
Rendi pun menghela nafasnya panjang. Kemudian ia berbalik menghadap Nadin, menatapnya dengan tatapan seperti biasanya. Nadin hanya bisa tersenyum.
"Baiklah ...., sekarang apa maumu?" tanya Rendi.
"Sebaiknya pak Rendi duduk di sini ....!" ucap Nadin sambil menepuk sofa yang ada di sebelahnya, lagi-lagi Rendi hanya memberikan tatapan bertanya.
"Duduklah ....., aku sudah membawakanmu makan siang ....!" ucap Nadin sambil menarik tangan Rendi hingga pria dingin itu terduduk di sampingnya.
"Aku sudah makan siang ...!"
"Tapi aku belum ...., jadi pak Rendi harus menemaniku makan siang, lihatlah makanan ini sampai dingin karena terlalu lama menunggu mu, aku juga sudah sangat lapar." ucap Nadin sambil membuka bungkus makanan itu.
"Kau sungguh membuatku kesal ....!"
Tapi walaupun mengeluh Rendin tetap saja menerima makanan itu.
"Seharusnya pak Rendi menyuapiku ....!" ucap Nadin saat hendak memakan makanannya.
"Jangan nglunjak ...!" ucap Rendi dengan mata yang sudah melotot sempurna.
"Ini bukan nglunjak ...., ini adalah cara ku untuk bisa membuatmu jatuh cinta." ucap Nadin lagi. "Kau terlalu dingin, dinginmu seperti kutub utara, jadi aku harus jadi mataharinya supaya sedikit demi sedikit keangkuhanmunitu mencair."
"Kamu terlalu banyak bicara. Makanlah ....!" ucap Rendi sambil menyuapkan makanan ke mulut Nadin hingga Nadin berhenti bicara.
Nadin pun tersenyum puas, karena kini Rendi menyuapinya, ia menatap Rendi dengan penuh cinta. Suapan demi suapa masuk ke dalam mulut Nadin.
"Maaf pak ....!"
Tiba-tiba kegiatan mereka terhenti oleh suara seseorang, seseorang itu adalah Vina sekertaris Rendi. Rendi pun segera menoleh ke sumber suara.
"Ada apa?" tanya Rendi.
"Maaf pak, saya mengganggu anda, saya akan kembali sepuluh menit lagi."
"Tidak katakan sekarang ....!" perintah Rendi, ia segera meletakkan sendok milik Nadin.
"Lima belas menit lagi bapak harus meeting dengan pak Rendradi." ucap Vina memberi tahu jadwal selanjutnya untuk Rendi.
"Baik ..., persiapkan semuanya ....!"
"Baik pak, saya permisi."
Vina pun keluar dari ruangan, Nadin menatap Rendi dengan penuh kekecewaan.
"Cepat habiskan makanmu ...!" perintah Rendi. Rendi kemudian mengecek pekerjaannya melalui layar i-pad nya.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Nadin.
"Setelah makananmu habis, pulanglah ....!" lagi-lagi Rendi memerintah Nadin.
"Mana bisa seperti itu ...., aku nggak mau pulang ....!" ucap Nadin sambil terus menghabiskan makanannya.
"Lalu ....?" tanya Rendi. Ia mengalihkan pandangannya dari layar i-pad nya.
"Aku akan menunggumu hingga selesai meeting ...!" ucap Nadin dengan gaya ngototnya.
"Kamu akan bosan." ucap Rendi sambil kembali menatap layar i-pad nya.
"Nggak pa pa ...., aku bisa jalan-jalan di kantor ini ....!"
"Tidak .....!" ucap Rendi dengan cepat. "Maksudku jangan ke mana-mana, tetap di sini ..., aku akan meminta Frans untuk menemanimu....!"
"Hah ...., dr. Frans. Aku kangen sekali sama dr. Frans, jadi dia juga di gedung ini?"
Apa dia bilang kangen ...., bisa-bisa nya dia bilang kangen pada pria lain, beberapa menit yang lalu dia bilang pacar ...., sungguh gadis yang aneh ....
"Jangan macam-macam ....!" Rendi tidak begitu suka mendengar perkataannya Nadin.
"Iya ...!"
Dia itu lebih bawel dari pada nenek Nani ...., tapi menggemaskan ....!
"Ya sudah aku harus meeting dulu, jangan kemana-mana, tunggu Frans ke sini."
Rendi kembali memperingatkan Nadin untuk tidak kemana-mana.
"Iya ...., bawel ....!"
Akhirnya Rendi pun kembali meninggalkan Nadin di dalam ruangannya. Vina sudah siap di depan ruangan. Sambil berjalan menuju ruang meeting, ia melakukan panggilan pada dr. Frans.
