
Setelah acara makan siang itu, dr. Frans , Salman dan Rendi pun
berpamitan untuk pulang. Keluar Roy mengantar mereka sampai di teras rumah. Kini
tinggalah Roy dan keluarga barunya dan juga Nadin. Tapi mata Roy menatap hal
yang janggal di terasnya, ia tak menemukan sesuatu yang biasanya selalu ada di
sana.
“Nadin ....”
“Iya ayah?”
“Dimana si cerry?”
Mendengar pertanyaan ayahnya. Seketika Nadin menepuk kepalanya.
Astaga kenapa aku bisa melupakannya ....
“Maaf ayah ..., aku lupa menanyakan sama pak Rendi.”
“Apa hubungannya dengan nak Rendi?” Roy tampak bingung dengan
jawaban putrinya.
“Jadi gini ayah ....., kemarin pas acara syukuran Sagara dan
Sanaya. Cerry mogok, lalu aku ketemu sama pak Rendi. Dia menawariku tumpangan,
eh ... bukan deng. Maksudnya aku yang meminta tumpangan. Lalu pak Rendi
berjanji akan mengurusnya.”
Setelah mendengar penjelasan Nadin, Roy bisa bernafas lega, ia
mengira si cerry hilang atau apa.
“Lalu sekarang ...?”
“Aku lupa menanyakannya sama pak Rendi .....” ucap Nadin dengan
wajah melasnya.
“ya udah ...,besok motornya di urus, ayah percaya sama nak Rendi. ayo masuk ...”
Aaaahhh ......, apa aku tidak salah dengar ya ....., ayah percaya sama pak Rendi, apa itu artinya lampu hijau .....?
Nadin tersenyum bahagia, ia merasa jalannya untuk bisa bersatu dengan Rendi akan lebih mudah dengan restu dari ayahnya sendiri di tampah dari ayahnya Rendi. Lengkap sudah ....
Roy pun mengajak semua anggota keluarganya masuk. Mereka bersantai
di ruang keluarga. Bi Inah sudah menyiapkan berbagai camilan. Mereka menuju ke
ruang keluarga. Rumah kecil itu sekarang terlihat penuh.
Roy duduk di antara Davina dan Nadin, sedangkan Dewi dan nenek Nani
duduk berjarak depannya. Nadin begitu senang, rasanya keluarganya kini lengkap,
ada ayah, ibu, nenek dan kakak. Sejak kecil Nadin sudah menantikan hal yang
seperti ini.
Banyak hal yang ingin dia lakukan untuk bisa tetap melihat
keluarganya bersatu seperti ini, cinta ibu yang tak pernah ia dapat akan segera
ia dapat dari bu Dewi, cinta nenek dan bonusnya adalah cinta kakak yang
bertambah satu lagi.
“Davina ..., mulai besok, ayah akan mendaftarkanmu di tempat Nadin
kuliah.” Ucap Roy sambil terus mengelus kedua putrinya.
“Terimakasih ayah ..., ayah baik banget sama Davina. Davina janji
tidak akan mengecewakan ayah.”
“Ayah percaya sama putri-putri ayah ...”
“Benarkah ayah ...? Nadin senang sekali, sekarang punya teman untuk
berangkat kuliah.” Ucap Nadin senang, Nadin yang sedari tadi tak lepas dari
ayahnya itu. Ia terus saja bergelayut manja pada ayahnya.
“Iya sayang ..., walaup0un usia kak Davina beda empat tahun, tapi kak
Davina satu semester sama kamu karena banyak hal yang mengharuskan kami menunda
masuk kuliah dulu. Jadi kemungkinan besar kalian satu kelas juga”
Dewi ikut menjelaskan, ia yang sedari tadi hanya tersenyum , kini
ikut menyahuti obrolan antara kedua putri dan suaminya itu.
“Davina juga seneng, bisa satu kampus sama kamu.” Ucap Davina
menanggapi ucapan Nadin, ia tersenyum pada Nadin.
Mereka seperti keluarga utuh yang sangat bahagia. Ada nenek dan juga
orang tua yang utuh. Nadin sudah membiasakan diri memanggil Dewi ibu. Dewi begitu baik dengan Nadin, ia tidak
membedakan anak kandung dan anak tiri.
“Nenek sepertinya harus istirahat ...” ucap Nani, sambil berdiri
dari duduknya. Ya karena tubuhnya sudah terlalu renta untuk menempuh perjalanan
yang cukup jauh.
“Baiklah nek ..., Nadin akan mengantar nenek ke kamar.” Ucap Nadin,
ia pun segera berdiri menghampiri neneknya dan memegfang neneknya yang sudah
renta itu, ia takut jika neneknya sampai kesulitan berjalan.
