MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 10 (Sejak kapan?)



Setelah kepergian nyonya Ratih, Rendi kembali ke dalam rumah menghampiri istrinya.


"Mas, belum berangkat, kenapa?" tanya Nadin yang masih berada di atas tempat tidur.


"Bisakah aku tidak bekerja hari ini?" Rendi malah kembali naik ke atas tempat tidur dan merebahkan kepalanya di atas pangkuan istrinya.


"Bukankah hari ini mas Rendi memang tidak akan pergi bekerja, hari ini mas Rendi kan akan menjemput Elan!"


"Ah iya ....., aku sampai lupa!" Rendi semakin menenggelamkan kepalanya ke perut Nadin yang sudah sedikit mengeras.


"Apa dia sudah bisa bergerak? Kapan aku bisa merasakan gerakannya?" tanya Rendi lagi.


"Tidak akan lama mas, dia akan suka sekali menendang nantinya dan kau akan sangat terkejut nantinya!"


"Benarkah seperti itu? Aku jadi sangat tidak sabar!"


"Apa mas Rendi sudah sarapan?" tanya Nadin lagi memastikan jika suaminya itu sudah sarapan dengan benar, karena terlalu mengkhawatirkan keadaannya akhir-akhir ini Rendi tidak sarapan dengan benar.


"Belum!"


"Mau aku temenin sarapan?"


"Apa sudah baik-baik saja? tidak pa pa sarapan sekarang?" tanya Rendi memastikan, ia sudah duduk menatap wajah istrinya. Ia ingin memastikan jika serangan mual istrinya sudah selesai, ia tidak mau jika membawa istrinya ke meja makan malam membuat istrinya mual kembali.


"Sudah mas!"


"Yakin?"


"Iya!"


***


Akhirnya Rendi mengajak Nadin ke meja makan juga walaupun mengalami banyak perdebatan.


"Ada syarat mas untuk semua ini!"


"Heh ...., kau ini suka sekali memerasku!"


"Bukan aku, tapi anakmu ini!" ucap Nadin sambil mengelus perutnya.


"Memang dia mau apa?"


"Katakan cinta pada bundanya!"


"Harus ya?"


"Harus banget!" jawab Nadin mantap, ia begitu ingin mendengar suaminya itu mengatakan cinta, sangat mahal kata cinta dari pria dingin itu, butuh banyak muslihat untuk membuatnya mengatakan cinta, sungguh bukan pria yang romantis.


"Makan makananmu, jangan banyak bicara!" Rendi lebih memilih menambahkan makanan pada piring Nadin membuat Nadin menajamkan matanya tidak percaya.


"Istttt......, memang aku akan menghabiskan semua ini!"


"Habiskan biar, anak kita sehat!"


"Katakan cinta dulu, baru aku akan menghabiskannya!"


Rendi terlihat bingung harus mengatakan bagaimana, ia menyiapkan dirinya dengan duduk tegak.


"Jangan tegang gitu mas, yang tulus kalau bilang cinta!"


"Heh ...., kau ini!"


"Ayo mas .....!" Nadin terus memaksa membuat Rendi tidak bisa mengelak lagi.


Hehhhhhhh .....


"Apa harus di katakan sekarang?"


"Iya harus sekarang!"


"Ini masih sangat pagi, bagaimana kalau nanti malam saja!"


Padahal dia yang selalu membodohi ku, apalagi tadi malam ...., ia sudah membuat pinggangku retak, perutku mules dan sekarang .....


"Mas ...., jangan mengatai ku dalam hati ya, aku tidak suka!"


"Dari mana kau dapat ilmu membaca pikiran seperti itu?"


"Issstttt ...., ini dari ayah Salman ya, mas Rendi juga suka gitu, pakek bahasa isyarat, ayo cepat katakan sekarang jangan banyak alasan lagi!"


Lagi-lagi Rendi malah memasang wajah tegangnya, ia seperti akan melakukan presentasi saja.


"Mas jangan kaku gitu, slow ....., yang romantis, senyum!" Nadin mempraktekan bagaimana cara bersikap yang baik saat menyatakan cinta.


"Ayo katakan mas, aku mencintaimu Nadin. Nggak sulit mas!"


Hehhhh ....


Lagi-lagi Rendi menghela nafasnya, ia berusaha keras untuk bisa merapalkan mantra tiga kata itu.


Berat sekali bilang cinta saja ....., dasar balok es ....


"A-aku .....!"


"Iya ....., ayo mas lanjutkan!"


"Diam dulu, biarkan aku menyelesaikan ucapan ku!"


"Lama sekali ....!" gerutu Nadin, ia benar-benar tidak sabar untuk segera mendengarkannya.


"Diam dan dengarkan aku!" kali ini Rendi terdengar lebih serius dari sebelumnya membuat Nadin menyiapkan telinganya untuk mendengarkan ucapan Rendi.


Rendi tiba-tiba berdiri dan berlutut di depan Nadin, membuat Nadin terkejut. Rendi segera menggenggam tangan Nadin.


"Nadinda Aulya Putri, aku Narendra Rendiansyah telah jatuh cinta padamu sejak satu bulan sebelum kita menikah!"


"Hahhhhh ......!" Nadin benar-benar terkejut atas pengakuan Rendi kali ini, ia tidak menyangka jika suaminya itu telah jatuh cinta padanya satu bulan sebelum mereka menikah.


"Jadi ......?????" Nadin benar-benar seperti mendapat mood booster di pagi hari.


"Maksudnya?"


"Iya ....!" Rendi pun segera kembali berdiri, "Sudah puas kan?"


"Mas ...., aku benar-benar tidak percaya, jadi mas Rendi tidak menikah denganku karena terpaksa, bukan karena desakan ayahku?"


"Itu sebenarnya hanya alasan saja!" gumam Rendi tapi masih bisa di dengar oleh Nadin.


"Hahhhhh .....!" Nadin benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyumnya itu.


"Sudah lupakan!" Rendi begitu malu, ia ingin segera menghabiskan makanannya saja saat ini.


"Mas ...., aku ingin tahu bagaimana kau menyukaiku!"


"Sudah ku bilang, lupakan!"


"Istttt ....., selalu begitu!" gerutu Nadin lagi, suaminya itu memang paling sulit di gali informasinya.


Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali aku mencium mu, sejak saat itu kau selalu menjadi bagian dari hidupku ....


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘❤️