
Sejak Devina pertama kali datang bulan Devano selalu membawa rok atau celana cadangan untuk jaga-jaga semisal kembarannya itu ada di situasi seperti sekarang. Saat pulang sekolah Devano membaca pesan dari kembarannya yang mengatakan kalau dia ada di uks karena hal yang beberapa kali Devina dapatkan ketika sedang datang bulan.
Setelah meminta kembarannya untuk menunggu Devano langsung pergi ke parkiran dan mengambil rok lain Devina yang ada di mobil. Sebelumnya dia juga meminta Adara untuk pergi uks dan menemui kembarannya lalu mengatakan kepada Devina agar menunggu dia disana.
"Mau kemana Van?" Tanya Alex ketika melihat teman baiknya itu pergi dari parkiran
"Ke uks anterin ini ke Vina." Kata Devano
"Nanti dateng kan? Kita tunggu dilapangan." Kata Alex yang dijawab dengan anggukan singkat olehnya
Habis percapakan singkat itu Devano bergegas pergi ke uks dan ternyata disana ada Adara juga Ziko yang terlihat asik mengobrol.
"Vinanya malah tidur." Kata Adara
Menggelengkan kepalanya pelan Devano menghampiri kembarannya dan membangunkan dengan cara yang begitu lembut. Cukup lama bagi Devina untuk terusik dengan suara serta tepukan pelan dipipinya.
"Mau nginep di sekolah?" Tanya Devano membuat mata indah Devina terbuka sempurna
Saat Devina mendudukkan dirinya Devano mengusap puncak kepalanya dengan sayang dan menyerahkan rok yang tadi dia ambil.
"Ganti dulu roknya lain kali kamu simpan rok juga di loker Vin, udah berapa kali coba di kasih tau gak mau nurut juga." Omel Devano
Devina mengerucutkan bibirnya sebal lalu mengambil rok yang dibawa kembarannya dan berlari kecil menuju kamar mandi.
"Ziko"
"Iya?"
"Bisa anterin Devina pulang? Gue mau pergi latihan." Kata Devano
Ziko terdiam untuk sesaat lalu menganggukkan kepalanya, tentu saja dia mau itu kesempatan yang sangat jarang dia dapatkan.
"Oke"
"Gue pulang dulu..."
"Lo ikut gue latihan nanti gue antar pulang." Kata Devano yang langsung memotong ucapan Adara dan menatapnya dengan cukup tajam
Tatapan matanya seolah berkata gue gak mau dibantah.
Dan Adara sudah terbiasa menurut dengan semua perkataan Devano hingga dia lupa caranya mengatakan tidak kalau bersamanya.
Beberapa saat setelahnya Devina kembali dengan memakai rok yang masih bersih dan tersenyum lebar sambil menatap mereka semua. Ikut tersenyum Devano mencubit pelan pipi kembarannya dan mengatakan hal yang malah membuat Devina semakin senang.
"Pulang sama Ziko ya? Aku mau latihan dulu." Kata Devano
"Oke siapp bosss"
"Mau pulang dulu atau gimana?" Tanya Devano pada kekasih kembarannya
"Mau gue ajak ke..."
"Oke jangan lama-lama." Kata Devano
Setelah itu mereka keluar dari uks dan berjalan beriringan, tapi berpisah ketika Ziko menuju parkiran sedangkan Devano pergi ke lapangan. Setelah terpisah dari Devano tanpa takut Ziko menggenggam erat tangan kekasihnya dan membuat Devina tersenyum senang.
"Mau kemana?" Tanya Devina dengan penuh semangat
"Kamu maunya kemana?" Tanya Ziko dengan lembut
"Kedai ice cream yuk?" Ajak Devina
Ziko mengangguk singkat dan membuat senyum Devina mengembang semakin lebar.
Sampai di parkiran Ziko menyerahkan jaketnya kepada Devina agar gadis itu pakai dan Devina hanya menurut lagipula anginnya cukup besar. Setelah memakai jaket Devina ingin mengambil helm, tapi Ziko sudah lebih dulu mengambil dan memakainkan untuk Devina.
