
Tanpa mengetuk pintu Devano masuk ke dalam kamar kembarannya setelah makan malam dan dia melihat Devina yang tengah tengkuran di ranjang sambil menulis sesuatu di buku. Lampu kamarnya dimatikan hanya lampu tidur yang hidup membuat Devano menggelengkan kepalanya pelan, tidak baik untuk kesehatan mata.
Berjalan mendekat Devano tidak memanggil Devina yang benar-benar terlihat sibuk dengan pena dan bukunya, tapi ketika duduk ditepian ranjang Devina mendongak lalu tersenyum. Gadis itu meletakkannya penanya lalu duduk sambil menatap Devano dengan senyuman lebar.
"Vano ngapainn?" Tanya Devina
"Gak bisa tidur." Kata Devano jujur
"Emm sama Vina jugaa." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya
Devano tersenyum lalu mengambil buku yang tadi Devina pakai dan melihatnya.
"Kamu nulis apa?" Tanya Devano dengan dahi berkerut
"Ini namanya hangul aksara Korea, Vano pasti gak tau." Kata Devina
"Hmm memang, kamu bisa nulis kayak gini?" Tanya Devano
"Bisaaa kan aku udah belajar." Kata Devina
Dengan penuh semangat Devina turun dari ranjang lalu membuka laci meja belajarnya dan mengambil beberapa buku.
"Nihh aku pernah beli terus belajar dan lewat youtube sama internet juga." Kata Devina
"Pinter banget." Kata Devano sambil mencubit pipi kembarannya
Devina hanya tersenyum lalu duduk di dekat Devano dan memeluknya dari samping.
"Vano temenin aku tidur yaa? Nanti kalau aku udah nyenyak Vano baru pergi." Kata Devina
Bergumam pelan Devano mengusap pipi kembarannya itu dengan lembut dan dia baru ingat kalau dia ingin memarahi Devina yang menulis dengan penerangan redup.
"Kalau mau nulis atau baca lampunya dihidupin Vin." Kata Devano
"Itu hidupp." Kata Devina sambil menunjuk lampu tidurnya
"Maksud aku lampu yang di atas biar terang kalau kayak gitu kan tetap gelap gak bagus buat mata." Kata Devano panjang
"Hmm gak kayak gitu lagi." Kata Devina
"Beli jajan yuk Vin." Ajak Devano membuat Devina melepaskan pelukannya
Wajah Devina berbinar dan menatap kembarannya dengan penuh antusias, ide yang sangat bagus.
"Yukk"
"Ganti baju dulu pakai jaket sama celana panjang." Kata Devano
Devina mengangguk dengan semangat lalu pergi ke lemari dan Devano kembali ke kamarnya untuk mengambil jaket. Tidak butuh waktu lama keduanya sudah siap sekarang dan bersama-sama turun ke bawah.
Mereka bertemu Fahisa yang baru saja datang dari arah dapur dan bertanya kemana mereka akan pergi.
"Mau beli jajan." Kata Devina dengan semangat
Fahisa tersenyum dan meminta kedua anaknya itu untuk hati-hati.
Mereka hanya mengangguk lalu mencium pipi Fahisa sekilas dan bersama-sama pergi keluar rumah. Sampai di garasi Devano langsung membuka pintu mobil untuk kembarannya.
Dengan kecepatan rata-rata mobilnya melaju di jalan yang masih cukup ramai karena ini masih jam delapan malam. Devina meminta untuk ke super market saja karena dia ingin memberi cemilan untuk nonton teman film.
"Vanoo"
"Hmm"
"Nanti kalau kita sudah kuliah Vano gak bisa jagaiin aku terus dong." Kata Devina
Jujur dia sedikit takut untuk masa kuliah karena Devina tidak yakin bisa menemukan teman yang baik seperti teman-temannya yang sekarang. Apalagi kalau tidak ada Devano yang menjaganya, dia takut, tapi Devina berusaha mengenyahkan semua fikiran buruk itu.
"Bisa, kan kita satu kampus." Kata Devano
"Vano aku takut, nanti kalau gak ada teman yang baik gimana?" Tanya Devinda dengan bibir mengerucut
"Pasti ada meskipun hanya satu, tapi pasti ada Vin dan kamu jangan takut selalu ada aku yang bakal ngelindungin kamu." Kata Devano
"Aku penakut ya Vano?" Tanya Devina
"Hmm sedikit"
Devina berdecak kesal lalu menyandarkan kepalanya di jok mobil. Dia pernah ditampar karena dituduh merebut pacar orang dan Devina juga sering dikatakan wanita murahan.
Dia takut kalau nanti ada yang melakukan hal lebih dari itu kepadanya.
"Vano nanti aku dijajanin kann?" Kata Devina berusaha mengalihkan fikiran buruknya
"Kok aku?" Tanya Devano
"Kan Vano yang ajakin." Kata Devina dengan senyum manisnya
"Iya nanti aku yang bayarin." Kata Devano membuat Devina berseru senang
"Aku mau ambil banyak nanti." Kata Devina
Devano hanya tertawa kecil menanggapinya.
Setelah sampai di salah satu super market keduanya turun dari dalam mobil dan bersama-sama masuk ke dalam. Senyuman Devina mengembang dia langsung meminta Devano untuk mengambil keranjang belanja lalu mengajaknya untuk membeli berbagai cemilan.
Devina terlihat sangat senang dia juga mengambil cukup banyak cemilan membuat Devano menggelengkan kepalanya pelan. Memang Devina sangat suka sekali cemilan kalau Devano sukanya memakan cemilan milik kembarannya dan membuat Devina merajuk.
