
Malam ini Devina tengah bersiap untuk pergi ke pesta ulang tahun perusahaan keluarga Wijaya dan dia memilih dress berwarna putih di atas lutut dengan kalung pemberian Fahisa yang melingkar di lehernya serta rambut yang dia biarkan tergerai. Selain itu Devina juga memakai sepatu serta tas yang berwarna senada dengan dress yang dia kenakan, Devano tidak marah dengan apa yang dia kenakan.
Sebelumnya Devina sudah memberi tau Ziko kalau dia akan pergi bersama keluarganya dan pria itu hanya mengangguk lesu karena malam ini dia tidak bisa menelpon kekasihnya. Ada cukup banyak tamu yang datang dan pesta ini diadakan disalah satu hotel bintang lima, tapi yang membuat Devina tidak semangat adalah lebih banyak orang tua yang datang.
Sejak tadi dia hanya mengikuti Devano dan sampai sekarang Devina masih menunggu sampai Sahara datang karena Kakaknya itu tadi mengatakan kalau dia masih dalam perjalanan. Kedua orang tuanya sedang menyapa banyak tamu dan Devina bersama kembarannya sedang duduk sambil menikmati minuman yang ada.
"Bosan ya Van?" Kata Devina sambil mengerucutkan bibirnya kesal
"Hmm"
"Kak Ara kok belum datang ya?" Kata Devina lagi
"Masih dijalan mungkin." Kata Devano singkat
"Vano kira-kira lama gak ya?" Tanya Devina yang membuat kembarannya tertawa kecil
"Kita baru sampai setengah jam yang lalu Vin tentu saja masih lama." Kata Devano membuat bibir kembarannya mengerucut sebal
"Bosan bangettt." Keluh Devina
Orang-orang terlihat sibuk mengobrol, tapi anak kembar keluarga Wijaya hanya duduk diam sambil memperhatikan mereka semua. Sebenarnya ini bukan kali pertama mereka ikut acara seperti ini karena setiap tahun orang tuanya mengharuskan mereka berdua untuk ikut.
"Mau makan sesuatu?" Tanya Devano
Devina hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Matanya menjelajah ke segala penjuru meneliti tempat yang dijadikan pesta dekorasinya sangat indah dengan dipenuhi warna biru muda, tapi yang terbesit difikiran Devina sekarang hanya, apa ini tidak berlebihan?
Hanya ulang tahun perusahaan saja, tapi bisa dibilang cukup mewah dan Devina bertanya-tanya, berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk sewa ruangan, dekorasi, dan berbagai hidangan?
Saat tengah sibuk dengan fikirannya suara seseorang yang sangat dia kenal membuat Devina mendongak dan langsung tersenyum ketika melihat Kakaknya yang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Secara spontan Devina berdiri dan berlari ke arah Sahara lalu memeluknya dengan sayang, rindu sekali dengan Kakaknya yang cerewet.
"Kakak enggak ajak Angga?" Tanya Devina ketika pelukan mereka terlepas
Sahara menggelengkan kepalanya pelan dia sengaja tidak mengajak anaknya karena acara ini biasanya sampai malam sekali, jadi Airlangga ada bersama mertuanya.
"Mommy sama Daddy mana?" Tanya Sahara sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru
"Emm tadi lagi ngobrol sama orang-orang." Kata Devina
"Kakak sama Mas Juna mau cari Mommy sama Daddy, kamu mau ikut?" Tanya Sahara yang langsung dijawab dengan anggukan oleh adiknya
Melihat keduanya yang berjalan menjauh Devano langsung mengikuti langkah kaki mereka dan membuat Sahara melihatnya dengan senyuman manis.
"Ihh ganteng banget adik aku pakai jas." Kata Sahara membuat Devano tersenyum tipis menanggapinya
"Aku sama Vano kayak anak hilang dari tadi." Kata Devina
Mendengar hal itu Sahara tertawa kedua adiknya sedikit berbeda dengan Sahara yang malah senang ketika Daffa mengajaknya ke acara seperti ini karena ada banyak hidangan yang bisa dia makan, tapi adiknya berbeda mereka malah tidak suka.
Mata Sahara menangkap sosok kedua orang tuanya yang sedang mengobrol bersama beberapa rekan kerjanya dan suara lembutnya langsung membuat Daffa menoleh lalu tersenyum senang. Bersama kedua adiknya dan sang suami Sahara berjalan menghampiri orang tuanya lalu tersenyum pada beberapa rekan kerja Daffa.