Sedikit memundurkan langkahnya Devina menunggu Ziko memundurkan motornya. Setelah berhasil keluar Devina langsung naik dan berpegangan pada pundak kekasihnya.
Menghidupkan mesin motornya Ziko mulai melajukan kendaraan beroda dua itu keluar dari sekolah. Akhirnya dia punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Devina sepulang sekolah.
'Susah banget minta izin dari Vano ya?'
'Susahh bangettt jangankan sama kamu kadang mau keluar sama Mona juga susah banget banyak pertanyaannya'
Sesulit itu memang berkali-kali Ziko sudah meminta izin untuk mengajak Devina keluar sepulang sekolah, tapi baru tiga kali Devano memberi izin. Kata Devina semua orang rumah tau jam pulang sekolahnya dan kalau telat sedikit saja mereka pasti akan sibuk menelpon, tapi kalau Devina bersama Devano tidak ada yang khawatir.
Karena itu setiap mau pergi harus ada izin dari Devano.
'Aku pernah kena marah sama semuanya gara-gara kabur untuk main dan habis itu aku gak boleh keluar rumah selama sebulan'
Ternyata keluarga Devina benar-benar melindungi gadis itu hingga banyak sekali peraturan yang harus Devina turuti. Tadinya Ziko fikir itu merupakan sedikit hambatan, tapi ternyata tidak juga dia malah berfikir itu sedikit menyenangkan.
Bukankah kalau keluarganya sudah beberapa kali memberi izin kepada Devina untuk keluar dengannya berarti mereka sudah mulai percaya padanya?
Berhenti di salah satu kedai ice cream yang sering kekasihnya kunjungi Ziko lamgsung memarkirkan motornya dan mengajak Devina untuk masuk. Dengan penuh semangat Devina mengikuti langkah kaki kekasihnya dan jangan lupa tangannya yang digenggam.
"Aku mau ice cream vanilla ya?" Kata Devina
"Hmm aku tau Vin." Kata Ziko sambil tertawa kecil
"Takutnya lupa." Kata Devina
Menunggu di salah satu meja yang kosong Devina mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kedai ini juga sering dia datangi bersama Kakaknya bahkan hampir setiap akhir pekan mereka pergi kesini kalau belum dimarahi sama Daddy mereka akan selalu datang.
Tapi, Devina memang sangat suka tenpat ini karena ice cream nya tentu saja dan juga karena dekorasinya yang benar-benar membuatnya betah berada disini.
"Ini dia ice crean untuk tuan putri." Kata Ziko membuat Devina mendongak dan tersenyum senang
"Makasihhh"
Mengangguk singkat Ziko memperhatikan kekasihnya yang terlihat begitu senang dan mulai menyendokkan ice cream vanilla yang tadi dia pesan. Tersenyum tipis Ziko juga mulai memakan ice cream yang dia pesan, ingin rasanya berlama-lama menatap wajah kekasihnya.
Saat Ziko tengah asik menatapnya Devina mendongak dan ikut menatap matanya lalu mengatakan sesuatu yang membuat Ziko mengerutkan dahinya bingung.
"Ziko mau tanya sesuatu boleh gak?" Tanya Devina
"Kenapa gak boleh?" Kata Ziko sambil tersenyum
"Emm kamu bosan gak pacaran sama aku?" Tanya Devina yang tiba-tiba memasang wajah sedihnya
Entah kenapa Devina tiba-tiba memikirkan hal itu.
"Kenapa harus bosan?" Tanya Ziko sambil tertawa kecil
"Aku kan banyak dilarang ini itu jadi kita jarang banget jalan berdua kayak orang-orang, kamu gak bosan kalau kita cuman kayak gini aja?" Tanya Devina
Mendengar hal itu Ziko tersenyum tipis, mana mungkin dia bosan?
