My Possessive Twins

My Possessive Twins
46 : Lari Pagi



Melakukan lari pagi bersama Devano sepertinya akan menjadi kebiasaan baru bagi Devina setiap akhir pekan. Sebelumnya Devano memang sering mengajak dia kalau akhir pekan, tapi Devina selalu menolak dan mengatakan kalau dia malas. Ternyata tidak terlalu membosankan seperti yang pernah dia bayangkan.


Setiap akhir pekan taman sangat ramai entah ketika pagi atau sore hari dan Devina suka ketika dia bersama kembarannya duduk manis diatas rumput seusai lari pagi. Sebenarnya Devina lebih dulu beristirahat dan membiarkan kembarannya melakukan lari pagi lebih lama, kakinya pegal.


Selagi menunggu kembarannya Devina duduk sendirian sambil memegang botol minumnya dan memainkan ponselnya, menunggu balasan dari teman-temannya. Rencananya malam ini teman-temannya ingin menginap di rumah dan pasti akan sangat menyenangkan.


Mona : Bisa kok bebb, tapi gw sore kesananya


Cessa : Jadi dongg nanti gw juga kesananya sore


Nayla : Me tooo


Tersenyum senang Devina langsung memberikan balasan kalau dia akan pergi ke rumah Kakaknya, jadi tidak masalah kalau mereka datang ketika sore. Setelah mengirimkan balasan Devina memeasukkan ponselnya ke saku treining dan tak lama setelahnya seseorang menepuk bahunya, tentu saja Devano.


Dia kelihatan seksi sekali dengan rambut berantakan serta keringat yang bercucuran dan jangan lupakan kalau Devano memakai kaos pendek yang membuat tubuh kekarnya terlihat jelas.


"Sini duduk dulu minum." Kata Devina sambil menepuk tempat disampingnya


Tanpa banyak bicara Devano menurut dan meminum air putih yang diberikan Devina hingga habis tak tersisa.


"Jadi kan kita ke tempat Kak Ara?" Tanya Devina dengan semangat


Devano menatapnya sambil tersenyum lalu menganggukkan kepalanya singkat membuat Devina tersenyum senang.


"Gak sabar ketemu Kak Ara." Kata Devina


Melihat hal itu Devano ikut merasa senang.


"Yuk pulang"


Saat berdiri Devano menatap kembarannya yang masih setia duduk dan malah menatapnya dengan senyuman manis. Sesaat setelahnya Devina merentangkan kedua tangannya membuat Devano menggelengkan kepalanya pelan, dia tau apa artinya.


"Gendong Vannn"


Menunjukkan cengirannya Devano mengatakan hal yang membuat kembaranya mengerucutkan bibir karena kesal.


"Berat"


"Ihh Vanoo gendong sebentar aja." Kata Devina manja


Tertawa kecil akhirnya Devano membungkuk dan membuat Devina tersenyum senang lalu melingkarkan tangannya di leher Devano. Sejak kecil Devina sering sekali meminta untuk digendong dibelakang oleh kembarannya dan entah kenapa sekarang dia mau merasakannya lagi.


Sepanjang perjalanan ada banyak pasang mata yang menatap keduanya mungkin merasa aneh, tapi Devina tidak peduli dia hanya mau merasakan hal yang sama seperti ketika dia masih kecil dulu.


"Kamu jangan sering makan tengah malam deh Vin." Kata Devano tiba-tiba


"Kenapa? Aku sering lapar kalau malam." Kata Devina


Lalu jawaban yang diberikan kembarannya membuat Devina berdecak kesal dan mencubit pipinya dengan kuat.


"Kamu jadi berat"


"Nyebelin bangett." Kata Devina kesal


Tertawa kecil Devano sangat suka mengganggu Devina yang mudah merajuk.


"Bercanda Vin aku malah suka kalau badan kamu berisi apalagi kalau pipinya tembem." Kata Devano


"Kenapa kok suka? Aku makin cantik ya?" Tanya Devina


Devano hanya tertawa kecil menanggapinya dan terus melangkahkan kakinya menuju rumah yang letaknya lumayan jauh dari taman.


