MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Aku seorang ayah



Perancis


Pagi ini, pria yang semalaman tidak sadarkan diri itu mulai membuka matanya, ia beberapa kali mengerjapkan matanya, cahaya


matahari sudah menyusup ke dalam kamarnya memberikan penerangan pada kamar itu


melalui celah gordennya.


“Aughh …, kenapa tubuhku sakit semua …, aku mimpi aneh sekali malam ini, bahkan pria itu sampai datang ke dalam mimpiku …!


Divta menyingkirkan selimutnya dan segera


mendudukkan tubuhnya, ia kembali memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.


“Aku di kamarku …, gara-gara mimpi tadi malam, aku tidak bisa menikmati malam bersama wanita-wanita itu …!”


Divta menggelengkan kepalanya, ia berdiri dan


berjalan menuju ke kamar mandi, mungkin dengan mandi tubuhnya akan segera segar


kembali. Ia belum menyadari keberadaan Rendi di sana.


Butuh waktu lama untuknya mandi, ia  berendam dengan air hangat. Hampir tiga puluh menit barulah Divta keluar kembali dari kamar mandi, ia hanya melilitkan sebuah


handuk di tubuh bagian bawahnya, dan sebuah handuk kecil yang mengalung di


lehernya yang ia gunakan untuk mengusap rambutnya yang basah.


Sambil bersiul ia dengan santainya mengeringkan


rambutnya dengan handuk kecil di tangannya, ia berdiri di depan cermin yang


membelakangi tempat Rendi tidur.


“Pagi … telah pergi …, mentari bersinar lagi ….!”


Divta terus bersenandung, tapi segera terhenti saat melihat pantulan seseorang


di cermin.


“Astaga …, kenapa sekarang aku berhalusinasi juga …, pria itu ada di mana-mana!”


Divta memejamkan matanya beberapa kali tapi pantulan di cermin itu tetap sama, Divta pun membuka matanya lebar-lebar dan memastikan


apa yang di lihat adalah nyata. Perlahan Divta membalik badannya dan melihat


Rendi tidur di atas sofanya, di dalam kamarnya.


Perlahan Divta mendekati sofa itu, menunduk


memastikan jika pria itu benar-benar Rendi, tangannya terulur, ia memastikan jika


itu nyata. Divta memegang pipi Rendi, membuat pria itu perlahan membuka


matanya.


Ternyata Rendi tak kalah terkejutnya, ia sampai


terlompat dari tidurnya dan terduduk di sudut sofa.


“kenapa kau mengagetkanku?” tanyanya pada Divta, dan  Divta malah melebarkan matanya dan memutar


bola matanya.


“Seharusnya aku yang bertanya padamu! Kenapa kau bisa di rumahku, di kamarku?”


“Ada yang ingin aku bicarakan!” ucap Rendi sambil turun dari sofa dan meninggalkan Divta begitu saja.


“hey …, kau mau ke mana?”


“Aku pinjam kamar mandimu!” ucap Rendi lagi lalu mengilang di balik pintu kamar mandi.


“Dasar pria dingin yang aneh!”


Belum sempat Divta beranjak dari tempatnya, kepala Rendi sudah muncul kembali dari balik pintu kamar mandi.


“Dan pinjami aku bajumu!”


“Astaga …., dia ini ya!”


Divta melayangkan handuk yang berada di tangannya


tapi sayangnya Rendi lebih dulu menutup pintu itu, hingga handuk itu membentur


pintu.


Divat mengganti bajunya dan segera menyiapkan


sarapan, beberapa lembar roti panggang dengan selai buah di atasnya, ia sudah


duduk di meja makan sambil menunggu rivalnya itu.


Rendi keluar dari kamar Divta, dia mengenakan


pakaian Divta, untung saja ukuran baju mereka sama, jadi bukan masalah. Rendi


duduk di depan Divta dan Divta pun segera menyodorkan piring yang berisi


beberapa lembar roti bakar yang sudah ia olesi dengan selai coklat, dan


secangkir kopi panas.


“Makanlah dulu, baru kita akan bicara!” ucap Divta, ia sedang sibuk menikmati rotinya. Rendi pun tak bisa berbuat apa-apa selain


segera memakan roti bakar itu, perutnya juga sudah sangat lapar karena sedari


kemarin belum terisi sama sekali.


