
Tubuh Devina tersentak ketika pintu kamarnya dibuka dengan kuat lalu dia melihat Devano berdiri disana dengan raut wajah tanpa ekspresi, Devano masih marah dia tau. Saat melihat kembarannya berjalan mendekat Devina menundukkan wajahnya dan ponsel miliknya di lempar ke atas ranjang lalu Devano pergi tanpa mengatakan apapun.
Jantung Devina berdetak dengan sangat cepat dia ingin menangis saja, Devano terlihat sangat marah. Menghela nafasnya pelan Devina meraih ponselnya lalu menghidupkannya dan membuka aplikasih chat disana.
Pesan dari Yuna tadi belum dia balas dan ternyata wanita itu mengirim pesan lagi yang sudah dibaca oleh kembarannya tanpa ada balasan yang Devano berikan.
Ini terakhir kalinya gue bilang jauh-jauh dari Lucas dia itu pacar gue!
Lo cewek harusnya ngerti dong punya harga diri sedikit jangan keganjenan sama cowok orang
Menggigit bibir bawahnya pelan Devina mendongak ketika Fahisa masuk ke dalam kamarnya dan dia langsung menyembunyikan ponsel miliknya di bawah bantal. Mendudukkan dirinya di tepian ranjang Fahisa menatap wajah anaknya lalu mengusap puncak kepalanya dengan sayang.
"Kenapa sama Vano? Berantem?" Tanya Fahisa dengan lembut
Devina tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Dia ngambek nanti aku bujuk Vano." Kata Devina membuat Fahisa menghela nafasnya pelan
"Jangan ribut terus sama Vano apalagi sampai berantem dan diem-dieman Mommy gak suka." Kata Fahisa
"Iya Mom"
"Meskipun kamu gak suka, tapi kamu harus tau kalau semua yang Devano lakuin itu karena dia sayang banget sama kamu Devina." Kata Fahisa dengan penuh kelembutan
Devina menganggak lalu memeluk Fahisa dengan erat.
"Kamu gak boleh ngerasa ngerepotin atau bikin susah, gak boleh kayak gitu karena Devano sama Daddy gak pernah suka mereka perhatian dan sering marah kalau ada yang menyakiti kamu itu karena mereka sayang sama Devina." Kata Fahisa
Devina kembali mengangguk lalu melepaskan pelukannya dan tersenyum membuat Fahisa mengulurkan tangannya lagi untuk mengusap pipi anaknya.
"Sekarang Vina cerita sama Mommy ada masalah apa?" Tanya Fahisa
"Emm gak ada Mommy." Kata Devina pelan
"Devina"
"Bener kok di kampus ada yang gangguin Vina, tapi Vina gak bilang sama Vano makanya dia marah." Kata Devina dengan senyuman tipis
Fahisa menghela nafasnya pelan lalu mencium kening anaknya.
"Mommy mau ke dapur dulu ya? Bentar lagi Daddy pulang jadi Mommy mau panasin makanan dulu." Kata Fahisa
Mengangguk singkat Devina tersenyum hingga Fahisa keluar dari kamarnya lalu dia terdiam di atas ranjangnya. Sungguh Devina hanya tidak mau memperpanjang masalah, dia rasa sudah cukup Devina terlalu menyulitkan banyak orang.
Hanya saja Devina tidak bisa tenang kalau Devano marah padanya hingga dia perlahan bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar Devano. Tanpa mengetuk Devina masuk ke dalam dan melihat Devano yang duduk diam dengan gitar dipangkuannya.
Melangkahkan kakinya mendekat Devano mendongak untuk menatap Devina dengan raut wajah datarnya kala dia melihat sepasang kaki dihadapannya.
"Vano"
Devano tidak menjawab dan hanya diam sambil mulai memetik gitarnya membuat Devina menghela nafasnya pelan lalu duduk disampingnya. Dengan hati-hati tangan Devina menyentuh lengan kembarannya, tapi tanpa Devina duga Devano malah menarik tangannya menjauh.
