MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Aku akan menjemputnya



Rendi melakukan penerbangan dengan waktu yang cukup lama hingga sampai di tempat tujuannya. Sesampai di bandara internasional


perancis. Rendi langsung mendatangi perusahaan yang sekarang di pegang oleh


Divta.


Ini sudah selesai jam kantor, sudah malam mungkin Divta sudah pulang, tapi dari sana Rendi bisa mencari alamat Divta jika


bertanya pada penjaga malam atau salah satu karyawan.


Taksi rendi berhenti tepat di depan gedung pencakar langit itu, di sana adalah perusahaan yang bergerak di bidang fashion. Rendi


turun dari taksinya dan meminta sopir taksi untuk menunggunya.


Rendi menghampiri penjaga di posnya.


“Permisi!”


Penjaga itu pemerhati kan Rendi dengan seksama, seperti sedang mengingat sesuatu dan sepertinya penjaga itu mengenali Rendi.


“Mr Rendi!” sapa pria dengan seragam biru itu.


“Iya!”


“Bagaimana kabar mr Rendi? lama tidak berkunjung ke sini?”


pertanyaan itu dalam bahasa inggris ya


“Baik, apa mr Div masih di ruangannya?”


“Mr Div sudah keluar sejak satu jam yang lalu!”


“Apa saya bisa meminta alamatnya?”


“Maaf mr Rendi, tapi saya tidak memilikinya!”


“Ya sudah tidak pa pa terimakasih, mungkin besok saya akan kembali lagi ke sini!”


Rendi pun segera meninggalkan pos penjagaan, ia


membuka kembali pintu taksi itu, tapi tangannya terhenti saat melihat seseorang


dari pantulan kaca spion  depan,


seseorang yang sedang berjalan di belakangnya. Rendi pun segera menoleh ke


belakang dan benar ia mengenalnya.


“Ellen …!”


Wanita dengan pakaian modis dan rambut lurus panjang


sebahu, bibir merah merona sepatu hak tinggi, begitu anggun dan cantik. Wanita


yang di panggil Ellen itu menghentikan langkahnya, memastikan sesuatu.


“Rendi?” Rendi tersenyum tipis.


Wanita itu tetap sama …


“Apa aku tidak salah lihat, ini Rendi kan?” Tanya


wanita yang bernama Ellen itu begitu penasaran.


“Bisa kita bicara sebentar?’ Tanya Rendi to the


point.


“Bagaimana kalau kita bicara di klab sambil


menikmati minuman!”


Rendi menyetujuinya, mereka menuju ke klub yang di


maksud. Mereka menikmati minuman yang di sediakan oleh bartender.


“Angin apa yang telah membawamu ke sini? Bukankah


kau sudah mengundurkan diri dari perusahaan Agra?”Tanya wanita itu begitu


penasaran.


“Aku ingin menemui Divta!”


“Ohh …, pria itu…!” wajah Ellen seketika berubah


muram.


“ada apa dengannya?”


“Dia itu pria yang menyebalkan, kejam dan …!”


‘Dan apa?”


“Dan kau akan melihat sendiri kelakuannya!”


Mata Ellen menatap ke segala penjuru, sepertinya dia sedang mencari sesuatu, atau mungkin seseorang. Ellen adalah teman Agra dulu waktu kuliah, siapapun yang mengenal Agra pasti juga akan mengenal Rendi,


karena Rendi seperti bayangan untuk Agra. Di mana ada Agra di situ juga ada


Rendi, paket komplit.


Ellen di terima di perusahaan itu karena rekomendasi dari Agra, dulu agra lah yang mengelola perusahaan itu sebelum kembali ke


Indonesia.


“Lihat itu!” tiba-tiba Ellen menunjuk ke satu titik.


Rendi pun segera menoleh ke arahj telunjuk Ellen.


“Apa ini terjadi setiap hari?”


“Iya …, hampir setiap hari dia menghabiskan malamnya dengan gadis-gadis bodoh itu!”


