembali terpancing emosinya, tapi lagi-lagi ia kembali mengendalikan emosinya. "Bagaimana keadaannya?"


"Nggak tahu .....!" ucap Rendi sambil mengusap rambutnya kasar, ada penyesalan di sana. "Dia bersama Jerry!"


"Jerry ...?" tanya dr. Frans yang begitu terkejut mendengar nama Jerry di sebut.


oooh ....., jadi itu alasannya. Tapi tidak mungkin kan Nadin begitu marah pada Rendi hanya gara-gara itu .,..


Dr. Frans tampak berpikir, ia kembali menatap sahabat dinginnya itu. Mencoba menggali sesuatu yang di sembunyikan oleh sahabatnya.


"Apa hanya itu? Maksudku apa hanya penyebabnya itu, lo tidak melakukan sesuatu yang salah?" tanya dr. Frans pada Rendi.


"Gue nglakuin apa?" ucap Rendi dingin, ia mengambil minumannya dan segera meneguknya, minuman bersoda itu sedari tadi menjadi teman obrolan mereka.


"Ya mana gue tahu, lo yang nglakuin ...., cewek itu tidak selamanya akan mengalah, dulu sudah pernah gue bilang jika ....!"


"Jangan lanjutkan ....., gue tahu apa yang ingin lo katakan!" ucap Rendi segera memotong ucapan dr. Frans.


"Ya sudah sekarang ceritakan!"


"Gue meninggalkan Nadin dengan orang suruhan gue, gue pergi sama Davina."


"Gila lo ya ...., pantes saja Nadin marah ....!"


Mendengar ucapan Dr. Frans membuat Rendi segera menatap Dr. Frans dengan penuh tanda tanya, seolah dia sedang mengatakan kenapa?


"Lo itu bodoh atau apa, lo denger gue baik-baik ya ...., Nadin itu cinta sama lo, dia tidak peduli bagaimana perasaan lo padanya, tapi dia juga punya hati. Lo bayangkan saja jika lo berada di posisi Nadin, apa lo rela orang yang lo cinta lebih milih jalan sama orang lain, apalagi itu kakaknya!"


Mendengar ucapan dr. Frans. Rendi terlihat begitu berfikir. Ia malah terdiam dengan pikirannya sendiri. Jika di ingat-ingat memang ya, dia juga terluka saat Nadin memilih pergi dengan Jerry, saat Nadin di pegang tangannya oleh Divta.


Apa itu artinya aku sudah jatuh cinta ....?


"Ya ...., apa yang kau pikirkan itu benar, Kau sudah jatuh cinta, kau tidak suka Nadin berdekatan dengan orang lain, begitupun dengan Nadin ...!" ucap dr. Frans sok tahu, seolah-olah ia bisa membaca pikiran sahabatnya itu.


Si kulkas ini bener-benar bikin gue gedek aja, pengen banget jitak palanya biar ambyar ....


Rendi masih sajq terdiam, seolah tidak terpengaruh dengan ucapan dr. Frans.


Ini masih satu bulan, tidak mungkin secepat itu kan aku jatuh cinta ...., bagaimana dengan perjanjian tiga bulan kami ....


Rendi masih terus mengedepankan rasa gengsinya dalam pikirannya.


"Ini terlalu cepat ....!" gumam Rendi lirih, tapi masih bisa di dengar oleh dr. Frans.


"Astaga ...., jadi lo masih mikir tentang itu, perjanjian itu, gila ya lo ....!" dr. Frans begitu kesal dengan sahabat keras kepalanya itu.


" Lo ingat, cinta itu tidak menunggu waktu, jika lo terlalu banyak mengulur waktu, jangan salahkan jika sampai cinta itu berpaling ...., lo beruntung karena sudah di cintai gadis sebaik Nadin, jangan sia-sia kan ....!


Dr. Rrans segera bangun dari duduknya dan menepuk pundak Rendi.


"Gue pulang, lo pikirkan baik-baik ucapan gue, jangan sampek lo nyesal nanti ....!"


Kini tinggal Rendi dalam kesenyapan, ia mematikan lampu apartemennya, tapu wajah Nadin yang terluka benar-benar tak bisa hilang dalam pikiran nya.


"Apa aku benar-benar jatuh cinta ....?" ucap Rendi, ia pun segera memegang letak jantungnya. Entah kenapa saat menyebut nama Nadin, jantungnya akan bekerja lebih keras.


"Jadi ini ya yang namanya jatuh cinta?" ucap Rendi, tiba-tiba senyum mengembang di bibirnya.


"Aku jatuh cinta ....?!"


Ia kembali mengusap wajahnya kasar.


"Aku harus apa? Aku bagaimana?" ucap Rendi antusias, tapi saat mengingat wajah marah Nadin senyumnya kembali hilang.


"Tapi dia marah padaku, apa dia akan menyapaku besok? Apa dia akan diam saja dan tidak mau bicara padaku?"


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya yang banyak


Kasih Vote juga ya yang banyak juga


Happy Reading 😘😘😘😘**


Suara hati author


R : **Kenapa sih thor upnya kok cuma satu bab?"


A : Satu bab butuh waktu berjam-jam loh buat nulisnya, soalnya harus cari inspriasi dulu, kadang carinya di bawah pohon pisang katang di bawah kandang


R : Emang ada syarat hanya satu bab ya up nya?


A : nggak juga .....😀


R : Kenapa sih motongnya pas lagi seru-serunya, jadi bikin penasaran deh?


A : Ya emang itu tujuannya, biar kalian penasaran, kalau nggak penasaran kalian besok nggak mau baca lagi donk he he he (senyum jahil**)