MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Paman salman



🌷🌷🌷🌷


Belum sampai mereka masuk ke dalam apartemen, langkah mereka sudah di hentikan oleh seseorang. Seseorang dengan pakaian yang sama seperti orang yang biasa berada di belakang Rendi.


"Maaf pak Rendi, tuan besar ingin anda dan nona Nadin berkunjung ke rumah!" Ucap orang berjas hitam itu menunduk hormat saat berada di depan Rendi dan Nadin.


Ayah pasti marah padaku .....


"Ada apa?" Tanya Rendi, sedangkan Nadin sedang menerka-nerka siapa orang yang ada di depannya ini.


"Maaf pak, Saya hanya di minta menjemput anda dan nona!" ucap pria itu masih dengan menunduk.


"Baiklah!"


Nadin segera menarik kaos Rendi. "Kita langsung ke sana, mas?" tanya Nadin setelah Rendi menoleh padanya.


"Iya ...., ayah tidak suka menunggu!"


Akhirnya Nadin dan Rendi ikut bersama pria itu tanpa terlebih dulu mampir ke apartemen, mereka sudah duduk di bangku belakang.


"Mas ...., bukan kah tadi perutnya sakit, pusing?" tanya Nadin lagi memastikan.


"Tidak!" ucap Rendi tanpa menatap Nadin, memang masih pusing, mual tapi ayahnya jelas lebih penting dari semua itu.


Sedangkan pria itu duduk di belakang kemudi. Mobil mulai meninggalkan pelataran apartemen, menembus padatnya jalanan ibu kota di sore hari.


Butuh waktu satu jam untuk mereka sampai di rumah paman Salman.


Rendi tak banyak bicara selama di perjalanan (Sejak kapan memang si manusia kulkas banyak bicara). Nadin hanya sibuk memperhatikan suaminya itu, nampak begitu tegang.


Akhirnya mereka smapai juga di depan rumah besar itu, yang Nadin sudah kenal rumah itu rumah siapa, itu adalah rumah paman Salman.


"Silahkan pak!" Ucap pria itu saat membukakan pintu mobil untuk Rendi.


"Terimakasih!" Rendi menyajak Nadin untuk turun, ternyata paman Salman sudah ada di depan pintu.


"Selamat sore ayah!" Sapa Rendi saat sudah berada di depan pria paruh baya yang masih tampak keren dengan jasnya itu. Wajah dingin yang juga menurun pada putranya itu juga melekat pada pria paruh baya itu.


"Selamat sore paman, aku sungguh merindukanmu!" Ucap Nadin dengan cerianya berbeda sekali dengan dua pria beda generasi itu.


"Masuklah nak!" Wajah lembut seketika hinggap saat menatap menantunya itu.


Kenapa ayah bisa selembut itu pada Nadin?


Nadin dan Rendi pun segera mengikuti pria paruh baya itu, mereka langsung menuju ke ruang keluarga, tak seluas rumah Agra tapi cukup luas bagi Nadin yang terbiasa berada dalam keluarga sederhana.


Nadin duduk di samping Rendi sedangka pria paruh baya itu duduk di sofa yang lainnya berada di hadapannya.


"Bagaimana kabar ayah?" Tanya Rendi saat memulai pembicaraan.


"Kenapa baru tanya sekarang kabar ayah, sudah ku bilang kalau bawa istrimu ke rumah ayah, kenapa di bawa ke apartemen sempit itu?" Tanya paman Salman yang bernada tegas itu membuat Nadin hanya bisa menunduk dan memilin ujung dress nya.


"Maafkan saya yah, tapi saya ....!" Rendi sepertinya tak kalah segannya, ia memilih menunduk dari pada menatap mata ayahnya.


"Tapi apa? Dasar keras kepala!" Keluh paman Salman sambil menghembuskan nafas kasarnya, seperti puas telah berhasil membuat putranya itu mati kutu.


