MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Pria dingin



Pagi ini Alex sudah siap untuk berangkat kerja, ia


menyempatkan diri untuk melihat Nadin dan baby El di kamarnya.


“Selamat pagi baby El …., daddy malas sekali hari


ini untuk berangkat kerja!” ucap Alex sambil ikut berguling di samping baby El


dan memegangi pipi tembem baby El.


Nadin yang baru saja keluar dari kamar mandi begitu


terkejut dengan keberadaan Alex di kamarnya.


“Alex!” untung saja nadin memakai pakaiannya di kamar mandi, ia hanya mengurai


rambutnya yang masih basah. Melihat Nadin yang seperti itu membuat Alex


terpaku.


Dia begitu cantik ….


“Alex …., kenapa kau di sini?” Nadin mengulangi


pertanyaannya.


“Lihat baby El …, kau beruntung sekali. Bunda mu begitu cantik!” ucap Alex, ia tidak pernah menutupi jika ia mengagumi wanita


yang ada di depannya itu.


“Lex …, jangan mulai …!”


“Tidak …, aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja!”


“terserah kau saja!” nadin melanjutkan aktifitasnya,


mengeringkan rambutnya yang basah dan menyisirnya sedangkan Alex melanjutkan


bermain dengan baby El.


“oh iya Lex, aku akan segera pulang hari ini, tidak


baik jika aku terlalu lama tinggal di sini!”


“kenapa cepat sekali? tinggallah di sini beberapa hari lagi!”


“Tidak aku sudah satu minggu di sini, dan kau terus menahanku!”


Alex segera bangun dari tempat tidur, ia mendekati


Nadin dan menggenggam tangannya. Nadin menatap Alex , berharap jika Alex tidak


menahannya lagi.


“Rumahmu sudah tidak aman sekarang, tinggallah di sini saja!”


Mendengar ucapan Alex, nadin segera melepaskan


tangannya dari genggaman Alex. Ia kesal karena sepertinya semua alasan Alex


tidaklah masuk akal.


“Pertama kau mengatakan kalau kau punya surprise untukku, lalu kau mengatakan jika tidak ada yang bisa mengantarku, tidak aman


untukku pulang sendiri, lalu rumahku tidak aman, sebenarnya kau menyembunyikan


apa dari ku, Lex?”


“Tapi kali ini aku mengatakan yang sebenarnya!” Alex


tetap berusaha meyakinkan Nadin untuk tidak kembali ke rumahnya.


“Benarkah, apa yang tidak aman?”


“percayalah padaku, aku mohon…, sekali saja.


Percayalah padaku!”


Nadin diam, ia tidak tahu apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh pria di depannya itu. Tapi ia harus berusaha untuk mencari


tahu. Tapi jika mengajak baby El bersamanya, ia kan sedikit kesulitan, mungkin


dia akan meninggalkan baby El di tempat Alex selama ia pergi. Hanya sebentar


saja.


Ya …, aku harus mencari tahu ….


“Baiklah …, tapi aku harus pergi sebentar. Aku akan


meninggalkan baby El di sini sebentar, tidak pa pa kan?”


“Baiklah …, tapi jangan lama-lama. kasihan baby El jika di tinggal terlalu lama!”


“tidak, tidak sampai dua jam. Aku akan kembali!”


“Aku akan mengantarmu sampai rumah!”


“Baik!”


Akhirnya Nadin ikut dengan Alex, ia kan ke rumahnya


untuk memastikan sesuatu di sana. Mobil Alex berhenti tepat di depan rumah


nadin.


“Anak buahku akan menjemputmu nanti!” ucap Alex


sebelum Nadin turun.


“Tidak usah, aku akan naik taksi saja!”


“Jangan membantah, kau ini …!” Alex mengusap kepala


Nadin.


“terserah kau saja!” Ucap Nadin sambil menepis


tangan Alex. Nadin pun segera turun dari mobil. Alex menunggu hingga Nadin


ebnar-benar masuk ke dalam rumahnya.


“Sampai kapan kau akan mengabaikanku …?” gumam Alex,


lalu ia segera meninggalkan rumah Nadin. Dia harus segera ke tempat kerjanyaq,


kali ini bukan di perusahaannya, tapi tempat di mana ia kana melakukan kerja


sama dengan timnya bersama Rendi juga. Alex membiarkan Nadin pulang ke rumahnya


kareena memastikan jika Rendi tidak datang ek sana.


Nadin melihat rumahnya yang sudah ia tinggal satu


minggu ini, rumahnya tetap terlihat bersih.


