My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (65)



"Vina jangan kuliah dulu ya?"


Perkataan dari Daffa itu membuat Devina langsung memasang wajah cemberut karena dia sudah bersiap-siap sejak pagi untuk perkuliahan jam delapan, tapi Daddy nya malah meminta dia untuk libur dulu. Sebenarnya Devina masih agak ragu karena jujur dia masih sedikit tidak tenang, tapi kalau dia tidak melawannya rasa takut itu akan selalu ada.


Sungguh Devina ingin menghilangkannya, dia tidak mau terus terbelenggu begini dan salah satu cara adalah memberanikan diri. Selagi dia tidak pergi ke gerbang belakang kampus lagi maka semuanya akan aman, kenangan itu tidak akan datang lagi.


"Daddy..."


"Vina besok saja ke kampusnya ya?" Kata Daffa


"Tapi, Vina sudah siap Daddy." Kata Devina


Saat ini Daffa memang berada di kamar anaknya tadinya berniat mengecek keadaan Devina, tapi ternyata anaknya itu sudah bersiap untuk pergi ke kampus.


"Vina..."


"Daddy boleh ya? Vina janji bakal telpon kalau ada apa-apa." Kata Devina


Melihat anaknya yang menatap dengan penuh harap membuat Daffa tidak tega menolaknya.


"Iya yaudah boleh, tapi langsung telpon Daddy atau Vano kalau ada apa-apa ya?" Kata Daffa


"Iya Daddy." Kata Devina dengan senyuman manisnya


Berjalan mendekat Devina memeluk Daddy nya dengan sayang membuat Daffa tersenyum dan membalas pelukan anaknya.


"Daddy"


"Hmm"


"Vina sayang sekali sama Daddy." Kata Devina


"Daddy juga sayang." Kata Daffa sambil mencium puncak kepala Devina dengan sayang


Melepaskan pelukannya Devina tersenyum lalu memeluk lengan Daddy nya dan mengajak untuk turun karena sebentar lagi mereka harus sarapan. Berjalan beriringan Devina tersenyum ketika melihat kembarannya yang sudah duduk disana sambil memainkam ponsel.


Melepaskan tangan Daddy nya dengan berlari kecil Devina menghampiri kembarannya lalu memeluknya dari belakang dan mencium pipinya. Awalnya Devano terkejut bukan main, tapi ketika melihat kembarannya dia langsung tersenyum.


"Kamu mau kuliah?" Tanya Devano ketika melihat kembarannya sudah siap dengan pakaian yang rapih


"Iyaa"


"Beneran? Kamu udah gak papa memangnya?" Tanya Devano


"Em Vina udah gak papa." Kata Devina dengan senyuman manisnya


Mendudukkan dirinya disamping kembarannya Devina menatapnya dengan antusias membuat Devano ikut tersenyum sambil mengacak pelan rambutnya.


"Mau aku anterin atau..."


"Ziko mau jemput aku." Kata Devina senang


Mengangguk faham Devano menatap kembarannya yang sekarang terlihat senang, dia sangat cemas kemarin, tapi lega rasanya melihat Devina sudah baikan.


"Ehh Vina udah turun, kamu mau kuliah?" Tanya Fahisa


"Iya Mommy hari ini cuman ada dua mata kuliah nanti siang udah pulang." Kata Devina


"Hm pulangnya nanti mau ikut Mommy ke rumah Kak Ara sayang?" Tanya Fahisa membuat senyum manis Devina semakin merasa senang


"Mauuu"


"Kalau gitu nanti Vina chat Mommy ya? Nanti Mommy yang jemput diantar Pak Hadi." Kata Fahisa


"Iya Mom"


Setelah percakapan singkat itu Fahisa menata meja makan bersama Bi Santi dan menikmati sarapan bersama-sama. Pagi ini Fahisa memasak omlette telur dengan sosis kesukaan Devano karena kalau Fahisa sudah memasak itu Devano akan makan dengan sangat lahap.


Seperti yang terjadi sekarang Devano bahkan mengambil banyak sekali omlette yang Fahisa masak hingga Daffa menggelengkan kepala pelan ketika melihatnya.


"Vano makannya pelan-pelan." Kata Daffa ketika melihat anaknya itu makan dengan sangat lahap


Mendengar hal itu Devano mendongak lalu tersenyum dan menuruti perkataan Daddy nya dengan makan perlahan.


