My Possessive Twins

My Possessive Twins
83 : Dilema



Selama pelajaran Devina terlihat tidak fokus dan sering sekali melamun hingha beberapa kali ditegur oleh guru mereka, entah apa yang gadis itu fikirkan. Bukan hanya itu, tapi sejak dia sampai di sekolah Devina juga banyak melamun dan hanya menanggapi perkataan teman-teman juga kekasihnya dengan singkat.


Gadis itu seolah memikirkan hal yang begitu besar yang tidak bisa dia bagikan dengan orang lain. Sesekali Devina juga menghela nafasnya lalu mencoret bagian belakang bukunya dengan pena dan coretan abstrak.


Beberapa kali Mona dan Ziko juga bertanya, tapi gadis itu hanya menggelengkan kepalanya pelan dan menolak untuk memberikan jawaban.


"Devina!"


Seruan itu membuat Devina tersentak dan menatap ke depan dimana Bu Endah menatapnya dengan tajam karena kembali melihatnya melamun.


"Kalau sekali lagi kamu melamun silahkan keluar! Saya hanya akan mengajar orang-orang yang mau mendengar saya!" Kata Bu Endah


Devina menunduk dan menganggukkan kepalanya sambil meminta maaf.


Setelah itu dia menatap ke depan mencoba untuk fokus selama lima belas menit ke depan karena hanya sebentar lagi pelajaran berakhir dan digantikan dengan istirahat. Sebenarnya Devina memikirkan sesuatu yang selama ini dia rahasiakan dari orang-orang termasuk orang tuanya sendiri.


Saat kelas sebelas dia mengikuti program beasiswa untuk kuliah di Korea Selatan dan diam-diam dia juga belajar serta mengikuti tes yang memang dilakukan secara online, tapi minggu depan akan ada tes secara langsung. Namun, Devina kebingungan harus memberikan alasan apa ditambah lagi dia takut akan dimarahi kalau sampai orang tua atau Devano tau.


Awalnya dia hanya iseng dan tidak tau kalau sampai berhasil, tapi sekarang Devina jadi benar-benar ingin. Minggu depan adalah tahap akhir lalu pengumuman siapa saja yang lolos akan di beri tau dua minggu kemudian.


Apa Devina ikut atau tidak?


Dia masih ragu dan takut untuk jujur pada kembaran juga orang tuanya. Devina takut kalau dia dimarahi atau tidak diberikan izin padahal Devina mau sekali.


Meskipun dia juga tidak tau akan seperti apa nantinya karena dia tidak pernah berada jauh dari orang tua atau kembarannya, tapi tetap saja dia mau mencoba.


"Vin"


Suara itu terdengar bersamaan dengan lengannya yang senggol oleh Mona dan membuat Devina menoleh lalu menatapnya dengan alis bertaut.


"Lo ada masalah ya?" Tanya Mona pelan


Devina menggelengkan kepalanya pelan.


Sungguh satu-satunya hal yang memenuhi fikirannya sekarang hanya itu saja dan tidak ada hal lainnya.


"Tugas yang Ibu berikan dikumpul minggu depan ya? Sepertinya itu tugas terakhir karena sebentar lagi kita akan ujian dan Ibu harap kalian semua bisa dapat nilai yang memuaskan." Kata Bu Endah sambil merapihkan buku-bukunya


Dia keluar lima menit lebih awal karena baru saja mendapat telpon yang entah dari siapa. Setelah mengucapkan salam Bu Endah melangkahkan kakinya keluar kelas dan perlahan membuat suara bising mulai terdengar.


"Vinaa lo kenapa sih? Tumben banget sampai di tegur berkali-kali." Kata Nayla yang langsung menoleh ke belakang


"Enggak papa." Kata Devina


"Cerita aja Vin kita bakal dengerin kok, siapa tau kita bisa bantu." Kata Cessa yang disetujui oleh Mona dan Nayla


"Emm jangan disini, tapi kita ke perpustakaan aja ya?" Kata Devina


Mereka bertiga mengangguk setuju lalu Mona langsung meraih tangan Devina mengajaknya untuk segera keluar kelas karena dia sudah sangat penasaran, tapi baru ingin melangkah Ziko sudah lebih dulu menahan tangan kekasihnya.


