My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (75)



Waktu berlalu dengan sangat cepat. Kini usia kandungan Adara sudah memasuki bulan ke enam.


Perutnya semakin membuncit. Si kembar terlihat begitu senang. Setiap malam mereka selalu mengusap-ngusap perut Adara dan menciumnya.


Seperti sekarang..


"Amaa adiknya macih lama?" Tanya Nadhin yang begitu penasaran dan tidak sabar untuk melihat adiknya.


Adara tersenyum mendengarnya.


"Sebentar lagi, nanti Nathan sama Nadhin akan sayang kan sama adiknya?" Tanya Adara.


Kedua anak itu langsung mengangguk dengan semangat.


"Aku cayang adiknya." Kata Nathan sambil mencium perut Adara.


Adara tertawa pelan. Dia semakin tidak sabar menanti kelahiran si kembar.


Sangat ingin melihat wajah lucu mereka.


"Amaa Amaaa nanti aku bica main cepeda cama adik." Kata Nadhin.


"Iya, tapi kalau adiknya sudah besar." Kata Adara.


Nadhin mengangguk lagi. Matanya membulat ketika menatap Mamanya.


"Ayo bobok udah malem tau." Kata Adara pada kedua anaknya.


Meskipun belum ingin tidur, tapi kedua anak itu menurut. Malam ini kedua anaknya ingin tidur bersama dengan Devano dan Adara.


"Eh belum tidur? kirain Papa balik udah pada tidur semua." Kata Devano yang baru saja keluar dari kamar mandi.


kedua anak itu menyengir lucu. Mereka sedikit bergeser dan memberikan tempat untuk Devano.


Kini si kembar berada di tengah-tengah. Keduanya di apit dengan kedua orang tua mereka.


Nathan yang berada di samping Devano. Dan Nadhin yang berada di samping Adara.


Kalian mau tau?


Devano benar-benar bersyukur bisa memiliki keluarga kecil yang membawa begitu banyak kebahagiaan untuknya.


••••


"Aduh Vanooo sakittt"


Setelah sarapan tiba-tiba saja Adara mengalami mual. Wanita hamil itu pergi ke kamar mandi dan muntah cukup banyak.


Sekarang dia menangis karena perutnya terasa sakit. Dengan penuh perhatian Devano mengusap-ngusap punggungnya.


Berusaha membuat istrinya itu lebih tenang.


"Masih mual? Kita ke kamar dulu ya? Duduk dulu sayang." Kata Devano dengan penuh kelembutan.


Adara mengangguk saja. Dengan dibantu oleh suaminya dia pergi ke kamar dan duduk di atas ranjang.


Tubuhnya bersandar pada kepala ranjang. Adara berkali-kali meringis sambil memegangi perutnya.


Sedangkan Devano bergegas pergi mengambilkan air hangat. Tak butuh waktu lama Devano sudah kembali dengan segelas air hangat di tangannya.


"Minum dulu."


Adara menurut. Dia meminum air hangat yang suaminya iri berikan hingga hanya tersisa setengah.


"Sini ajaa"


Adara menarik lengan Devano. Dan ketika suaminya itu duduk di sebelahnya Adara langsung memeluknya dengan manja.


"Vanooo"


"Hmm"


"Jangan ke kantor yaaa? Bilang Daddy kamuuu hari ini libur dulu." Kata Adara dengan wajah cemberut.


"Aku bilang Daddy dulu ya?" Kata Devano.


"Vanooo di rumah ajaa sama aku." Pinta Adara sambil memasang wajah sedihnya.


"Iya, tapi kan izin Daddy dulu." kata Devano.


Adara mengeratkan pelukannya membuat Devano langsung tersenyum. Dengan penuh kelembutan Devano mengusap perut buncit istrinya.


"Baby nya lagi mau sama Papa ya?" Kata Devano.


Dengan penuh kasih sayang Devano mencium perut itu.


"Sini aja sama aku." Pinta Adara lagi.


"iya, sebentar ya? Aku ke Daddy dulu." Kata Devano.


Adara mengangguk singkat. Tak lama Devano pergi untuk menemui Daddy nya. Dan tak lama juga kedua anaknya sudah berlari masuk ke dalam kamar.


Si kembar itu langsung naik ke atas kasur dan menghampiri Adara.


"Amaaa cakitt yaaa?" Tanya Nadhin dengan wajah sedih.


"Enggak sakit." Kata Adara pelan.


Wajah anaknya itu terlihat sedih bahkan Nadhin malah menangis.


"Ehh kok malah anak Mama yang nangis?" Kata Nadhin bingung.


"Amaaa jangan cakit! Adiknya nakannn bikin Ama aku cakit." Rengek Nadhin.


Perkataan itu sontak saja membuat Adara tertawa. Dia membawa kedua tangan anaknya itu ke atas perutnya yang buncit.


"Adiknya enggak nakal, dia lagi manja kayak Nathan sama Nadhin, coba kalian cium nanti enggak sakit lagi." Kata Adara dengan penuh kelembutan.


Kedua anaknya itu saling bertatapan. Kemudian benar-benar mencium perut buncit Adara. Setelahnya kedua orang itu mengusap juga perutnya.


Hingga mata Nathan membulat. Pupil matanya membesar. Dia menatap Adara dengan senyuman lebar.


"Adiknya gelak gelak." Kata Nathan.


"Manaaa manaaa???" Tanya Nadhin heboh.


Anak itu berlari menghampiri Nathan. Dia juga meletakkan tangannya di tempat yang sama. Dan benar saja ada pergerakan. Anaknya itu menendang.


Nadhin langsung tertawa. Matanya menyipit dengan lucu.


"Amaaa"


"Adiknya senang di sapa sama Nathan dan Nadhin." Kata Adara seraya mengusap kepala anaknya itu bergantian.


Lagi, keduanya tersenyum lebar.


Mereka terus mengusap perutnya hingga tak lama Devano kembali. Pria itu tersenyum melihat pemandangan di depannya.


"Papaaa Papaaaa tadi adiknya gelak gelak dia cenang cama aku."


Nadhin melompat dari atas kasur. Dia berlari menghampiri Devano dan langsung memeluknya.


Anak itu melingkarkan kedua tangan di leher Papanya ketika Devano mengangkat tubuhnya. Bukan hanya itu Nadhin juga mencium kedua pipi Devano secara bergantian.


Selalu begitu kebiasaan Nadhin setiap pagi.


Mungkin kalau anak kembar mereka wanita semua pasti akan sama seperti Nadhin.


Devano akan menghadapi dua bayi kecil lagi dan itu sangat menyenangkan.


••••


Masih ada yang menungguuu???