Rendi segera berdiri dari duduknya, tapi Ellen


segera menahan tangannya.


“Mau ke mana?”


Rendi menatap tajam pada Divta, pria itu sedang di


kerumuni oleh wanita-wanita penghibur dengan pakaian yang kekurangan bahan.


memohon, melihat tatapan Rendi sepertinya pria itu sedang menahan kesal.


Rendi sepertinya tak mengindahkan ucapan Ellen, ia


segera menghampiri Divta, pria itu sepertitya sudah sangat mabuk. Rendi menarik


kerah kemeja Divta tinggal pria itu terbangun dari duduknya membuat


waniat-wanita yang ada di sekelilingnya ketakutan.


Brug


Sekali tonjokan Rendi layangkan di pipi Divta.


“Brengsek lo Div …!” teriak Rendi dan kembali meraih


kemeja Divta.


Bug


Satu kali tonjokan, kali ini mengenai perutnya.


“Siapa kamu, berani-beraninya memukulku!” teriak


Divta sambil memegangi perut dan sudut bibrinya yang sedikit mengeluarkan


darah.


“Lihat aku …, lihat ….!” Divta memperhatikan wajah


Rendi dengan seksama.


“Hah …, apa aku sedang bermimpi, kenapa dia juga ada


di sini, dia ini sungguh pangeran yang beruntung …, beruntung sekali dia,


setelah mendapatkan cinta dia membuatku jauh dari mereka!” rancau Divta.


Wanita-wanita yang mengelilingi Divta tadi sudah


kabur entah kemana, tapi sekarang penjaga keamana dan pemilik klub itu


mendekati Rendi dan Divta.


“Maaf tuan, jangan menbuat keributan di sini!” ucap


salah satu dari mereka, sepertinya dia adalah penangung jawab klub itu.


Rendi ataupun divta tidak menjawabnya. Rendi segera


menarik tubuh Divta keluar dari klub itu. Ellen mengikuti mereka. Rendi


mendorong tubuh Divta setelah sampai di luar klub hingga tubuh Divta terhuyung.


“bajinga kua Div!” Rendi hendak melayangkan pukulan


lagi, tapi Ellen segera menahannya.


“Hentikan Rend, kamu bisa membunuhnya jika terus


seperti ini!”


Rendi menghela nafas, mengurungkan niatnya untuk


memukul Divta.


Rendi membawa Divta ke rumah Divta, Rendi mengetahui


rumah Divta dari pengawal Divta yang ternyata juga menunggu Divta di sana.


Ellen sudah pulang ke rumahnya sendiri, kini tinggal Rendi dan Divta. Anak buah


Divta membantu Rendi membawa Divta.


Rendi mengamati wajah pria yang sedang terlentang


tak sadarkan diri itu, ingin segera mengajaknya bicara, tapi ia haruis bersabar


dan menunggunya hingga besok pagi.


“Kau tahu seberapa menderitanya aku saat ini? Dan


apa yang kau lakukan di sini, kau meninggalkan putrimu di sana dank au di sini


menghancurkan hidupmu sendiri!”


Rendi mengamati kamar itu, taka da apapun di sana,


foto siapapun, lalu siapa yang di cintai oleh pria ini.


“Kau menyakitiku pria dingin …, kau sungguh


menyakitiku …!” rancau Divta, membuat hati Rendi kembali teriris, ia tidak


menyangkal jika kepergian Divta karenanya, karena ulahnya di masa lalu, lalu


bagaimana cara untuk memberitahu bahwa wanita yang menjadi ibu dari puitrinya


telah tiada.


Rendi melepas sepatu Divta, menyelimutinya dan


dia  memutuskan untuk tidur di sofa, ia


akan bicara pada Divta besok pagi, tubuhnya sudah begitu lelah , hanya dalam


waktu sebentar saja pria dingin itu sudah masuk ke dalam alam mimpi. Berharap


esok hari akan lebih baik.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