"Baiklah ...., Sekarang kalian istirahatlah, nanti kita lanjutkan pembicaraan ini setelah makan malam!"


Paman Salman pun meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun untuk Nadin, membuat Nadin sedikit kecewa tapi ia juga lega karena sudah berhasil terhindar dari suasanya yang sepertinya atmosfirnya sangat tipis sehingga buat bernafas saja susah.


Seorang pelayan pria sudah mengantar mereka ke sebuah kamar, ini adalah kamar Rendi dulu saat ia masih tinggal di sini, dulu saat sebelum ia harus pindah ke kamar Agra dengan berbagai fasilitas.


Rendi juga terlihat tampak asing dengan kamar itu, rupanya ayahnya telah merubah isi kamar itu menjadi kamar yang bukan kamar anak kecil lagi, tapi kamar seorang Rendi, walaupun ia jarang menempatinya.


"Aku mandi dulu!" Ucap Rendi dan segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Nadin segera menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Ah ...., Nyamannya ...., Luas juga ternyata kamarnya mas Rendi!" Mata Nadin mengabsen seluruh isi kamar itu, indah dan luas, kamar dengan nuansa hitam putih itu terlihat begitu rapi dan bersih, sepertinya memang kamar itu setiap hari di bersihkan.


"Kenapa fotonya anak kecil semua?" Nadin segera bangun dan menghampiri sebuah foto yang tergantung di salah satu dinding, foto paman Salman yang masih terlihat muda dengan anak laki-laki.


"Kalau ini paman Salman, berarti yang ini pasti mas Rendi!" Ucap Nadin sambil menyentuh foto itu. "Dia manis sekali ...., Ternyata ia sudah dingin ya sejak kecil, matanya tajam banget ....!" Nadin senyum-senyum sendiri hingga ia tidak menyadari jika suaminya itu sudah selesai mandi.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Rendi yang baru keluar dari kamar mandi, seperti biasa Rendi hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya sehingga menampilkan otot-otot nya yang menonjol di dada dan di perut. Bau sabun menyergap penciuman, begitu harum dan menyegarkan.


Nadin yang tak sengaja menoleh jadi tidak ingin melewatkan pemandangan yang luar biasa itu, ingin rasanya menyentuhnya, tapi malu.


Rendi mendekat pada Nadin dan menyentuh pipi Nadin yang sudah merona merah karena terkesima. "Kenapa melihatku seperti itu!"


Nadin tersadar ia segera menggelengkan kepalanya.


"Ti-tidak ....!" Kini wajah Nadin bertambah merah karena malu sudah tertangkap basah mengagumi tubuh suaminya.


"Ini milikmu, kamu bebas memegangnya!" Ucap Rendi sambil menempatkan tangan Nadin ke arah dadanya.


"Mas ...!" Suara Nadin seperti tertahan di tenggorokan, jantungnya bekerja keras untuk menerima perkataan Rendi.


Rendi menarik pinggang Nadin hingga tak ada jarak lagi di antara mereka.


"Kau juga milikku, hanya milikku!" Bisik Rendi di telinga Nadin. Membuat Nadin tersipu, jantungnya benar-benar seperti meledak.


"Mas ...., Aku harus mandi!" Ucap Nadin saat dengan wajah paniknya, setelah Rendi melepaskan tangannya, Nadin pun langsung menenggelamkan diri di kamar mandi.


Rendi tersenyum tipis melihat tingkah istrinya.


*Istriku yang manis ....


🌷🌷🌷*


"Astaga ...., Jantungku ....., Jantungku ....!" Nadin memegangi dadanya yang seperti mau loncat.


"Rasanya aku mau terbang saja!"


Nadin pun tanpa melepas pakaiannya segera menenggelamkan tubuhnya di bathup ia benar-benar malu sekaligus senang. Akhirnya pria es itu mengatakan hal yang bisa membuatnya merasa istimewa.


**Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘**