My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (24)



"Sini biar aku yang bawa Mom"


Fahisa tidak memberikan penolakan ketika Devano mengambil alih tas yang dia bawa dan dengan senyuman Fahisa merangkul sayang lengan Adara sambil berjalan keluar rumah. Seperti yang sudah di janjikan mereka akan pergi ke Villa bersama meskipun Fahisa sudah mengatakan agar tidak perlu pergi, tapi Devina terus merengek dan mengatakan kalau dia ingin berlibur bersama meskipun hanya dua hari saja.


Tentu saja Fahisa tidak tega menolak, jadi dia akhirnya setuju padahal Fahisa sedikit lelah dan sakit kepala, tapi tidak masalah nanti akan membaik setelah istirahat. Mereka masih akan menunggu Devina, tapi ternyata tidak butuh waktu lama karena bersamaan dengan keduanya yang keluar dari rumah mobil Ziko datang.


Anak perempuannya keluar begitu pintu terbuka dan Devina dengan penuh semangat berlari menghampiri mereka.


"Mommyyyy"


Fahisa tertawa sambil membalas pelukannya.


"Hai Adaraaa"


Devina menyapa calon saudara iparnya yang berdiri tepat di samping Fahisa lalu setelahnya dia menghampiri Devano dan memeluknya.


"Vanoo kangenn"


Tersenyum manis Devano membalas pelukan itu dan mencium puncak kepala Devina dengan sayang.


"Hey kenapa tidak peluk Daddy?" Kata Daffa membuat Devina melepaskan pelukan Devano lalu berlari menghampirinya


"Daddyyy"


Daffa tertawa kecil sambil membalas pelukan anaknya.


"Kak Ara manaaa?" Tanya Devina


"Kak Ara berangkat duluan sayang karena dia dan Arjuna ada sedikit urusan." Kata Fanisa


Devina langsung mengerucutkan bibirnya sebal.


"Kangen Kak Araaa." Rengek Devina


"Vina nanti kan ketemu di sana." Kata Devano


Menghela nafasnya pelan Devina hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Adara sama Vanoo ikut Vina aja sama Ziko." Kata Devina dengan penuh semangat


"Aku sama Mommy dan Daddy Vin." Kata Devano membuat raut wajah Devina berubah


"Yaudah enggak Papa Vano sama Adara ikut Vina sama Ziko nanti biar Pak Hadi yang bawa mobil Daddy." Kata Daffa yang tidak pernah tega melihat raut wajah sedih anaknya


"Tuh bolehhh"


Devano tersenyum lalu menatap Adara yang hanya mengangguk singkat.


"Yaudah"


Tersenyum senang Devina memeluk lagi kedua orang tuanya sebelum masuk ke dalam mobil bersama dengan yang lainnya, dia duduk di belakang bersama dengan Adara dan Devano duduk di depan.


Tapi, Devano senang ada di dalam satu mobil dengan kembarannya mereka sudah jarang sekali bertemu hanya selalu berkirim pesan atau sesekali telpon saja.


°°°°


Devano melangkahkan kakinya ke kamar yang di tempat Adara dan mengetuk pelan pintunya tak butuh lama pintu terbuka membuat Devano tersenyum senang. Sebelumnya mereka sudah istirahat dan sekarang Devano mengajak Adara untuk berjalan-jalan di sekitar Villa yang langsung disetujui oleh gadisnya.


Tangan Devano dengan sayang menggenggam tangan Adara yang terasa hangat dan begitu pas di genggamannya, sebelum pergi mereka mencari Daffa untuk meminta izin. Ternyata Daffa ada di ruang tamu sambil membaca sesuatu di ponselnya dan Devano langsung mendekat untuk meminta izin.


"Dad"


Daffa mendongak dan menatap anak laki-lakinya dengan alis bertaut.


"Iya Vano ada apa? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Daffa


"Vano sama Adara izin jalan-jalan sekitar sini ya? Janji enggak lama." Kata Devano


Daffa melirik jam di tangannya lalu mengangguk singkat.


"Jangan jauh-jauh dan kembali sebelum gelap." Kata Daffa


"Siap Dad"


Setelah mendapat izin dari Daddy nya tanpa menunggu lagi Devano mengajak Adara untuk keluar. Mereka tidak akan pergi jauh hanya ke taman kecil yang letaknya tak jauh dari Villa mereka.


Adara merasa sangat senang bisa menghabiskan banyak waktu dengan Devano apalagi pria itu selalu membawa Adara di setiap acara penting keluarganya.