"Ini Sahara? Ya ampun tidak terasa kalau dia sudah menikah padahal dulu masih sangat kecil dan sering datang ke kantormu Daf." Kata pria paruh baya itu sambil tertawa
Sahara hanya tersenyum menanggapinya, kalau dia tidak salah nama pria itu Andre yang dulu sering datang ke kantor Daddy nya.
"Ini anak kamu dengan Fahisa? Mereka sangat mirip dengan kalian berdua." Katanya lagi
"Ya mereka bertiga sudah sangat besar hingga aku dan Fahisa sering kesepian di rumah." Kata Daffa sambil tertawa kecil
"Kalau yang ini aku sangat tau, putra satu-satunya dari Abian Dirgantara." Katanya sambil menunjuk Arjuna
Arjuna tersenyum dan sedikit membungkuk lalu menyapanya, dia sering bertemu pria itu ketika sedang meeting dan pria itu cukup berpengarug serta sangat kaya.
"Kedua anak kalian sekolah dimana?" Tanya Andrea penasaran
"Mereka sekolah di SMA Kencana." Kata Fahisa membuat pria paruh baya itu tersenyum senang
"Anakku juga sekolah disana." Katanya dengan penuh semangat
"Benarkah Om? Siapa namanya?" Tanya Devina penasaran
"Harris"
Alis Devina bertaut ketika mendengar namanya, dia belum pernah mendengar namanya.
Tentu saja Devina tidak tau karena dia hanya mengenal orang-orang yang ada disekitar kelasnya saja.
"Kamu tidak kenal?" Tanya Andrea
Devina tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak kenal Om." Kata Devina
"Nanti Om kenalkan dia juga ikut, tapi sekarang entah lagi kemana." Kata Andrea
"Kamu tidak kenal Vano?" Tanya Daffa pada anak laki-lakinya
"Kenal dia temannya Erick, tapi beda kelas dengan Vano." Kata Devano
Setelah sedikit mengobrol masalah sekolah Devano mengajak kembarannya untuk menjauh karena ada beberapa orang lagi yang menghampiri kedua orang tuanya. Dengan tangan yang diamit oleh kembarannya Devina hanya menurut dan mengikuti langkah kaki Devano tadinya dia ingin bersama Sahara, tapi Kakaknya itu sedang bersama suaminya dan mengobrol bersama orang-orang juga.
Mendapat tempat untuk duduk Devano meminta kembarannya untuk diam disana selagi dia mengambil minuman untuk mereka. Sekali lagi Devina hanya mengangguk patuh lalu membuka ponselnya dan mengirim pesan pada sang kekasih.
^^^Zikoo bosann banget disinii^^^
^^^Disini orang tua semua aku gak ada teman cuman Vano ajaa^^^
^^^Mau pulangg, tapi acaranya masih lama :(^^^
Tidak butuh waktu lama bagi Devina untuk mendapatkan balasan, dia senang sekali karena Ziko sangat-sangat cepat membalas pesannya.
Kasiann
Tapi, bagus dong kalau gak ada anak mudanya jadi kamu aman
Devina tertawa kecil ketika membacanya, masih saja posesif dan dengan cepat Devina kembali mengetik balasan.
^^^Tadi ada teman Daddy kata dia anaknya juga satu sekolah sama kita^^^
^^^Namanya Harris kamu kenal gak?^^^
^^^Dia juga datang kesini, tapi aku belum ketemu sama orangnya^^^
Pesan itu sudah terbaca, tapi belum ada pertanda kalau Ziko sedang mengetik dan beberapa saat setelahnya pesan yang masuk membuat Devina menahan tawanya.
Dia temen sekalasnya Bastian
Kamu gak usah deket-deket sama dia Vin!
Jangan ya Vin!
Kamu sama Vano aja jangan jauh-jauh dari Vano!
Padahal Devina hanya bertanya tanpa ada niat ingin mengajaknya berkenalan dan dia juga hanya penasaran dengan wajahnya saja. Hanya balasan singkat yang Devina berikan karena beberapa saat kemudian Devano datang dan memberikan minuman untuknya.
Ikut duduk disampingnya Devano menyampirkan helaian rambut Devina ke belakang kupingnya dan membuat gadis itu tersenyum manis.
"Makasih Vanoo"
Devano tersenyum dan bergumam pelan sebagai tanggapan.
"Vin"
"Emm kenapa?" Tanya Devina
"Kayaknya aku bakal izin tiga hari dari sekolah." Kata Devano membuat kembarannya langsung menatapnya dengan mata membulat
"Kenapaa?" Tanya Devina
"Daddy ajak aku untuk temani dia ke Bali katanya ada beberapa hal yang harus dia urus disana." Kata Devano
"Tapi, kenapa ngajak kamuu? Kenapa gak yang lain? Karyawan Daddy kan banyak." Keluh Devina
Membayangkan akan berjauhan dengan Devano saja sudah membuatnya merasa sedih, dia tidak pernah berjauhan lebih dari satu hari.
