MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Nenek Nani



Setelah acara makan siang itu, dr. Frans , Salman dan Rendi pun


berpamitan untuk pulang. Keluar Roy mengantar mereka sampai di teras rumah. Kini


tinggalah Roy dan keluarga barunya dan juga Nadin. Tapi mata Roy menatap hal


yang janggal di terasnya, ia tak menemukan sesuatu yang biasanya selalu ada di


sana.


“Nadin ....”


“Iya ayah?”


“Dimana si cerry?”


Mendengar pertanyaan ayahnya. Seketika Nadin menepuk kepalanya.


Astaga kenapa aku bisa melupakannya ....


“Maaf ayah ..., aku lupa menanyakan sama pak Rendi.”


“Apa hubungannya dengan nak Rendi?” Roy tampak bingung dengan


jawaban putrinya.


“Jadi gini ayah ....., kemarin pas acara syukuran Sagara dan


Sanaya. Cerry mogok, lalu aku ketemu sama pak Rendi. Dia menawariku tumpangan,


eh ... bukan deng. Maksudnya aku yang meminta tumpangan. Lalu pak Rendi


berjanji akan mengurusnya.”


Setelah mendengar penjelasan Nadin, Roy bisa bernafas lega, ia


mengira si cerry hilang atau apa.


“Lalu sekarang ...?”


“Aku lupa menanyakannya sama pak Rendi .....” ucap Nadin dengan


wajah melasnya.


“ya udah ...,besok motornya di urus,  ayah percaya sama nak Rendi. ayo masuk ...”


Aaaahhh ......, apa aku tidak salah dengar ya ....., ayah percaya sama pak Rendi, apa itu artinya lampu hijau .....?


Nadin tersenyum bahagia, ia merasa jalannya untuk bisa bersatu dengan Rendi akan lebih mudah dengan restu dari ayahnya sendiri di tampah dari ayahnya Rendi. Lengkap sudah ....


Roy pun mengajak semua anggota keluarganya masuk. Mereka bersantai


di ruang keluarga. Bi Inah sudah menyiapkan berbagai camilan. Mereka menuju ke


ruang keluarga. Rumah kecil itu sekarang terlihat penuh.


Roy duduk di antara Davina dan Nadin, sedangkan Dewi dan nenek Nani


duduk berjarak depannya. Nadin begitu senang, rasanya keluarganya kini lengkap,


ada ayah, ibu, nenek dan kakak. Sejak kecil Nadin sudah menantikan hal yang


seperti ini.


Banyak hal yang ingin dia lakukan untuk bisa tetap melihat


keluarganya bersatu seperti ini, cinta ibu yang tak pernah ia dapat akan segera


ia dapat dari bu Dewi, cinta nenek dan bonusnya adalah cinta kakak yang


bertambah satu lagi.


“Davina ..., mulai besok, ayah akan mendaftarkanmu di tempat Nadin


kuliah.” Ucap Roy sambil terus mengelus kedua putrinya.


“Terimakasih ayah ..., ayah baik banget sama Davina. Davina janji


tidak akan mengecewakan ayah.”


“Ayah percaya sama putri-putri ayah ...”


“Benarkah ayah ...? Nadin senang sekali, sekarang punya teman untuk


berangkat kuliah.” Ucap Nadin senang, Nadin yang sedari tadi tak lepas dari


ayahnya itu. Ia terus saja bergelayut manja pada ayahnya.


“Iya sayang ..., walaup0un usia kak Davina beda empat tahun, tapi kak


Davina satu semester sama kamu karena banyak hal yang mengharuskan kami menunda


masuk kuliah dulu. Jadi kemungkinan besar kalian satu kelas juga”


Dewi ikut menjelaskan, ia yang sedari tadi hanya tersenyum , kini


ikut menyahuti obrolan antara kedua putri dan suaminya itu.


“Davina juga seneng, bisa satu kampus sama kamu.” Ucap Davina


menanggapi ucapan Nadin, ia tersenyum pada Nadin.


Mereka seperti keluarga utuh yang sangat bahagia. Ada nenek dan juga


orang tua yang utuh. Nadin sudah membiasakan diri memanggil Dewi ibu.  Dewi begitu baik dengan Nadin, ia tidak


membedakan anak kandung dan anak tiri.


“Nenek sepertinya harus istirahat ...” ucap Nani, sambil berdiri


dari duduknya. Ya karena tubuhnya sudah terlalu renta untuk menempuh perjalanan


yang cukup jauh.


“Baiklah nek ..., Nadin akan mengantar nenek ke kamar.” Ucap Nadin,


ia pun segera berdiri menghampiri neneknya dan memegfang neneknya yang sudah


renta itu, ia takut jika neneknya sampai kesulitan berjalan.