"Kamu tau gak Vin? Aku malah senang karena Vano dan orang tua kamu banyak ngelarang kamu untuk keluar rumah." Kata Ziko
"Kenapa?" Tanya Devina penasaran
"Karena bakal mustahil untuk orang lain ngerebut kamu dari aku." Kata Ziko membuat Devina tersenyum mendengarnya
Dia selalu takut kalau Ziko merasa bosan lalu meninggalkannya, tapi ternyata tidak Ziko malah takut kalau Devina yang pergi.
"Kalau sama aku gak pernah ngerasa bosan?" Tanya Devina
"Bosan apasih Vin? Kamu kok nanya kayak gitu terus?" Tanya Ziko sambil tertawa kecil
"Aku kan nyebelin terus sering ngambek." Kata Devina
"Aku malah senang bukan bosan soalnya kamu gemesin kalau lagi ngambek." Kata Ziko
Devina mengerucutkan bibirnya kesal ketika mendengarnya, kadang dia bingung kenapa Ziko dan Devano sering kali mengatakan hal yang sama?
Kembarannya juga sering mengatakan kalau dia lucu dan menggemaskan ketika sedang merajuk.
"Ngomong apasih Vin? Aku gak suka kalau kamu nanya kayak gitu terus, kalau kamu mau tau aku suka sama kamu itu dari pertama kali kita ketemu." Kata Ziko
"Beneran? Pasti bohong kan?" Tanya Devina sedikit tidak percaya
"Bener Vin aku jatuh cinta dengan senyum manis kamu dan tatapan mata kamu." Kata Ziko sambil tersenyum
Mendengar hal itu Devina ikut tersenyum dan dia mulai merasa kalau pipinya memerah sekarang, malu sekali.
"Gemes banget kalau pipinya merah gitu." Kata Ziko membuat bibir Devina mengerucut sebal
Terkadang Ziko bingung kenapa Devina bisa begitu tidak percaya diri pada dirinya sendiri padahal gadisnya itu nyaris sempurna. Mungkin hanya satu kurangnya Devina terlalu rapuh dia mudah terluka dan merasa sakit.
Sebenarnya hanya ada satu masalah kenapa Devina sering merasa tidak percaya diri.
Devina selalu berfikiran negatif dan menganggap bahwa ada banyak orang yang membenci atau tidak suka padanya.
Padahal meskipun ada banyak orang yang tidak menyukai Devina tetap ada banyak orang yang begitu menyayangi gadisnya.
Memang benar Devina terlalu polos.
"Kamu mau tau gak Vin?" Tanya Ziko
"Apa? Aku selalu mau tau tentang banyak hal." Kata Devina sambil tersenyum
"Perasaan ini aku udah nyimpen dalam waktu yang cukup lama dan aku juga nahan rasa cemburu setiap kali kamu cerita tentang Alex dulu." Kata Ziko membuat Devina terdiam
Dia baru ingat kalau dulu dia sering sekali cerita tentang Alex dengan Ziko bahkan dia bercerita dengan hati berbunga-bunga.
'Tau gak Ziko? Tadi aku liat Alex dia ganteng banget apalagi waktu main basket gantengnya nambah berkali-kali lipat'
'Kira-kira kalau dia tau perasaan aku gimana ya Ziko?'
'Ziko menurut kamu mungkin gak kalau Alex bakal suka sama aku?'
Benar, sering sekali dia bercerita pada Ziko dan ternyata sudah selama itu Ziko menyukainya dan sudah selama itu juga tanpa sadar Devina menyakiti hatinya.
"Aku minta maaf"
"Untuk apa? Itu bukan salah kamu karena kamu gak tau apa-apa disitu dan aku pun gak ada bilang apa-apa sama kamu." Kata Ziko
"Hmm kalau gitu aku harus nebus semuanya dengan apa?" Tanya Devina sambil menopang dagunya
Tersenyum manis Ziko mengacak gemas rambut hitam kekasihnya seraya berkata.
"Jangan pernah berubah dan terus cinta sama aku"
Tanpa Ziko minta Devina akan melakukannya.
