MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Rasanya tidak akan adil



Setelah Aisyah keluar dan meninggalkan rumah Nadin, Nadin kembali berbalik pada pria yang seenaknya saja mencuri ciumannya itu.


“kenapa menatapku seperti itu?” tanya Rendi saat Nadin menatapnya dengan sangat tajam.


“Ini sudah keterlaluan Mas, kembalilah ke Jakarta dan hiduplah bahagian dengan kak Davina dan anak kalian, pliss …, jangan ganggu


aku dan baby El karena kami sudah bahagia tanpa mu mas Rend!”


Rendi mengusap kepalanya dengan kasar, menoleh menatap putranya yang sedang tertidur pulas. Mengusap pipinya dan mengecupnya.


Rendi bangun kembali dari duduknya, ia menatap Nadin dengan tatapan tak dapat di artikan, ada kemarahan, kekecewaan dan harapan.


“Berhenti bersikap seolah-olah aku yang paling salah di sini!”


“Memang mas Rendi yang salah!”


“Kita keluar, jangan sampai baby El terbangun!”


Rendi menarik tangan Nadin keluar kamar dan menutup pintu kamar agar pertengkaran mereka tidak sampai mengganggu baby El.


“Lepas mas!” Nadin berusaha melepaskan tangannya.


Rendi pun melepaskan tangan Nadin, ia melipat


tangannya di depan dada bersiap mendengarkan keluh kesah Nadin.


“Sekarang katakan apa saja yang menurutmu benar dan aku akan mendengarkannya!”


“semuanya …, semuanya terasa salah …, tak ada yang membenarkan kebohongan, apapun alasannya!”


“Iya …, aku terima …, semua itu memang benar, aku salah. Salah sangat besar kepadamu dan anak kita!”


“Lalu kenapa masih di sini? Aku sudah sangat bahagia dengan putraku tanpa mu Mas …, jadi pergilah dengan kehidupan barumu …!”


Rendi mendesah, ia benar-benar tak berhasil membuat wanita di depannya itu mengerti. Ada luka dalam dirinya, ada kesedihan berada


jauh darinya.


“Baiklah aku pergi, tapi ingat aku akan menjelaskan semuanya. Jaga dirimu!”


Ia tidak membawa apapun untuk menguatkan


pembenarannya. Rendi memilih untuk meninggalkan rumah Nadin dan kembali ke


rumahnya, masih ada hari esok untuk bisa menjelaskan semuanya.


“Pak!” sapa Ajun saat Rendi sudah sampai di


halamannya, Ajun mengira bos nya itu tidak akan kembali ke rumahnya dan


menginap di rumah istrinya. Jika kembali seperti itu, berarti bos nya belum


berhasil meyakinkan istrinya.


Rendi menghentikan langkahnya, menatap lurus ke depan.


“Ajun!”


“Iya pak?”


“Siapkan semua bukti yang menyatakan jika…!” Rendi terlihat begitu berat untuk mengatakannya, ia tidak mungkin mengatakan jika Divia bukan anaknya. Hatinya terlanjur tertaut pada gadis kecil itu, walaupun


bukan hubungan darah, tapi hubungan hati lebih erat dari hubungan darah.


“saya mengerti pak!”


“Bagus ….!”


Rendi melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah, walaupun tak di ucapkan Ajun sudah cukup tahu maksud dari bos nya apa.


Rendi memilih menatap jendela rumahnya yang langsung mengarah ke rumah Nadin, rumah sederhana itu masih menyala lampunya, menandakan jika pemilik rumah belum tidur.


“Aku sadar aku salah …, tapi apa kau tidak sadar …, tidakanmu sudah membuatku dan putraku terpisah …!”


Nadin setelah Rendi pergi dari rumahnya, ia segera menutup pintunya dan menguncinya. Ia merasakan jantungnya kembali berdetak


setelah sekian lama ia merasa jantung itu tidak pernah lagi seperti itu.


Ciuman tadi membuatnya merasa berada di dua sisi yang berbeda. Hatinya marah tapi juga


tak bisa di pungkiri jika cinta untuk pria dingin itu kadarnya masih sama


seperti mereka pertama bertemu.


“Nadin …., kamu jangan egois Nadin ….., dia sudah menikah dan bahagia dengan keluarga barunya!” Nadin berusaha menasehati dirinya


sendiri.


Ia kembali melihat ponselnya, dan mengingat beberapa bulan beberapa foto yang telah merubah keputusan besar dalam hidupnya, foto kedekatan seorang Rendi dengan gadis kecil di pangkuannya, begitu dekat.


