
Tak berapa lama keluarga kakaknya benar-benar datang, rumah yang tadinya tenang kini menjadi amburadul oleh dua makluk kecil itu.
Rendi selalu saja jadi bulan-bulanan oleh dua makluk kecil itu.
"Uncle ...., uncle ....!" panggil Sanaya sambil menarik kaus Rendi, membuat Rendi harus segera berjongkok sejajar dengan gadis kecil itu.
"Mau Nay tacih tau cecuatu?" tanya Sanaya.
Rendi pun hanya mengerutkan keningnya seperti biasa.
"Nay ingin dedek bayi, tata mom, uncle lendi dan unty Nadin Atan membuyatan dedek bayi Buyat Nay!"
"Bayi?" tanya Rendi dan Sanaya menganggukkan. kepalanya dengan cepat.
Mereke benar-benar ingin memerasku dengan permintaan yang aneh-aneh ya .....
Nadin yang sedari mengamati interaksi pria dingin dan bayi cerewet itu tersenyum senang.
Setelah menghabiskan waktu dengan mengobrol ringan, tibalah saatnya untuk makan siang. Semua sudah berkumpul di meja makan, dengan sedikit di selingi obrolan-obrolan ringan.
"Bby ...., katakan pada Rendi!" Tiba-tiba Ara membisikkan kata itu pada suaminya.
Agra hanya mengurutkan keningnya.
"Yang kita bicarakan semalam, tentang libur!"
Agra melepas nafasnya berat, ia benar-benar berat menuruti permintaan istrinya kali ini, bekerja tanpa Rendi selama tiga hari, benar-benar akan jadi hari yang berat.
"Rend!"
"Iya?" Rendi segera mendongakkan kepalanya, menatap sumber suara. Nadin yang sedari tadi sibuk dengan baby twins juga ikut memperhatikan.
"Aku memberimu libur tiga hari ke depan, awas kalau sampai aku melihatmu muncul di kator atau mengirimiku pesan tentang pekerjaan!" ancam Agra, tentu itu atas kemauan Ara.
"Lalu, tentang tugas yang tadi malam?" tanya Rendi.
"Abaikan dulu, masih ada waktu sampai hari itu tiba!"
"Baik!"
Tidak bekerja selama tiga hari ..., aku harus apa? Cuma berdua dengan Nadin selama itu, Agra benar-benar ingin membuatku serangan jantung mendadak ....
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Agra dan Ara pun berpamitan, walaupun dengan sedikit drama dari Sanaya yang meminta tinggal, jelas saja Ara tidak akan mengijinkannya untuk tinggal, papinya saja di larang mengganggu apalagi anaknya.
***
Sekarang tinggal mereka berdua, memandangi rumah yang sudah seperti kapal pecah.
Kenapa rumahku jadi seperti ini?
Rendi memegangi keningnya yang terasa pening. bantal bertebaran di mana-mana, camilan dan biscuit tersebar di lantai, vas bunga yang sudah tidak di tempatnya dan masih banyak lagi. Si Mr perfect itu hanya bisa menjatuhkan dirinya di sofa.
"Dimana ponselku?" kemudian Rendi teringat pada benda kecil itu, ia kembali berdiri dan mencoba mencarinya, tapi di manapun ia tidak dapat menemukannya.
Rendi segera menghampiri Nadin yang sedang sibuk dengan membereskan piring kotor dan membawanya ke washtafel.
"Kau melihat ponselku?" tanya Rendi.
Nadin segera menatap pria itu tak percaya.
"Kau melupakannya ya?"
"Kalau aku bertanya, berarti aku lupa, kenapa masih di tanyakan?" jawab Rendi kesal.
"Bukan itu maksudku, bukankah tadi kak Agra sudah menyita semua ponsel kita untuk tiga hari ke depan!"
Rendi menepuk keningnya sendiri. "Astaga ...., lalu apa yang harus di lakukan untuk semua ini, bibi juga datangnya baru besok pagi!"
"Ya berarti kita harus membereskan sendiri!"
"Sendiri?" Rendi benar-benar di buat kalang kabut.
Nadin hanya mengangguk, "Lebih baik kita bagi saja pekerjaannya, biar cepet selesai!"
