
π·π·π·
Setelah mendapat keterangan dari Agra, Rendi kembali lagi ke tempatnya, ia ingin segera menghampiri Nadin untuk membetitahunya,
Nadin yang sedari tadi cemas kini malah terlihat tersenyum-senyum sendiri. Ia juga menertawakan kepolosan suaminya.
"Nad ....!" Rendi menghampiri Nadin dengan cepat, wanita itu masih di atas tempat tidur. Tapi jelas wajahnya sudah tidak sepanik saat Rendi keluar,
"Mas ...., Aku sudah tahu jawabannya dari sini ....!" Ucap Nadin sambil menunjukkan ponselnya,
"Tadi sepertinya mas Rendi salah deh ngetiknya, ternyata kalau dari keterangan di sini, orang yang baru pertama kali melakukan hubungan itu, akan mengeluarkan darah, namanya darah perawan!" Nadin menjelaskan dengan gamblang, Rendi yang sedari tadi sudah semangat untuk menjelaskan malah kembali bangun dari duduknya.
"Mas ...., Kenapa wajahnya malah di tekuk seperti itu?" Tanya Nadin yang heran melihat Rendi malah berdiri dengan menatap nadin dingin.
Dia benar-benar ingin mengerjai ku ....., ingin rasanya aku memakannya kembali agar tidak bisa tersenyum seperti itu ....
"Mas ....., mas Rendi baik baik saja kak?" Nadin menjadi cemas dengan perubahan sikap suaminya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi, kau membuatku malu saja!" Keluh Rendi.
"Malu ...., Malu kenapa .....?" Nadin tampak berpikir. "Ups ....., Jangan-jangan mas Rendi beneran tanya sama kak Agra ya ....!" Nadin menutup mulutnya, matanya melebar
Ahhhh ....., Aku pasti malu sekali kalau ketemu sama kak Agra ....
Rendi menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, mengusap rambutnya yang sudah rapi menjadi sedikit berantakan.
"Tadi mas Rendi buru-buru sih .....!" Nadin tidak mau di salahkan atas insiden ini,
"Diam dan jangan bahas itu lagi!" ucap Rendi ketus.
Aku benar-benar sudah kehilangan muka di depan Agra.
Setelah perdebatan di pagi hari, Nadin yang sebenarnya enggan untuk bangun dari tempat tidur terpaksa harus beranjak juga karena ancaman suaminya itu, Nadin tidak mau sarapan di luar, karena ia merasakan di bawah sana sangat sakit, Rendi dengan telaten menyuapi nadin.
"Gimana enak?" Tanya Rendi. Tangannya sibuk menyuapkan makanan ke mulut Nadin.
"Enak mas ....!"
"Jelas saja , kau seperti tuan putri dan aku pelayannya!" gerutu Rendi dengan suara yang di buat selirih mungkin.
"Kenapa mas, jadi mas nggak iklas nih?" Nadin cemberut.
"Iklas kok, aku tadi cuma bilang kalau kau itu seperti tuan putriku!" Rendi beralasan, ia tidak mau sampai Nadin marah padanya.
"Beneran?" Nadin masih curiga.
Heh ....., dia memang susah di bohongi ....
"Setelah ini mau jalan-jalan kemana?" Rendi mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku nggak bisa jalan-jalan mas, kalau kayak gini, aku jalan aja kayak pinguin!"
Rendi tersenyum, itu semua gara-gara dia.
Yes ....., berhasil .....
Tapi setidaknya kini pembicaraan mereka teralihkan.
"Katanya mau ketemu oppa-oppa? Mau lihat bunga tempat-tempat indah di sini, padahal di luar sangat cerah loh ....!"
Nadin menatap ke jendela lebar itu, benar saja cuacanya sangat cerah, sangat cocok untuk jalan-jalan. Tapi ia bahkan untuk pergi ke kamar mandi saja kesusahan.
Kenapa dia suka sekali membuatku kesal, seharusnya dia tidak melakukan itu di waktu yang seperti ini ...., Aku harus apa sekarang ....
Rendi tak mengerti apa yang sedang di pikirkan wanita di depannya, kadang tersenyum senang lalu tiba-tiba murung seperti itu.
Apa aku salah bicara lagi, sungguh merepotkan menghadapi satu wanita saja ....
"Jangan murung seperti itu, kau membuatku sulit saja!"
"Aku tidak bisa kemana-mana, dan mas r ndi malah menawarkan untuk jalan-jalan .....!"
"Atau bagaimana kalau kita melakukannya lagi ...!" Rendi tersenyum menggoda, entah dapat keahlian menggoda dari mana pria dingin itu.
Nadin menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak ...., Masih sakit mas ....!"
"Nanti lama-lama juga sudah biasa ....!" Lagi-lagi Rendi tersenyum. Ia segera membopong tubuh Nadin kembali ke atas tempat tidur, ia benar-benar melakukan apa yang di katakan nya.
Nadin yang sebenarnya masih merasakan begitu sakit, tapi saat Rendi menyentuhnya ia benar-benar tidak bisa menolak, tubuhnya benar-benar tak bisa di ajak kompromi, bibirnya menolak tapi tubuhnya malah melakukan hal yang berbeda.
πΊπΊπΊ
Davina, bagaimana dengan wanita itu, ia seperti biasa, melakukan rutinitasnya seperti biasa, ia sebenarnya sangat iri karena Nadin dan Ara pergi ke Korea tanpa mengajaknya, perasaan iri itu masih ada.
Tapi baguslah mereka tidak mengajakku, setidaknya di sana aku tidak akan jadi kambing congek .....