"Mau kemana Vin?" Tanya Ziko


Berdecak kesal Mona melepaskan tangan Ziko dan menatapnya dengan sebal.


"Jangan kepo ya Ziko! Kita berempat mau curhat dan ini masalah cewek!" Ketus Mona


"Nanti aku tunggu di kantin ya?" Kata Ziko yang dijawab dengan anggukan oleh kekasihnya


Dia tidak akan memaksa untuk ikut karena nanti dia bisa bertanya dan memaksa Mona untuk mengatakan semua yang Devina ceritakan padanya.


Setelah itu Devina bersama ketiga temannya pergi ke perpustakaan, keadaan koridor sekolah masih cukup sepi karena belum istirahat, tapi seperti kelas Devina ada beberapa kelas juga yang sudah tidak ada guru. Sampai di perpustakaan mereka langsung memilih tempat di paling ujung karena tidak ingin diganggu dan setelah duduk Devina langsung ditatap dengan penuh tanda tanya.


Mereka benar-benar penasaran kenapa Devina sampai melamun berjam-jam di sekolah.


"Jadi, kenapa Devina?" Tanya Mona


"Emm jadi aku lagi bingung bangetttt." Keluh Devina


"Bingung kenapa?" Tanya Nayla


"Lo ada masalah sama Ziko atau Vano?" Tanya Cessa yang dijawab dengan gelengan kepala olehnya


"Atau jangan-jangan ada yang gangguin lo ya Vin?! Siapa?!" Tanya Mona dengan suara keras bahkan sambil memukul meja


Secara refleks Devina memukul lengannya juga.


"Ihh jangan berisik nanti kita kena marah." Kata Devina


"Ehh iya maaf lupa, lanjut Vin kenapa?" Tanta Mona lagi


"Jadi dari kelas sebelas semester dua aku coba daftar program beasiswa tanpa bilang ke siapapun termasuk Vano sama orang tua aku,"


Memberikan jeda sebentar Devina menatap teman-temannya yang menunggu kelanjutan dari ceritanya.


"Terus ada empat tahap gitu dan ketiganya aku lulus tinggal satu tahap lagi yang ketiga tahap itu dilakuin secara online, tapi tahap terakhir ini aku harus datang untuk tes secara langsung." Kata Devina


"Terus masalahnya dimana Vin? Bagus dong Vano sama orang tua lo pasti seneng." Kata Cessa


"Emm masalahnya aku kan gak bilang ke mereka dan aku takut kalau malah dimarahin apalagi Vano sama Daddy gak pernah kasih aku izin untuk jauh-jauh dari mereka." Kata Devina


"Ahh gue faham." Kata Mona


"Tapi, gak papa Vin coba aja dulu." Kata Nayla


"Lagian kan masih ada satu tahap lagi sayang banget kalau lo ga datang." Kata Cessa


Devina diam lalu menganggukkan kepalanya.


"Ada hal lain juga yang aku fikirin." Kata Devina


"Apa?" Tanya Mona


"Takut kalau misal memang benar-benar keterima dan aku harus jauh dari kalian, Vano, Mommy sama Daddy, dan Ziko juga, gimana? Aku bisa gak?" Tanya Devina lesu


Dia sangat ingin bisa kuliah di salah satu universitas yang ada di Korea Selatan, tapi dia juga bingung dan takut kalau dia tidak bisa hidup mandiri tanpa orang tuanya.


"Vin semua itu bisa karena terbiasa, tapi yang paling penting itu izin dari orang tua lo dan kalau mereka memang gak kasih izin lebih baik sih jangan." Kata Mona


Devina mengangguk singkat.