"Hallo ...."
"Iya ada apa?" tanya dr. Frans di seberang sana.
"Datanglah ke ruanganku!"
"Ada apa?"
"Jangan banyak tanya, cepat datang ke ruanganku ...!"
Rendi pun segera menutup sambungan telponnya tanpa peduli di seberang sana sudah memaki-maki nya.
Rendi melakukan meetingnya, ia menemani Agra seperti biasanya. Tapi kini pikirannya sedang tidak fokus, entah kenapa ia terus memikirkan gadis yang sedang berada di ruangannya.
***
Nadin kemudian berkeliling melihat-lihat isi ruangan Rendi, ruangannya begitu rapi dan tampak tidak terlalu banyak ornamen, tidak ada satupun foto yang terpajang di sana.
"Dasar balok es ..., ruanganya pun juga terasa kaku ...., nggak ada yang bisa di lihat selain buku dan dokumen ...!"
Di salah satu sisi dindingnya hanya ada sebuah lukisan pemandangan hamparan kebun teh, sedikit menyejukkan pandangan.
"Kebun teh? Aku jadi membayangkan jalan-jalan ke kebun teh bersama pak Rendi."
Ceklek
Tiba-tiba pintu terbuka, membuat Nadin segera menoleh ke sumber suara.
"Dr. Frans ...!"
"Nadin ...., kamu di sini?!" Dr. Frans begitu terkejut melihat Nadin berada di ruangan Rendi.
"Ohh ...., jadi ini alasan si kulkas nyuruh gue ke sini ....! Posesif juga dia ...!"
"Memangnya kenapa dok?" tanya Nadin saat melihat dr. Frans tersenyum sendiri.
"Kamu kok bisa di sini?" tanya dr. Frans. "Sepertinya ada sesuatu yang tidak aku tahu nih ....!"
"Dokter mau tahu yang benar apa yang bohong?"
"Jadi ada dua pilihan ya? bagaimana kalau aku ingin tahu semuanya saja ...!"
"Karena aku sudah menganggap dokter Frans sebagai teman sekaligus kakakku, jadi aku akan menceritakan sebuah rahasia."
"Rahasia apa?"
"Tapi janji dulu, dokter tidak akan bicarakan hal ini pada siapapun, termasuk pak Rendi."
"Iya ...., janji ...., cepat ceritakan padaku ....!"
Nadin pun akhirnya menceritakan semuanya pada dr. Frans. Tentang pacaran tiga bulannya dengan Rendi.
"Wah wah wah ...., ini benar-benar kemajuan yang pesat ....!"
"Maksudnya ....?"
"Berarti kamu girl ...., sudah mampu melelehkan gunung es itu dengan satu kali tembak."
"Apanya yang leleh, dia saja tetap kaku ..., nggak ada romantis-romantisnya."
"Sabar girl ...., semuanya butuh waktu, aku sebagai patnermu yang terbaik, maka aku akan mengawalmu hingga sah ....!"
"Ah...,., dokter aku padamu ....!"
***
Rendi segera menyelesaikan meetingnya bersama Agra.
"Pak ...., apa pak Agra segera pulang?" tanya Rendi sambil mengiringi langkah Agra.
"Ya ...., aku pulang dulu, kau juga boleh pulang setelah ini ....!"
"Iya pak ...!"
Mereka telah sampai di depan gedung kantor, Rendi juga sudah meminta anak buahnya untuk menyiapkan mobil untuk Agra.
"Silahkan pak ....!" Rendi membukakan pintu mobil untuk Agra, Agra pun segera masuk.
"Oh iya ..., bagaimana? Apa Nadin dan Davina sudah datang ke sini?" tanya Agra sebelum pintu kembali tertutup.
"Sepertinya sudah pak, saya akan mengeceknya di HRD."
"Baiklah ... , kamu tidak perlu mengantarku ...., aku pulang bersama pak Mun saja."
"Baik pak ...., selamat jalan ...!"
Rendi pun menundukkan kepalanya dan segera menutup kembali pintu mobil. Setelah mobil Agra melaju meninggalkan gedung perkantoran, Rendi pun dengan cepat melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya.
Rendi segera masuk ke dalam lift yang di sediakan khusus untuk petinggi perusahaan. ternyata di dalam lift itu sudah berdiri Divta.
"Kamu kenapa Rend, buru-buru sekali ...?" tanya Divta yang juga menuju ke ruang paling atas itu.
"Ada yang harus segera aku selesaikan." jawab Rendi singkat, ia tidak mau jika sampai Divta tahu jika Nadin berada di dalam ruangannya.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Terimakasih
Happy Reading 😘😘😘😘😘😘**