My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (1)



Rumah tanpa kehadiran Devina benar-benar terasa sepi bahkan Devano sanbat tidak bersemangat untuk pulang ke rumah karena kembarannya tidak ada disana. Meskipun selali berkirim kabar melalui aplikasi chat, tapi tetap saja Devano sangat merindukan Devina yang biasanya selalu mengganggu hari-harinya.


Bukan sekali dua kali juga Devano pergi ke kamar Devina lalu tidur disana karena merindukan kembarannya dan hal itu bukan hanya berlaku untuknya saja. Orang tuanya juga sering kali pergi ke kamar Devina karena merindukan gadis itu dan ya mereka semua sangat merindukan kehadiran Devina.


Padahal baru satu minggu, tapi rasanya sudah lama sekali.


"Adaraa"


Devano tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Adara yang baru saja keluar dari ruang dosen, dia memang menyusul Adara ke kampus karena hari ini Adara kesana untuk mendapatkan tanda tangan.


"Vano kamu udah dari tadi?" Tanya Adara


"Belum, yuk masuk." Kata Devano


Adara mengangguk lalu masuk ke dalam mobil bersama dengan Devano yang lamgsung melajukan mobilnya meninggalkan area kampus.


"Udah selesai kan?" Tanya Devano


"Hm udah cuman minta tanda tangan dan sekarang selesai." Kata Adara


Sebenarnya Adara sudah libur sama seperti Devano, tapi dia harus meminta tanda tangan pada Dosen untuk beberapa hal.


"Aku mau main ke rumah kamu." Kata Devano


"Biasanya juga memang gitu." Kata Adara sambil tertawa kecil


"Hm aku bosan di rumah Ra." Kata Devano


"Gak ada Vina ya?" Kata Adara membuat Devano tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya


"Iya sepi banget Ra biasanya ada yang gangguin entah dia minta temani cari makan, ke toko buku, ajarin tugas dan yang paling sering minta temenin sampai tidur." Kata Devano


"Sepi banget pasti aku juga waktu awal-awal gak ada Bunda kesepian banget soalnya kan di rumah cuman berdua Bunda." Kata Adara


"Tapi, lama kelamaan terbiasa kan?" Kata Devano


"Iya nanti seiring berjalannya waktu akan terasa lebih ringan." Kata Adara


Devano hanya tersenyum menanggapinya dan selama perjalanan tidak ada lagi percakapan hingga mobil Devano berhenti di rumah sederhana milik kekasihnya. Keduanya turun dari dalam mobil lalu masuk ke dalam rumah dan Adara langsung meminta Devano untuk duduk selagi dia mengganti pakaiannya.


Adara tidak mengambilkan minuman seperti biasa karena biasanya Devano akan pergi ke dapur sendiri untuk mengambil minum. Setelah selesai berganti pakaian Adara menghampiri kekasihnya yang tengah asik memainkan ponselnya.


"Van"


"Udah selesai?" Tanya Devano sambil menatap Adara dengan senyuman


"Hm udah." Kata Adara


"Kamu mau makan apa?" Tanya Devano


"Masak aja deh Van." Kata Adara


"Kamu mau masak?" Tanya Devano


"Iya sebenernya cuman ada mie sih kamu mau makan yang lain ya?" Tanya Adara


"Enggak juga, ada mie rebus kan?" Kata Devano


"Adaa"


"Okay kita masak mie aja." Kata Devano


Adara tersenyum mendengarnya Devano memang tidak pernah menutut dan menerima apapun yang Adaa berikan meskipun hanya hal yang sederhana.


"Kamu tunggu sini aja." Kata Adara


"Enggak ah ikut ke dapur aja." Kata Devano


Adara tidak bisa menolak, jadi dia membiarkan saja Devano ikut ke dapur dan menemaninya memasak.


Selagi gadis itu memasak Devano memperhatikannya dalam diam juga senyuman manisnya. Sejak dulu Devano selalu ingin mencari seorang wanita yang mandiri dan kuat seperti Adara.


Adara sedang memasukkan bumbu ke dalam mie membuat Devano mendekat dan memeluknya dari belakang. Perbuataannya itu berhasil membuat Adara terdiam di tempatnya dengan raut wajah terkejut.


"Vann"


Devano bergumam pelan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Adara dan memejamkan matanya.


"Awas ih"


"Nanti Ra aku mau peluk kamu." Kata Devano


"Aku mau angkat mie nya nanti kalau terlalu matang gak enak." Kata Adara


Menghela nafasnya pelan Devano menjauhkan tubuhnya dan membiarkan Adara menjauh. Setelah selesai dengan memasukkan semua ke dalam mangkuk Adara mengajaknya untuk makan.


Mereka duduk di ruang makan dan Adara malah kembali melihat Devano yang menatapnya. Baru akan bertanya Devano sudah lebih dulu menarik kursinya mendekat lalu mencium bibirnya.


Hanya menciumnya sekilas saja karena Devano langsung menjauhkan wajahnya dan tersenyum sambil mengusap pipinya.


"Cantik"


Adara diam dan tersenyum pada kekasihnya dengan pipi merona.


¤¤¤


Masuk ke dalam kamar kembarannya Devano langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang milik Devina lalu mengeluarkan ponselnya dati saku celana. Membuka aplikasi chat di ponselnya Devano tersenyum begitu melihat beberapa pesan dari kembarannya.


Membuka pesan itu dengan segera Devano tak bisa menahan senyumnya kala melihat foto yang Devina kirimkan. Kembarannya itu sedang menjaga anak dari Tante nya Ziko tadi Devina memang bilang bahkan bukan hanya foto Devina juga mengirimkan vidio untuknya.


Namanya Darren dia lucu Vano terus manja kayak Vina


Gemes yaa?


Darren bilang Vina pacarnya masa anak kecil udah tau pacar-pacaran😂


Melihat pesan itu dikirimkan sudah sekitar setengah jam yang lalu Devano mencoba untuk menelpon Devina dan menunggu panggilan itu diangkat.


"Vina"


'Halo Van?'


"Ziko? Devina mana Ko?" Tanya Devano


'Vina tidur mau gue bangunin?'


"Gak usah Ko nanti bilang aja kalau gue telpon ya?" Kata Devano


'Iya Van'


Mematikan panggilan telponnya Devano menghela nafasnya pelan sambil menatap layar ponselnya dengan senyuman tipis.


"Kangen banget sama si cerewet"


Mengusap foto Devina dengan sayang Devano kembali menghela nafasnya pelan lalu bangun dan pergi keluar kamar. Begitu keluar Devano berpapasan dengan Fahisa yang menatapnya dengan senyuman.


"Loh udah pulang? Kok Mommy gak tau?" Kata Fahisa


Devano tersenyum lalu memeluk Fahisa dengan manja membuat wanita paruh baya itu ikut tersenyum dan membalas pelukannya.


"Hm Vano baru beberapa menit lalu sampai." Kata Devano


Melepaskan pelukannya Fahisa menangkup wajah Devano lalu mengusap pipinya dengan sayang.


Devano rindu sekali pada Devina dan Fahisa tau hal itu karena dia juga sama.


¤¤¤


Ayo mulai dengan Devano💞