"Hmm aku juga gak mau jauh-jauh dari kalian nanti aku nangis kalau kalian kumpul bareng tanpa aku." Kata Devina membuat yang lainnya tertawa


"Ah lo mah nangis karena jauh dari Ziko." Kata Cessa


Mendengar hal itu Devina mengerucutkan bibirnya kesal lalu memukul lengan gadis itu pelan.


"Kamu kok nyebelin Ces?!" Kata Devina


Cessa tertawa dan menepuk-nepuk pundak Devina pelan.


"Bercanda Vin, tapi kalo bisa jangan jauh-jauh lah Vinn nanti gak ada yang bisa kita orang gangguin." Kata Cessa


"Tuh kann nyebelinnn!" Kata Devina


"Sst udah ah Vin kantin aja yuk." Kata Nayla


Mereka bertiga mengangguk setuju dan bersama-sama keluar dari perpustakaan untuk pergi ke kantin. Benar kata mereka Devina harus bicara dulu dengan orang tuanya dan Devano juga kalau mereka mengizinkan baru Devina akan lanjut, tapi kalau tidak dia akan kuliah disini saja.


Sampai di kantin mereka mencari keberadaan Ziko dan langsung menghampiri pria yang tengah menyantap makan siangnya bersama dengan Gio. Melihat kekasihnya datang Ziko langsung tersenyum dan bertanya apa yang ingin Devina pesan.


"Mau makan apa Vin?" Tanya Ziko ketika Devina duduk disampingnya


"Mie ayam Bang." Kata Mona sambil tertawa


"Emm aku pesen sendiri aja sama yang lainnya." Kata Devina


Setelah itu mereka pergi memesan makanan dan kembali duduk sambil menunggu makanan datang. Selagi menunggu Devina memainkan ponsel kekasihnya yang diletakkan di meja dan Ziko juga hanya diam, tidak protes atau apapun itu.


Devina sudah biasa memainkan ponselnya biasanya gadis itu bermain game atau membuka whats app, instagram, dan galeri.


Bukan masalah besar Ziko juga tidak pernah menyembunyikan apapun dari kekasihnya, jadi dia tidak masalah dengan itu semua.


'Ko lo gak marah apa Vina sering mainin hp lo?'


Pernah beberapa kali teman-temannya bertanya dan Ziko menjawab dia tidak masalah lagi pula Devina jarang melakukannya.


Untuk apa dia marah?


Kesannya seperti dia sedang menyembunyikan sesuatu saja, makanya Ziko selalu bersikap biasa.


"Vinn"


"Hmm"


"Lo tadi kenapa dah bengong mulu di kelas?" Tanya Gio penasaran


"Emm lagi kesel sama Ziko." Kata Devina asal


Tapi, perkataannya berhasil membuat Ziko kaget.


"Loh kamu kesel kenapa Vin? Aku salah apa?" Tanya Ziko


Devina tertawa lalu mengatakan kalau dia hanya bercanda.


"Hehe bercanda, gak papa kok Gio aku cuman lagi bad mood aja." Kata Devina


"Bad mood kenapa sih Vin? Sini biar Abang Gio hibur supaya kamu senyum lagi." Kata Gio


Devina tertawa, tapi Ziko malah menoyor kepala pria itu cukup kuat.


"Ziko jangan gitu"


"Marahin Vin emang dia suka nyiksa gue." Kata Gio


"Brengsek lo"


"Ihh kok kasar ngomongnya?!" Kata Devina sambil memukul lengan kekasihnya kuat


Baru akan bicara Ziko mengurungkan niatnya kala makanan kekasihnya datang dan Devina juga langsung diam.


Tentu saja urusan perut itu nomor satu.


¤¤¤


"Telpon Daddy aja ya Vin?"


Devina diam sambil mendengar perkataan kembarannya, mereka sudah pulang sekolah dan seperti perkataan orang tuanya mereka harus pergi ke rumah Dara, tapi Devano mengatakan dia ada ulangan susulan. Akibat pertandingan yang membuat Devano absen di beberapa kelas dia harus mengikuti ulangan susulan bersama Alex dan yang lainnya juga.


