My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (98)



Mendengar kalau Daffa berniat menikahkan Devina membuat Devano mendadak murung dia memakan sarapan dengan tidak semangat dan ketika hanya tinggal setengah Devano mengatakan kalau dia sudah kenyang lalu kembali ke kamar. Sedangkan Devina yang tidak tau apapun hanya menatap kembarannya itu dengan bingung lalu memilih untuk bertanya nanti dan melanjutkan sarapannya.


Masalah kemarin Devina berpikir sudah selesai karena Daddy nya tidak marah atau membahas hal itu lagi dengannya, jadi Devina bersikap biasa. Urusan dengan kekasihnya Devina masih merajuk pada Ziko dan mengabaikan pesannya sejak tadi, dia kesal karena Ziko terus mencium bibirnya setiap ada kesempatan.


Sebenarnya Devina juga tidak masalah, tapi jangan terlalu sering begitu nanti kalau dilihat orang pasti akan dibilang yang tidak-tidak.


"Devina"


"Iya Mommy?" Tanya Devina sambil mendongak dan menatap Fahisa


"Kamu mau kemana hari ini sayang?" Tanya Fahisa


"Em gak tau sama Daddy gak boleh pergi kemana-mana." Kata Devina


"Iya tentu saja Daddy akan batasi lagi kamu dan Ziko sekarang." Kata Daffa galak


Devina mengerucutkan bibirnya kesal membuat Daffa menatapnya dengan galak.


"Awas ya? Daddy mengawasi kalian berdua." Kata Daffa


"Daddy galakkk"


Fahisa tertawa melihatnya lalu mengusap kepala Devina dengan sayang.


"Pergi sama Mommy aja mau? Kita main ke rumah Kak Ara." Kata Fahisa membuat Devina tersenyum senang


"Mauuu"


"Yaudah nanti siang kita ke rumah Kak Ara." Kata Fahisa membuat Devina tersenyum senang


Menghabiskan sarapannya hingga tak tersisa Devina meminta izin untuk pergi ke kamar lalu dia berlari ke atas dan masuk ke kamar kembarannya tanpa mengetuk pintu. Disana ada Devano yang sedang memangki gitar sambil bersenandung pelan membuat Devina tersenyum dan langsung duduk disampingnya.


Tidak ada respon apapun Devano diam sambil terus memetik gitarnya bahkan tidak melirik pada Devina.


"Vanooo"


"Hm"


"Vano kenapa? Lagi badmood ya?" Tanya Devina


"Enggak"


"Terus kenapa?" Tanya Devina


"Enggak papa"


"Ihh pasti ada apa-apa Vano masa diem aja gak mau ngomong terus sarapannya cuman sebentar terus gak mau lihat Vina." Kata Devina


Menghela nafasnya pelan Devano menghentikan gerakan tangannya lalu menatap Devina sebentar dan menaruh gitarnya disamping.


"Vano kenapaa?" Tanya Devina dengan wajah cemberut


"Enggak papa kok." Kata Devano tidak mau jujur kalau dia merasa kesal karena Daddy nya berniat menikahkan Devina


"Ih kenapa? Vina ada salah ya?" Tanya Devina lagi


"Enggak Vina aku cuman lagi badmood aja." Kata Devano


"Kenapa badmood?" Tanya Devina lagi


"Kepo banget." Kata Devano sambil mencubit pelan pipinya


"Ih aku serius! Vano kenapa?" Tanya Devina


"Gak papa Vina." Kata Devano lagi


"Vano mah jawab." Rengek Devina


Menghela nafasnya pelan Devano menangkup wajah kembarannya lalu mencium keningnya lama dan memeluknya dengan erat. Merasa bingung Devina tidak bertanya apapun dan diam sambil membalas pelukan yang kembarannya berikan.


Saat ini Devano benar-benar berpikir tentang Devina yang akan menikah lalu menjauh darinya dan orang tuanya juga, bukan dia tidak mau, tapi apa harus secepat ini?


Devano masih ingin bersama Devina dan menghabiskan waktu dengan kembarannya itu dia terbiasa mendengar suara Devina setiap hari atau mendengar rengekannya. Selain itu Devano terbiasa dengan Devina yang selalu memeluknya lalu datang ke kamarnya tanpa alasan hingga minta ditemani untuk tidur.


Pasti akan kesepian sekali, tapi dia juga tidak mau menghalangi Devina karena hal itu akan membuatnya bahagia dan entah dalam waktu dekat atau tidak Devina pasti menikah dan dia juga sama.


"Aku sayang banget sama kamu Vin"


Devina tersenyum mendengar perkataan kembarannya.


"Vano gak perlu bilang karena Vina udah tau dan Vina juga sayangg sama Vano." Kata Devina sambil mengeratkan pelukannya


Cukup lama berpelukan Devina menjauhkan tubuhnya lalu menatap Devano dengan senyuman.


"Sekarang udah gak badmood lagi karena habis kamu peluk." Kata Devano membuat senyuman Devina mengembang dengan sempurna


Meraih tangan kembarannya Devina menautkan jari-jari mereka disana.


"Vina mau minta sesuatu boleh?" Tanya Devina


"Hm boleh"


"Vano harus cerita kalau ada masalah ya? Kalau Vano lagi badmood temuin Vina aja terus peluk biar Vano gak badmood lagi." Kata Devina


Devano tersenyum lalu mencubit gemas pipi kembarannya.


"Iya Devina"


Keduanya saling melemparkan senyuman, sulit memang ketika keduanya yang selalu bersama sejak masih dalam kandungan harus berpisah.


Bukan berpisah sebenarnya, tapi hanya sedikit berjarak.


¤¤¤


"Kamu yakin Ziko?"


Pertanyaan itu Ziko jawab dengan anggukan pasti, setelah percakapan tadi malam Ziko langsung mengajak orang tuanya bicara dan mengatakan semuanya. Awalnya kedua orang tuanya hanya diam, tapi melihat kesungguhan di wajah anaknya membuat mereka tidak bisa memberikan penolakan.


Dari pada sesuatu yang tidak diinginkan sampai terjadi lebih baik keduanya menikah dan baiklah mereka akan mendukung keputusan yang anaknya ambil. Pernikahan di usia muda mungkin rentang dengan pertengkaran atau masalah, tapi mereka yakin Ziko akan bisa mengatasinya.


Melihat betapa pria itu mencintai Devina membuat kedua orang tuanya memutuskan untuk mendukung keputusan Ziko.


"Baiklah kalau kamu memang mau seperti ini Mama sama Papa akan dukung." Kata Zidan


Senyuman Ziko mengembang dengan sempurna, dia terlihat begitu bahagia sekarang.


"Setelah ini kamu bicara dulu pada Devina dan jika dia juga setuju kita akan datang ke rumah mereka untuk lamaran lalu membicaraka masalah pernikahan." Kata Zidan


"Iya Pa nanti Ziko akan ajak Devina bicara." Kata Ziko dengan penuh semangat


Zidan menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan anaknya, sama persis seperti dirinya dulu, tapi bedanya dia menikahi Nazwa di semester keempat ketika mereka berkuliah.


Melihat Ziko membuat dia teringat akan dirinya dahulu.


"Anak Papa sudah besar ternyata." Kata Zidan sambil mengusap kepala anaknya


"Kamu memang mencintai Devina kan?" Tanya Nazwa


"Sangat Ma aku sangat mencintai Devina bahkan sejak awal masuk sekolah di SMA sudah bertahun-tahun dan aku masih sangat mencintainya sampai sekarang." Kata Ziko membuat Mama nya tersenyum mendengarnya


Memang sangat mirip dengan Zidan dulu meskipun orang tua Nazwa melarang keras karena mereka masih kuliah, tapi pria itu tetap nekat hingga akhirnya mereka menikah juga.


"Mama percaya kamu akan mencintai Devina dan menjadi suami yang baik untuknya." Kata Nazwa


Ziko tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban lalu dia memeluk kedua orang tuanya dengan sayang.


Sekarang dia sudah sangat yakin untuk menikahi Devina dan tidak mau menunda lagi, dia takut nanti malah melewati batas. Selain itu Ziko juga ingin selalu berada di dekat Devina tanpa harus ditegur atau diingatkan jam malam gadis itu.


Rasanya menyenangkan, dia tidak sabar untuk membicarakan hal itu pada Devina.


¤¤¤


Aku updatee😘


Hm Apakah akan semakin cepat keduanya menikah haha😂