"Vano"


"Hmm"


"Nanti malam teman-teman aku mau nginep di rumah." Kata Devina


"Hmm terus?"


"Terus kami mau keluar nanti malam, boleh ya?" Pinta Devina dengan sedikit keraguan


"Asal diantar Pak Hadi atau aku dan tidak boleh pulang lebih dari jam sembilan." Kata Devano membuat senyum manis Devina mengembang dengan sempurna


"Kamu sama Adara gimana Van?" Tanya Devina


"Gimana apanya?" Tanya Devano dengan alis bertaut


"Hubungannya, kalian pacaran?" Tanya Devina penasaran


"Belum"


"Ihh kok belum kamu jangan kayak gitu Vano pasti dia bingung karena kamu gantungin terus, harusnya kalau kamu suka kamu bilang sama dia jangan kasih harapan terus." Omel Devina membuat Devano tertawa kecil mendengarnya


Dia bukan tidak mau, tapi Devano merasa bingung harus mengungkapkan dengan cara seperti apa dia tidak berpengalaman dan kalau mau bertanya dia malas sekali karena yakin akan diledek habis-habisan nantinya.


"Cerewet"


"Aku serius tau Vano! Nanti kalau kamu gak mau kasih kepastian dia bakal cari yang lain cewek itu harus dikasih kepastian jangan digantung dan dikasih harapan terus." Kata Devina kesal


"Hmm"


"Ihh kok gitu doang?!" Kata Devina kesal


"Terus gimana?" Tanya Devano


"Cepetan kamu nyataiin perasaan kamu ke Adara." Kata Devina


"Caranya?"


"Ya tinggal bilang Adara aku suka sama kamu, mau gak jadi pacar aku? Gitu aja udah selesai." Kata Devina


"Susah Vin"


"Ihh gak susah orang cuman kayak gitu doang." Kata Devina


"Yaudah kamu aja yang bilang sana." Kata Devano sewot


Kembarannya itu tidak tau kalau Devano sangat-sangat sulit untuk mengatakan hal itu kepada Adara apagi kalau gadisnya itu tengah menatap matanya.


Dia bisa gila.


"Susah Vin aku bingung mau ngomong apa kalau lagi sama Dara." Kata Devano jujur


Bergumam pelan Devina perlahan mulai mengerti memang seperti itu dulu Ziko juga sama, dia pernah bilang pada Devina.


'Aku suka kehabisan kata-kata kalau lagi sama kamu Vin rasanya aku cuman mau lihat kamu dan gak mau yang lainnya'


Astaga kalau mengingat hal itu wajah Devina merona, dia tidak menyangka kalau kekasihnya romantis.


"Kalau gitu nanti kamu kursus sama aku atau kamu tanya aja sama Kak Ara." Kata Devina


"Hmm nanti aku tanya"


Tersenyum senang Devina menepuk pelan pundak kembarannya dan meminta untuk diturunkan. Kasihan Devano kalau harus menggendongnya sampai rumah.


Setelah turun Devina langsung mengamit tangan kembarannya dan bersama-sama mereka berjalan pulang sambil mengobrol. Setiap bersama Devina selalu ada obrolan yang menyenangkan dan membuat Devano tidak pernah merasa bosan.


Devina memang selalu bisa membuatnya bahagia tanpa melakukan apapun.


Hanya melihat senyum dan keceriaannya saja dia sudah sangat bahagia.


¤¤¤


Kedatangan kedua adiknya ke rumah membuat Sahara merasa sangat senang bahkan dia langsung sibuk menyiapkan makanan untuk adik-adiknya, jarang sekali mereka datang. Saat ini keduanya berada di ruang tamu bersama Arjuna dan si kecil Airlangga yang tengah berjalan dengan berpegangan pada meja di ruang tamu.


Seingatnya ini pertama kali kedua adiknya berkunjung hanya berdua tanpa kedua orang tuanya karena biasanya Sahara yang mengunjungi mereka atau salah satu adiknya yang datang ke butik untuk menemuinya. Sekarang kedua adiknya datang berdua dan mengatakan kalau dia merindukan Sahara hingga membuat Kakaknya itu tersenyum haru.