Sekarang Devano menemui Devina dan mengatakan kalau dia akan menelpon Daffa saja atau Devina minta di antar oleh kekasihnya. Namun, Ziko sudah pulang dan tadi kekasihnya bilang kalau dia harus pergi ke rumah Neneknya.


"Emm aku naik ojek online ya? Aku masih ada aplikasinya." Kata Devina


Devano menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Telpon Daddy aja." Kata Devano


"Enggak papa kok Van lagian kan rumah Tante Dara dekat dari sini." Kata Devina sambil tersenyum


"Enggak usah Vin telpon Daddy aja biar Pal Hadi jemput." Kata Devano


"Jangan kasian Pak Hadi mungkin baru sampai atau malah baru mau berangkat, aku naik ojek aja." Kata Devina


"Nanti aku dimarah Daddy." Kata Devano


"Enggak nanti aku yang bilang Daddy." Kata Devina


Devano ingin protes, tapi Devina malah mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi.


"Vin gak papa?" Tanya Devano


"Enggak papa lah kan aku udah pernah, baik-baik aja kan? Selamat sampai tujuan." Kata Devina dengan senyum manisnya


"Van buruan udah ditunggu Bu Hilda"


Suara Erick membuat Devano menoleh dan mengangguk sambil mengatakan kalau dia sebentar lagi menyusul.


"Nanti pakai helm ya? Bilang sama orangnya jangan kebut dan hati-hati bawa motornya terus chat aku kalau udah sampai." Kata Devano


Devina mengangguk lalu memeluk kembarannya sebentar dan memesan ojek untuk ke rumah Tantenya.


Mengusap pipi Devina sebentar Devano mengatakan kalau dia harus pergi lalu Devano berlari kecil menuju perpustakaan dan meninggalkan Devina yang menunggu. Seandainya dia bukan kelas dua belas Devano akan mengabaikannya dan mengantar Devina saja, tapi dia tidak mungkin mengabaikan sedangkan ujian sudah di depan mata.


Saat memasuki perpustakaan Devano mendapat sedikit omelan dan membuat dia menundukkan kepalanya sambil meminta maaf lalu duduk disebelah Alex. Dengan fokus Devano mulai mengerjakan karena dia harus segera selesai dan pergi ke rumah Tantenya selain itu dia juga harus memastikan Devina baik-baik saja.


Lima belas menit berlalu Devano sudah mengerjakan separuh soal yang di berikan dan dia menuju soal essay. Namun, mendadak perasaannya gelisah dadanya terasa sesak dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat ketika ponselnya bergetar.


Tanpa peduli kalau dia akan dimarahi Devano melihatnya dan nama Daddy nya muncul.


Daddy is calling


"Maaf Bu Ayah saya telpon"


Tanpa menunggu jawaban Devano keluar dan mengangkat telpon dari Daffa lalu dia langsung mendapat bentakan yang membuatnya tersentak.


'Devano kamu dimana?! Kenapa Devina bisa pulang sendirian?!'


"Dad aku..."


'Ke rumah sakit sekarang!'


Cukup, perkataan itu sudah cukup membuat Devano ketakutan setengah mati dan langsung berlari memasuki perpustakaan.


Tanpa mengatakan apapun dia mengambil tasnya dan pergi begitu saja.


Tidak peduli dengan tatapan bingung serta seruan dari gurunya.


Dadanya terasa semakin sesak ketika dia berlari, tapi Devano ingin memastikan bahwa kembarannya baik-baik saja.


Devina tidak boleh terluka.


¤¤¤


Fyi gak bakal ada koma-komaan apalagi amnesia yaa karena kalo ada gitu cerita ini bakal semakin panjangggg😂


Ini konflik terakhir yang bakal aku kasih dan siap-siap untuk besok yaaa😂


Besok aku bakalll update banyakk sebagai kado ulang tahun akuu haha😂


Nanti malam up lagi😉


Selain update banyak aku bakal bikin cerita baru yeee😚 Mohon dukungannya yaaaa😅


lop yuuu❤