Menggigit bibir bawahnya cukup kuat Devina jadi mau menangis, Devano tidak pernah seperti ini sebelumnya.
"Vano"
Suara Devina begitu pelan bahkan nyaris tidak terdengar.
"Ngapain kesini? Ponsel kamu udah aku balikin." Kata Devano
"Vano maaf." Kata Devina pelan
Devano tidak menjawab dia berdiri dan meletakkan gitarnya di tempat semula lalu berjalan menjauh, tidak mau menatap wajah Devina yang akan membuatnya luluh.
"Vano jangan marah." Kata Devina
"Kamu sekarang terbiasa nyembunyiin hal penting dari aku ya Vin?" Kata Devano dengan senyuman tipisnya
Devina langsung diam ketika mendengarnya.
Saat masalah dengan Alex dulu Devano tau dari Mona dan sekarang ketika ada masalah lagi di kampusnya Devano bukan tau dari Devina. Sudah sering terjadi Devina yang diancam atau apapun itu dan selalu dengan tuduhan yang sama.
Padahal Devina tidak pernah melakukan apapun.
"Vano..."
"Kenapa? Kamu gak suka kalau aku belaiin kamu? Gak suka kalau aku perhatian sama kamu?" Tanya Devano
"Bukan gitu Vano aku cuman gak mau nge..."
"Ngerepotin? Bikin susah? Kenapa sih cuman itu yang ada difikiran kamu Vin?" Tanya Devano kesal
Devina hanya diam dengan wajah menunduk membuat Devano menghela nafasnya kasar lalu menarik dagu Devina agar menatapnya.
"Cuman itu yang kamu fikirin? Apa kamu pernah mikirin rasa cemas aku? Apa kamu malah nganggap rasa sayang ini berlebihan?" Tanya Devano dengan raut wajah terluka
Sekali lagi Devina diam dengan mata berkaca-kaca, tidak pernah sekali pun Devano mengatakan hal seperti ini padanya.
"Kamu maunya aku cuek? Kamu mau aku gak peduli dan diemin kamu?" Tanya Devano yang langsung dijawab dengan gelengan oleh Devina
Melepaskan tangannya Devano berjalan menjauh dan menghela nafasnya kasar, dia sudah kecewa sekali sekarang.
"Terus kenapa Devina?! Kenapa kamu nyembunyiin hal kaya gitu dari aku? Aku sama Mommy dan Daddy jagaiin kamu ngelindungin kamu, tapi kamu malah kayak gini?" Kata Devano
"Aku gak suka Vin! Aku gak suka kalau ada yang bicara buruk tentang kamu apalagi ngatain kamu! Kenapa kamu malah kayak gini? Kamu mau di remehin terus kayak gitu? Kamu mau diem aja meski direndahin kayak gitu?" Tanya Devano marah
Devina hanya bisa diam, dia tidak bisa mengatakan apapun karena menahan tangis juga sesak di dadanya.
"Aku yang gak terima Devina! Gak boleh ada yang memperlakukan kembaran aku kayak gitu!" Kata Devano dengan wajah memerah
Mengetahui fakta Devina diperlakukan dengan buruk apalagi kejadian di kamar mandi yang tadi diceritakan teman Devina semakin membuat suasana hati Devano memburuk.
Merasa kalau dia tidak bisa menahan emosinya lagi Devano berjalan keluar kamar dan mengabaikan suara Devina yang memanggilnya dengan pelan, dia yakin Devina akan menangis.
Tapi, Devano akan pergi sebentar untuk menenangkan dirinya.
Dia tidak mau emosinya semakin membuat Devano tidak bisa mengendalikan diri dan bicara dengan suara tingga pada kembarannya.
Sebentar saja Devano akan memberikan jarak agar Devina mengerti.