Devano benar-benar menunjukkan bahwa Adara adalah pasangan hidupnya yang harus selalu ada bersamanya.


Villa ini merupakan Villa yang sama dengan Villa ketika Devano memberikan kejutan untuk Adara bersama dengan yang lainnya dan suasananya sangat menenangkan udaranya juga segar.


"Duduk sana yuk Ra"


Adara hanya mengangguk lalu mengikuti Devano dan duduk di atas bangku yang ada di taman.


"Van"


"Hm"


"Aku takut Mama kamu gak suka hadiah yang aku kasih." Kata Adara


"Itu cuman hadiah sederhana Van." Kata Adara


"Mommy suka kok kamu belum tau aja Mommy kalau kasih hadiah untuk Daddy waktu ulang tahun." Kata Devano


"Memang apa?" Tanya Adara


"Paling sering kasih dasi atau jam tangan, tapi pernah Mommy cuman buat gift box untuk Daddy yang isinya surat sama foto-foto mereka plus anak-anaknya." Kata Devano


"Daddy kamu suka?" Tanya Adara


"Suka Daddy bucin banget sama Mommy semua yang Mommy kasih dia suka dan paling nurut juga sama Mommy, selain itu Daddy udah punya banyak barang, jadi dia lebih suka hadiah kayak gitu Ra." Kata Devano


"Kalau kamu lebih suka hadiah yang gimana?" Tanya Adara


"Aku?"


"Iya aku mau tau biar nanti waktu kamu ulang tahun aku kasih hal itu ke kamu." Kata Adara


Devano tersenyum dia mendekat dan berbisik pelan di telinga Adara lalu membawa gadis itu ke dalam dekapannya.


"Kamu hadiah terbaik dalam hidup aku Ra kehadiran kamu aja udah cukup untuk aku"


Sudah cukup Devano hentikan Adara tidak siap dengan detak jantungnya yang menggila apalagi Devano memeluknya dengan sangat erat.


"Van lepas nanti ada yang lihat di kira kita mesum lagi." Kata Adara


"Gak papa biar di nikahin langsung." Kekeh Devano membuat Adara mencubit pelan lengannya kesal


"Cium sekalian deh ya biar ada yang lihat terus kasih tau ke Daddy dan buat Daddy langsung nikahin kita"


Adara melotot dan memukul pelan lengan Devano yang malah membuat pria itu tertawa senang lalu mengacak gemas rambutnya.


"Gemes banget kalau udah melotot gitu"


Rambut Adara yang di acak, tapi hatinya yang ikut berantakan.


"Adara"


"Hm"


"Aku gak sabar mau lihat kamu pakai gaun pengantin pasti cantik." Kata Devano sambil tersenyum


"Masih lama"


"Cepetan aja yuk jangan tiga bulan lagi, besok aja gimana?" Kata Devano


"Ngaco"


"Mau pasang cincin pernikahan di jari manis kamu Ra." Kata Devano


Oh tidak Adara tidak kuat dengan tatapan mata Devano.


"Mau lihat kamu sebelum tidur dan ketika aku bangun"


Tatapannya benar-benar membuat Adara sangat lemah.


"Mau bisa peluk dan cium kamu terus tanpa di marah Daddy"


Tidak Adara benar-benar lemah melihat senyuman yang sekarang Devano perlihatkan padanya.


"Banyak banget Ra yang aku mau lakuin setelah nikah sama kamu." Kata Devano


Devano masih tersenyum dia menyampirkan rambut Adara kebelakang telinga lalu mengusap pipinya dengan lembut.


"Mau buat baby yang lucu-lucu sana Adara"


Adara langsung melotot dan mencubit pelan lengannya yang malah membuat Devano tertawa.


"Nanti kalau udah nikah langsung aku ajak bikin baby malamnya"


"Van diem gak?" Kata Adara dengan wajah memerah


"Aku mau punya banyak baby deh Ra biar asik hehe asik buatnya"


"Tau ah sebel ketularan siapa coba?" Kata Adara kesal


"Kamu gak tau sih aku iri tau waktu itu masuk kamar Vina pasti dia di rumah ehh anak itu lagi asik ciuman sama Ziko"


Devano memang merasa sangat sedih, tidak bukan sedih karena melihat Devina berubah begitu.


Dia sedih karena mau juga, tapi bisa di hapus dari Kartu keluarga sama Daddy nya nanti kalau Devano sampai melakukan hal itu pada Adara.


°°°°


Aku updateee🥰


Permisi cantiknya Vano malu lewat duluu😍