MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Nadin terus menghindar



“Jangan menangis!” ucap Alex sambil mengusap punggung Nadin. “Kasihan baby jika bundanya sedih kan!”


Nadin melepaskan pelukan Alex,ia pun menghapus air matanya. Ia tahu jika terlalu bersedih akan sangat berpengaruh pada bayinya.


“Lex!” ucap Nadin sambil menatap pria yang bernama Alex itu.


“Iya?”


“Aku berubah pikiran!” ucap Nadin dengan penuh penekanan.


“Apa?” Alex merasa ada yang perlu di tanyakan dalam ucapan Nadin, ia gagal mencerna ucapan Nadin.


“Jangan katakan apapun pada mas Rendi, sepertinya dia sudah sangat bahagia dengan keluarga barunya.”


"Apa kau yakin?" tanya Alex memastikan apa yang ia dengar itu adalah sebuah kebenaran.


"Aku yakin, bahkan sangat yakin!" ucap Nadin mantap.


“Baiklah …!”


akhirnya Alex menyetujui permintaan Nadi, walaupun bagaimanapun ia juga lega jika Nadin berpikir seperti itu, Alex adalah salah satu orang yang juga tidak tahu kebenarannya.


Flaskback of


Nadin kembali ke pemikirannya, banyak yang ia pikirkan terutama tentang kehidupan rumah tangganya, apa akan berlanjut atau mungkin akan sampai di sini saja, tapi kedatangan Rendi adalah sebuah pilihan yang berat dalam hatinya, egonya tidak ingin memaafkan, tapi hatinya selalu menolak setiap kali ia mengatakan bahwa cintanya sudah hilang sejak saat itu.


“Apa kau benar-benar bahagia dengan kehidupanmu mas?” pendirian Nadin kembali goyah saat melihat penampilan pria dingin itu


sekarang.


“Jika kau bahagia, kenapa sekarang kurusan mas? Kau tidak sekeren dulu!” ucap nadin dalam tangisnya. Pria dingin itu memang telah


berubah, wajahnya tidak sebersih dulu, rambut-rambut kecil yang tumbuh di


wajahnya di biarkan begitu saja, matanya terlihat sedikit cekung dan menghitam


tidak sesegar dulu, sepertinya pria itu juga sudah melupakan kebiasaan


sehatnya. Tubuhnya terlihat lebih kurus.


“Aku tidak akan menuntut apapun dari mu lagi


sekarang, tapi ijinkan aku dan anak kita hidup bahagia tanpamu!”


Nadin tidak tahu jika ternyata pria dingin itu masih menantinya, tak ada kehidupan baru. Hati dan hidup pria itu masih untuknya dan


putranya.


Beberapa hari terakhir, semenjak kedatangan Rendi. Pria itu selalu saja datang setiap pagi hari dan sore hari. Hal itu membuat


Nadin begitu penasaran, ia kesal karena setiap kali pria itu datang padanya dan


putranya selalu berhasil menggoyahkan hatinya.


Hari ini Nadin sengaja tidak segera keluar dari


rumah, ia mengintip Rendi dari jendela rumahnya. Ia ingin tahu sebenarnya pria


itu keluar dari mana. Dan ternyata pria itu keluar dari rumah yang ada di depan


rumahnya.


“Jadi selama ini dia tinggal di depanku, tega sekali sih dia! Dengan keluarga barunya!” Nadin begitu kesal.


Rendi menunggu cukup lama, tapi pintu itu tak juga terbuka membuat Rendi tak sabar lagi menunggu, ia memutuskan untuk menghampiri


rumah Nadin.


“Mana mungkin jam segini dia belum bangun!”


Rendi begitu ragu untuk mengetuk pintu, Nadin pasti tidak akan membukakan pintu untuknya jika mengetuk duluan.


Hingga beberapa hari Nadin hanya akan keluar di siang hari saat Rendi pergi bekerja, pada saat pagi dan sore hari ia hanya akan


berada di dalam rumah. Ia tidak mau sampai bertemu dengan Rendi.


Siang ini saat memastikan jika pria dingin itu sudah tidak berada di dalam rumahnya, Nadin begitu penasaran, ia ingin melihat


sebenarnya pria itu tinggal dengan siapa di rumahnya.


Nadin mengendap-endap di depan rumah Rendi, untuk rumah itu tidak ada pagarnya, jadi Nadin cukup mudah untuk bisa masuk ke


halaman rumah Rendi, Nadin mengintip melalui jendela rumah itu.


“Kenapa rumahnya sepi sekali? Masak mas Rendi ke sini sendiri!”


Nadin mengelilingi rumah itu tapi sepertinya tidak ada siapapun di dalam rumah itu. Nadin terkejut saat merasakan pundaknya di


pegang oleh seseorang. Nadin memejamkan matanya, ia tidak tahu harus mengatakan


apa pada Rendi, ia tidak mungkin mengaku jika ia begitu penasaran dengan


kehidupan baru suaminya.


Aku harus bicara apa ini …..