Cukup lama mereka terdiam, menikmati sarapan mereka, tanpa suara.


“Apa yang sudah membawamu sampai ke sini?” Tanya


Divta sambil menyesap kopinya. Menatap pria dingin itu dengan penuh selidik.


“Kau harus segera kembali!”


“Kalau aku tidak mau?” ucap Divta sambil tergelak.


“Kau harus mau!” Rendi memaksa.


“kenapa kau memaksa sekali?” Divta tidak suka dengan


ucapan Rendi yang terkesan memaksa, pembicaraannya sudah mulai memanas.


“Siapa? Ayolah …., Aku tidak punya siapa-siapa yang akan membuatku kembali!” lagi-lagi Divta tak percaya.


“Ada!”


“Kau ini keras kepala sekali!”


“Karena kepergianmu membawa kerumitan dalam hidupku!”


Divta berdecak, ia tidak tahu harus mengatakan apa,


seharusnya dia yang mengatakan hal itu pada pria ddingin di depannya itu.


Hidupnya menjadi rumit karena pria dingin itu, hidupnya menjadi tak ada arah


karena pria dingin itu.


“kau yang membuat semuanya rumit!”


“Ini bukan soal kau dan aku, bukan soal cintamu dan


cintaku, tapi ini soal anak yang seharusnya bahagia!”


“Anak? Bicara apa lagi kau ini …!”


“Aku bicara yang sebenarnya, anakmu!”


“Anakku?”


“Iya!”


“Aku belum menikah bagaimana aku bisa punya anak?”


“Itulah yang ingin aku tanyakan padamu, bagaimana


kau bisa menghamili anak orang dan meninggalkannya begitu saja?”


“Omong kosong macam apa ini, ini masih sangat pagi!”


“Ini bukan omong kosong …! Ini kenyataannya!”


“Kenyataan apa?”


“Davina!”


“Davina?” mendengar nama Davina, Divta seperti


kembali pada kejadian di mana ia pergi dan meninggalkan Davina, ingatannya


kembali di saat malam itu di mana ia dan Davina melewati malam panjang itu,


malam-malam panjang itu, ia memberikan harapan-harapan pada gadis angkuh itu.


Divta menutup mulutnya dengan tangannya, memastikan


bahwa apa yang ingin di katakana Rendi adalah benar. Sebuah kebenaran.


“Iya …, dia mengandung anakmu!”


“Tidak mungkin …., ini tidak mungkin!” tapi hatinya


masih tak percaya, tapi dia juga tidak bisa mengingkarinya, saat itu Davina


masih belum tersentuh oleh siapapun dan dia yang sudah merusaknya.


“Tapi ini kenyataannya, sebelumnya kau sudah


berjanji pada Davina untuk tidak menyusulmu hingga kau kembali sendiri, tapi kau


sepertinya tidak ingin kembali!”


“Aku ayah dari seorang anak! Lalu bagaimana keadaan Davina?”


Sepertinya Dvta sudah mulai bisa mengerti semuanya,


ia harus memulai dari davina, dia sudah meninggalkan Davina hamper dua tahun


dan dia berjanji akan kembali dalam satu tahun.


“Kita pulang dan aku akan menjelaskan semuanya


padamu!”


Rendi tidak mungkin mengatakan sekarang, ada banyak


hal yang tidak bisa di jelaskan di tempat terpisah, ini masalah hati, tapi


sejak kapan pria dingin itu tahu masalah hati?


“Baiklah …, beri aku waktu satu minggu, aku akn


menyelesaikan semua urusan di sini dan kita akan pulang!’


“Baiklah …, aku akan membantumu!”


Ada banyak urusan yang harus Divta selesaikan


sebelum benar-benar ia tinggal, masalah penanngung jawab juga, sebenarnya ia


sudah memilih seseorang yang tepat, tapi jika tidak di persiapkan dengan


matang, takut jika sampai ada masalah yang berat lagi di kemudian hari. Rendi


membantu Divta sebisanya, ia tidak bisa memberi keputusan dalam banyak hal


mengingat kini dia bukan bagian dari perusahaan itu lagi.


Satu minggu sudah berlalu, masalahnya sudah selesai,


Divta sudah menggakat orang kepercayaan untuk menempati posisi sementara


sebagai pemimpin. Divta dan Rendi juga sudah bersiap untuk kembali.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