¤¤¤
Wajah masam Devano terlihat dengan jelas ketika dia harus menahan diri karena Adara yang malah berganti pakaian, entah dia mendapat pakaian itu dari mana yang jelas Devano sangat tidak suka melihatnya. Bayangkan saja Adara memakai jersey basket sekarang yang entah bagaimana gadis itu bisa memilikinya dan ditambah lagi gadis itu mengikat rambutnya dengan sangat tinggi.
Sejak tadi Devano benar-benar ingin memukul wajah teman-temannya yang tidak berhenti meledeknya. Awalnya Devano sudah ingin marah melihat Adara, tapi gadis itu malah tersenyum lebar dan berlari ke lapangan menghampiri yang lainnya.
Sekarang Adara tengah ikut bermain bersama yang lainnya dan Devano benar-benar kesal karena beberapa temannya terus menggoda gadisnya.
"Makin cantik deh Dar." Kata Erick
Adara hanya berdecih pelan sambil terus memantulkan bolanya ke lapangan.
"Dardara cantik juga ya kalau dilihat-lihat." Kata Gara
"Baru sadar ya?" Kata Adara sambil tersenyum miring
Dia berlari ke arah ring lalu melompat dan berhasil bola itu masuk ke dalam ring.
"Cocok banget emang sama Vano." Kata Alex
"Udah jadian belum sih? Kalau belum sama gue aja yuk Dar." Kata Erick yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Devano
"Ngomong apa lo?" Tanya Devano galak
Mereka tertawa melihatnya karena ini kali pertama Devano bersikap begitu, cemburuan sekali.
"Ampung bangg"
Menghela nafasnya pelan Devano akhirnya memutuskan untuk mengajak Adara pulang saja, tapi perbuatannya itu malah semakin membuat teman-temannya tidak bisa diam.
"Pulang Dar"
Ingin menolak, tapi wajah masam dan tatapan tajam Devano membuat Adara luluh lalu mengikuti langkah kakinya ke pinggir lapangan.
"Habis lo Darr sama Vano"
"Hati-hati Dar nanti lo diterkam"
"Gara-gara lu Rick ngambek kan Vano"
Sama sekali tidak peduli dengan itu semua Devano membawa tangan Adara ke dalam genggamannya dan mengajak gadis itu pergi ke parkiran, dia tidak akan lagi membiarkan Adara melakukannya. Memang benar kata yang lainnya Adara berkali-kali lipat terlihat cantik ketika memakai jersey juga mengikat tinggi rambutnya.
Sial!
Devano tidak ikhlas karena banyak yang memuji kecantikan gadisnya.
Selama berjalan ke parkiran Devano sama sekali tidak mau mengajaknya bicara dan Adara juga belum mau memulai percakapan, takut kalau nanti Devano malah semakin marah. Saat Devano membuka pintu mobilnya Adara juga hanya diam dan masuk ke dalam tanpa banyak bicara.
Tak butuh waktu lama bagi Devano untuk duduk di kursi kemudi dan entah kenapa sekarang Adara merasa takut.
Tatapan mata Devano sangat tajam, tapi ternyata yang pria itu lakukan mengambil jaket lalu menutupi kaki jenjangnya.
Baru ingin berterima kasih Devano sudah kembali bicara.
"Jangan pakai baju kayak gitu lagi dan ini jangan diikat katak gini." Kata Devano
Tangannya menuju bagian belakang kepala Adara lalu menariknya perlahan hingga juntaian rambut panjang gadisnya jatuh.
"Kan main basket gak salah kostum dong Van terus ini rambut juga masa gue gerai panas lah." Kata Adara sambul menoleh ke arah Devano sekilas
Baru kali ini Adara merasa takut hanya karena tatapan mata.
"Gue bilang enggak!"
Baru saja ingin mengatakan sesuatu Devano sudah mengatakan hal yang membuat Adara terdiam dan mengalihkan pandangannya ke depan.
"Gak mau nurut sama pacar?"
Ya
Ya
Ya
Devano memang pacarnya, puas??
¤¤¤
Aku update ini udah malam dan gak tau bakal selesai review kapan :)
Yang jelas maaf banget karena gak updatee😢 Udah mulai kuliahhh :)
Kenapa yaa kuliah onlinee bikin pusingggg :"