
Mobil Nadin dan Rendi sampai di halaman rumah pak Roy. Davina yang sedang santai di teras begitu senang melihat mobil Rendi, tapi sejurus kemudian saat melihat siapa yang turun dari mobil itu, wajahnya seketika betubah masam.
"Nadin ....!"
Gumamnya, ia sambil berdiri dari duduknya, ia melihat Rendi ternyata juga ikut turun.
"Kak Rendi ....., mampir dulu kak ...!" teriak Davina sambil berjalan mendekat pada mereka.
Rendi hanya tersenyum tipis, kemudian kembali menatap Nadin.
"Besok datanglah ke kantor!" ucap Rendi lalu kembali masuk ke dalam mobilnya sebelum Davina menjangkau mereka.
"Yah ...., kok buru-buru sih ....!" ucap Davina saat mobil Rendi sudah mulai berjalan meninggalkan pelataran rumah.
Apa aku tidak salah dengar ya ...., apa maksudnya ya ...., aku ke kantor ...., yes ... yes ....
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Nggak jelas ....!" ucap Davina sambil berlalu meninggalkan Nadin, tapi saat sudah sampai di teras, ia kembali menoleh kepada Nadin dengan wajah penuh tanya.
"Kamu ....!!!" ucap Davina dengan penuh penekanan.
"Ada apa kakakku yang cantiiiik ....?" tanya Nadin dengan gaya sanyainya. Nadin pun mendekati Davina yanh sudah menatapnya dengan penuh kekesalan.
"Kamu membohongiku ya ....., jadi tadi kau bertemu dengan kak Rendi."
"Emang iya ...., suka suka aku dong ....!" ucap Nadin sambil berlalu meninggalkan Davina, ia segera berlari ke kamarnya. Davina yang tidak terima ia berteriak sambil berlari mengejar Nadin.
"Nadiiin ...., jangan pergi kau ....!"
Roy yang berada di dapur bersama Dewi, hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan kedua putrinya.
"Rumah ini jadi ramai lagi ya ....!" ucap Roy.
"Aku senang mas, kalau mereka bisa akrab"
Mereka tidak tahu saja kalau di dalam kamar terjadi perang dingin.
***
Malam ini setelah menyelesaikan perdebatannya dengan Davina, Nadin pun kembali sibuk dengan tugas kampusnya. Ia masih punya hutang tugas dari dosennya sebelum memulai tugas magangnya.
Matanya sudah kebali di fokuskan dengan layar laptop nya dengan segelas susu hangat yang setia menemani kejenuhannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, membuyarkan konsentrasi Nadin yang sedang merangkai kata.
Nadin pun segera melirik benda pipih yang ada di samping gelas susunya.
"Nomor baru?"
Akhirnya Nadin pun mengabaikan panggilan itu, ia berfikir jika itu panggilan penting pasti akan melakukan panggilan lagi. Dan benar saja, setelah beberapa detik terhenti, ponselnya kembali berdering. Hingga deringan ke tiga barulah Nadin menjawab panggilannya.
"Hallo ..."
"Dengan mbak Nadinda?"
"Iya ...., saya sendiri, ini siapa ya?"
"Saya dari divisi HRD finityGroup, memberitahukan bahwa besok mbak Nadinda sudah bisa memulai tugas magangnya di perusahaan kami."
"Benarkah?"
"Iya mbak, kami harap anda besok bisa dayang tepat waktu, pijak perusahaan akan memberitahu tugas anda selama magang."
"Baik saya akan datang ...!"
Panggilan telpon pun terputuh, Nadin segera beranjak dari duduknya dan menari kegirangan, ia sampai lupa jika di belakangnya ada Davina yang sedang asik dengan ponselnya.
"Yes ... yes ... yes ....!"
"Kenapa kamu?" tanya Davina dengan wajah kesalnya.
"Aku besok sudah bisa mulai magang .....!" ucap Nadin dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.
"Gitu aja heboh, aku sudah tahu dari tadi sore ...., sudah jangan berisik aku mau tidur." ucap Davina sambil meletakkan ponselnya di atas nakas dan segera merebahkan tubuh nya, kemudian membungsusnya dengan selimut sampai menutupi kepalanya.
Jadi brneran kak Davina juga ...., baguslah ...., tapi jangan harap bisa menggangguku ya ....
Nadin kembali meletakkan ponselnya, tapi segera ia urungkan saat sebuah nada pesan masuk.
*My block ice*
Nadin mengucek matanya beberapa kali, ia benar-benar memastikan jika yang di baca itu benar.
Nadin kembali meletakkan ponselnya, tapi satu detik kemudian ia mengbilnya, dan memastikan kembali.
Apa ini benar ya?
Akhirnya Nadin pun dengan jantung yang bergetar-getar segera membuka pesan itu. Kata demi kata ia cermati.