"Daddy bilang ini pribadi jadi dia gak mungkin kesana sama karyawannya." Kata Devano
"Nanti aku sendirian dong?" Kata Devina sedih
"Ada Mommy." Kata Devano
"Nanti aku sekolahnya gimana?" Tanya Devina lagi
"Diantar Pak Hadi atau sama Ziko." Kata Devano membuat Devina mengerucutkan bibirnya
"Kapan berangkatnya?" Tanya Devina
"Daddy belum bilang lagi." Kata Devano
Mengangguk faham wajah Devina terlihat sangat tidak bersemangat membuat Devano tersenyum tipis dan mengusap pipinya dengan lembut.
"Sebentar doang." Kata Devano
"Nanti aku gangguin siapa?" Tanya Devina membuat Devano tertawa mendengarnya
"Jadi kamu sedih karena gak ada yang bisa digangguin?" Tanya Devano
Devina mengangguk masih dengan wajah lesunya.
"Libur dulu." Kekeh Devano
"Ihh nyebelin." Kata Devina kesal
Lalu keduanya terdiam sebenarnya Devano juga tidak mengerti kenapa Daffa harus mengajaknya?
Tapi, dia enggan untuk bertanya karena dia tau Daddy nya pasti punya alasan untuk itu semua.
"Tapi, semisal aku memang ikut Daddy kamu tetap gak boleh melanggar peraturan yang udah dibuat! Aku bakal tetap awasin kamu Vin." Kata Devano
"Iyaaaa"
Tersenyum manis Devano mengusap puncak kepala Devina dengan sayang lalu kembali meminum minuman yang tadi dia ambil.
Untuk sesaat Devina hanya diam, tapi setelahnya dia berdiri dan mengatakan pada Devano kalau dia ingin ke kamar mandi.
"Mau aku temani?" Tanya Devano
"Ihh ngapainn?" Tanya Devina sambil menggelengkan kepalanya pelan
Menitip tas pada kembarannya Devina pergi ke kamar mandi yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruangan dimana pesta ini berlangsung. Sekitar lima menit berada di kamar mandi Devina keluar dari salah satu bilik dan menatap pantulan dirinya dicermin.
Pipinya chubby sekali pantas saja Devano dan Ziko suka mencubitnya.
Tersenyum tipis Devina melangkahkan kakinya keluar dan tanpa dia duga seseorang menabrak bahunya ketika dia sedang berjalan.
"Ehh maaf"
Devina mendongak dan mengangguk singkat, tapi orang yang menabraknya itu malah diam sambil menatapnya.
Terpaku pada gadis dengan dress putih dihadapannya.
"Maaf aku tidak sengaja." Kata orang itu lagi
"Emm tidak papa kalau gitu aku pergi dulu." Kata Devina
Belum sempat melangkah tangan Devina ditahan dan membuat gadis itu tersentak lalu melepaskan tangannya membuat orang itu tersenyum canggung.
Pria dihadapannya itu terlihat masih seumuran dengannya.
"Kamu mau masuk ke sana?" Tanya pria itu yang dijawab dengan anggukan oleh Devina
"Aku juga kalau gitu bareng aja." Katanya
Devina hanya mengangguk singkat lalu berjalan beriringan dengan pria disampingnya yang terus menatap ke arahnya dan membuat Devina merasa sedikit risih.
"Devina kan?" Katanya membuat Devina terkejut dan langsung menatapnya
"Kamu kenal aku?" Tanya Devina
"Harris, kita satu sekolah, tapi kamu gak kenal aku." Kata Harris sambil tersenyum manis
Devina mengerjapkan matanya lalu mengangguk singkat dan mengalihkan pandangannya, kalau Ziko tau dia pasti marah.
"Aku temannya Erick kamu kenal dia kan?" Kata Harris lagi
"Emm dia temannya Vano." Kata Devina
Saat sudah sampai di dalam Devina menoleh dan menatap Harris sebentar lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis.
"Aku duluan"
Tanpa menunggu jawaban Devina bergegeas menghampiri Devano dan meninggalkan Harris yang menatapnya sambil tersenyum.
Benar Devina sangat cantik kalau dilihat secara langsung.
Dia hanya pernah mendengarnya dari teman-teman dan melihat foto-fotonya di akun media sosial.
Tapi, melihatnya sekarang membuat Harris langsung terpaku dan terpesona dengan kecantikannya.
¤¤¤
Hayolooo ada tokoh baruuuu😋