
Sejak pulang Devina tidak bisa untuk berhenti tersenyum ketika mengingat perjalanan menyenangkan bersama dengan kekasihnya, meskipun Ziko tadu bersikap menyebalkan, tapi Devina merasa sangat bahagia. Sesekali dia memegang bibirnya lalu merasa malu sendiri karena ingat bahwa Ziko menciumnya sampai dua kali disana, bisa habis dia kalau Devano dan orang tuanya sampai tau.
Masih dengan senyuman manisnya Devina beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di meja belajarnya sambil mengambil kotak musik pemberian Ziko di hari ulang tahunnya. Tangan Devina memutar sesuatu disana hingga kotak musik itu mulai mengeluarkan instrumen yang mengalun merdu.
Devina memperhatikan kotak musiknya dengan senyuman manis lalu hingga tidak sadar bahwa seseorang membuka pintu kamarnya dan ternyata Daffa yang masuk ke dalam. Melihat anaknya yang terlihat asik membuat dia tersenyum lalu berjalan mendekat dan menyentuh pelan pundaknya hingga Devina tersentak sambil menoleh.
Anaknya itu tersenyum senang lalu bangun dari tempat duduknya dan memeluk Daddy nya dengan erat.
"Daddyyy"
"Kenapa sayang?" Tanya Daffa sambil mengusap pelan rambut hitamnya
"Tidak papa hari ini Vina lagi bahagiaaa." Kata Devina membuat Daffa tertawa kecil mendengarnya
Melepaskan pelukannya Daffa melihat kotak musik di meja belajar anaknya.
"Dari siapa?" Tanya Daffa
"Dari Ziko dia kasih aku hadiah itu waktu ulang tahun." Kata Devina
Tersenyum manis Daffa mengajak anaknya untuk duduk di sofa lalu membawa Devina untuk menghadap ke arahnya.
"Vina bahagia sama Ziko?" Tanya Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh anaknya
"Bahagia, Daddy mau tau? Ziko itu selalu bikin Vina senyum dia baikk banget sama Vina bahkan meskipun kita masih temenan waktu itu." Kata Devina
"Benarkah sayang?" Tanya Daffa
"Iyaa! Ziko juga selalu lindungin Vina dia sering ajakin Vina jalan-jalan." Kata Devina lagi
Daffa tersenyum sambil mengusap pipi anaknya dengan sayang membuat Devina ikut tersenyum senang.
"Ziko pernah buat Vina nangis?" Tanya Daffa
"Emm pernah, tapi lebih banyak bikin senyumnya dan Daddy harus tau Ziko itu cemburuan banget Vina sampai kesal." Kata Devina sambil mengerucutkan bibirnya sebal
"Bagus dong sayang kalau dia cemburu berarti dia sayang sama Vina." Kata Daffa
"Iya, tapi kadang nyebelin Daddy masa Vina kerja kelompok aja dia ikutin karena katanya ada cowoknya." Keluh Devina
Daffa hanya bisa tersenyum mendengarnya, anaknya sudah semakin besar sekarang dan tidak menutup kemungkinan Devina akan menikah lebih muda dari Sahara dulu.
Tapi, Daffa belum siap untuk menjauh dari anaknya yang menggemaskan ini.
"Vina boleh Daddy tanya sesuatu sama kamu?" Tanya Daffa
Devina tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Daddy mau tanya apa?" Tanya Devina
"Vina sayang sama Daddy?" Tanya Daffa
"Sayang bangett sama Mommy juga dan Vano juga pokoknya Vina sayang banget sama kalian semua." Kata Devina sambil mendekat dan memeluk Daffa dengan sayang
"Daddy juga sayang sekali sama anak-anak Daddy yang cantik dan tampan." Kata Daffa
Daffa mencium puncak kepala Devina dengan sayang membuat anaknya itu semakin tersenyum dan mengeratkan pelukannya.