“Nadin mengantar nenek dulu ya ..., ayah, ibu dan kak Davina
silahkan lanjutkan obrolan kalian ...” Nadin berpamitan setelah berhasil
“Iya sayang ....” ucap Dewi.
“Nenek tidak serenta itu nak..., biarkan nenek berjalan sendiri
...!” tolak nenek Nani.
“Tidak nek ..., pokoknya tidak ada penolakan ....!” ucap Nadin
dengan tetap memapah neneknya.
“Dasar keras kepala ..., nenekmu ini masih sehat, kuat ...”
“Iya ...., Nadin percaya ....”
Walaupun dengan segala penolakan, Nadin tetaplah Nadin. Ia tak
membiarkan neneknya berjalan seorang diri hingga sampai di dalam kamar.
Karena di rumah itu hanya ada empat kamar. Maka kamar milik Ara,
Nadin siapkan untuk neneknya. Sedangkan dia akan berada dalam satu kamar dengan
Davina, kakak barunya. Mungkin nanti ayahnya bisa menambah satu kamar baru
lagi. Sedangkan kamar satunya sudah di tempati bi Inah.
Ada sih satu kamar kosong, tapi di toko. Kamar itu sudah lama tidak
di tempati, biasanya kamar itu di gumakan untuk tidur mang ujang. Karena mang
ujang sudah menikah, jadi beliau memilih untuk tinggal di kontrakan bersama
istrinya.
Kalau ada yang belum tahu siapa mang ujang. Biar Nadin ceritakan. Mang
Ujang adalah salah satu karyawan toko ayah yang sudah bekerja hampir sepuluh
tahun, beliau sudah bekerja semenjak Nadin masih duduk di bangku SD. Mang Ujanglah
yang dulu selalu antar jemput Nadin saat sekolah hingga Nadin SMP. Saat SMA kak
Ara sudah pacaran sama kak Dio, jadi Nadin sering di jemput sama kak Dio.
Itulah penjelasan sedikit dari Nadin ya ...., Lanjut ke nenek Nani.
Nadin membawa nenek Nani ke kamar yang dulu di tempati Ara. Nadin mengantarnya
hingga ke atas tempat tidur.
“Nenek istrirahatlah ...’ ucap Nadin saat sudah mengajak neneknya untuk duduk di atas tempat
tidur.
“Terimakasih sayang, kau anak yang baik. Kau juga sangat lembut.” Ucap
nenek Nani, ia mengelus pipi Nadin. Menatap Nadin dengan penuh cinta, untuk
pertama kalinya ia bisa dekat dengan cucu yang baru saja ia temui, ia tidak
tahu bagaimana masa kecil cucunya itu. Hatinya merasa iba saat mengingat hal
itu.
“Tidak nek ..., kau terlalu memujiku ..., Nadin jadi malu, nek ....”
ucap Nadin dengan tersipu malu, ia tak menyangka neneknya akan sangat
menyayanginya seperti ini.
“Putraku pasti sangat beruntung mempunyai putri secantik dan sebaik
dirimu.”
Nadin pun bersimpuh di kaki neneknya, ia sandarkan kepalanya di
atas pangkuan neneknya, sungguh sangat nyaman.
“Nyaman sekali nek seperti ini ...”
“Kau bisa seperti ini nak setiap hari, saat kau tidak bisa tidur
..., kau bisa datang ke kamar nenek dan nenek pasti akan menceritakan banyak
hal hingga kau tertidur ...” ucap nenek
Nani sambil mengelus rambut Nadin.
“Benarkah itu nek?” tanya Nadin sambil nenatap neneknya, membuat
elusan di kepalanya terhenti.
“Iya sayang ..., cucu nenek yang paling cantik ..., pasti ibumu
secantik dirimu nak, nenek yakin ...”
“Nenek salah ...., Aku tidak ada apa-apanya nek, di banding
kakakku. Namanya kak Ara, dia sangat canti, lembut, pintar masak, penyayang
..., jika nanti nenek bertemu dengan
kakak, pasti nenek akan sangat menyukainya.”
“Iya ..., nenek pasti sangat menyukainya ...”
Nadin pun berpindah posisi, ia naik ke atas tempat tidur, ia tidur
du pangkuan neneknya, entah kenapa ia meresa usapan lembut dari tangan renta
neneknya begitu membuatnya nyaman, hingga tanpa terasa ia tertidur da atas
pangkuan neneknya.
***
BERSAMBUNG
Happy Reading 😘😘😘😘