"Nak ...., Kenapa melamun saja?" Tanya ayah Roy yang menghampiri Davina yang sedang duduk di teras rumah.
"Nggak pa pa yah, hanya sepi saja, Nadin sama kak Ara ke Korea!" Davina mengeluarkan senyum termanisnya, dia benar-benar bisa membuat orang termanipulasi dengan senyum palsunya.
"Jangan merasa di bedakan ya nak, mereka sedang pergi bersama pasangannya, nanti kalau kamu juga sudah punya pasangan, kamu pasti juga merasakan yang sama!"
Aku ingin punya pasangan yang baik, tapi kapan? aku benar-benar kesal .....
Davina kembali tersenyum, ia berusaha keras untuk menyembunyikan rasa kesalnya itu.
"Iya yah, makasih karena ayah perhatian sama Davina!"
Roy pun mengelus kepala Davina, ia tidak pernah membedakan putri kandung atau putri sambung.
Ting
"Pak Divta!" Gumam Davina.
"Dari siapa nak?" melihat putrinya yang terkejut, ayah Roy pun ikut penasaran.
"Dari pak Divta, yah!"
Davina dengan cepat membuka pesan itu. Sungguh jarang pria itu memberinya pesan, pasti hal yang penting.
//Siang Davina, maaf mengganggu ...., Karena semua sedang pergi liburan, bagaimana kalau kita juga liburan, nggak usah jauh-jauh ...., Kita ke puncak saja, ke vila keluarga? Kalau mau nanti sore aku jemput ya....//
Davina membaca berulang pesan itu, ia tidak percaya jika Divta mengajaknya berlibur.
Berlibur ke villa ....? Mau .....
Davina mengetikkan pesan, singkat tapi harus beberapa kali ia hapus,
//Cuma berdua?// Davina benar benar mengirimkan balasannya, dan tak berapa lama, ponselnya berdering kembali.
//Iya ...., Nggak keberatan kan?//
Davina mencoba berfikir, mencari jawaban atas pertanyaannya, tapi tidak menemukannya.
Cuma berdua ...., Ada apa ya?
"Nak kenapa baca pesannya sambil tersenyum-senyum sendiri, dari siapa?" Tanya ayah Roy.
"Dari pak Divta yah, pak Divta ngajakin berlibur ke puncak, boleh nggak yah?"
"Pergilah ....., Asal tetap jaga diri loh ya nak!"
"Iya yah ....! Ayah baik deh ....." Davina memeluk ayah Roy, ia benar-benar senang dengan sikap ayahnya itu, begitu berbeda dengan ayah kandungnya.
Davina pun kembali mengetikkan pesan balasan ke Divta.
//Iya pak ...., Aku mau ....//
Tak berapa lama, ponselnya kembali berdering.
//Tunggu aku jemput nanti sore ya//
πΊπΊπΊ
Nadin menghabiskan sepanjang hari ini hanya di dalam kamar, ia susah untuk berjalan, setelah menyelesaikan olah raganya tadi pagi Rendi mendapat tugas dari Agra untuk meninjau lokasi ke perusahaan pengembang. Terpaksa ia harus meninggalkan Nadin sendiri.
Nadin masih bergumul di bawah selimut, hanya sesekali bangun untuk memeriksa ponselnya, menunggu pesan dari suaminya. Rasa rindunya menjadi sangat besar pada suaminya itu, tak melihat suaminya membuatnya begitu resah.
"Kenapa mas Rendi nggak menghubungiku ya?" Nadin kembali meletakkan ponselnya, menghembuskan nafas kesal, ia sangat merindukan pria itu, ada yang hilang saat jauh darinya.
"Apa aku menelponnya saja ya?" Nadin mengambil kembali ponselnya.
Nadin mencari kontak nomor suaminya, menatapnya, ia masih ragu untuk melakukan panggilan, melihat dan mengembalikan lagi, ia bingung harus mengatakan apa kalau sampai menelpon, tapi ternyata tanpa sengaja tangannya malah menekan tombol panggil.
"Yah ...., Yah ....., Yah ....., Beneran kepencet ....!" Keluh Nadin, dan benar saja, hanya sekali dering, langsung di angkat.
"Hallo ....!"
Astaga ...., Aku harus bicara apa ya ....
Nadin malah berubah panik, ia tidak sengaja memencetnya tadi, membuatnya bingung.
"Hallo ...., Nad ...., Nad ...., Nggak pa pa kamu?" Rendi terdengar cemas karena Nadim tak juga mengeluarkan suaranya.
"Hallo mas ...., Nggak pa pa!"
"Kenapa menelpon?"
Aduh ...., Iya kan ...., Dia jutek ....
"A-a-aku ...., Cuma mau tanya dimana charger nya?"
"Bukankah kamu yang masukin ke tas?"
"Oh iya mas lupa ....!"
""Sudah?"
"Sudah ....., Oh iya mas ...., Masih lama ya?"
"Kenapa? Kangen?"
"Enggak ...., Cuma ...!"
"Cuma apa?"
"Nggak ada, ya udah hati-hati ya mas kerjanya!"
Nadin segera menutup telponnya, ia tidak mau kelihatan begitu merindukan suaminya, sedangkan di tempat lain. Ternyata sedari tadi Rendi juga melakukan hal yang sama, di sela-sela kerjanya, ia Terus menatap ponselnya, menunggu ponsel itu berdering, ia merindukan istrinya. Istri yang sudah benar-benar sepenuhnya menjadi miliknya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading πππππ