"Daddy"
"Hmm"
"Maaf ya? Waktu itu Vina nyalahin Daddy dan marah sama Daddy padahal Daddy juga gak mau kalau Vina di culik semua cuman kecelakaan, tapi Vina malah marah sama Daddy." Kata Devina
"Tidak papa sayang sudah jangan difikirkan ya? Lagi pula Devina kan marahnya cuman sebentar." Kata Daffa
"Iyaa soalnya Vina gak bisa marah sama Daddy kan Vina manjaa nanti kalau marah terus Vina gak bisa manja sama Daddy." Kata Devina membuat Daffa tertawa mendengarnya
Baru akan menanggapi pintu kamar terbuka dan Devano muncul membuat keduanya tersenyum. Melepaskan pelukannya Devina mengajak Devano untuk duduk dan sekarang Daffa berada diantara kedua anaknya.
"Ada apa Daddy?" Tanya Devano
"Tidak ada Daddy hanya mau menemui anak Daddy." Kata Daffa
"Vano sudah pulangg?" Tanya Devina
"Kalau belum pulang ya aku gak disini Vin." Kekeh Devano yang membuat Devina mengerucutkan bibirnya sebal
"Daddy lihat? Vano menyebalkan." Keluh Devina
"Tapi, Vano benar sayang." Kata Daffa
"Ish kalau ada Vano di sini Daddy selalu dukung Vano." Kata Devina
"Ngambekan Vina mah." Kata Devano membuat Devina kesal dan memukul lengan kembarannya itu pelan
"Vanonya nyebelin!" Kata Devina
"Sst udah ah malah pada ribut." Kata Daffa sambil tersenyum
"Daddy dari dulu memang Vano yang nakal kan? Dia suka nakal sama Vina." Kata Devina
"Enggak kamu yang nakal." Kata Devano
"Enggak ya Daddy? Vano kan yang nakal?" Kata Devina lagi
Daffa tersenyum melihat kedua anaknya, rasa rindu pada Sahara selalu terobati dengan kehadiran kedua anaknya.
"Iya, Vano waktu kecil itu suka banget gangguin Vina sampai nangis dan kalau Mommy marahin Vano bilang kalau Vina lucu kalau menangis jadi Vano suka lihatnya." Kata Daffa membuat wajah Devano memerah karena malu
"Tuh kann! Dengar kan Vanoo! Kata Daddy kamu yang nakal wleee." Kata Devina sambil memeletkan lidahnya
"Udah kok cuman itu terus enggak lagi." Kata Devano
"Ada lagi kan Daddy?" Tanya Devina
"Dulu Vano itu suka jahilin Vina dia pernah robekin gambaran Vina atau putusin kepala barbie punya Vina atau cubitin pipi Vina sampai nangis terus kalau Vina udah nangis dia kabur karena takut di marah." Kata Daffa
"Vanoo dengarr! Vano nakal ishh nakal." Kata Devina
Devano hanya diam lalu mendekat dan mencubit gemas pipi kembarannya hingga membuat Devina meringis kesakitan.
"Ish sakit tau! Jahat banget Vano sama aku." Keluh Devina
"Makanya Vano gak boleh kesel kalau Vina gangguin soalnya Vina balas dendam sama Vano"
Daffa tersenyum lalu mencium kepala anaknya bergantian, dia benar-benar bahagia memiliki Devano dan Devina di sisinya.
Ketiga anaknya sangat membuat hidupnya berharga.
Nanti dia tidak akan mengizinkan Devano pergi dia akan meminta Devano tetap tinggal di rumah ini meskipun nanti sudah menikah.
Setidaknya dia tidak akan kesepian dan hanya tinggal berdua dengan Fahisa saja kan?
Dia dan Fahisa juga tetap ingin tinggal bersama dengan anaknya.
¤¤¤
"Vina"
Panggilan itu terdengar ketika Devina tengah mengerjakan tugasnya dan ketika mendongak dia melihat kembarannya masuk ke dalam kamar sambil membawa sesuatu di dalam gelas. Senyuman Devina terbit dia menepuk pelan sofa disampingnya dan meminta Devano untuk duduk.
Begitu duduk Devano menyerahkan gelas berisikan teh hangat untuknya membuat Devina tersenyum dan langsung mengambilnya. Sedikit menyeruput teh hangat itu Devina meletakkan di meja lalu menatap Devano dengan senyuman.
"Makasih Vanoo." Kata Devina
"Hm kamu kenapa belum tidur?" Tanya Devano
Devina mengerucutkan bibirnya sebal lalu menunjuk layar laptopnya yang masih menyala.
"Vina masih ada dua tugas yang dikumpulin besok." Kata Devina
"Ini udah jam sepuluh Vin kamu mau ngerjaiin sampai kapan?" Tanya Devano
"Gimana tugasnya dikumpul besok? Vina udah satu minggu gak kuliah, jadi tugasnya nambah banyak kalau gak dikerjaiin nanti nilai Vina kecil." Kata Devina sedih
"Sini aku bantuin, mana tugas satu lagi?" Tanya Devano
"Tapi, kan ini tugas aku." Kata Devina
"Gak papa Vin dari pada kamu ngerjaiin sampai tengah malam bahkan ini udah terlalu larut harusnya kamu udah tidur bukannya masih di depan laptop gini, mata kamu bisa sakit dan kamu juga bisa sakit kalau kurang tidur." Omel Devano
Devina tersenyum lalu memeluk Devano lagi.
"Iya udah Vano boleh bantuin Vina." Kata Devina
Menggeser laptopnya ke hadapan kembarannya Devina memberiman buku yang tadi dia gunakan.
"Ini tugasnya suruh resume bab satu sampai tiga dan Vina baru sampai bab dua." Kata Devina
"Kamu ngerjaiin apa?" Tanya Devano
"Ada satu lagi cuman jawab soal kok tadi Vina udah cari jawabannya tinggal di tulis aja." Kata Devina
"Yaudah, sekarang minum dulu tehnya." Kata Devano
Mengangguk patuh Devina mengambil gelasnya lagi dan menghabiskan teh hangat yang Devano bawakan untuknya lalu pergi ke meja belajar untuk mengerjakan tugasnya, Devano tetap di sofa karena laptopnya ada disana dan sedang di cas juga.
Menit demi menit berlalu hingga jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam mereka belum selesai juga, tapi Devina hanya tinggal menyelesaikan sedikit lagi saja. Ada banyak sekali jawaban yang harus Devina tulis hingga tangannya terasa begitu pegal.
Saat menyelesaikan tugasnya Devina tersenyum senang lalu meletakkan penanya di meja dan menghampiri Devano.
"Vano masih banyak? Sini aku lanjutin." Kata Devina
"Enggak usah Vin ini juga udah mau selesai kok." Kata Devano
Devina mengangguk sambil menunggu Devano hingga sepuluh menit berlalu akhirnya Devano selesai juga.
"Ini mau di print?" Tanya Devano
"Iya besok aja di foto copyan sekalian jilid besok kan masuknya jam sepuluh." Kata Devina
"Sekarang udah selesai tugasnya?" Tanya Devano sambil menghadap ke Devina yang kini tersenyum dan menganggukkan kepalanya
"Udah, makasih Vano." Kata Devina
Devano mengusap kepala Devina dengan sayang dan menganggukkan kepalanya.
"Lain kali kalau tugasnya banyak bilang ya? Nanti aku bantuin jangan tidur malam-malam nanti kamu sakit." Kata Devano
Padahal Devina memang biasa tidur diatas jam sepuluh karena menonton drama, tapi dia hanya mengangguk saja.
"Vano"
"Hmm"
"Kalau kita bukan kembaran Vano bakal suka sama aku gak?" Tanya Devina membuat Devano menatapnya dengan alis bertaut
"Kenapa nanya gitu?" Tanya Devano
"Ya gak papa Vina mau tanya aja." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya
Menggelengkan kepalanya pelan Devano menatap Devina dalam diam lalu mendekatkan wajahnya membuat Devina melotot dan memundurkan wajahnya.
"Vano mau ngapain?" Tanya Devina
"Aku mau..."
"Mau ngapain?!" Tanya Devina panik ketika wajah Devano semakin dekat
Devano tertawa kecil lalu mencubit gemas pipi Devina sambil mengatakan sesuatu yang membuat Devina mengerucutkan bibirnya sebal.
"Mau cubit pipi kamu karena mikir yang aneh-aneh"
Merengek pelan Devina memukul lengan Devano membuat kembarannya itu tersenyum lalu memeluknya dengan sayang.
"Aku sayang banget sama kamu Vin"
Devina membalas pelukan itu dengan sangat erat, dia juga sangat menyayangi kembarannya.
¤¤¤
Aduhh Vina ini suka aneh-aneh dehh😂
Maaf ya kemarin gak updatee :(