“Dia sudah bahagia dengan putrinya!”


Flaskback on


Siang itu terasa begitu panas, Nadin memilih untuk periksa kehamilan di temani oleh Alex karena Aisyah sedang ada ujian di


kampusnya.


“Lex …, kamu nggak kerja? Bukankah kemarin-kemarin kamu sibuk di Jakarta?”


“Ya …, mungkin besok aku akan ke Jakarta lagi, jadi pumpung masih di sini, kita bisa seharian jalan-jalan setelah periksa baby!”


“Baiklah….!”


Alex mengantar Nadin ke klinik, kali ini Alex ikut


masuk ke ruang periksa dan melihat baby Nadin dari layar monitor, ia begitu


memaksa untuk merekamnya.


“Tidak pa pa kan dok jika aku merekamnya?”


Dokter mengajak Nadin bersiap di atas tempat


pemeriksaan dan menutup gorden pembatas sehingga Alex tidak bisa melihat Nadin


dan dokter tapi ia bisa melihat pergerakan bayi Nadin melalui layar monitor.


“Bayinya sehat sekali bu Nadin, sepertinya


memungkinkan untuk melahirkan normal, kalau berdasarkan letak bayinya,


sepertinya tingga dua atau tiga minggu lagi!”


“Alhamdulillah kalau gitu dok!”


Setelag selesai dengan pemeriksaannya, Alex pun mengajak Nadin jalan-jalan ke taman, sudah lama sekali semenjak Alex sibuk di


Jakarta mereka tidak jalan-jalan seperti ini.


Alex mengajak Nadin untuk duduk di salah satu kursi taman, melihat Nadin yang kesusahan berjalan, membuat Alex tidak tega.


“Dia pasti sangat menyusahkanmu ya?” Tanya Alex sambil membatu Nadin untuk duduk.


“Tidak …, ini adalah sebuah kesenangan! Oh iya Lex …, apa aku boleh minta bantuanmu sekali lagi?”


“Apa?”


“Aku akan melahirkan dalam hitungan minggu, aku ingin ayahnya menjadi orang yang pertama melihatnya!”


“Maksudnya kau sudah memaafkannya?”


“Bukan seperti itu!”


“Lalu?”


“Rasanya akan sangat tidak adil jika aku menauhkan anak ini dari ayahnya, dia punya hak untuk itu. Dan untuk selanjutnya, mungkinj


aku akan mendengarkan penjelasannya!”


“Jangan pikirkan itu dulu, biar aku belikan minum untukmu, kau pasti haus!”


“Iya aku haus sekali!”


“baiklah …, tunggu di sini!” alex hendak


meninggalkan Nadin, tapi Nadin menghentikannya lagi.


“Lex!”


“Ada apa lagi?”


“Bisa aku pinjam ponselnya?”


“Untuk?”


“Aku pengen lihat rekamanmu tadi, aku tadi tidak terlalu fokus!”


“Ini!”


“Sandinya?”


“Nggak ada sandinya, ya udah aku tinggal ya!”


Nadin pun mengangguk, ia melihat ponsel milik Alex itu.


“Dia itu ceroboh, seharusnya ponsel itu di kasih


sandi biar aman!” gumam Nadin ia mulai mencari-cari letak galeri di ponsel


Alex.


Banyak sekali foto-foto yang tersimpan di sana,


“Ini kapan Alex ambil fotonya? Jelek sekali aku di sini ... !” ia melihat banyak fotonya di dalam ponsel itu, Nadin terus menscroll layarnya ke


atas, mencari apa yang ingin ia lihat. Tapi matanya malah tertuju pada beberapa


foto, foto orang yang begitu ia rindukan.


“Mas Rendi!”


Banyak foto Rendi di ponsel Alex, tapi sayangnya Rendi tidak sendiri. Ia bersama seorang anak perempuan yang sangat cantik.


Tanpa terasa air mata nadin menetes juga, Rendi terlihat bahagia sekali di foto


itu. Ia segera mengirim foto-foto itu ke dalam pnselnya.


“Nad …, kamu kenapa?” alex yang barus saja kembali begitu terkejut melihat Nadin menangis. Ia meletakkan botol minumnya begitu saja dan segera memeluk wanita itu.


“Kamu kenapa?” Tanya Alex lagi.


“Dia sudah bahagia Lex!”


“Dia?”


Alex kemudian menatap ponselnya, ada foto Rendi di sana, ia lupa jika ia sempat mengambil foto Rendi bersama dengan putri


Davina.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