¤¤¤
"Sstt udah Vin"
Sejak tadi Ziko berusaha menenangkan Devina yang menangis dalam pelukannya, sebelumnya Devina menelpon dengan isak tangis dan meminta dia untuk datang ke rumahnya. Tentu saja Ziko langsung bergegas karena merasa cemas dengan keadaan Devina dan ketika bertemu Fahisa orang tuanya itu mengatakan kalau Devina sedang bertengkar dengan Devano.
Sungguh Ziko tidak menyangka kalau Devina akan sampai sesedih ini, apa dia dan Devano bertengka hebat?
Belum ada sepatah katapun yang Devina keluarkan sejak tadi dia hanya menangis dalam pelukannya. Melihat hal itu Ziko juga merasa sedih dia berusaha menghubungi Devano, tapi tidak aktif.
"Ziko.. Vano... Vano marah... dia.. marah... sama aku." Isak Devina yang sudah mulai bicara
Ziko mengusap punggung Devina dengan sayang dan berusaha menenangkannya.
"Ssst enggak Vin udah jangan nangis ya? Kamu kan tau Vano nanti dia juga gak marah lagi." Kata Ziko
"Tapi... Vano.. Vano marah banget." Kata Devina
"Memang ada masalah apa sama Vano hmm?" Tanya Ziko
Devina melepasan pelukannya dan menghapus air matanya dengan kasar lalu menunjukkan ponselnya dimana ada rentetan pesan dari Yuna disana. Rahang Ziko juga ikut mengeras membacanya, pantas saja Devano marah bahkan Ziko juga sama.
"Kenapa gak cerita?" Tanya Ziko
Dia juga ingin marah, tapi Devina yang menangis membuat Ziko mengurungkan niatnya.
"Vano marah." Cicit Devina
Menghela nafasnya pelan Ziko menghapus air mata Devina dengan penuh kelembutan.
"Udah jangan nangis nanti Vano gak bakal marah lagi kalau dia pulang, mungkin dia lagi mau nenangin diri." Kata Ziko
Devina hanya mengangguk singkat dan kembali memeluk Ziko masih dengan isakan yang sudah tidak disertai air mata.
Devina takut kalau Devano masih marah ketika dia pulang nanti.
¤¤¤
"Vano mau kemana?"
Begitu kembarannya kembali ketika malam Devina langsung mengikutinya hingga ke kamar, tapi Devina terkejut juga takut ketika Devano mengambil tasnya dan berjalan ke lemari. Pria itu memasukkan baju ke dalam sana membuat Devina semakin panik dan berjalan mendekat sambil terus bertanya.
Tidak ada jawaban bahkan setiap kali Devina menyentuh lengannya Devano langsung melepaskannya dengan lembut. Mata Devina sudah berkaca-kaca hanya saja Devano tidak mau menjawab.
Setelah pria itu membawa beberapa buku serta laptop miliknya Devano berjalan keluar tanpa mengatakan apapun membuat Devina langsung mengejarnya. Sampai dibawah Fahisa dan Daffa langsung menghampiri mereka apalagi melihat Devano yang membawa tas.
"Mom Dad aku akan nginap di rumah teman." Kata Devano singkat
"Vano jangann"
Devano seolah tidak mendengar Devina dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa menunggu jawaban dari orang tuanya.
"Vanoo"
Devina menangis, tidak pernah sekali pun Devano sampai ingin menginap karena bertengkar dengannya.
"Vano di rumah aja sayang." Kata Fahisa
Menghentikan langkahnya Devano menatap orang tuanya sebentar dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Devano! Tidak dengar kata Mommy?"
Devano tidak peduli dia tetap pergi bahkan meski Devina berusaha menghentikannya.
Dia akan pergi ke rumah Alex malam ini dan menginap disana.
Dia akan memberi jarak pada Devina agar kembarannya itu mengerti.
¤¤¤
Siapa yang kangen aku update banyak😋
Nih pagi-pagi udah aku kasih dua, mau nambah gakk?