"Sudah tidur? Pihak HRD sudah menelponmu belum? Jangan lupa besok berangkat pagi, jangan sampai telat, jika telat aku akan memberikan nilai yang buruk. Jika di kantor jangan menyapaku atau menemuiku tanpa persetujuan dariku. Kamu mengerti !!!!!
"Astaga ...., kenapa jika di pesan ia bicara banyak sekali, beda sekali kalau sedang berhadapan!"
Nadin benar benar tak percaya dengan apa yang ia baca. Tapi hatinya juga menghangat mendapat pesan itu, bukannya segera membalas pesan itu, ia malah sibuk menciumi dan memeluk ponselnya, menganggap jika ia sedang memelik dan mencium Rendi.
****
Rendi, sepulang mengantar Nadin, Rendi menuju ke rumah besar, memastikan jika Agra dan keluarganya tidak ada masalah. Setelah tak ada yang perlu di kerjakan di sana, ia pun segera melajukan mobilnya kembali ke apartemennya.
Setelah sampai di apartemen, seperti biasa security akan menyapanya dengan ramah, tapi pria kulkas itu tetap dengan wajah dinginnya berlalu begitu saja.
"Ahhh ...., kapan aku bisa lihat pak Rendi tersenyum lagi ...!" gumam security itu setelah Rendi berlalu dari hadapannya.
Rendi segera membuka pintu apartemennya dengan memasukkan keycardnya. Rendi segera masuk dan merenggangkan pakaiannya, menarik dasinya agar lebih longgar, melepas kancing kemejanya hingga dua kancing bagian atasnya terlepas, menyingsingkan lengan kemejanya hingga sampai di siku.
Ia segera duduk di sofa, mencoba menghilangkan kepenatan yang ada di tubuhnya, langit sudah menggelap sejak rua jam yang lalu saat ia kembali tadi, tubuhnya sudah ingin di istirahatkan.
Tapi kemudian wajah polos dan ceria gadis itu kembali menari-nari di pelupuk matanya. Ia mengingat-ingat kembali kebersamaannya dengan gadis itu siang tadi. Tanpa terasa bibirnya membentuk sebuah senyum.
"Dia benar-benar polos ....!" ucap Rendi tanpa sengaja lolos dari bibirnya. "Apa apain sih kamu Rend, dia cuma anak kecil, dia lebih pantas di jadikan adik."
Tapi kata-kata dr. Frans kembali melekat di ingatannya, entah kenapa setiap kali mengingat kata-kata dr. Frans ada rasa tidak terima di hatinya.
Rendi segera memcari ponselnya yang ia letakkan dengan sembarang tadi, ya ternyata benda itu terlempar di sofa sebelahnya. Ia menghubungi Vina.
"Hallo Vin ...!"
"Iya pak ada apa pak? Apa ada masalah, sehingga bapak menghubungi saya malam-malam."
Tentu saja ini buka jam kerja, sangat jarang bosnya itu menghubunginya jika tidak ada masalah di luar jam kerja, walau bosnya itu gila kerja, tapi dia tidak akan memperkerjakan anak buahnya di luar jam kerja, kecuali memangmereka yang memiliki tugas khusus di luar jam kerja.
"Tidak, tidak ada masalah, saya cuma ingin kau memastikan pihak HRD untuk segera menghubungi nomor yang tertera di map yang ku serahkan tadi."
"Baik pak ...., saya akan menghubunginya."
"Terimakasih, selamat istirahat."
"Sama-sama pak ...!"
Panggilan telpon pun terputus, Rendi kembali meletakkan ponselnya. Setelah lima belas menit, ponselnya kembali berbunyi.
Ting
Sebuah pesan masuk.
"Pihak HRD sudah menghubunginya pak."
Pesan dari Vina sekertarisnya. Rendi pun segera mencari nomor yang ingin ia kirimi pesan.
*Anak kecil*
Ia hanya memandangi nomor itu, dan membuatnya berada di mode mengitim pesan, ia tampak mengetikkan beberapa kata, lalu menghapusnya lagi, kemudian mengetik lagi, dan menghapusnya lagi.
"Apa ini tidak terkesan memaksa ya ..., Ah aku rasa tidak ...., baiklah aku akan menulisnya begini."
Hal itu berlangsung hingga beberapa kali. Sampai pada akhirnya ia mengirimkan sebuah pesan pada nomor itu.
Rendi sudah berhasil mengirim pesan itu, beberapa menit ia memandangi pesan yang telah di kirimnya.
"Online ...., kenapa bocah itu tidak segera membacanya ....? Awas saja kalau dia berani mengabaikan pesanku ....!"
Rendi sudah di buat kesal olehnya, ia pun segera meletakkan di sembarang tempat, ia menghilangkan rasa kesalnya dengan segera masuk ke kamar mandi.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘😘**