
"KAK ARAAA"
Devina berlari masuk ke dalam rumah Kakaknya lalu memeluk Sahara yang menyambut kedatangannya dengan Fahisa ke rumah. Tertawa kecil Sahara mengusap kepala Devina dengan sayang lalu mencium keningnya dan melakukan hal yang sama kepada Fahisa sebelum mengajak keduanya untuk masuk ke dalam.
Duduk di ruang tamu Sahara bergegas mengambilkan minum serta cemilan untuk keduanya dan bersamaan dengan itu Arjuna yang memang sedang libur turun lalu menghampiri mertua serta adik iparnya dengan Airlangga yang ada digendongannya. Memeluk keduanya bergantian Arjuna tersenyum lalu duduk di dekat keduanya sambil bertanya kabar.
"Kami baik, kamu sama Ara baik-baik saja kan?" Tanya Fahisa
"Baik Ma kandungan Ara juga baik." Kata Arjuna membuat Fahisa tersenyum mendengarnya
"Papa Papaa"
Suara Airlangga terdengar membuat Fahisa tersenyum lalu mengusap pipi tembam anak itu dengan sayang.
"Angga sini sama Antee Vina." Kata Devina
"Ndakk!"
Devina langsung memasang wajah cemberutnya membuat Arjuna tertawa kecil melihatnya, mirip sekali dengan Sahara kalau sudah begitu.
"Sinii sama Antee." Kata Devina
Mendekat pada Airlangga dengan sedikit paksaan Devina mengangkat tubuhnya membuat anak itu merengek kuat.
"Ndak ndak mamaaa"
"Ihh sini sama Ante." Kata Devina sambil memeluknya dengan erat
"Ndakk mamaa"
Sahara datang lalu menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah adiknya yang selalu suka mengganggu anaknya.
Entah kenapa Airlangga dengan Devina itu seperti musuh bebuyutan anaknya tidak pernah mau digendong Devina, tapi kalau bersama Devano dia sendiri yang menghampirinya.
"Vina"
"Ih mau gendong Angga." Kata Devina
"Ndak ndakk"
Airlangga merengek lalu menangis dengan keras membuat Devina akhirnya menurunkan anak itu dari gendongannya dan membuat Airlangga berlari kecil menghampiri Sahara sambil menangis.
"Mamaa"
"Mommy kenapa Angga gak mau sama Vina?" Tanya Devina pada Fahisa
"Kamu sih suka jahil sama Angga." Kata Sahara sambil memeluk anaknya yang sudah tidak menangis
"Ishh enggak tau Vina kan cuman suka peluk aja, dia licik kalau sama Vano gak nangis." Kata Devina dengan wajah cemberut
Menggelengkan kepalanya pelan Sahara mencubit gemas pipi adiknya itu.
"Kamu benar-benar mirip Sahara kalau dia sedang merajuk." Kata Arjuna membuat Devina kali ini tersenyum
"Mereka memang mirip Arjuna bahkan terkadang orang-orang suka mengira yang kembar itu Ara sama Vina." Kata Fahisa
"Kan Vina adiknya Kak Ara." Kata Devina
"Iya adik aku sayangg." Kata Sahara
"Sini Angga aku mau peluk Maminya Angga juga." Kata Devina sambil memeluk Sahara dan membuat si kecil Airlangga merengek
"Cengeng Angga cengeng." Ledek Devina sambil mencium pipinya lama
Airlangga menangis lalu tangannya menjambak rambut Devina hingga membuat gadis itu berseru karena merasa sakit. Melihat hal itu Sahara berusaha melepaskan tangan Airlangga lalu memeluk anaknya itu dengan sayang.
"Angga gak boleh gitu sama Tante Vina." Kata Sahara
"Nakan"
Fahisa tertawa kecil lalu mengusap kepala Devina dan merapihkan rambutnya lagi membuat Devina mengerucutkan bibirnya sebal.
"Sakit?" Tanya Arjuna
"Enggak kok Kak." Kata Devina sambil tersenyum
Devina tertawa kecil mendengarnya lalu memperhatikan si kecil Airlangga yang terlihat begitu tenang di dalam dekapan Kakaknya. Melihat hal itu entah kenapa membuat pikiran Devina melayang kemana-mana.
Bagaimana kalau dia yang ada di posisi Sahara?
¤¤¤
Kembali menemui orang tua kekasihnya di kantor Daffa ketika waktu makan siang Ziko mendadak gugup begitu mereka berdua duduk berhadapan padahal Daffa terlihat biasa saja. Sebenarnya orang tua Ziko juga ingin bicara, tapi tadi Daffa yang masih meminta Ziko untuk datang seorang diri karena ada beberapa hal yang ingin dia katakan.
Pastinya mengenai Devina karena Ziko tau bahwa kekasihnya itu benar-benar anak yang dimanjakan entah oleh kedua orang tua, kembaran dan Kakaknya. Mungkin Daffa ingin memastikan tentang kesungguhannya dan Ziko sama sekali tidak masalah meskipun jujur dia merasa gugup.
"Jadi Ziko kamu sudah memutuskan?" Tanya Daffa
Ziko mengangguk dengan pasti.
"Sudah saya sudah bicara sama orang tua saya Om dan mereka minta saya untuk bicara dengan Devina terlebih dahulu." Kata Ziko
"Lalu? Kamu sudah bicara pada Devina?" Tanya Daffa
"Masalahnya.. kemarin Om Daffa bilang untuk saya supaya tidak..."
"Ah iya saya lupa kalau gitu besok bicara dengan Devina besok." Kata Daffa membuat Ziko tersenyum senang
"Baik Om saya akan bicara dengan Devina besok." Kata Ziko
"Sebelumnya saya akan menanyakan beberapa hal dengan kamu." Kata Daffa
Mendengar hal itu Ziko mendadak gugup, tapi dia tetap menatap mata Daffa dan menunggu pertanyaan yang pria itu ajukan untuknya.
"Apa kamu benar-benar serius dengan Devina?" Tanya Daffa
"Iya saya sangat serius." Kata Ziko
"Apa kamu tidak akan menyakiti dia?" Tanya Daffa
"Saya bersumpah demi diri saya sendiri kalau saya tidak akan pernah menyakiti Devina." Kata Ziko yakin
Daffa terdiam untuk sesaat, dia perlu memastikan beberapa hal karena Daffa tidak mau kalau anaknya sampai disakiti oleh seseorang dia mau anaknya hidup bahagia meskipun sudah menikah.
"Dengar Ziko saya akan mengatakan hal ini sebelum kamu memutuskan untuk menikah dengan anak saya," Kata Daffa.
Ziko diam dan menunggu apa yang akan orang tua kekasihnya katakan.
"Devina dia itu manja kamu tau sendiri bagaimana dimanjakan oleh kami tidak pernah sekalipun Devina kami pukul atau bentak, jadi bisa kamu memastikan bahwa kamu tidak akan bermain tangan atau membantak anak saya?" Tanya Daffa
"Tidak saya tidak akan pernah melakukan hal itu pada Devina Om bisa percaya sama saya." Kata Ziko
"Lagi, Devina tidak bisa memasak dia juga jarang mengerjakan pekerjaan rumah, saya mengatakan ini agar kamu mengatakannya pada orang tua kamu karena saya tidak mau kalau Devina sampai mendapat komentar yang buruk, dia hanya terbiasa hidup seperti itu di rumah." Kata Daffa
"Saya tau dan orang tua juga saya tau lalu Mama saya bilang kalau itu tidak masalah dia bisa belajar perlahan dan di rumah ada Bibi juga yang selalu bantu." Kata Ziko
Daffa mengangguk singkat lalu menatap Ziko dalam diam, dia yakin pada Ziko, tapi mengingat usia keduanya masih sangat muda ada rasa khawatir berlebihan di hatinya.
"Devina dia anak perempuan kedua saya setelah Sahara dan saya tidak akan pernah terima kalau ada yang menyakitinya." Kata Daffa
"Om boleh memukul saya kalau hal itu sampai terjadi." Kata Ziko
"Kenapa kamu masih menginginkan Devina? Dia manja, tidak bisa memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah." Kata Daffa
Ziko terdiam lalu tersenyum penuh arti.
"Karena saya mencintai Devina dan semua hal itu dia bisa belajar perlahan lalu masalah manja, saya suka kalau Devina bersikap manja pada saya"
Daffa ikut tersenyum mendengarnya lalu dia menepuk pelan bahu Ziko membuat pria itu mendongak dan menatapnya.
"Bicara pada Devina lalu setelah dia mengatakan iya kamu bisa bawa orang tua kamu ke rumah, kita akan persiapkan pernikahan"
Ziko tidak lagi bisa menggambarkan perasaannya sekarang.
¤¤¤
Haii double update aja untuk hari ini yaaa😘