"Gimana sekolah kalian?" Tanya Arjuna pada kedua adik iparnya


"Baik Kak sebentar lagi kami ulangan semester dan kalau sudah masuk semester dua pasti bakal sibuk banget sama yang namanya ujian." Kata Devina yang disetujui dengan kembarannya


"Kalian ada les?" Tanya Arjuna lagi


"Tidak, sebenarnya Mommy sama Daddu sudah menyuruh kami untuk ikut les tambahan, tapi kami menolak." Kata Devano


Mengangguk faham Arjuna kembali memperhatikan anaknya yang sekarang sedang berjalan menghampiri adik iparnya.


"Hay Angga sayang." Kata Devina senang


"Dia tidak mau diam sekarang." Kata Arjuna


"Seperti Kak Ara." Kata Devano membuat Arjuna tertawa kecil mendengarnya


Dan ternyata Sahara yang baru saja datang sudah mendengarnya hingga dia langsung bertanya dengan kesal.


"Kamu bilang apa Devano?" Tanya Sahara sambil duduk disamping sang suami


"Angga gak bisa diam kayak Kakak." Kata Devano membuat Sahara berdecak kesal dan menatapnya dengan sengit


Sesaat setelahnya deringan ponsel Arjuna membuat mereka langsung menatapnya hingga dia langsung pergi untuk mengangkat panggilan telponnya.


"Halo Papi"


Setelah suaminya menghilang dari pandangannya Sahara kembali menatap adik-adiknya yang sedang asik mengajak anaknya bicara, meskipun tau kalau Airlangga tidak bisa menjawab.


"Kak Ara"


"Hmm ada apa Vina?" Tanya Sahara penasaran


"Katanya Vano mau nanya sesuatu yang penting." Kata Devina membuat Devano menatapnya dengan tajam


"Tanya apa?" Kata Sahara dengan raut wajah penasaran


"Enggak ada Kak." Kata Devano singkat


"Ihh pasti ada, apa gak?!" Tanya Sahara galak


Tak kunjung bicara Devina akhirnya langsung mengatakan sesuatu yang membuat Devano menutup mulutnya dengan tangan, tapi terlambat Sahara sudah mendengarnya.


"Vano mau tanya cara nyataiin cinta"


Ya, Devina juga selalu tau cara membuatnya kesal.


Mendengar hal itu Sahara langsung menutup mulutnya dan menatap Devano dengan tidak percaya, sangat dramatis.


"Pasti ke cewek yang waktu itu ya?" Tebak Sahara


"Hmm"


Merasa tidak bisa mengelak Devano hanya berguman pelan sebagai jawaban.


"Jadi kalian masih belum pacaran?" Tanya Sahara yang kembali dijawab dengan gumaman oleh adiknya


Sebenarnya bukan hanya karena dia tidak tau cara mengungkapkan perasaannya, tapi Devano juga merasa kalau pacaran tidak terlalu penting juga.


Dia akan selalu ada untuk Adara dan perasaannya juga tulus, sangat tulus.


"Kamu suka dia Van?" Tanya Sahara memastikan


"Hmm suka"


"Kamu sayang dia?" Tanya Sahara lagi


"Sayang"


"Lebih sayang dia atau aku sama Vina?" Tanya Sahara lagi


Mendengar hal itu Devano menatap Kakaknya lalu tersenyum tipis.


"Aku sayang kalian dan Kak Ara gak bisa nanya hal kayak gitu karena aku gak bisa milih, sama kalau aku nanya siapa yang lebih Kak Ara sayang Kak Juna atau aku sama Vina?"


Sahara terdiam mendengarnya lalu tersenyum beberapa saat setelahnya.


"Kakak gak akan bisa milih salah satu diantaranya karena semua sama-sama berarti untuk Kakak, benar kan?"


Pantas saja Devano sering dibilang seperti Kakaknya.


¤¤¤


Aduhh lama yaa updatenya😂