“Nadin mengantar nenek dulu ya ..., ayah, ibu dan kak Davina


silahkan lanjutkan obrolan kalian ...” Nadin berpamitan setelah berhasil


“Iya sayang ....” ucap Dewi.


“Nenek tidak serenta itu nak..., biarkan nenek berjalan sendiri


...!” tolak nenek Nani.


“Tidak nek ..., pokoknya tidak ada penolakan ....!” ucap Nadin


dengan tetap memapah neneknya.


“Dasar keras kepala ..., nenekmu ini masih sehat, kuat ...”


“Iya ...., Nadin percaya ....”


Walaupun dengan segala penolakan, Nadin tetaplah Nadin. Ia tak


membiarkan neneknya berjalan seorang diri hingga sampai di dalam kamar.


Karena di rumah itu hanya ada empat kamar. Maka kamar milik Ara,


Nadin siapkan untuk neneknya. Sedangkan dia akan berada dalam satu kamar dengan


Davina, kakak barunya. Mungkin nanti ayahnya bisa menambah satu kamar baru


lagi. Sedangkan kamar satunya sudah di tempati bi Inah.


Ada sih satu kamar kosong, tapi di toko. Kamar itu sudah lama tidak


di tempati, biasanya kamar itu di gumakan untuk tidur mang ujang. Karena mang


ujang sudah menikah, jadi beliau memilih untuk tinggal di kontrakan bersama


istrinya.


Kalau ada yang belum tahu siapa mang ujang. Biar Nadin ceritakan. Mang


Ujang adalah salah satu karyawan toko ayah yang sudah bekerja hampir sepuluh


tahun, beliau sudah bekerja semenjak Nadin masih duduk di bangku SD. Mang Ujanglah


yang dulu selalu antar jemput Nadin saat sekolah hingga Nadin SMP. Saat SMA kak


Ara sudah pacaran sama kak Dio, jadi Nadin sering di jemput sama kak Dio.


Itulah penjelasan sedikit dari Nadin ya ...., Lanjut ke nenek Nani.


Nadin membawa nenek Nani ke kamar yang dulu di tempati Ara. Nadin mengantarnya


hingga ke atas tempat tidur.


“Nenek istrirahatlah ...’ ucap Nadin saat sudah  mengajak neneknya untuk duduk di atas tempat


tidur.


“Terimakasih sayang, kau anak yang baik. Kau juga sangat lembut.” Ucap


nenek Nani, ia mengelus pipi Nadin. Menatap Nadin dengan penuh cinta, untuk


pertama kalinya ia bisa dekat dengan cucu yang baru saja ia temui, ia tidak


tahu bagaimana masa kecil cucunya itu. Hatinya merasa iba saat mengingat hal


itu.


“Tidak nek ..., kau terlalu memujiku ..., Nadin jadi malu, nek ....”


ucap Nadin dengan tersipu malu, ia tak menyangka neneknya akan sangat


menyayanginya seperti ini.


“Putraku pasti sangat beruntung mempunyai putri secantik dan sebaik


dirimu.”


Nadin pun bersimpuh di kaki neneknya, ia sandarkan kepalanya di


atas pangkuan neneknya, sungguh sangat nyaman.


“Nyaman sekali nek seperti ini ...”


“Kau bisa seperti ini nak setiap hari, saat kau tidak bisa tidur


..., kau bisa datang ke kamar nenek dan nenek pasti akan menceritakan banyak


hal hingga kau tertidur ...”  ucap nenek


Nani sambil mengelus rambut Nadin.


“Benarkah itu nek?” tanya Nadin sambil nenatap neneknya, membuat


elusan di kepalanya terhenti.


“Iya sayang ..., cucu nenek yang paling cantik ..., pasti ibumu


secantik dirimu nak, nenek yakin ...”


“Nenek salah ...., Aku tidak ada apa-apanya nek, di banding


kakakku. Namanya kak Ara, dia sangat canti, lembut, pintar masak, penyayang


...,  jika nanti nenek bertemu dengan


kakak, pasti nenek akan sangat menyukainya.”


“Iya ..., nenek pasti sangat menyukainya ...”


Nadin pun berpindah posisi, ia naik ke atas tempat tidur, ia tidur


du pangkuan neneknya, entah kenapa ia meresa usapan lembut dari tangan renta


neneknya begitu membuatnya nyaman, hingga tanpa terasa ia tertidur da atas


pangkuan neneknya.


***


BERSAMBUNG


Happy Reading 😘😘😘😘