“Anak itu pasti selalu membersihkan rumah inu!”


gumam Nadin. Ia memeriksa seluruh rumah, taka da yang berbeda juga taka da yang


janggal.


Nadin mengambil beberapa pakaiannya dan pakaian baby


ada yang mencurigakan.


“kenapa Alex mengatakan jika rumahku tidak aman?”


Nadin berusaha mencari-cari atas jawabannya sendiri.


“Aku harus bertanya pada bu Santi atau Aisyah!”


Nadin meninggalkan tasnya begitu saja dan pergi ke


rumah bu Santi. Tapi rumah itu kosong sepertinya bu Santi belum pulang dari


jualan. Nadin pun hendak menyusulnya ke tempatnya berjualan tapi langkahnya


terhenti saat gadis berhijab itu berjalan ke arahnya.


“Assalamualaiku, kak!” Aisyah menghampiri dan


memeluk Nadin, ia begitu senang melihat Nadin datang.


“Waalaikum salam Ais!”


“kakak sudah pulang, mana baby El?” mata Aisyah


mengedar, ia berharap bisa menemukan baby El. Tapi sepertinya tidak ada.


“Baby El masih di rumahnya Alex!” mendengar ucapan


Nadin, Aisyah tampak kecewa.


“kenapa?”


“Aku hanya …!” Nadin ragu untuk menjawabnya, ia


memang belum tahu kenapa ia meninggalkan baby El di sana, tapi ia juga tahu itu


salah.


“Tidak baik kak tinggal di rumah laki-laki yang


bukan keluarga kita!”


“Iya aku tahu, tapi Alex mengatakan kalau rumahku


sudah tidak aman!”


“Tidak aman?” Aisyah kembali terkejut.


“Iya, apa kau melihat sesuatu yang mencurigakan di rumahku?”


“Memang sih kak, beberapa hari ini, setiap hari ada


seorang pria yang terus menunggu di depan rumah kakak, tapi sepertinya dia


orang baik!”


“Orang?”


“Iya, seorang pria. Dia tampan, tinggi dan dingin!”


“Dingin?”


“Iya …, bahkan wajah dinginnya bisa membuat orang di sekitarnya terasa membeku!”


Entah kenapa ciri-ciri itu mengingatkannya pada


seseorang, seseorang yang begitu ia rindukan. Tapi juga mengingatkan sebuah


luka lama.


“Ya udah Ais, aku harus pergi. Kasihan baby El jika


aku tinggal terlalu lama!”


“Apa kakak tidak akan pulang?”


“Pulang, aku pasti pulang! Aku pergi dulu,


assalamualaikum!”


“Waalaikum salam!”


Anak buah alex sudah menunggu Nadin di depan


rumahnya, ia mengurungkan niatnya untuk mengambil baju. Baju yang sudah sempat


ia masukkan ke dalam tas ia tinggal begitu saja di teras rumahnya.


Rendi dan alex begitu sibuk hari ini, hingga sore


hari barulah mereka selesai. Dan Rendi sekarang mempunyai kebiasaan baru, ia


tidak lagi ke hotel, ia langsung menuju ke rumah nadin, tapi hasilnya tetap


sama. Rumah itu masih tertutup.


Ajun sudah menyelidikinya lagi dan jawabannya ebnar,


berdasarkan data yang ia peroleh dari pemilik rumah, rumah itu di sewa atas


nama Nadinda Aulia Putri. Pemilik rumah juga menunjukkan ktp milik Nadin daan


itu benar-benar nadin.


Rendi juga sudah meminta Ajun untuk mencarikan rumah


untuknya, rumah yang dekat dengan tempat tinggal Nadin. Tapi hingga beberapa


hari tapi ia belum juga menemukan istrinya itu.


“Itu apa?” Rendi memihat sesuatu di depan rumah


Nadin. Rendi pun segera melompati pagar itu lagi.ia melihat tas yang ronggok di


kursi kecil itu.


Rendi mengambil ta situ dan memeriksa isinya, ada


beberapa baju wanita, ia mengenali jika itu baju Nadin dan …


“Ini baju bayi …..!” Rendi mulai merasakan


kehangatan, impiannya nyata.


“Ini baju bayi kecilku …., ayah merindukanmu nak …!”


Rendi memeluk baju bayi itu seperti dia sedang memeluk putranya sendiri,


matanya mulai berkaca, ia merindukan yang belum pernah ia temui, tapi hatinya


begitu dekat.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