"Ihh Vano rakuss." Kata Devina


Devina hanya tersenyum mendengarnya terkadang Devano terlihat sangat menggemaskan meskipun dia tidak melakukan apapun.


Menghabiskan sarapan bersama-sama sekitar pukul setengah delapan mereka selesai dan bersamaan dengan itu ponsel Devina berdering. Ternyata Ziko sudah sampai dan Devina langsung berpamitan pada kedua orang tuanya juga Devano.


"Hati-hati sayang kalau ada apa-apa langsung telpon." Kata Fahisa


Devina mengangguk sebagai jawaban lalu mencium pipi mereka satu per satu dan berlari kecil keluar rumah. Melihat mobil Ziko di luar gerbang Devina tersenyum dan langsung masuk ke dalam lalu menyapa kekasihnya.


"Selamat pagi Ziko"


Tak langsung menjawab sapaan Ziko mendekat untuk memberikan pelukan pada Devina.


"Selamat pagi juga sayang." Bisik Devano


Sambil melepaskan pelukannya Ziko memakaikan sabuk pengaman untuk kekasihnya sebelum akhirnya dia melajukan mobilnya ke kampus. Mereka memiliki jadwal yang hampir sama, bedanya Ziko mulai perkuliahan setengah sembilan dan Devina jam delapan.


Di perjalanan Devina mengeluarkan ponsel miliknya untuk menghubungi Intan yang tadi pagi mengirim pesan untuk menanyakan keadaannya.


Vin lo ke kampus enggak?


Kalau belum baikan istirahat aja dulu


^^^Aku ke kampus Intan ini udah di jalan^^^


^^^Aku udah baikan kok^^^


Setelah membalas pesan dari teman baiknya Devina menoleh dan menatap Ziko yang terlihat begitu fokus dengan jalanan di hadapannya. Senyum manis Devina mengembang, entah kenapa dia merasa sangat senang setiap kali melihat Ziko.


Selama ini Devina tidak menyangka kalau dia akan jatuh cinta pada Ziko yang dulu merupakan sahabat baiknya. Mengingat bagaimana Ziko memperlakukannya seperti seorang yang spesial bahkan ketika mereka belum menjadi sepasang kekasih membuat Devina merasa begitu bahagia dan beruntung.


'*Vin pakai jaket aku nih dingin cuacanya'


'Kamu harus makan Vin nanti sakit gimana?'


'Alex? Dia pasti suka jugalah sama kamu gak mungkin gak ada yang gak suka sama cewek secantik kamu'


'Jangan cemberut gitu ah sini bilang sama aku apa yang bisa bikin kamu senang lagi*?'


Entah bagaimana dia bisa sangat tidak peka dulu padahal Ziko selalu menunjukkan perhatian padanya pantas saja dia sering dibilang gak peka dan kasih harapan palsu pada Ziko. Padahal kalau diingat Ziko sudah menunjukkan rasa cinta itu secara terang-terangan, tapi Devina tidak sadar.


Mungkin memang harus begini cara mereka untuk disatukan.


"Zikoo"


"Hmm"


"Kamu gak masalah jemput aku dulu? Bukannya rumah kamu jauh." Kata Devina


"Hah? Enggak lah Vin aku malah senang tau kalau berangkat bareng kamu, jadi makin semangat." Kata Ziko


"Kenapa semangat?" Tanya Devina penasaran


Tersenyum manis Ziko menoleh sebentar lalu meraih tangan Devina dan dia genggam.


Kemudian mengatakan hal yang membuat Devina tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum.


"Karena kamu bikin aku semangat untuk cepat kuliah terus wisuda lalu kerja dan nikahin kamu"


Tanpa Ziko duga Devina menarik pelan tangannya dan mencium punggung tangan kekasihnya.


"Vin kamu ngapain?" Tanya Ziko dengan jantung berdebar kencang


Devina tersenyum dan mengatakan sesuatu yang membuat Ziko merasa waktu terhenti saat itu juga.


"Mommy suka cium tangan Daddy kalau Daddy mau pergi dan Vina lagi latihan biar nanti gak gugup kalau udah nikah"


Bolehkan Ziko menculik Devina dan menikahinya sekarang juga?


¤¤¤


Vina kesambet apa kamu nakk😭


Buna gak pernah ngajarin kayak gitu yaaa😂