"Vano mau beli apaa?" Tanya Devina
"Hmm nanti cuman mau beli kopi aja kalau cemilan nanti kan makan punya kamu." Kata Devano membuat Devina cemberut mendengarnya
"Ishh nyebelinnn"
Tertawa kecil Devano kembali mengikuti Devina hingga keranjang belanjaan mereka penuh barulah Devina selesai. Menggelengkan kepalanya pelan Devano mengajak kembarannya untuk mengambil kopi yang ada di dalam kulkas.
Setelah selesai keduanya pergi ke kasir untuk membayar dan wanita yang ada di kasir itu sesekali memperhatikan mereka, dia tersentuh melihat tatapan yang Devano berikan untuk kembarannya.
"Yuk pulang." Kata Devano sambil merangkul Devina
Lagi, mata wanita itu mengikuti gerak keduanya hingga keluar dari super market sambil bergumam.
"Pasangan yang serasi"
Kembali pada Devina yang sekarang sudah memasuki mobil dan membuka ice cream yang tadi dia beli kalau makan di rumah dia pasti dimarahi Daddy nya.
"Vano mau gakk?" Tanya Devina
"Suapin"
Devina tersenyum dan menyendokkan ice cream dengan sendok yang dia dapat lalu menyuapi untuk kembarannya.
"Makasih Vano traktirannya hehe sayang banget sama Vanoo." Kata Devina
"Hmm kamu mau apa lagi?" Tanya Devano
"Memang Vano mau beliin?" Tanya Devina dengan mata berbinar
"Apa dulu?" Tanya Devano tanpa menoleh
"Mau kuotaa yang unlimited." Kata Devina antusias
"Yaudah kita ke konter dulu." Kata Devano membuat kemabarannya berseru senang
"Yess makasih Vanooo"
"Kasih tau kalau kamu lihat konter kalau ada jangan yang nyebrang jalan." Kata Devano
"Siap bosss"
Devano memang baik sekali dan biasanya kalau pria itu bertanya apa yang Devina inginkan hanya ada satu kemungkinan.
Devano habis mendapat uang bulanan dari Daddy nya.
Berbeda dengan Devina kalau Devano mendapat uang lebih dari Daffa katanya karena Devano sering ikut kegiatan disekolah dan membelikan banyak keinginan Devina.
Tapi, memang benar untuk hal-hal kecil Devina selalu minta pada kembarannya.
¤¤¤
"Ihh Giooo!"
Devina berseru kesal ketika Gio mengambil paksa buku yang dia gunakan untuk belajar dan membawanya keluar membuat Devina langsung mengejarnya. Pagi ini Devina datang lebih awal lalu belajar sebentar dan mengulang apa yang sudah dia baca tadi malam.
Tadi Gio meminjam bukunya untuk belajar karena katanya kalau buku Devina itu lengkap dan tidak terlalu berbelit, tapi kan Devina juga lagi belajar. Bukan berhenti Gio malah berlari semakin kencang membuat Devano berteriak memanggilnya.
"Pinjam Vin"
"IHH AKU KAN LAGI BELAJAR!" Kata Devina kesal
Devina berlari mengejar Gio hingga dia tersungkur karena terselandung kakinya sendiri. Mata Gio membulat dia langsung berlari menghampiri Devina, bisa habis dia kalau Ziko atau Devano sampai lihat.
"Aduhh"
Beberapa mata melihat ke arah mereka dan Gio yang kini sudah berada di dekat Devina langsung mendapatkan pukulan pelan dari Devina.
"Ihh kann jatoh sakit tauu." Keluh Devina
"Maaf Vin lagian lo geh lari-lari segala." Kata Gio
"Ya kan gara-gara kamu?!" Kata Devina kesal
"Lo gak mau minjemin yaudah gue bawa kabur." Kekeh Gio
Devina berdecak kesal dan memukulnya lagi lalu ketika dia ingin bangun suara Ziko terdengar membuat Gio mengumpat dalam hati.
"Loh Vin kenapa bisa jatuh?" Tanya Ziko
"Bantuinnn"
Ziko langsung mengulurkan tangannya yang disambut dengan Devina dan gadis itu langsung menepuk-nepuk roknya karena takut kotor.
"Gioo gara-garanyaa!" Kata Devina sambil menunjukkan Gio yang hanya menunjukkan cengirannya
"Lo apain cewek gue?" Tanya Ziko sambil menatapnya dengan sengit
"Dia rebut buku aku pas lagi belajar terus kabur jadi aku kejar, tapi Gio larinya cepat." Kata Devina
"Iya Vin maaf." Kata Gio sambil menepuk-nepuk bahunya
Ziko melotot dan langsung menepis tangan Gil dari bahu kekasihnya.
"Maaf nih gue balikin nih." Kata Gio
"Enggak usahh aku udah gak mau belajar." Kata Devina membuat Gio tersenyum
"Yaudah pinjem dulu ya cantik." Kata Gio sambil menoel pipi Devina
Mata Devina membulat dan Ziko menatapnya dengan tajam, tapi Gio bersikap biasa lalu berjalan kembali ke kelasnya.
"Minta dihajar memang Gio!"
Berdecak kesal Ziko menatap Devina sebentar lalu merangkulnya dengan sayang.
"Sakit gak?" Tanya Ziko
Devina menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.
"Cantik banget sih Vin"
Mengatakan itu sambil mencubit pipinya Ziko membuat Devina merona seketika.
¤¤¤
Hari ini satu aja yaaa😉
Maunya cerita mereka sampai mana nihh???