Astaga ....., kenapa di saat seperti ini tidak ada yang bisa aku lakukan....
"Kenapa? bingung ya? Biasanya tinggal suruh anak buah ini dan itu!" ucap Nadin terkesan meledek.
"Aku tidak seburuk itu!"
Setelah rumah kembali rapi, mereka pun segera merebahkan tubuhnya bersamaan di karpet ruang tv.
"Ini sungguh melelahkan!" gumam Nadin.
"Iya ....!"
"Lebih baik bekerja di kantor seharian dari pada harus melakukan semua pekerjaan rumah seperti ini!"
***
Saat malam tiba, rasa bosan kembali melanda. Rendi dan Nadin hanya bisa menghabiskan waktunya dengan menonton tv.
Nadin menatap suami dinginnya itu.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kenapa menatap seseorang harus di permasalahkan sih!?" keluh Nadin.
Karena tatapan mu itu membuat jantungku bergetar, kenapa suka sekali melihatku seperti itu?
"Ayo ....., beritahu aku alasannya!" rengek Nadin.
"Kau benar-benar membuatku kesal!" ucap Rendi sambil beranjak meninggalkan Nadin.
"Kenapa dia jadi aneh semenjak menikah?" gumam Nadin.
Rendi sudah duduk di atas tempat tidur, menselonjorkan kakinya, sambil membaca buku mengenai bisnis.
"Aku harus bisa mengendalikan diriku!" gumam Rendi, ternyata ia bukan sedang fokus dengan bukunya tapi lebih fokus dengan perasaannya.
Nadin yang merasa bosan karena di tinggal sendiri akhirnya memilih menyusul Rendi.
Astaga ...., kenapa dia kesini?
Rendi berusaha sebisa mungkin agar tidak menatap istri kecilnya itu.
Ini lebih sulit dari pada menghadapi Agra.
Akhirnya Rendi benar-benar tidak tahan untuk tidak menatap wajah cantik istrinya. Nadin yang di perhatikan masih sibuk ke sana kemari entah apa yang sedang ia lakukan.
"Apa sih yang kau lakukan? Kau benar-benar membuatku pusing!"
Nadin segera menghentikan geraknya, ia menatap suaminya itu dengan tatapan penuh tanya.
Memang apa yang aku lakukan?
"Berdiamlah di satu tempat! Kau benar-benar seperti Sanaya saja, tidak bisa diam!"
"Baiklah ....!"
Akhirnya Nadin memilih naik ke atas tempat tidur masih dengan wajah kesalnya.
"Kenapa wajahnya di tekuk seperti itu?" tanya Rendi lagi, ia meletakan bukunya di atas nakas.
"Karena aku nggak tahu harus berbuat apa!"
"Sini!" ucap Rendi sambil meminta Nadin untuk lebih mendekat.
"Apa?"
"Bisa nggak jangan banyak bertanya!"
Akhirnya Nadin pun hanya bisa pasrah, ia mendekat ke arah suaminya, Rendi yang sudah sangat dekat, ia pun ikut mendekat. Entah terdengar atau tidak, tapi jantung mereka seperti saling bersahutan.
Nadin segera memejamkan matanya, nafas Rendi sampai menyentuh hidungnya, perasaan hangat mulai menjalar. Kini nafas itu bisa Nadin rasakan di pipinya dan berjalan hingga ke daun telinganya. Rasanya seperti sengatan listrik beberapa volt.
"Jangan pernah memasang wajah seperti itu di depanku!" bisik Rendi, Nadin pun langsung membuka matanya. Ia segera menarik diri dari Rendi, tapi sayangnya Rendi tidak siap, sehingga membuat tubuhnya terhuyung menindih tubuh Nadin.
Dengan cepat menahan tubuhnya dengan tangannya agar tidak terlalu menindih tubuh Nadin. Kini wajah mereka saling bertemu, begitu dekat. Ingin rasanya kembali merasakan bibir manis milik istri kecilnya itu, entah kenapa bibir itu kini begitu manjadi candunya, setiap dekat dengan Nadin, rasanya ingin kembali mengecap bibir itu lagi dan lagi.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 😘😘😘😘😘**