“Aku hanya penasaran dengan penghuni rumah ini saja, tidak ada yang lain!” ucap Nadin tanpa membalik badannya.


“Assalamualaikum kak ….!”


Astaga…, hamper saja jantungku copot ….


Nadin begitu lega saat mendengarkan siapa yang sedang ada di belakangnya. Nadin memegangi dadanya.


“Astaga …, kau mengagetkanku saja ..!”


“jawab salamku dulu kak!" protes Aisyah saat Nadin tak juga menjawab salamnya.


“Waalaikum salam!’


“Sedang apa kakak di sini?”


“Tidak, ayo ke rumah kakak!” Nadin segera menarik tangan Aisyah dan meninggalkan rumah itu, mereka pun sampai di dalam rumah.


Nadin segera mengambil air minum, tenggorokannya terlanjur kering.


“Tidak ada!"


“Kakak penasaran ya?”


“Enggak!”


“Kakak nggak bisa bohong, tuh liat pipi kakak sudah memerah …!”


“Enggak Ais, tadi itu aku hanya …!”


“Hanya ingin liat suami kakak kan!”


Nadin hanya diam mendengarkan ucapan Aisyah, itu memang benar. Berada di dekat pria itu membuatnya ingin sekali mendekat, tapi


egonya telah membuatnya kalah.


“Dia sudah istri dan anak, Ais ! aku nggak boleh


egois dengan terus memintanya bersamaku!”


“Siapa bilang kak, setahuku dia di sini sendiri, dia tinggal sendiri. Dia juga ngasih kk nya pada pak RT, dalam KK itu masih ada


nama kakak!’


“kamu tahu dari mana?”


“kemarin aku di mintai bantuan sama pak Rt buat data beberapa warga baru!”


“Tapi KK, masih bisa di palsukan. Apa lagi dia punya uang!”


“jangan terlalu berprasangka buruk kak, belum tentu apa yang kakak pikirkan itu benar, lebih baik bicaralah baik-baik kak!”


“Kau ini persis seperti ustadzah aja!’


“Aku masih belajar kak!”


Mereka menghabiskan waktu siangnya bersama dengan


baby El. Nadin sudah merencanakan untuk kembali bekerja, tapi bukan pekerjaan


yang akan menyita waktu yang banyak. Ia ingin mencari pekerjaan yang bisa ia


sambil membawa bayi.


“Kakak serius ingin kerja?”


“Iya …., aku tidak mungkin menghabiskan uang mas Rendi untuk kehidupan sehari-hari kami, itu haknya baby El!”


“tapi menurut aku selesaikan dulu urusan kakak sama suami kakak, tapi ingat satu hal kak, Allah sangat membenci perceraian, jika


masih bisa di perbaiki, maka perbaiki dulu kak, aku hanya mendoakan yang


terbaik untuk kakak!’


“Makasih ya Ais, insyaAllah!”


Sudah dua minggu ini Alex menahan untuk tidak bertemu dengan Nadin dan baby El. Tapi kali ini ia tidak peduli dengan janjinya


lagi, rasa rindunya sudah tidak tertahan lagi. Sepulang kerja ia pun memutuskan


untuk langsung menuju ke rumah nadin, tak peduli dengan pria dingin itu lagi.


Alex melihat rumah Nadin tertutup, tak biasanya. Nadin biasanya selalu mengajak baby El bermain di luar rumah jika sore-sore


seperti ini, apalagi langit begitu cerah.


“Apa dia sedang pergi?”


Alex turun dari mobil dengan membawa boneka di tangannya dan juga seikat bunga. Ia memperhatikan rumah Nadin. Sangat sepi.


Tok tok tok


Alex mengetuk pintu rumah Nadin, cukup lama


menunggu. Akhirnya pintu itu terbuka, Nadin berdiri di depan pintu.


“Alex?”


“Maaf aku tidak bisa menepati janjiku, aku begitu merindukan kalian! Bisa aku menemui baby El?”


Tapi tak menunggu jawaban dari Nadin, Alex seperti biasa akan menerobos masuk dan mencari apa yang ia cari. Baby El sedang bermain di lantai beralaskan kasur lantai tipis di depan TV, ia sudah mulai bisa


bergerak bebas, sudah bisa tengkurap dan merika apapun yang ada di depannhya,


memasukkannya ke dalam mulutnya.


“El …, lihat daddy datang …, apa kau merindukan daddy mu ini?’ ucap Alex sambil merengkuh tubuh mungil itu dan mengangkatnya


meletakkannya di atas panguannya, menghujani baby El dengan ciuman yang


bertubi-tubi.


Nadin tak bisa mencegahnya, mau bagaimanapun Alex


punya hak itu. Dia yang sudah merewart baby El dan Nadin selama ini,walaupun ia


bisa mencegah cinta Alex yang ingin di berikan padanya tapi ia tidak bisa


mencegah kasih sayang yang di berikan Alex untuk baby El, itu terlalu jahat


jika sampai ia lakukan.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